
Setelah merawat Widuri, Dean dibantu Sunil, Indra dan Robert, memanen semua tanaman gandum. Hujan malam sebelumnya, bisa merusak bulir gandum jika terus dibiarkan. Maka ketikal langit agak condong ke barat, semua pekerjaan itupun selesai. Mereka merasa lega. Stok gandum untuk beberapa bulan ke depan, telah dikumpulkan.
Sementara yang lain mengikat ranting-ranting gandum untuk penyimpanan, Robert sibuk membakar semua rumpun yang tersisa di ladang itu.
Sore hari, semua pekerjaan telah selesai. Meski peluh mengucur, tapi mereka merasa puas. Ikatan gandum yang disangkutkan pada galah, memenuhi langit-langit ruangan bawah rumah panggung itu.
"Ini setidaknya bisa menjamin persediaan makan kita hingga enam bulan ke depan," ujar Marianne senang.
"Hanya enam bulan? Kukira bisa sampai setahun." Indra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tenang saja. Nanti kita tanami lagi ladangnya," hibur Dean.
"Kau benar!" Indra menepuk pundak Dean.
"Kalian pergi mandi dululah. Bau keringat. Kami akan menyiapkan makan malam," usir Niken.
"Oke. Oke!" Indra langsung berlari ke kolam dan menceburkan dirinya.
"Sunil, berapa banyak ternak yang kalian potong kemarin?" tanya Dean.
"Dua, satu domba dan satu sapi. Kenapa?" tanya Sunil.
"Aku melihat Padang rumput itu jadi lengang. Kukira kalian sudah memotong hingga puluhan ekor," jawab Dean. Tiga temannya yang lain juga ikut heran.
"Aku juga melihat ada bukit yang penuh tanaman sayuran aneka macam!" ujar Indra.
"Nah, padahal sebelumnya di tempat itu tak ada apa-apa!" Dean menambahkan lagi. "Bahkan jarak pintu gua dengan tanah di bawahnya jadi lebih dekat ketimbang sebelumnya. Kukira aku tinggal membuat tiga atau empat anak tangga, sudah bisa mencapainya!"
"Padahal, ladang gandum itu seperti berada di lembah yang jauh, ya ...." Robert menambahkan.
Semua terdiam. "Penguasa!" seru mereka serempak.
Keempatnya menoleh pada dokter Chandra yang sedang asik berenang.
"Dan hujan tadi malam, kurasa juga karena penguasa," tambah Sunil.
"Ya sudah kalau begitu. Tak perlu diributkan lagi.
*
*
Selama satu minggu, kondisi Widuri tidak juga membaik. Dia masih mual dan muntah di pagi hari. Dia juga mulai menjauh dari Dean.
"Sarapan sayang," ujar Dean dari ujung tangga.
"Letakkan saja di situ," sahut Widuri.
"Ini jauh sekali. Bukankah kepalamu pusing? Nanti kau jatuh saat mengambilnya," bantah Dean.
Dean tetap membawa baki teh jahe dan bubur ke tempat Widuri berbaring.
"Uweekkk...!" Widuri langsung merasa mual dan mengambil nafas di depan jendela yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Kau masih mual? Jangan duduk depan jendela, nanti tambah masuk angin," larang Dean.
"Biar aku tutup jendelanya." Dean melangkah ke dekat jendela.
"Tidak ... tidak. Kau pergi saja. Kau bau! Aku jadi merasa mual," larang Widuri panik.
Dean merasa sedih mendengarnya. Sudah seminggu, sakit Widuri makin bertambah parah.
"Biar kututup dulu jendelanya. Aku akan pergi setelah menutupnya," bujuk Dean sabar.
"Tidak! Aku akan tetap di sini sampai baumu hilang dari sini," jawab Widuri keras kepala.
"Baiklah. Jangan lupa minum teh jahemu dan habiskan buburnya. Jika tidak, maka aku yang akan menyuapimu!" ujar Dean tegas.
"Ya!" jawab Widuri sambil terus mengipas-ngipas di depan jendela.
Di lantai bawah.
"Dok, sakit Widuri bertambah parah. Kurasa, sudah saatnya kita mencari jalan kembali. Dia harus segera dibawa ke Rumah Sakit," kata Dean cemas.
"Biar kuperiksa lagi."
Dokter Chandra bangkit dan berjalan ke lantai atas rumah.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya dokter Chandra.
"Masih pusing dan mual, Dok," jawab Widuri dari dekat jendela.
"Boleh aku ke sana?" tanya dokter Chandra.
