PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 272. Pintu Teleportasi


__ADS_3

Tim itu beristirahat dan sarapan di ruangan itu. Mereka membiarkan Dean, Alan dan Sunil mengurus jasad tawanan tersebut.


"Air apa itu? Kenapa kalian membasahiku?" tanyanya tak senang.


"Ini air dari mata air abadi. Aku membawanya dari tempat tugasku," jawab Dean.


"Hei nak, kau melanggar peraturan! Jika aku masih hidup, kau akan ku hukum!" katanya keras.


"Dunia kita sudah hancur ribuan tahun yang lalu. Kita semua sudah mati. Siapa yang mau menghukum siapa?" ejek Alan sebal.


"Lalu bagaimana kalian bisa tetap hidup?" tanyanya heran.


Dean tersenyum sumbang. "Kami juga sudah ratusan tahun mati."


"Hah???"


"Lalu bagaimana kalian masih bisa ke sana-kemari?" tanyanya heran.


"Sekelompok manusia dari bumi itu yang menemukan jasad kami. Lalu menyirami tulang belulang kami dengan air abadi. hingga jasad kami utuh lagi. Sekarang semua jasad kami sudah dikuburkan dengan layak." Dean menjelaskan.


"Lalu tubuh siapa yang kalian pakai?" tanyanya dengan rasa ingin tau yang besar.


"Tentu saja tubuh mereka. Dunia kecil kami itu sudah sekarat. Hanya ada 2 pilihan. Tinggal di sana dan hilang dalam kehancuran, atau mengikuti mereka mencari jalan pulang ke dunianya."


"Hemmm... menarik."


Suara itu tampaknya tertarik dengan penjelasan Dean. Karena dia segera mengalihkan perhatian pada anggota tim yang lain.


"Ternyata kau membawa teman-temanmu masuk. Bagaimana mereka bisa tiba-tiba ada?" tanya suara itu.


"Mereka berada di ruang penyimpanan. Oh ya. Dimana kalung penyimpananmu? Aku tak melihatnya." tanya Dean heran.


"Aku menyembunyikannya di satu tempat. Atau para penjaga licik itu akan merampoknya!" ucapnya ketus.


"Syukurlah, tubuhmu kembali pulih seperti semula," ujar Alan.


Alan mengeluarkan satu stel pakaian lamanya. "Aku hanya punya baju usang ini. Ku rasa ini cukup pantas untuk menggantikan pakaianmu yang rusak itu."


"Cih! Aku tak mau memakai baju pekerja sepertimu," katanya sombong.


"Ya sudah. Biarkan saja tubuhnya terbuka dan dilihat semua orang di sana!" ujar Sunil ketus.


"Tidak! Kalian bisa tolong carikan kalung penyimpananku. Aku menyembunyikannya di satu celah dinding saat pertama dibawa ke mari," katanya.


"Bagaimana mungkin kau masih bisa menyembunyikan sesuatu jika kau ditahan?" Alan tak percaya.


"Jangan mau menurutinya Dean. Itu bisa saja sebuah jebakan!" Sunil ikut mengingatkan.

__ADS_1


"Huftt.... Aku dijebak. Aku tidak masuk sebagai tahanan. Mereka mengundangku untuk membicarakan kerjasama keamanan. Tapi saat kami tak mencapai kesepakatan, mereka langsung menahanku di sini."


Dia melanjutkan. "Cari kalungku, ambil pakaianku. Kalian akan tau aku siapa."


Ketiga orang itu saling pandang. Tak ada nada bohong dalam suaranya.


"Biar aku yang mencarinya. Kau harus mengikuti dan menunjukkan tempatnya," ujar Sunil mengalah.


"Kau yakin ingin mencarinya?" tanya Dean.


Sunil mengangguk.


"Alan, jika sesuatu terjadi padaku, hancurkan jasad itu menjadi debu. Maka dia tak punya kesempatan utk hidup lagi!" ujar Sunil tegas.


"Oke!" Alan langsung menyimpan jasad itu dalam kalung penyimpanannya.


"Hah?! Apa maksudmu?" suara itu bertanya dengan heran.


