PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 344. Jebakan Tiada Akhir.


__ADS_3

Dokter Chandra mengarahkan tangannya pada anak panah. Dia ingin melepaskan jasad yang sudah tinggal tulang itu. Beberapa saat kemudian, panah itu lebur menjadi abu.


"Baiknya kita simpan dulu, untuk dimakamkan dengan layak, nanti," ujar dokter Chandra.


"Anda mengenalnya?" tanya Indra.


Robert melepaskan lambang bintang pada baju yang sudah lusuh dan compang-camping itu. Lalu diserahkannya pada dokter Chandra.


"Dari lambang ini, jelas dia seorang petugas pintu teleportasi. Sungguh sial dia bertemu dengan bajingan itu." Dokter Chandra menyimpan jasad itu ke dalam penyimpanannya.


"Robert, kau bakar jebakan ini!"


"Baik!"


Robert segera mengeluarkan api merah membara untuk membakar jebakan kayu yang dipenuhi duri-duri runcing mematikan. Tak butuh waktu lama, semua ya berubah jadi arang dan abu.


Dokter Chandra kini bergerak membawa bola cahaya ke tempat mereka semula. Melihat kayu jebakan penuh duri, berkelindan dengan baik beberapa anak panah yang menancap dari berbagai arah.


"Ini jebakan dengan niat membunuh yang kuat. Seperti dendam kesumat," batin Robert.


"Bakar ini!" perintah dokter Chandra.


Robert segera membakarnya. Indra juga membantu dengan api lasernya, agar pekerjaan selesai lebih cepat.


"Akhirnya selesai juga. Batang anak panah ini sulit sekali dihancurkan!" celetuk Indra.


Dokter Chandra mengarahkan tangannya ke tumpukan debu yang kayu-kayu anak panahnya masih utuh. Dalam sekejap, semua kayu itu hancur jadi debu.


"Seberapa panas cahaya putih Penguasa?" pikir Indra kagum.


Kemudian Dokter Chandra berjongkok. Ditekannya batu berpegas yang ada di lantai. Tak lama terdengar bunyi klik mekanis bergerak dari dinding di depan mereka. Benar saja, dinding batu itu dapat bergeser ke samping.


Setelah pintu berhenti bergerak, tampak ruang kosong berbentuk hampir persegi, di baliknya.


Dokter Chandra membawa bola cahaya itu masuk untuk memeriksa. Namun, ruangan itu benar-benar kosong melompong.


Dokter Chandra mengernyitkan dahi keheranan. "Kosong," gumamnya.


"Tidakkah ini aneh? Bagaimana kal-laaaaaauuuuuu!" Robert terpekik kaget.


Dokter Chandra tak menunggu kalimat Robert selesai, dia segera melesat keluar menuju ruangan gua yang besar. Suara berdebum di belakang mereka kembali mengejutkan. Ketiganya berbalik dan melihat bagaimana pintu batu itu menutup rapat kembali.


"Itu juga jebakan?" desis Indra merinding.

__ADS_1


"Dia ingin mengurung kita di dalam lubang batu itu. Sadis!" tambah Robert.


Sekarang mereka terdiam. Semua ruangan sudah diperiksa. Tak ada kemungkinan ruang rahasia apapun. Atau, jikapun ada, maka orang itu pasti akan membuatnya di tempat yang tak mudah ditebak oleh penguasa.


"Penguasa, Dia dapat membaca setiap langkah yang akan Anda ambil," terka Robert.


"Kau benar. Aku merasa sangat tersanjung, karena dia telah bersusah payah untuk mengingat karakter serta pola kebiasaanku." Dokter Chandra tersenyum pahit. "Bukankah ini ironis?"


Robert dan Indra tak berpikir bahwa mereka harus menjawab kata-kata itu. Jadi mereka diam saja.


Dokter Chandra juga bukan sedang meminta pendapat. Dia hanya meluahkan perasaan kesal.dan marahnya saja. Dipandanginya lagi, sekeliling ruangan itu. Di mana lagi kira-kira dia akan membuat jalan atau ruangan rahasia lain? Semua tempat sudah diperiksa berkali-kali.


"Kecuali ...."


Mata dokter Chandra sedikit berkilau. Dia seperti ingin memastikan sesuatu. Robert, Indra, coba kalian simpan kedua pintu teleportasi itu, agar aman. Aku akan melakukan sesuatu di sini," ujar dokter Chandra.


"Baik!" sahut keduanya bersamaan.


Robert menyimpan pintu teleportasi yang bercaha biru. Namun, Indra tak berhasil menyimpan pintu itu.


