
Jane naik kembali ke kereta. Dilihatnya Leon yang masih terdiam. Dihembuskannya nafas dengan kasar.
"Ada apa denganmu?"
"Silvia...."
Leon menggeleng, karena tak tau mau mengatakan apa lagi. Ada hal yang mengganjal di hatinya. Tapi dia tak tau apa.
"Dia sudah kau selamatkan. Dan bersama suaminya sekarang. Tidakkah itu bagus? Apa lagi yang kau risaukan?" tanya Jane tak puas.
Leon kembali menggeleng. Jane ada benarnya. Seperti juga Angel, jika Silvia memutuskan untuk menetap, memangnya dia punya hak apa untuk melarang? Dihelanya nafas panjang dan menatap ke depan. Pandangannya sedikit kabur. Leon mengerjap beberapa kali.
"Kau benar." Leon mengangguk.
Jane membuka penutup kereta itu. Langit gelap mulai berubah.
"Kita harus buat keputusan cepat. Sekarang kendaraan kita ada 3. Bagaimana membawanya?" tanya Jane.
"Hei! Apa kau baik-baik saja?"
Jane menggoyang tubuh Leon yang masih belum tampak tanda-tanda akan bergerak.
"Hari hampir pagi! Jika kau ingin tinggal, maka kita tinggal. Jika ingin kembali, cepat putuskan! Kita tak bisa melewati gurun tanpa pengawalan!" Jane mulai jengkel dengan sikap Leon.
"Kau mengecewakanku... Ku rasa kau mencintai temanmu itu. Dan tidak bisa menerima kalau dia sudah bersuami...."
Terdengar isakan halus Jane. Tapi tak lama. Dia segera menghapus airmatanya saat suara hiruk pikuk mulai terdengar. Dia sudah membulatkan tekad. Jika Leon tak bisa membuat keputusan sekarang, maka dia yang akan mengambil alih. Jane turun dari kereta.
"Kereta ini milikmu. Terserah mau kau bawa kemana. Kau bisa gunakan untuk mengejar wanita itu kalau kau mau!" ujar Jane pedas!
Jane memeriksa gerobak penuh barang milik tuan Farouk. Semua terikat dengan baik. Kudanya juga kuat. Kuda itu lebih bagus dari pada Star. Lebih mungkin untuk menarik gerobak penuh muatan seperti ini. Dia lalu pergi menuntun kuda dan gerobak itu menuju kafilahnya.
Pedagang-pedagang lain terheran-heran melihat Jane menuntun gerobak bagus penuh barang.
"Gerobak siapa itu?" tanya seseorang.
"Tuan Mustafa menghadiahkannya pada kami. Suamiku menyelamatkan istrinya," jawab Jane sambil lalu.
???
"Waahh... beruntung sekali mereka."
"Itukah keributan yang tadi malam?"
Berbagai komentar terdengar. Tapi tak ada yang memperhatikan bahwa Leon tak terlihat pagi itu.
Jane mengatur dengan pedagang yang menitipkan barang di gerobaknya, agar dia membawa gerobak itu ke kota. Pria itu setuju dan sangat senang dengan keberuntungan Jane.
Kafilah itu telah bersiap. Jane juga sudah meneguhkan hatinya. Dia menggigit keping terakhir roti kerasnya dengan hati berdarah.
Jane tak bisa memaksa Leon jika pria itu tak mau. Sementara keputusan harus segera diambil, karena terombang-ambing bukanlah pilihan. Berdiam lebih lama di perhentian itu hanya merugikan diri sendiri. Dia tak punya bekal lagi.
Kafilah itu bergerak perlahan meninggalkan lapangan luas. Kafilah lainpun mulai mengikuti. Ada 3 kafilah dagang dari kota berbeda yang memiliki tujuan sama. Sementara rombongan kereta dan barang milik Mustafa juga sudah bersiap untuk kembali ke negara gurun.
Jane dapat melihat Silvia menaiki kereta penumpang yang mewah.
__ADS_1
"Suaminya kaya. Lalu apa yang dikhawatirkan Leon?" pikirnya tak mengerti.
Kafilah itu berjalan makin menjauh. Lapangan itu mulai sunyi.
Tok...tok...
"Tuan?"
Sebuah suara menyadarkan Leon dari diamnya. Diangkatnya kepala dan melihat tempat asing itu.
"Apa ada orang di dalam?"
Kereta itu sedikit bergoyang. Seseorang naik.
"Ya!" jawab Leon, tepat saat kain penutup kereta dibuka seseorang.
"Apa anda tertidur? Dimana kafilah anda?" tanya orang itu.
Leon tersentak.
'Dimana Jane?' pikirnya khawatir.
"Tidak. Ini aku baru mau berangkat."
