PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 321. Kepergian Alan


__ADS_3

Lidah petir yang sangat kuat menyambar kubah merah yang dibuat Alan. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Kubah cahaya berkedip-kedip tanda Alan berjuang mempertahankannya. Tubuhnya telah mengeluarkan aroma gosong dan menghitam. Dean tak punya pilihan selain terus menyiramkan air abadi agar kulitnya yang melepuh, bisa pulih kembali.


Namun deraan seakan tak cukup sampai di situ, sebuah gulungan angin badai menyelubungi mereka. Dan jelas, mereka sudah tak berada di tempatnya lagi. kubah merah itu telah redup, kemudian menghilang. Penguasa langsung menyambar tubuh Alan yang akan jatuh menelungkup. Lalu memasang pelindung bola cahaya agar semua orang tak terpisah. Dean dan Sunil berusaha meminumkan air pada Alan, agar luka dalamnya pulih. Namun dia tak bereaksi. Air itu mengalir keluar dari sudut bibirnya yang mengulas senyum bahagia.


Di dalam bola cahaya yang diombang-ambingkan awan badai, Dean dan teman-temannya panik melihat kondisi tubuh Alan. Ini jauh lebih buruk ketimbang yang terakhir kali terjadi.


Dean meraba denyut nadi di kulit yang gosong dan melepuh itu.


"Denyut nadinya lemah sekali..Tapi masih ada. Bantu buka mulutnya, agar dia bisa minum!" teriak Dean parau.


Dengan hati-hati Robert mengangkat sedikit leher Alan dan Sunil membukakan rahang Alan yang mengatup erat. Ada sedikit celah diantara bibirnya yang menghitam. Dean menempelkan bibir cangkir dan mengalir air sedikit demi sedikit.


Butuh waktu hampir tiga menit untuk memasukkan secangkir kecil air. Tapi mereka masih tidak yakin, apakah itu cukup untuk menghidrasi dan mendinginkan suhu tubuh Alan dari dalam.


"Secangkir lagi, Dean!" seru Sunil.


Mereka mencoba menyuapi Alan lagi. Setelah itu membaringkannya hati-hati di bola cahaya Penguasa. Dean terus menyirami tubuh Alan. Asap yang sejak tadi mengepul tebal, makin lama makin menipis. Tubuhnya mulai mendingin karena benar-benar sudah dibuat basah kuyup.


"Badai ini mau membawa kita ke mana? Kepalaku pening, terus berputar-putar dalam gulungan angin," kata Robert jengkel.


Dean dan Sunil melihat, bola cahaya itu terombang-ambing terlempar ke kanan dan kiri di dalam gulungan badai. Ini memang membuat kepala jadi pusing.


Setelah hampir tak kuat menahan rasa ingin muntah, tiba-tiba bola cahaya itu terlempar jauh.


"Aaaaaaaaaaaa ...."


Byuuuurrr


Bola cahaya putih itu menghantam kuat permukaan air. Sekejap, bola itu tenggelam ke dalam air akibat daya dorong dari lemparan tadi. Namun kembali mengapung ke permukaan. Seperti bola menyembul di air.


"Ahh ... kukira aku sudah akan mati," keluh Sunil.


"Ke mana angin itu melemparkan kita?"


Robert melihat heran ke sekelilingnya. Mereka sedang hanyut di sebuah sungai besar. Tapi bukan sungai itu yang mengejutkan. Namun rimbunan hutan hijau di sekelilingnyalah yang membuat shock.


"Apa tempat ini luput dari serangan gelombang panas?" terka Dean.


"Mungkinkah itu?" Sunil tak percaya.


"Sebaiknya kita menepi dulu. Penguasa ...."


Dean terdiam melihat dokter Chandra memeluk Alan yang tak bergerak.


"Penguasa, sebaiknya kita menepi."

__ADS_1


Robert menyentuh tangan dokter Chandra yang memeluk Alan.


Dokter Chandra mengangkat kepalanya dan melihat sekitar. Dibawanya bola cahaya itu ke arah tepi. Namun justru melewati arus deras yang seketika mendorong bola cahaya itu menjauhi tepian.


"Awas, air terjun!" seru Dean.


"Terbang!" perintah menguasa.


Tepat saat bola cahaya melewati tepian tebing, cahaya itu menghilang. Penguasa terbang sambil memeluk Alan. Robert, Dean dan Sunil melayang mengelilinginya.


Setelah keterkejutan mereda, mereka mengarahkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Air terjun yang indah di tengah hutan menghijau.


Sebaiknya kita segera menyingkir, sebelum ada yang melihat," saran Sunil.


"Ayo ke sana." tunjuk Robert.


Mereka terbang ke arah yang ditunjuk Robert. Tempat yang bagus dan indah. Keempatnya turun perlahan dan membaringkan Alan di atas kepingan batu hitam. Tubuhnya mulai sembuh, tapi dia masih tidak bergerak.


