
"Aku tak mau kembali denganmu! Biarkan aku sendiri. Aku mau ikut dengan Leon!"
Silvia langsung mengatakan keputusannya saat ikatan mulutnya berhasil dilepas. Dia sangat marah!
Namun Mustafa tak membalasnya sepatah katapun. Dia menggeser tubuh Leon yang menindih kaki Silvia. Lalu membantu melepaskan tali pengikat tangan wanita itu.
Dilihatnya pakaian Silvia yang minim, tipis dan berantakan. Dilepaskannya mantel yang dikenakannya, dan memakaikannya pada Silvia.
Setelah itu dia turun dari kereta. Dan langsung pergi dari sana.
"Bawa penjual budak dan kereta serta harta tuan Farouk. Dia sudah mati. Jadi sekarang kereta itu milik kita. Beraninya mereka menyentuh wanitaku!"
"Baik Tuan."
Pengawal dan penjaga Mustafa menyita semua kereta dan dagangan yang dibawa tuan Farouk. Anggota kafilah lain dan para penjaga mereka tak ada yang protes.
Menurut mereka, ini urusan pribadi tuan Farouk. Keterlibatannya dengan pedagang budak yang menjual istri seseorang, telah merugikan anggota kafilah lain. Jadi mereka membiarkan dia menerima balasannya.
Di dalam kereta, Silvia berusaha membuat posisi Leon lebih nyaman. Dia meletakkan sebuah bantal di kepala Leon.
Tiba-tiba kereta itu berjalan. Silvia terkejut. Mengira ada orang lain lagi yang akan menculiknya dan Leon.
"Tunggu! Siapa kau?"
Silvia membuka penutup kereta dan berteriak pada kusir di depan.
"Nyonya, kami memindahkan nyonya ke tempat tuan, agar lebih aman," jawab si pengawal yang mengendalikan kereta kuda itu.
'Nyonya?' pikir Silvia.
'Kusir ini pasti orangnya Mustafa!'
Silvia tak lagi mengganggu sang kusir. Dia kembali duduk di kereta. Dilihatnya Leon yang pingsan. Bagaimanapun, sekarang dia tak mungkin menolak bantuan Mustafa. Setidaknya, sampai Leon siuman.
Tak lama kereta itu berhenti. Silvia merasa lega. Dia duduk dan bersandar pada dinding kereta.
'Lama sekali dia pingsan?'
Silvia melirik Leon.
Tok... tok...
Dinding kereta itu diketuk.
"Ya?" jawab Silvia.
"Permisi nyonya, ini ada istri teman anda. Dia ingin melihat suaminya!" kata seseorang di luar.
'Istri Leon?' pikir Silvia heran.
Penutup kereta itu disingkap dari luar, dan Jane masuk dengan wajah khawatir. Lentera kecil di dalam ruangan itu, menampakkan bekas-bekas air mata di pipinya.
"Leon!" teriaknya sambil memeluk tubuh Leon yang terkulai.
Silvia membeku melihat itu.
"Jangan tinggalkan aku... hu...hu...." Jane sudah tak peduli meski menangis di depan orang lain. Dia terus memeluk Leon dengan sedihnya.
Silvia mengulurkan tangan dan menyentuh pundak Jane.
"Leon, dia...."
"Apa kau teman yang ingin diselamatkannya itu? Demi kau, dia rela mengorbankan dirinya! Dia bahkan memintaku pergi karena takut apa yang dilakukannya bisa menyeretku dalam masalah!"
Jane tak bisa lagi menyimpan semua yang memberatkan hatinya. Wajahnya basah dengan linangan air mata. Matanya sudah sembab karena lama menangis.
"Jangan tinggalkan aku.... Jika kau mati, aku bagaimana...?"
Jane terus saja menggumam dan menangis sambil memeluk Leon.
Silvia mengangkat tangannya dari pundak Jane. Dia jadi terdiam. Otaknya dipaksa berpikir realistis. Kehidupan Leon sudah tak seperti dulu. Yah, sudah berbulan-bulan terdampar tanpa ada harapan untuk bisa kembali. Tak heran juga jika Leon menikah. Bisa jadi wanita ini dulu yang menyelamatkannya.