Leon lalu bangkit dari duduknya, menuju keluar. Pria itu berbalik badan dan keluar lebih dulu.
Begitu keluar kereta, Leon segera menyadari bahwa dia memang ditinggal sendirian. Dia segera duduk di belakang kuda dan langsung menggebah kuda di kereta itu. Bukan hal yang baik jika bersama orang yang tak dikenalnya di tempat asing.
"Hei! Tunggu tuan! Aku ingin menumpang ke kota!" teriak pria tadi.
"Tuan...."
Leon terkejut ketika pria asing itu tiba-tiba muncul di samping kereta.
"Aku penjaga perbatasan. Kudaku terperosok di jalan, tadi, sekarang tak bisa dinaiki. Boleh aku menumpang ke kota? Biar ku tunjukkan jalannya."
'Apakah sangat kelihatan kalau aku tak tau jalan?' pikir Leon.
"Aku mau menjemput istriku," ujar Leon, masih menolak dengan halus.
"Hehehe...."
Pria itu terkekeh.
"Apa aku terlihat seperti penjahat?"
Mata Leon membesar, mulutnya terbuka. Dia ingin bicara, tapi tak jadi. Akhirnya dia mengangguk.
"Huft... ya sudah. Naiklah!" ujar Leon.
Pria itu mengikat tali kudanya pada kereta Leon. Lalu dia melompat naik dengan gembira.
"Terima kasih."
"Kota ke arah sana" tunjukkan ke kanan.
__ADS_1
"Tidakkah itu mengarah ke perbatasan?" tanya Leon menguji.
"Itu juga bagus. Jadi aku bisa mengganti kudaku dengan kuda penjaga yang lain." Pria itu tersenyum lebar.
Leon mendengus mendengar jawabannya. Dia lalu mengarahkan kereta ke kanan.
"Namaku Salman," katanya memperkenalkan diri.
"Aku Leon."
Leon mengangguk dan berkonsentrasi mengendalikan jalannya kereta. Jalanan perbatasan itu tak begitu bagus. Kereta jalan bergoyang kiri kanan, seperti perahu dimainkan ombak. Itu membuat Leon mengantuk. Dia hampir tak tidur semalaman.
"Sepertinya kau tertinggal, karena ketiduran. Jika kau tertidur sambil membawa kereta, maka kereta ini akan terperosok. Mau ku gantikan?" tanya Salman.
Tapi Leon tak merespon. Matanya terpejam tanpa sadar. Tali kekang itu mengendur dalam genggamannya.
Salman menggelengkan kepala. Diambilnya tali kekang itu hati-hati, dan mulai memilih jalan yang baik.
Kereta itu tak membawa beban berat. Jadi dia bisa berjalan sedikit lebih cepat. Mereka akhirnya dapat menyusul kafilah dagang paling belakang. Jalanan itu sempit. Salman tak bisa membuat kereta mendahului antrian panjang kafilah yang berjalan terseok-seok.
Hari mulai meninggi ketika akhirnya terlihat perbatasan desa.
"Hei, bangun. Aku akan turun di desa depan itu."
Salman menggoyang tubuh Leon yang tidur bersandar.
"Hah?!"
Leon terbengong sesaat. Yang dilihatnya adalah bagian belakang gerobak barang.
"Kau sudah bangun? Di depan ada desa. Aku turun di sana."
Salman menyerahkan tali kekang kuda kembali ke tangan Leon.
"Apa aku tertidur?" ujar Leon masih bingung.
"Hahahaa.... Jika yang menumpang orang lain, anda pasti sudah dirampok, tua."
Leon bisa merasakan nada ejekan dari pria itu.
Kenapa Jane neninggalkanku? Dimana dia sekarang? Leon sudah mulai bisa berpikir jernih saat ini. Dia berusaha mengingat semuanya sebelum otaknya blank karena terlalu mengantuk. Dia mulai mengingat percakapan terakhir dengan Silvia, juga Jane.
Diperhatikannya gerobak di depannya. Dia tak sabar untuk mendahului, agar bisa mencari keberadaan Jane.
Memasuki desa, jalanan lumayan lebar. Leon ingin mendahului barisan gerobak, saat Salman minta berhenti.
"Aku turun di sini saja," katanya.
Leonpun menghentikan kereta. Salman melompat turun. Dilepaskannya ikatan tali kudanya dari kereta Leon.
"Terima kasih untuk tumpangannya. Sampai jumpa lagi," katanya dengan senyum hangat.
Leon mengangguk. Dia kembali melajukan kereta, mengejar barisan gerobak kafilah dagang. Dia harus segera menemukan Jane.
'Apakah Jane tetap ikut ke kota atau kembali ke gurun? Dengan siapa?' pikirnya risau.
__ADS_1