PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 157. Tentang Marianne


__ADS_3

"Dean, apa kalian mau memeriksa ke sana lagi pagi ini?" Tanya dokter Chandra setelah sarapan.


"Ya. Tolong bantu Michael untuk berjaga di sini." Ujar Dean.


""Bukannya tempat ini aman yah?" Tanya dokter Chandra bingung.


"Ada makhluk yang kami tidak tau jenisnya tapi selalu mengawasi tempat ini." Michael yang menjawab.


"Benarkah?"


Dokter Chandra memandang tak percaya. Tapi Michael, Widuri dan Nastiti mengangguk tegas.


"Pondok kita ini berada di hutan larangan. Hutan aneh dimana tak ada seekorpun binatang yang bisa diburu." Nastiti memberi sedikit gambaran.


"Kami pergi dulu." Potong Alan yang sudah melayang naik. Dean segera menyusulnya.


"Beri aku penjelasan." Kata dokter Chandra tak sabar.


Apakah snda tak ingin mengecek keadaan Niken lebih dulu? Dia belum bangun juga dari semalam." Widuri mengingatkan.


"Ah, aku hampir lupa." Dokter Chandra pergi untuk memeriksa Niken. Widuri membuntutinya dari belakang.


"Bagaimana Niken dok?" Tanya Widuri khawatir.


""Mungkin dia hanya sangat kelelahan. Itu sebabnya tidur lebih lama. Kondisinya tak terlalu buruk. Tak ada cedera. Mungkin hanya menelan air laut lebih banyak saja." Jawab dokter Chandra.


"Apa dia bisa bangun sendiri?" Tanya Widuri. Dokter Chandra mengangguk. Dia akan berdiri tapi ditahan Widuri.


"Dok, saya mau bicara sedikit tentang Marianne." Widuri berbisik.


Dokter Chandra merasa ada yang janggal dengan sikap Widuri. Untuk apa sampai berbisik begitu?


"Ada apa?" Dokter Chandra ikut-ikutan berbisik.


"Lebih baik tidak dibicarakan di sini. Mari saya ajak untuk melihat makan Dewi. Kita bicara di sana." Widuri bangkit dan melangkah keluar.


"Saya ingin memeriksa Sunil sebentar." Kata dokter Chandra.


"Oh, baiklah. Silahkan dok." Widuri membiarkan dokter Chandra masuk ke kamar para pria untuk memeriksa Sunil.


"Bagaimana dengan Niken?" tanya Nastiti.


"Menurut dokter dia hanya tidur karena kelelahan. Nanti bangun sendiri." Jelas Widuri.


"Oh, baiklah.. mari kita tunggu dia mau bangun kapan." Nastiti manggut-manggut.


"Widuri, kau bisa ke sini sebentar?" panggil dokter Chandra.

__ADS_1


"Ya dok. Ada apa?" Widuri mendekat.


"Bisa katakan padaku apa yang terjadi padanya?" Dokter Chandra menatap serius.


Widuri terdiam sesaat...


"Ceritakan saja semua." Niken menyela dari depan pintu. Widuri menoleh lalu mengangguk.


Widuri duduk di pinggir dipan kayu, di sebelah kaki Sunil.


"Ceritanya bermula dari kami melintasi pintu cahaya di gua di bawah hutan pinus penuh salju.." Widuri laku menceritakan semua yang mereka lalui pada dokter Chandra.


Dokter Chandra terduduk diam, merasa tak percaya. Tapi mereka semua adalah rekan-rekan seperjalanan yang asli. Bukan makhluk dunia lain yang menyerupai orang yang dikenalnya, seperti sangkaannya semula.


"Dok, kenapa dok?"


Widuri menggoyangkan tangannya di depan wajah dokter Chandra.


"Baiklah.. baiklah.. aku tak terlalu mengerti semua itu. Tapi secara fisik, Sunil sebenarnya sudah sembuh. Itu yang tidak ku mengerti, kenapa dia tak merespon rangsangan apapun. Tanpa peralatan medis memadai seperti di rumah sakit modern, kita tak bisa membuat kesimpulan." Dokter Chandra menggelengkan kepalanya.