Jika Silvia mengajaknya pergi mencari jalan pulang, bukankah akan menyakiti istrinya? Silvia lalu ingat hari-hari yang telah dilaluinya di rumah Mustafa.
__ADS_1
'Bagaimana jika istrinya sedang hamil? Aku pasti jahat sekali jika memisahkan mereka karena keinginanku' batinnya.
"Ehemm... nyonya, maafkan aku. Tapi ku rasa, Leon belum mati."
Kata-kata Silvia membuat Jane terdiam seketika. Dilepaskannya pelukannya dari tubuh Leon. Diperhatikannya dengan seksama. Pria itu tetap menutup matanya. Ditatapnya Silvia dengan ekspresi bingung.
"Sebentar...."
Silvia berjongkok dan mencoba meraba denyut nadi di leher Leon. Dia dapat merasakannya dengan baik.
"Ya, dia baik-baik saja. Mungkin pingsan setelah tadi dicekik oleh orang yang membawaku."
"Tapi dia akan segera sadar."
Silvia mengangguk meyakinkan Jane. Tapi Jane hanya memiringkan kepalanya menatap Silvia, lalu Leon, secara bergantian.
Silvia jengah ditatap begitu rupa.
"Ehem... namaku Silvia. Di dunia kami, aku mempelajari pengobatan. Jadi aku bisa memeriksa bahwa dia belum mati!" kata Silvia dengan suara rendah.
Mata Jane membesar. Dia akhirnya mengerti. Wajahnya berubah cerah.
"Ahh, ternyata kau seorang tabib. Terima kasih sudah memeriksanya. Bisakah kau memberinya obat agar segera bangun?"
Kini Jane menaruh harapan besar pada Silvia. Matanya bersinar penuh harapan. Senyuman tulus menghiasi wajah cantiknya.
Silvia jadi merasa kikuk. Dia tersenyum miring. Bingung.
"Ughh... tentang mengobati... aku masih dalam tahap belajar dasar penyakit. Belum sampai bagian pengobatan...." Silvia menggeleng tak berdaya.
Jane kembali menunduk lesu dan memandangi Leon dengan bingung. Hari hampir pagi. Mereka harus kembali melanjutkan perjalanan. Jika dia begini, bagaimana bisa pergi?
Tapi tiba-tiba terlintas ide gila di kepala Silvia. Wajahnya berubah konyol saat membayangkan hal itu.
"Tapi aku ada cara termudah untuk menyadarkan orang pingsan!" kata Silvia dengan senyuman jahat.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Jane tak sabar.
"Siram wajahnya dengan air!" kata Silvia bersemangat.
Silvia terbengong. Cepat sekali gerakan wanita itu. Dilihatnya Leon.
"Hei, bangun! Istrimu sudah sangat panik!" katanya sambil menggoyang tangan Leon.
"Aku membawa air."
Jane tiba-tiba muncul di pintu gerobak. Silvia menyingkir, memberinya tempat.
Byuuurrrr!
"Arrghhh! Uhuk... uhuk...."
Leon terbangun kaget dan gelagapan, karena air memasuki mulut dan hidungnya tiba-tiba.
"Kau akhirnya bangun!"
Jane langsung memeluk Leon gembira.
"Jangan meninggalkanku. Jangan menakutiku lagi... hu... hu...." Tangis Jane kembali pecah.
Kesadaran Leon kembali.
"Aku baik-baik saja. Sudah, jangan menangis. Maafkan aku," ujar Leon lembut sambil mengusap punggung Jane.
Silvia yang melihat adegan mesra itu, menyimpulkan sesuatu.
"Penjaga!" panggil Silvia.
Leon terkejut mendengar suara itu. Dilepasnya pelukan Jane dan berusaha duduk.
"Ya, nyonya!" jawab seseorang di luar.
'Nyonya?' pikir Leon bingung.
__ADS_1
"Tuan dimana?" tanya Silvia lagi.
"Menunggu anda di tenda, nyonya," jawab penjaga itu takzim.
"Katakan padanya sebentar aku kembali," perintah Silvia.
"Akan saya sampaikan segera."
Terdengar langkah kaki menjauh.