Dokter Chandra mengangguk mengerti. Dengan perlahan, dia berjalan mendekat. Tapi Widuri tidak bereaksi. Dia tetap tenang, bahkan hingga dokter Chandra memeriksa denyut nadinya.
Dokter Chandra mengangguk tersenyum. Kemudian tangannya yang bersinar diletakkan di atas perut Widuri. Sinar itu memancar terang dan menghilang masuk ke dalam perut Widuri.
"Hah? Apa itu?" tanya Widuri kaget.
"Itu berkatku untuk putramu," jawab dokter Chandra.
"Putra?"
Terdengar suara penuh keterkejutan dari dekat tangga. Dokter Chandra dan Widuri menoleh ke sana. Ada Dean yang berdiri mematung di situ.
"Dean, kita akan punya bayi," Isak Widuri lirih.
"Benarkah?"
Mata Dean menunjukkan kebingungan. Antara Sakit Widuri dan kata bayi yang tiba-tiba dibicarakan. Tanpa sadar, Dean berjalan mendekat. Widuri langsung merasa mual dan berlari ke jendela untuk mendapatkan udara segar.
"Aku-aku hanya ingin memelukmu!" suara Dean melemah menerima penolakan Widuri. Hatinya terasa sakit. Dokter Chandra saja bisa memeriksa di samping Widuri. Tapi kenapa dia ditolak terus?
"Widuri, jaga kesehatanmu. Makanan itu harus habis," pesan dokter Chandra.
"Iya, Dok."
__ADS_1
Widuri menyahut tanpa melihat ke belakang.
"Ayo, kita bicara di bawah." Dokter Chandra menggamit lengan Dean, untuk mengikutinya. Dean hanya mengikutinya dengan pasrah.
Semua duduk di meja dan siap mendengarkan berita dokter Chandra. Melihat Dean yang lesu, mereka ikut cemas juga. Apa lagi sikap dokter Chandra yang sangat serius.
"Widuri sedang hamil—"
"Apa?"
Seru yang lain serempak. Ini berita besar dan mengejutkan. Sekaligus menggembirakan. Ruangan jadi hiruk pikuk dengan suara tawa dan komentar.
"Bisa aku selesaikan dulu?" tegur dokter Chandra.
"Oh, ya ... tentu saja."
Mereka saling gamit untuk mengingatkan agar diam.
"Widuri hamil. Tapi rasa mualnya agak parah. Dan kita tak punya obat mual. Jadi, jauhkan hal-hal yang bisa memancing keinginan muntahnya," ujar dokter Chandra mengingatkan.
"Mungkin kita tak bisa membersihkan ikan atau daging-dagingan di dekat rumah, agar perutnya bisa tenang," ujar Marianne.
"Apakah aku juga jadi penyebab rasa mualnya? Dia melarangku dekat-dekat," ujar Dean.
"Mungkin saja!" jawab Niken. "Kau harus menjauh untuk sementara,' tambahnya lagi.
"Tapi, kenapa bisa begitu? Tadi dokter Chandra saja bisa memeriksanya dari dekat," protes Dean.
"Mungkin, karena calon anakmu seorang putra. Dia tak mau kau merebut ibunya," kelakar Sunil.
"Masa sih begitu?" Dean tak percaya. Tapi tak ada penjelasan ilmiah tentang itu. "Bajingan kecil itu. Belum juga kelihatan, tapi sudah mau bersaing merebut istriku," ujarnya gemas.
Yang lain terpana sebentar sebelum suara tawa berderai, menggema dari lantai bawah.
Robert merangkul Dean hangat.
"Bajingan kecil itu adalah putramu. Saingan cinta yang kau tak mungkin sanggup melawannya!"
"Hahahaha ...."
Gelak tawa kembali terdengar dari lantai bawah.
Di lantai atas, dalam kondisinya yang tak menentu, Widuri ikut tersenyum mendengar tawa teman-temannya. Dia yakin, itu karena berita kehamilannya.
"Kau membawa kebahagiaan, bahkan sebelum kau lahir." Widuri mengusap-usap perutnya yang masih rata.
"Mama akan menjagamu dengan baik. Jadi mari kita akhiri rasa mual yang hanya akan membuatmu lemah," bujuk Widuri ke arah perutnya.
Perlahan-lahan, bubur di mangkuk dan teh jahe itu habis juga masuk ke perutnya. Widuri merasa ini permulaan yang bagus. Dan tinggal di sini juga adalah hal yang bagus.
"Apakah ini takdir?" batinnya.
"Mama tak akan membahayakanmu, dengan menempuh perjalanan yang belum jelas arah tujuannya," tekadnya dalam hati.
__ADS_1
********