PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 307. Membantu Leon


__ADS_3

Hari ini pekerjaan mereka adalah membuat batu bata. Dan anggota tim ini suda sangat mahir melakukannya.


Mereka berpamitan pada Sulaiman untuk menyiapkan keperluan membangun rumah Leon. Lokasinya adalah empang, dimana mereka jatuh sebelumnya. Dean ingat, bahwa tanah di Empang itu berlumpur dan sedikit liat. Mungkin bisa dicari yang paling sesuai nanti.


Dokter Chandra dan Marianne tinggal di pondok menjaga ternak. Cloudy menemani keduanya sambil bermalasan.


Dokter Chandra membantu Marianne memukul batang padi untuk merontokkan bulirnya. Kemudian menjemurnya di jalanan, dialas selembar kain.


Lewat tengah hari, Sulaiman datang meminjamkan lumpang untuk menumbuk bulir padi agar kulitnya terlepas. Meski matanya tak lagi terang, tapi tangannya cekatan saat menunjukkan cara menumbuk pada dokter Chandra.


Tak banyak yang dilakukan ketiganya. Hanya mengobrol sambil menumbuk padi. Menjelang sore, sudah terkumpul cukup banyak beras yang kulitnya masih kecoklatan. Itu cukup untuk beberapa hari.


"Ini beras yang sangat bagus," puji dokter Chandra.


"Beras baru, biasanya sangat wangi dan menggugah selera," timpal Sulaiman.


Marianne sedang memasak nasi ketika teman-temannya kembali. Mereka mengobrol dengan ceria.


"Marianne, lihat yang kami bawa!" Niken mengangkat tangannya yang memegang seikat tali di mana beberapa ikan besar bergantungan.


"Hebat! Kita bisa makan ikan segar hari ini," sahut Marianne gembira.


Widuri mendekat. "Kau masak apa?"


"Nasi," jawab Marianne.


"Kalau begitu, ikan ini kita bakar saja. Lebih enak dan manis rasanya," saran Widuri.


"Setuju!" Marianne mengacungkan jempolnya.


"Bagaimana pekerjaan di sana?" tanya Marianne.


"Bagus! Sesuai rencana. Sudah ada cukup banyak batu bata yang dicetak tadi. Hari ini dijemur. dan tunggu hingga kering besok, baru dibakar," jawab Widuri.


"Semoga semuanya selesai tepat waktu. Setelah urusan Leon beres, kita bisa pulang ke Jakarta. Lalu kembali ke negara masing-masing," ujar Marianne.


"Aku akan merindukanmu."


Widuri memeluk Marianne. Marianne mengusap lengan Widuri dan tersenyum hangat.


*


*


Malam berganti hari.

__ADS_1


Tiga hari telah berlalu. Rumah baru untuk Leon dan Jane sudah berdiri di bukit. Sebatang pohon rindang sengaja dibiarkan untuk meneduhi halaman rumah. Lebih jauh sedikit, ada dua batang pohon kelapa. Jangan tanya buahnya. Alan sudah sibuk untuk memetiknya.


Dean juga menyiapkan kolam penampungan air hujan di belakang rumah. Hal itu sangat penting untuk penduduk pesisir. Agar punya stok air tawar yang cukup.


Mereka juga sudah menyiapkan sumur, yang airnya bisa digunakan untuk mandi serta mencuci dan untuk memasak. Air di sumur Leon terasa lebih segar ketimbang yang ada di dekat rumah panggung waktu itu. Mungkin karena letaknya lebih tinggi dan ada di tengah pulau.


Sebidang tanah kebun juga sudah disiapkan oleh Dean dan kawan-kawannya. Lahan untuk menanam gandum dan padi juga sudah disiapkan. Tak lupa kandang untuk dua ekor kambing jantan dan betina yang tersisa. Kemudian Indra menyerahkan kandang ayam pada Leon.


Leon sangat terharu melihat semua telah dipersiapkan oleh teman-temannya.


"Kalian tak jadi memotong domba?" tanya Leon heran.


"Tidak. Kami sudah akan pulang. Kami tak membutuhkannya lagi," kata dokter Chandra.


"Kau lebih membutuhkannya di sini. Agar ada susu untuk membuat keju dan mentega. Agar ada telur untuk membuat kue-kue," Sunil menimpali.


"Sulit untuk mendapatkan gula di sini. Akan bagus jika kau menemukan lebah madu dan memeliharanya di halaman," kata Sunil lagi.


"Aku menemukan lada bunga liar di sebelah sana. Cukup luas. Mungkin di sekitar itu ada sarang lebah. Kau bisa memeriksanya nanti," ujar Niken.