"Pintu ini tak bisa disimpan. Sepertinya dia melekat pada sesuatu," duga Indra.


"Jangan sembarangan! Bisa jadi adikku yang gila itu memasang jebakan juga pada pintu ini!" umpatnya kesal.


Kemudian terdengar bunyi klik dan suara mekanis dari belakang pintu. Tapi kemudian cahaya di tangan dokter Chandra lenyap. Dia tak yakin apakah harus melanjutkan membuka pintu itu atau tidak.


"Dulu, saat pertama meletakkan pintu teleportasi di sini, aku tak mengaitkannya dengan apapun," gumam dokter Chandra.


"Berarti ada ruang rahasia lagi di balik—"


*Bisa jadi ada jebakan juga di situ!" Indra memotong kalimat Robert.


"Nah ... kira-kira dari mana dan ke arah mana dia memasang jebakan mematikan itu!" sambung Robert.


"Penguasa, sangat mengenal anda. Jadi, bisasanya Anda akan memilih berdiri di mana saat membuka pintu ini, lalu mengelak ke arah mana?" Indra memaparkan pemikirannya.


"Biasanya aku akan menganggap remeh dia, dan berdiri di sini untuk menggeser pintunya. Jika terjadi sesuatu, aku akan mengelak ke samping," ungkap Penguasa.


"Nah, jika sudah mengantisipasi hal ini, maka Anda akan mengelak ke mana?" cecar Robert.


"Mungkin aku akan terbang menjauh ke atas," jawab Penguasa lagi.


"Nah, perhitungan normal, dia akan membuat jebakan dari arah dalam, tepat di pintu masuk sebagai central point. Lalu serangan anak panah dari kanan kiri depan belakang. Kemudian serangan dari arah anda mengantisipasi. Atas, dan samping!" papar Robert.

__ADS_1


"Nah, jadi ke arah mana kita harusnya mengelak?" tanya Indra. Dia tak melihat celah yang mungkin lagi.


"Ke bawah, dengan tiarap. Atau ke sisi ke sana!" Robert menunjuk pada celah dinding batu yang diperkirakan muat untuk menyembunyikan satu orang.


"Sudah! terlalu banyak teori. Hanya menghambat kita melanjutkan pekerjaan. Itulah yang diinginkannya. Mempermainkan ketakutan orang lain," sergah dokter Chandra ketus.


"Tap—"


Robert membekap mulut Indra agar berhenti membantah.


"Bersiap! Kalian awasi.sekitarnya!" perintah dokter Chandra.


Kemudian, cahaya putih berkilauan kembali menyelubungi seluruh tubuh dokter Chandra. Matanya tertutup rapat. Tangan yang disekubungi cahaya itu mengarah ke pintu teleportasi. Bunyi mekanis kembali terdengar dari balik pintu itu.


Perlahan pintu itu bergeser. Dan seperti yang telah diduga, Sebuah papan kayu dari atas, meluncur jatuh hingga menimbulkan bunyi debaman keras di lantai gua.


'Tiarap!" seru dokter Chandra membawa bola cahayanya menjauh dari sana. Robert dan Indra langsung tiarap, sambil melindungi kepala masing-masing.


Puluhan anak panah langsung beterbangan dari seluruh tempat. Serangan itu menuju satu titik. Tepat di depan pintu cahaya.


Mereka menunggu hingga kesiuran angin tak lagi terdengar. Pintu teleportasi benar-benar telah berhenti sekarang. Lantai juga berhenti berderak.


Tiga orang itu mengangkat kepala untuk melihat apa yang sudah terjadi. Ruang gua sudah sepi. Tinggal debu-debu yang masih beterbangan.


"Lihat itu!" tunjuk Indra ke tempat mereka berdiri sebelumnya.


Robert dan dokter Chandra menoleh ke sana. Tepat di tempat mereka berdiri sebelumnya, ada banyak sekali anak panah yang menancap pada papan kayu penuh duri runcing dan tajam.


"Mengerikan!" Ujar Robert.


Dokter Chandra diam melihat itu. ekspresinya sangat dingin.


"Bagaimana ada adik yang begitu ingin membunuh kakaknya seperti ini?" celetuk Indra tak sadar.


Robert menjitak kepalanya gemas dan melihat dengan mata melotot.


"Auuuu! Apa sih?" protes Indra.


"Ayo kita masuk!" ujar dokter Chandra, mengakhiri keributan Indra dan Robert.


"Anda yakin tak ada jebakan lagi di dalam situ?" tanya Indra penasaran.


"Stttt! Diamlah!" Robert memperingatkan Indra lagi, untuk tak terlalu banyak mulut.

__ADS_1


*******


__ADS_2