"Alan, kapan kau akan bangun? Kau dengar aku? Sepertinya kita sudah sampai. Bangunlah!" seru Sunil di dekatnya.


"Tempat ini sangat indah. Kau rugi jika tak melihatnya," tambah Dean lagi.


"Kenapa aku merasa mengenal tempat ini?" gumam Robert.


"Benarkah? Mungkinkah kita berada di negaramu?" seru Sunil antusias.


Robert berjalan lebih jauh, lalu berputar-putar untuk mengenali tempat itu. Dia bahkan menggali beberapa batu dan terkejut saat menemukan sesuatu.


"Yesss!"


Robert melompat-lompat di sana. Dia terlihat sangat girang.


"Huuuuuu ... akhirnya sampai juga!" teriaknya lagi dengan gembira.


"Kita sampai ... kita sudah ada di bumi yang benar!" teriak Robert sambil berlari ke arah teman-temannya.


"Hah?"


"Kita sudah sampai!"


"Waaaaaa ... akhirnya sampai juga!"


Sunil dan Dean berlari menyambut Robert dan saling berpelukan. Ketiganya menari.


Dokter Chandra tersenyum tipis melihat ketiganya berbahagia. Dia menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


"Kita sudah sampai. Terima kasih untuk pengorbananmu," bisik dokter Chandra lirih. Dokter Chandra mengusap wajah Alan dengan telapak tangannya. Wajah yang bersih dan sesungging senyuman itu membuat matanya kembali berembun.


"Aku baru menemukanmu, namun harus kehilanganmu. Tapi kau dan teman-temanmu telah mengajariku banyak hal, terutama persahabatan dan pengorbanan untuk hal yang lebih besar."


"Dokter, bagaimana dengan Alan?" tanya Robert masih dengan wajah sumringah.


"Kalian bisa berpamitan padanya. Keluarkan yang lain," ujar dokter Chandra datar.


"Hah? Apa maksudnya berpamitan?" sergah Sunil marah.


"Alan. Kau harus bangun. Kita sudah sampai!"


"Bangun, Alan ... Robert mengenali tempat ini dan sudah menemukan bukti bahwa ini tempat yang sama!" Dean berteriak marah.


"Jangan sakiti dia lagi. Keluarkan yang lain agar bisa berpamitan!" Dokter Chandra berseru dengan nada tinggi.


Wajahnya menggelap menahan murka. Tak ada lagi yang berani membantah. Satu persatu teman yang lain, keluar. Dan mereka terkejut melihat tempat itu. Namun lebih mengejutkan lagi saat disuruh berpamitan pada Alan.


Marianne yang lebih dulu menyadari situasi dan duduk berjongkok untuk memeluk Alan.


"Kau sudah ku anggap seperti putraku sendiri, seperti juga Michael. Lalu kenapa kau pergi juga?" isak Marianne pilu.


Dokter Chandra menjauh dan duduk di bebatuan tepi sungai besar itu. Dilemparnya kerikil satu persatu ke tengah aliran air deras. Dari tempatnya duduk, dapat didengarnya omelan disela tangisan.


Pemuda enerjik dan humble itu seperti sedang tersenyum pada dokter Chandra, dari atas air.


"Pergilah ... pengorbananmu tak sia-sia. Baik, aku akan memakamkanmu di sini. Tempat yang indah dan tenang," bisik dokter Chandra dengan senyuman teduhnya.


Suara tangisan masih terdengar dari sana. Dokter Chandra bangkit berdiri dan berjalan ke arah mereka. Diperiksanya denyut nadi Alan.


"Dia sudah pergi. Dia pergi, agar kita bisa kembali. Jd jangan lupakan pengorbanannya," pesan dokter Chandra.


"Anda mengetahuinya?" tanya Sunil.


"Mengetahui apa?" tanya dokter Chandra.


"Bahwa kita akan kembali ke bumi yang sebenarnya jika Alan menerima hukuman dari petir itu?"


"Aku tidak tau. Aku hanya tau tekadnya bulat, untuk apapun yang dikerjakannya. Dia tulus. Tapi, setelah kita ternyata sampai di sini, baru aku mengerti."


"Sudah ... ini bukan salah siapapun. Alanlah yang menawarkan diri. Apa kau lupa?" sela Dean. Lanjutnya lagi, "Dokter Chandra benar, Alan adalah sosok yang selalu ingin melindungi kita. Sudah berulang kali dia melakukannya."


"Sudah sepantasnya kita menghormati keputusan Alan. Mengingat semua kenangan indah selama bersamanya dan saling mengasihi. Itulah cara meneruskan kasih sayang yang ditinggalkannya," tambah Widuri.


Yang lain diam, mencerna semua kata. Tapi tak ada lagi yang mengucapkan kata-kata sembarangan yang mungkin akan melukai perasaan dokter Chandra. Semuanya lebih menahan diri.

__ADS_1


*******


__ADS_2