"Dan aku sudah mengajari Jane, jenis-jenis bunga yang bisa dipetik untuk dijadikan teh herbal," sambung Marianne.


"Terima kasih, Marianne," kata Leon terharu.


"Ah ... ayo kita selesaikan. Jadi para wanita bisa segera membuat daging asap."


Dean berjalan ke arah Alan dan Robert di sana.


"Kita lakukan di halaman belakang saja."


"Oke!"


Alan menuntun sapi tersebut ke belakang rumah. Itu ternak mereka yang terakhir. Harus dikorbankan untuk bekal perjalanan dan sedikit stok utk Leon.


"Lokasi rumah kalian sangat bagus," puji Widuri pada Jane.


"Ya. Dari ketinggian ini, kau bisa duduk-duduk sambil memandang lautan lepas. Indah banget." Niken menimpali.


"Dan di sini kita bisa terang-terangan membangun rumah menghadap laut. Berbeda dengan rumah kita di tebing hutan larangan," kata Marianne.


"Di sana, pohon-pohonnya besar dan raksasa. Suasananya adem, tapi di sini sangat panas."


Niken memicingkan matanya memandang air laut yang berkilau tertimpa sinar matahari.


"Hei, ku kira aku masih punya beberapa bibit apel dan lemon. Sebentar aku minta pada Dean dari penyimpanan. Mungkin bisa ditanam di sini!"

__ADS_1


"Itu bagus!" seru Niken.


Widuri mengangguk dan melangkah cepat ke arah para pria berkumpul.


Sore itu, para pria sibuk menyiapkan perapian khusus, untuk mengasapi daging. Agar daging dapat bertahan lebih lama. Sementara para wanita sudah sibuk memasak sup tulang untuk malam hari.


*


*


"Jadi, bagaimana rencana kalian selanjutnya?" tanya Leon.


"Iya Dean, apa kita benar-benar harus menunggu kapal tengkulak datang? Bukankah kita bisa terbang kapanpun ke pulau lain?" protes Alan.


"Lalu, kita menggemparkan seluruh dunia!" Ujar Sunil ketus.


"Itu maksudku. Kita sudah kembali ke peradaban manusia. Tidaklah umum ada manusia yang bisa terbang seperti burung," jawab Dean.


"Tapi, kapal itu tidak jelas kapan datangnya," gerutu Alan kesal.


"Satu hal lagi! Leon, di sini tak ada listrik. Bagaimana kalian akan melewatinya saban malam?" Alan masih menggerutu. Tapi semua membiarkan dan mendengarkannya.


"Ah, andai saja ada kincir angin di sini. Atau panel Surya. Kedua alat itu cocok dipasang di tempatmu. Dan akan menghasilkan listrik yang memadai untuk beberapa lampu."


"Kawan, kau harus bekerja keras dan menghasilkan uang. Jadi bisa membeli kapal sendiri. Dengan begitu, kau bisa menjual hasil panen dengan harga yang bagus. Dan membeli keperluan penting rumah ini," tambah Alan lagi.


"Kau sudah selesai bernyanyi?" ejek Niken. "Berisik banget dari tadi."


"Kau tau apa? Aku ini teknisi. Tapi sejak pesawat jatuh, aku tak bisa melakukan hal itu lagi. Dan melihat rumah gelap ini, kepalaku terasa mau pecah. Tak bisa kuhentikan pikiran harus ini, harus itu. Aku bisa membantu memasang peralatan itu, tapi- yah ... alatnya tak ada. Hahahaha." Alan tertawa sumbang.


Robert, Dean dan dokter Chandra tak terlalu terganggu dengan ocehan Alan. Mereka tau, Alan hanya sedang sedih berpisah dengan Leon. Dan tak lama lagi semua mereka akan kembali pada keluarga masing-masing. Dia hanya tak tau cara mengungkapkan isi hatinya.


Namun, Niken yang usil dan sangat bawel masih terus mengganggu dan mengajak Alan bertengkar. Pertengkaran yang lucu dan tak perlu. Tapi hal itu justru berhasil meramaikan malam yang sunyi.


Kadang, seseorang mengekspresikan isi hati dengan cara tak biasa. Alan dan Niken adalah dua orang yang berhasil merubah aura kesedihan menjadi aura perang yang penuh semangat.


"Bukankah ini makan malam yang indah? Kita bisa melihat soap opera sambil makan!" celetuk Marianne.


"Hahahaha ...."


Mereka akhirnya tertawa bersama. Sementara Jane hanya tersenyum simpul melihat tingkah teman-teman Leon.


"Akan sangat menyenangkan bila bisa terus bersama-sama," pikirnya.


******

__ADS_1


__ADS_2