PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 225. Pengobatan Laras


__ADS_3

Kang dan Robert tiba sebelum gelap di rumah besar di tengah hutan larangan. Di situ hanya ada Marianne dan Cloudy.


"Dimana semua orang?" tanya Robert yang heran melihat tempat itu begitu sepi


"Mereka sedang mandi di laut, di bawah tebing itu."


Marianne menunjuk ke arah belakang rumah.


"Apakah mereka akan lama?" tanya Robert lagi.


"Mereka belum lama pergi. Jadi mungkin selewat senja baru kembali," jawab Marianne jujur.


"Kau bisa ikut berenang di sana kalau mau." Saran Marianne


"Aku?" Robert menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, ajak Kang bermain air di sana," jawab Marianne.


Kang menarik Robert dan mendudukkan dipunggungnya. Dia bersiap untuk terbang.


"Hei, hati-hati. Jangan sampai orang lain melihat kalian terbang begitu!" teriak Marianne.


Robert tak terlalu mendengar peringatan Marianne. Jadi dia hanya melambaikan tangan saja.


Sampai di tepi tebing, Robert bisa melihat kawan-kawannya bermain air di laut, di bawah tebing. Kang bermaksud untuk menukik turun, saat Robert melihat ada kapal yang sedang lewat dan membunyikan horn.


"Tunggu dulu Kang. Lebih baik kita tunggu mereka di pondok saja." Robert mencegah Kang turun ke tempat Dean dan yang lainnya.


Kang mengangguk, lalu berbalik ke rumah.


"Tidak jadi?" tanya Marianne heran.


"Kami tunggu di sini saja," sahut Robert. Dia mengambil duduk dengan santai.


Tak lama Dokter Chandra keluar dari rumah. Dia kelihatan segar.


"Robert, Kang.... Apa kalian.sudah lama?" tanya Dokter Chandra ramah.


"Baru saja," jawab Robert.


"Tidak ikut berenang ke laut Dok?" tanya Robert.


"Hahahaa.... Aku tak mau bersaing dengan anak muda yang bisa pamer six pax," canda Dokter Chandra.


"Hahahaaa."


Tawa Robert membahana. Dia tak mengira Dokter Chandra bisa juga membuat lelucon konyol. Marianne bahkan tersenyum mendengarnya.


Tak lama Indra dan Michael juga datang sambil memanggul kayu bakar. Mereka menaruhnya di bawah meja tungku.


"Kami mandi dulu. Nanti dilarang makan jika bau...!" teriak Michael.


Robert hanya tersenyum. Dia bahkan hanya mandi tadi pagi sebelum pergi ke kota mati. Lalu buru-buru kembali bersama Kang untuk mencari obat Laras.


Cahaya pelita berpendaran ketika Indra mulai menyalakan semua obor di lingkungan itu.


"Ku tinggal mandi dulu yaa.," seru Indra dari kejauhan.


Marianne telah sibuk dengan aktifitas dapur saat suara-suara ceria terdengar. Tawa Nastiti yang khas menyemarakkan petang.


"Kau sudah lama?" sapa Widuri.


"Belum," sahut Robert.


"Marianne aku jemur dulu cucian ini. Nanti aku ke sana!" teriak Niken.


Semua sibuk petang itu. Mencuci, mandi dan menyiapkan makan malam.


Sunil mengambil teko, mengisinya dengan air tempayan, menambahkan beberapa helai daun pinus. Teko lalu diletakkan di samping tungku untuk membuatnya hangat seiring waktu.


Dean dan Alan kembali sambil membawa air di atas kepala. Mereka butuh lebih banyak air sekarang. Karena kini ada 3 kamar mandi dan bak besar untuk mencuci yang tak boleh sampai kosong.


*

__ADS_1


*


"Syukurlah kalian menemukan obatnya. Besok bisa kita cobakan pada Laras."


Wajah Dokter Chandra berseri-seri. Yang lainnya juga ikut bahagia mengetahui Kang menemukan obat yang dicari.


"Kang, bisakah kau ceritakan, kenapa dulu kakekmu menderita penyakit itu?" tanya Dean hati-hati.


Kang cukup lama diam. Seperti sedang menimbang-nimbang jawaban. Tapi dia lalu meletakkan jarinya di dahi Robert.


Robert memejamkan mata. Banyak informasi masuk ke otaknya.


"Kakek Kang bertarung dengan musuh negaranya. Dalam pertarungan sengit itu Kakek Kang terkena serangan telak di bagian perutnya. Tapi Kakek Kang tetap mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengurung musuhnya itu agar tidak pernah bisa keluar dan mengganggu negaranya lagi."


Semua mendengarkan Robert dengan penuh perhatian. Kecuali Nastiti yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Kang.


Niken menyenggol lengannya.


"Kau seperti tersihir," bisiknya menyadarkan Nastiti.


Wajah Nastiti bersemu merah, tapi dia tak bisa menolak pesona dan kharisma Kang yang dirasakannya. Beruntung Kang ada di sudut lain meja besar itu. Jadi dia tak mengetahui apa yang dilakukan Nastiti.


Di sudut meja lain, Robert masih bercerita.


"Namun serangan telak yang diterimanya adalah serangan hitam sihir gelap. Dalam perjalanannya kembali ke negri asalnya, Kakek Kang tak dapat lagi menahan sakit, lalu tak sadarkan diri."


"Kakek Kang terdampar di sebuah negara asing."


Lalu Robert menceritakan lagi cerita Kang tentang para kaisar yang mereka layani sebagai tuan.


"Apa kau tau bagaimana membuat obat ini?" tanya Alan.


Kang menggeleng . Dia hanya menemukan botol obat itu.


