PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 351. Post Pemantauan Laut Amerika


__ADS_3

"We were stranded here since noon. We didn't know this island was inhabited," jawab Robert.


^^^Artinya: "Kami terdampar di sini sejak siang. Kami tak tahu pulau ini berpenghuni."^^^


"Oh, so you can speak English huh?" Orang berambut jagung itu menganggukkan kepalanya.


^^^Arti: "Oh, jadi kau bisa berbahasa Inggris ya?"^^^


Robert mengangguk.


"Dari mana asal kalian?" tanya orang itu lagi dalam bahasa Inggris.


Robert menjadi juru bicara dan menjawab dalam bahasa Inggris juga. "Kami penumpang pesawat SAE Internatinale yang berangkat 15 November 2021 dari Jakarta menuju Singapura." jelas Robert.


Orang-orang itu jelas sangat terkejut.


"Benarkah?" tanyanya tak percaya. Bagaimana dengan korban lain?"


"Jangan katakan apapun tentang yang lain dan dunia lain!" Dokter Chandra memperingatkan lewat transmisi suara.


Robert menggeleng. "Hanya ada kami yang terdampar di pulau yang tak kami ketahui. Mungkin yang lain terdampar di pulau-pulau lainnya. Dengan pemikiran begitu, kami berpindah-pindah pulau dengan perahu kayu. Mencari korban lain, mencari pertolongan dan jalan kembali ke Indonesia, Singapura atau Malaysia," jawab Robert.


Tampak jelas mereka tak mempercayai penjelasan itu.


"Hemm ... biar nanti kita informasikan yang berwenang tentang kedatangan kalian di sini. Jadi lebih baik kalian beristirahat di dalam.


"Mereka ingin kita beristirahat di dalam," ujar Robert pada Dean dan dokter Chandra.


"Baiklah. Aku merasa lapar. Apa mereka punya makanan?" tanya dokter Chandra.


"Kami merasa lapar. Apakah bisa mendapatkan makanan di dalam? Jika tidak, maka kami akan mencari ikan atau udang saja, di pantai." Robert mencoba bernegosiasi.


Dia sejujurnya tak ingin mengikuti kelompok orang itu memasuki bangunan megah yang tak jelas fungsinya.


"Tentu. Kami akan siapkan makanan sekedarnya," jawab si rambut jagung.


Robert mengangguk ke arah dokter Chandra dan Dean.


"Yakin ingin masuk ke dalam? Belum terlambat bagi kita untuk melarikan diri dari sini." Kata Robert lewat transmisi suara.


"Kita bisa menghancurkan gedung itu sekalian, kalau mereka mau macam-macam," sahut dokter Chandra. Dia melangkah, diikuti Dean. Ketiganya dibawa ke arah pintu masuk gedung itu.


"Apakah perahu kalian ada di pantai?" selidik orang itu lagi.


Robert kembali menggelengkan kepala. "Perahu kami hancur, tak kuat menahan ombak. Kami hanya mengikat beberapa batang kayu yang ternyata sangat rapuh," Robert mengarang cerita yang melintas di kepalanya.


"Kurasa, kau dulu selalu juara dalam pelajaran mengarang," ledek Dean lewat transmisi suara.


"Diamlah!" balas Robert sebal.


"Lalu kalian terdampar di sini." Orang itu menganggukkan kepala. "Kau berbahasa Inggris dengan bagus. Dari mana asalmu?" selidiknya lagi.

__ADS_1


"Aku dari Amerika Serikat," jawab Robert jujur. "Jika boleh tau, siapa namamu dan kami ini terdampar di post perbatasan negara mana?" tanyanya balik.


"Aku Stephen, dan ini post pemantauan laut Amerika Serikat. Anggap saja sudah di kampung halaman sendiri." Senyumnya terlihat ramah.


"Terima kasih," balas Robert dengan senyuman juga.


Robert, Dean dan dokter Chandra dibawa ke ruangan cukup besar. Terlihat seperti ruang makan, karena ada pantry dengan mesin kopi dan sandwich maker di sudutnya.


"Silakan duduk dulu. Butuh waktu untuk menyiapkan makanan tambahan," ujarnya sambil menarik kursi, kemudian duduk.


Tiga sekawan itupun ikutan duduk juga. Meja untuk empat orang, pas untuk mereka tempati.


Seseorang datang dan membawa kertas serta pena. Pria ranbut jagung mengambil dan menyodorkannya ke masing-masing tamunya.


"Tolong isi data kalian. Nama, alamat serta asal negara," ujarnya.


Dokter Chandra memperhatikan kertas hvs dan pulpen di depannya. Air matanya menggenang dan menetes tak terkendali.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Dean.


"Aku hanya merasa haru. Tak menyangka bisa melihat benda ini lagi. Entah apakah aku masih mahir menulis atau tidak." Dokter Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya.