"Silvia. Apa maksud percakapanmu tadi?" tanya Leon yang tak ingin menebak-nebak.
"Aku sudah punya suami. Seseorang menjebakku dan menjualku pada pedagang budak saat dia tak ada. Tapi tadi dia sudah menyelamatkanku bersamamu," jawab Silvia tenang.
"Suamimu? Siapa?" Leon makin bingung.
"Ku kira, kau mengenalnya dan meminta bantuannya tadi...." kali ini Silvia yang ganti kebingungan.
"Apa maksudmu? Siapa suamimu?" tanya Leon tak sabar.
Kereta sedikit bergoyang. Lalu penutup pintunya dibuka. Muncul wajah tampan Mustafa di sana. Tersenyum sangat manis pada Silvia.
Penjaga itu telah menyampaikan kata-kata Silvia. Mustafa sangat gembira. Jadi dia menyusul wanitanya dengan tak sabar.
"Saya suami Silvia!" kata Mustafa.
"Kau???"
Leon dan Jane terkejut. Leon kembali mengingat saat dia ketahuan mengintip gerobak barang milik Mustafa. Awalnya dia langsung dijatuhi hukuman mati karena dianggap pencuri.
'Tak heran dia langsung memanggilku masuk saat mendengar tuduhan penculikan Silvia' batin Leon.
"Ya, saya. Terima kasih sudah memberitau saya tentang apa yang menimpa Silvia. Saya tak tau bagaimana membalas hutang budi ini."
Pria dingin itu berusaha bersikap ramah. Sebelah tangannya merengkuh bahu Silvia dan tersenyum padanya. Matanya jelas menunjukkan penyesalan.
"Aku pasti akan membalasnya. Kau jangan khawatir," bisiknya pada Silvia.
Silvia mencari kebenaran dalam mata indah itu. Lalu dia mengangguk.
"Hari sudah hampir pagi. Lebih baik kita berbicara di tenda," ajak Mustafa.
Jane menggeleng pada Leon.
"Kafilah kita akan berangkat saat matahari terbit. Tak ada waktu lagi," katanya.
"Tapi...." Leon merasa masih belum selesai bicara dengan Silvia.
"Jika begitu, bagaimana jika saya atur saat ini saja."
Mustafa berpikir sejenak.
"Tuan Farouk yang sudah lancang menyentuh istriku, sudah mati. Jadi kereta ini dan gerobak barangnya tadi ku bawa ke sini. Dan dia membawa barang-barang dari negara kita untuk dijual di kota sana. Jadi ku fikir tak ada salahnya memberikan kereta dan gerobak miliknya padamu." Mustafa membuat keputusan.
Jane dan Mustafa shock. Ada banyak kata di kepala yang tak terucapkan.
Gerobak penuh barang dan kereta penumpang mewah seperti ini, diberikan begitu saja? Apa dia tak merasa rugi? Seberapa kaya dia?
"Maaf, jika imbalan ini dirasa kurang memadai. Anda sudah menyelamatkan keluargaku, tapi hanya mendapat imbalan sekecil ini. Anda ambil saja dulu ini. Sebentar saya kembali ke tenda dan mengambil yang lainnya."
Mustafa bangkit dari duduk.
"Ayo kita kembali ke tenda, sayang...." katanya pada Silvia.
Silvia mengangguk.
"Sampai bertemu lagi, Leon. Hati-hatilah di perjalanan," ujar Silvia, mengikuti Mustafa turun.
"Eh, tidak... tidak usah tuan. Kereta dan gerobak ini saja sudah cukup buat kami. Terima kasih telah bermurah hati pada suamiku."
Respon Jane mendahului Leon yang masih shock. Wanita itu menyusul Mustafa keluar kereta.
"Baiklah kalau begitu. Suami anda telah mengenal saya melalui tuan Ammar. Dan karena kejadian ini, kita bisa saling bersaudara. Jika suatu hari butuh bantuan, kirimkan pesan melalui toko saya di kota gurun."
__ADS_1
Mustafa mengangguk dan membawa Silvia berlalu. Jane mengedipkan matanya beberapa kali. Bahkan sampai mencubit tangannya. Dia ingin mempercayai bahwa ini bukan mimpi.
******