"Kalau kau mengira masih bisa bermain trik setelah kau mati, kau salah besar. Teman-temanku menyimpan jasadmu. Kau tak ada kesempatan untuk hidup lagi jika kau culas!" ejek Sunil.


Suara itu diam sejenak.


"Kau masih mau mencari atau tidak?" tanyanya ketus.


"Sebenarnya kami tidak punya kepentingan dengan kalung penyimpananmu. Kami bisa menguburkanmu begitu saja," ujar Sunil jual mahal.


"Baiklah... ikuti petunjukku. Bantu aku mencarinya." Nada suaranya yang sombong tadi, telah hilang.


Dean tersenyum tipis. Mereka mulai bisa menaklukkan kesombongan orang ini.


"Ayo!"


Sunil terbang perlahan melewati lubang di dinding ruangan. Suara itu menuntunnya ke arah sebuah lorong. Lalu masuk ke sebuah ruangan lain melalui pintu lengkung.


Sunil terkejut melihat apa yang ada di tengah ruangan yang luas itu.


"Apa itu?"


Sunil menunjuk sebuah bidang cahaya putih berkilau yamg seperti cermin. Bayangannya bahkan dapat terpantul di situ.


"Ini pintu teleportasi. Dari sini aku keluar saat datang," jawab suara itu.


"Kau berpindah kemari dari negara kita?" tanya Sunil.


"Ya. Tentu saja dari negara kita. Dari dalam istana!" ujarnya bangga.


"Hah...."

__ADS_1


Sunil merasakan kekecewaan di hatinya. Rasanya perih sekali.


"Tenang saja. Aku akan membawa kalian kembali. Kalian akan disambut di istana. Sekarang kita cari dulu kalungku!" ujarnya bersemangat.


"Kembali? Apa kau waras? Dunia kita sudah hancur! Kau mau kembali kemana?!" bentak Sunil kesal.


"Dari mana kau tau?" tanyanya tak yakin.


"Heh... kau terkurung di sini ribuan tahun. Bagaimana kau tau keadaan di luar. Orang yang menahanmu pun, pasti sudah mati juga. Itu sebabnya dia tak pernah kembali. Dan kau akhirnya mati kelaparan di sini!" ujar Sunil Sinis.


"Jangan mengejekku! Katakan dari mana kau tau dunia kita sudah hancur? Apa bangsa Mort berhasil menaklukkan bangsa kita?" tanyanya bingung.


"Bukan bangsa Mort. Dunia kita, dan dunia lain di bintang-bintang itu saling bertabrakan satu sama lain. Bintang-bintang itu sudah hancur berkeping-keping." Sunil menunduk sedih.


"Apa?!"


"Kau yakin? Siapa yang mengatakannya?!"


"Bi, salah satu pasukan penjaga yang terdampar di dunia manusia, menceritakannya. Ada lagi kesaksian dari salah satu pelajar tentang kejadian itu. Kami juga bertemu bangsa The Fallen Angel yg dunianya juga mengalami kehancuran dan terdampar di dunia lain. Kami telah menjelajah melalui berbagai dimensi."


Sunil menceritakan banyak hal, agar orang itu mengerti bahwa dia sudah tak bisa lagi membanggakan bangsanya dengan maksud menindas anggota tim lain.


Suara itu hening cukup lama.


"Baiklah... kita lanjutkan mencari kalungku saja." Suara itu terasa mengambang... hampa....


Sunil mencari di banyak tempat, sebab orang itu sedikit lupa dimana persisnya dia menyimpannya.


A few moments later.


"Aku menemukannya!" ujar Sunil senang. Diperhatikannya kalung indah di tangannya itu.


"Hemmm... kalung yang sangat bagus. Tak heran kau begitu sombong. hehehee...."


Sunil terkekeh.


"Jangan mengejekku nak. Kau akan terkejut jika melihat apa yang ku simpan." tegurnya halus.


Sunil tak menggubris. Dia terbang ke arah ruang tahanan, menemui anggota tim lainnya.


******


Karya baru sudah terbit yaa.. mari ramaikan. 💙❤💚


Jangan lupa ikuti grup chat author, lihat di profil. Kita bisa ngobrol dan berbagi saran serta masukan. Terima kasih.🙏


__ADS_1


__ADS_2