Karena si rambut jagung terus memperhatikan dokter Chandra, akhirnya Robert berinisiatif untuk menjelaskan.


"Dia bilang, tak menyangka bisa melihat kertas dan pena lagi. Entah apakah masih lancar menulis atau tidak!" jelas Robert.


"Oh, aku mengerti. Silakan tulis pelan-pelan saja. Nanti data kalian akan dikirimkan ke post terdekat. Mudah-mudahan mereka segera mengkonfirmasinya dan menjemput kalian ke sini," jelas orang itu.


*


*


Setelah menikmati hidangan malam, pria itu membawa tiga tamunya ke satu kamar yang cukup besar, dengan tiga tempat tidur single.


"Kuharap kalian tak keberatan dengan pengaturan yang hanya seadanya ini," ujarnya merendah.


"Terima kasih," sahut Robert.


"Robert, tanyakan apakah ada kamar mandi atau tidak di sini. Tubuhnya sudah terasa lengket!" gerutu dokter Chandra.


"Apakah ada kamar mandi di sini?" tanya Robert. "Kami ingin mandi dan membersihkan badan."


Pria rambut jagung itu melangkah masuk. Dia melintasi ruangan, kemudian berhenti didepan sebuah pintu.


"Ini kamar mandi," ujarnya sambil membuka pintu dan menunjukkan isinya.


Lalu dia berjalan menuju lemari kayu sederhana. Membuka pintu dan menunjukkan isinya juga.


"Kalian bisa berganti pakaian bersih dengan ini," tunjuknya.


"Wah, bagus sekali! Ada baju baru!" ujarnya gembira. Mendekati lemari dan memilih yang disukainya.

__ADS_1


Sikap dokter Chandra itu kembali membuat irang tersebut mengernyitkan dahi


"Dia ingin mandi. Terima kasih untuk pakaian gantinya," kata Robert sopan.


"Good."


Orang itu hanya tersenyum melihat dokter Chandra melangkah dengan santai ke kamar mandi.


"Silakan istitahat. Saya harus segera melaporkan kedatangan kalian," pamitnya di depan pintu. Robert mengangguk dan memasang wajah ramah, hingga pintu ditutup kembali.


"Huh. Menegangkan sekali," gerutu Dean.


"Sebaiknya kita bersih, lalu istirahat. Entah besok bagaimana hasilnya, kita tunggu saja. Bagaimanapun, mereka harus mengkonfirnasi dulu data-data kita kan. Semoga semua cepat selesai, dan kita bisa pulang," ujar Robert.


"Kalian jangan bicarakan hal lain secara langsung. Takutnya mereka memasang cctv dan perekam percakapan!" Suara dokter Chandra memasuki kepala keduanya.


"Baik, Penguasa," jawab Dean dan Robert.


Malam itu terasa panjang. Karena tak terdengar suara satupun dari kamar tersebut. Mata ketiganya terpejam. Tapi mereka berbincang-bincang lewat transmisi suara.


"Penguasa, bagaimana jika mereka nanti bertanya-tanya tentang kalung kita?" tanya Dean.


"Ya jangan katakan apapun," jawab dokter Chandra pendek


"Bagaimana jika kita didesak?" tanya Dean lagi.


"Aku bisa menbuat kalian tak bisa mengakses kalung itu," ujar dokter Chandra.


"Benarkah? Kalau begitu, beritahu aku caranya," ujar Robert antusias.


Tetapi ada resikonya," jawab dokter Chandra enteng.


"Apa resikonya? Berbahaya tidak?" tanya Dean.


Dokter Chandra diam cukup lama. "Aku hanya harus menidurkan jiwa" Bangsa Cahaya yang ada bersama kita," pungkasnya.


"Menidurkan jiwa Bangsa Cahaya? Bukankah itu artinya kita akan kehilangan kemampuan kita?" protes Dean.


"Yah, memang itu resikonya. Tapi pertimbangkanlah. Kemampuan itu hanya hilang beberapa waktu saja. Jika keadaan genting, itu cara terbaik untuk melindungi keluarga kita di dunia kecil," jelas dokter Chandra.


"Apa mungkin kita akan mati di sini?" tanya Robert.


"Yang paling kutakutkan adalah menjadi objek penelitian!" tandas dokter Chandra.


"Jika kehilangan kekuatan, kita bisa mati. Lalu bagaimana dengan keluarga kita di sana?" bantah Dean.


"Hidup dipenuhi pilihan. Saat diperlukan, harus memilih dan berjuang dengan pilihan itu. Level selanjutnya adalah menerima takdir. Setidaknya, kita dudah berupaya melindungi orang-orang yg kita cintai."


Tak ada lagi diskusi setelah itu. Tiga orang itu tidur dengan gelisah.


******

__ADS_1


__ADS_2