"Baiklah. Kita beristirahat lebih cepat saja. Besok harus kembali ke kota terlarang," ujar Dean.


Semua berkemas dan merapikan meja makan. Membersihkan peralatan kotor sisa makan malam.


*


*


Laras akhirnya mengangguk. Dia sudah meminum sesendok obat pahit itu tadi. Sekarang dia harus menerima perawatan lain yang dilakukan langsung pada lukanya.


Kang duduk di belakang Laras yang bajunya dibuka di bagian punggung.


Dengan serius Kang menggerakkan kedua tangannya di dekat warna biru hitam di punggung Laras. Beberapa huruf asing berwarna orange melayang lalu menyelusup masuk ke warna hitam yang ada di punggung Laras.


Tiap kali huruf asing itu masuk ke tubuhnya, Laras akan mengerang sedikit. Keringat di keningnya jatuh satu-satu. Sampai semua huruf berwarna orange itu lenyap dari pandangan.


Kang telah menurunkan kedua tangannya. Prosesnya telah selesai.


"Begitu saja Kang? tanya Robert tak mengerti.


"Hemmm...." sahut kang


Kang meletakkan jari di dahi Robert. Robert mengangguk.


"Apa yang dikatakan Kang?" tanya Liam tak sabar.


"Kata Kang, prosesnya lama. Laras minum obat itu sesendok demi sesendok. Sehari satu kali. Kang akan datang 3 hari sekali mengangkat mantera kutukan itu sedikit demi sedikit. Jika diangkat sekaligus, Laras akan kesakitan. Karena kutukan mantra itu seperti memakan Laras pelan-pelan."


Robert menjelaskan apa yang dikatakan Kang padanya. Kang mengangguk mengiyakan.


Liam, Dean dan Sunil terhenyak mendengar itu. Alangkah menyakitkan.


"Berapa lama prosesnya?" tanya Sunil.


Kang meletakkan jarinya di dahi Robert.


"Tergantung seberapa jauh kerusakan yang sudah terjadi. Tapi menurut penglihatan Kang, kutukan itu belum mencapai jantung Laras. Itu melegakan," ujar Robert menjelaskan."


Dean mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah.... Setidaknya ini progress yang positif. Jika harus dilakukan pelan-pelan, maka mari kita ikuti cara itu. Yang penting Laras bisa sembuh."


Yang lain mengangguk setuju dengan pendapat Dean.


Kang menyentuhkan jarinya ke dahi Robert.


"Kami harus kembali dulu. Banyak pekerjaan tertinggal di sana," kata Robert.


"Apa kau tak bisa tinggal bersama kami saja?" tanya Liam yang heran melihat Robert terus mengikuti Kang.


Robert tersenyum.


"Nanti, ada saatnya." Robert menepuk pundak Liam pelan.


"Baiklah, kami kembali dulu. Laras, kami pulang dulu. 3 hari lagi aku akan mengantar Kang ke sini," kata Dean di depan pintu kamar.


"Ya... terima kasih," sahut Laras lirih.


"Apa kau kesakitan?" tanya Robert cemas. Wajah Laras memucat.


Kang terkejut melihat itu. Segera diraihnya tangan Laras dan membawanya ke kamar mandi.


"Aaahhh," Laras memekik pelan.


Robert terkejut melihat cara Kang menarik Laras. Itu seperti cara Kang menarik Robert untuk melompat dari ranting ke ranting. Dean, Liam dan Sunil menahan nafas melihat itu. Mereka segera mendekati kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi.


"Hueekkk... hueekkkk...!"


Laras memuntahkan darah merah kehitaman dari mulutnya beberapa kali. Darah itu terserak memenuhi lantai kamar mandi.


Kang menjaga tubuh Laras tetap tegak dan stabil. Liam menyeka darah dari mulut Laras.


Dean menyerahkan kendi airnya pada Laras.


"Minum ini. Mungkin bisa sedikit mendinginkan rasa sakitnya."


"Dikumur-kumur dulu," kata Robert.


Laras mengikuti petunjuk Robert. Dia berkumur-kumur lalu membuang air kotor dari mulutnya.


"Sekarang bisa kau minum," kata Robert lagi.


Laras menurut dengan patuh dan meminum air yang terasa sangat menyejukkan itu. Laras meminumnya beberapa teguk. Air itu menenangkan perutnya yang bergejolak. Rasa mualnya berkurang banyak.


"Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih," ucap Laras.


Liam membawa kursi roda ke dekat Laras.


"Ayo ku antar ke kamar. Kau bisa beristirahat sekarang. Nanti akan ku letakkan wadah untuk tempat kau muntah," ujar Liam sambil mendorong Laras kembali ke kamar.


Liam mengangkat tubuh Laras dan membaringkannya pelan di tempat tidur.


"Kau butuh selimut?" tanya Liam penuh perhatian.


"Tidak. Hari sudah tinggi. Udara mulai panas. Tolong bukakan jendela kamar saja," pinta Laras.


Liam membuka jendela. Udara segar menerpa masuk.


"Aku keluar dulu," pamit Liam.


"Hemmm," sahut Laras. Matanya mulai terpejam. Tubuhnya lelah.


"Air minum tadi sudah ku masukkan ke dalam teko ini. Berikan pada Laras," ujar Dean.


"Apa ini air obat?" Liam memperhatikan air di teko.


Dean menggeleng.


" Hanya air biasa, tapi bisa mendinginkan perut," jawabnya sambil tersenyum.


"Baiklah, kami harus kembali," potong Robert. Kang mengangguk.


"Ya. Terima kasih," ujar Liam.

__ADS_1


******


1 Chapter 🙏


__ADS_2