
Pagi ini, adalah kali ke-empat dokter Chandra, Robert dan Sunil pergi. Mereka tidak menggeser lokasi keluar. Tapi mengganti sedikit bagian tahun yang ada di pintu teleportasi. Mereka berharap bisa sampai di bulan-bulan awal tahun 2022.
"Apa semua perbekalan sudah siap?" tanya Dean.
"Sudah. Jangan khawatir." Robert menepuk pundak Dean.
Tiga orang itu segera berada dalam bola cahaya putih Penguasa. Dan bola itu perlahan lenyap ditelan pintu teleportasi.
"Hahahaha ... akhirnya, kita akan segera pulang. Lihatlah, mereka saja bisa pulang pergi dengan pintu teleportasi itu," ujar Indra bersemangat.
Dean tersenyum. "Ayo, kita lanjutkan lagi pekerjaan rumah itu."
Keduanya terbang menyusuri lorong gua menuju keluar.
"Dean, bisakah rumah di dekat hutan itu kutempati berdua dengan Niken?" tanya Sunil hati-hati.
"Tentu saja bisa. Bukankah kau yang pertama ingin membangun rumah di situ?" sahut Dean tersenyum lebar.
"Ahh Dean ... kau pengertian sekali. Aku mencintaimu!" teriak Indra sambil terbang.
"Menjijikkan!" Dean mendorong Indra menjauh, dan melesat cepat ke pondok cantik yang belum selesai itu.
"Hahahaha ...."
Indra tertawa senang dapat menggoda temannya itu. Dia mengejarnya dan berputar-putar di atas pondok sambil mengganggu Dean.
Dari kejauhan, Tiga wanita melihat mereka sambil geleng kepala.
"Tempat ini membawa kebahagiaan," cetus Marianne.
Niken dan Widuri mengangguk setuju.
"Jadi, berapa banyak susu yang kita punya?" tanya Widuri.
__ADS_1
"Segini." Niken menunjukkan kendi tanah liat yang dipegangnya. "Jika ada dua ekor sapi yang melahirkan, pasti akan sangat banyak susu yang bisa diolah jadi mentega atau keju," sambungnya.
"Kau harus minum susu, Widuri. Itu bagus untuk bayimu," saran Marianne.
"Apa tak perlu dimasak dulu?" tanyanya ragu.
"Jika kau ingin dimasak dulu, mari kita masak. Kau harus memaksa dirimu makan, agar tetap kuat dan anakmu berkembang," bujuk Marianne.
"Rasanya aku tak sabar melihat keponakanku yang ganteng itu," celoteh Niken.
Mereka bercanda dan tertawa sepanjang jalan dari padang rumput menuju rumah.
Sejak Dean dan Indra menemukan kebun buah di belakang hutan, Widuri jadi merasa sedikit lebih baik. Dia kerap membuat sambal rujak untuk menikmati potongan-potongan buah segar yang ada.
*
*
Dua hari berlalu.
Mereka membawa para wanita ke sana, untuk melihat. Widuri juga ingin melihat, tapi cemas akan mual jika berdekatan dengan Dean. Tapi Dean tak kehilangan akal. Widuri diminta duduk dengan baik di bangku, lalu dibawa terbang melayang.
Sekarang mereka bisa menikmati rumah baru Niken dan Indra.
"Tempat ini spektakuler!" seru Niken bahagia.
"Saat kita kembali nanti, Aku akan beli kamera lagi dan memotret tempat ini." Niken sudah memiliki rencana-rencana di kepalanya. Senyumnya terkembang, manis sekali.
"Dilukis juga bagus!" tambah Indra. "Lukisanmu sangat realistis. Bahkan lebih bagus dari aslinya," pujinya lagi.
"Kita harus membeli banyak kertas untuk kubuat sketsa tempat ini." Niken merasa mantap dengan rencana yang didukung suaminya.
Mereka memeriksa dua buah kamar yang telah memiliki tempat tidur serta rak dinding. Kamar mandi, yang airnya dialirkan dari sungai. Dapur yang cukup untuk aktifitas Niken nanti. Serta ruang makan di tengah rumah yang berisi meja bulat dengan empat kursi.
__ADS_1
"Duduk di teras ini sangat menyenangkan."
Marianne duduk di lantai deck setelah lelah mengitari rumah itu. Deck teras itu terbuat dari kayu. Tingginya dari permukaan tanah, sepinggul orang dewasa. Jadi mereka bisa duduk sambil mencangkungkan kaki dan menggoyangkannya ke depan-belakang.
Anggota tim itu bisa melihat pemandangan luas seluruh tempat. Terutama tentu saja pemandangan bukit dengan air terjun yang dilatari birunya langit.
"Anak-anak kita akan sangat bahagia nanti, jika bisa bermain-main di sini," lontar Niken tanpa sadar.
"Indra, kalian harus bekerja lebih keras lagi. Istrimu ini sudah sangat ingin punya bayi juga," ledek Marianne.
"Tentu saja. Aku rela bekerja keras untuknya," jawab Indra dengan mimik serius.
"Hahahaha ...."
"Maumu!" balas Niken sewot
*
*
Malam hari.
Dean dan Indra tidur di lantai bawah rumah. Udara dingin sehabis hujan petang sebelumnya membuat mata mereka terasa sangat berat. Ditambah kerja keras beberapa hari membangun pondok tepi hutan itu. Mereka memang ingin istirahat. Rumah itu bisa ditempati besok.
Dean dan Indra sedang tidur pulas di bagian bawah rumah panggung.
"Dean! Indra! cepat ke sini!"
Kedua segera membuka mata dan melihat menembus kegelapan malam.
"Apa kau mendengar sesuatu?" tanya Indra bingung.
"Cepat ke gua!" kembali terdengar suara.
__ADS_1
"Penguasa!" seru keduanya. Mereka langsung bangkit dan terbang melejit menuju gua.
******