"Dunia ini saja sudah aneh. Dean, Alan dan Sunil sendiri juga sudah berbeda dari manusia biasa. Jadi menurutku, ada hal yang tak bisa kita jelaskan secara medis, sedang terjadi pada dirinya." Kata dokter Chandra


"Dok, kalau saya melihat film tentang kedokteran, suka ada yang menyetrum dada pasien dengan alat. Apakah mungkin Sunil juga harus mendapat perlakuan sama? Tanya Nastiti.


"Defibrilator. Itu untuk memulihkan pasien yang mengalami serangan jantung. Tapi Detak jantung Sunil terdengar bagus," kata dokter Chandra.


"Lalu bagaimana solusinya dok?" Widuri merasa putus asa. Tabib dan dokter sama-sama tak punya solusi untuk Sunil.


Dokter Chandra menggeleng.


"Begini saja. Karena fisiknya sudah pulih, lebih baik kita upayakan untuk menjemurnya di bawah sinar matahari pagi. Itu bagus untuknya. Selain mendapatkan vitamin D alami, merubah posisi tubuhnya juga dapat menghindarkan datangnya penyakit lain..."


"Itu bagus dok. Kenapa kita tak terpikir ke arah sana?" Michael tiba-tiba memotong pembicaraan.


"Aku akan siapkan tempat berbaring untuknya di bawah pohon." Michael sudah berlari ke pelataran untuk menyiapkan tempat. Michael menggunakan papan lebar yang dipakai Dean sebagai alas tidur tadi malam. Papan itu ditempatkan di atas susunan beberapa bangku.


Mereka lalu bersama-sama menggotong tubuh Sunil keluar kamar dan dibaringkan di atas papan lebar di bawah sebatang pohon besar. Tempat yang cocok untuk berjemur matahari pagi.


"Kta butuh tandu untuk memudahkan membawanya kembali ke kamar nanti." Kata Nastiti.


"Kau benar." Marianne juga merasa ngeri melihat mereka memapah Sunil tadi.


Michael menemani Sunil berjemur dengan duduk di bangku di sebelahnya. Diajaknya Sunil ngobrol. Sesekali diurutnya jari-hari tangan dan kaki Sunil untuk melancarkan peredaran darahnya.


"Kau harus cepat bangun O. Lihatlah matahari yang begitu indah. Apa kau tidak rindu bermain air di bawah tebing?" Michael terus berceloteh.


Dokter Chandra tersenyum melihat itu. Ada rasa haru di hatinya melihat tim Dean yang sangat kompak bahkan rela mengadu nyawa untuk menjaga yang lainnya, seperti Sunil ini.

__ADS_1


"Widuri, antar aku melihat makam Dewi." Kata dokter Chandra.


"Iya dok. Mari." Widuri bangkit dari duduk.


Mereka berjalan mengikuti sisi pagar. Widuri memetik beberapa bunga liar yang dijumpainya sepanjang jalan. Mereka akhirnya sampai di makam Dewi di pinggir tebing.


"Pemandangan yang indah," cetus dokter Chandra kagum.


Widuri meletakkan segenggam ranting bunga di atas makam Dewi. Dia memejamkan mata dan berdoa.


Setelah beberapa saat yang hening. Dokter Chandra buka suara.


" Kau ingin mengatakan sesuatu bukan?" Desak dokter Chandra.


"Ehemm. Ya dok. aku merasa Marianne tidak baik-baik saja. Aku khawatir siksaan yang dialaminya saat diculik dan dijadikan budak itu membekas dan membuatnya sakit. Tapi dia bukan orang yang suka mengeluh. Dia akan diam saja meskipun merasa sakit, karena takut menyusahkan yang lainnya."


"Sebelum ini kami tak punya dokter. Jika sakit ringan, kami tinggal minum air abadi, maka semua akan baik kembali. Tapi sekarang ada anda, jd mestinya Marianne mau terbuka pada anda. Kemarin sebelum anda datang, aku dan Nastiti berpikir untuk meminta bantuan tabib." Widuri mengatakan semuanya dengan jujur.


"Hemm, rupanya seperti itu. Tapi bukankah kalian mengatakan bahwa air abadi itu bisa menyembuhkan penyakit apa saja, selain kematian?" Tanya dokter Chandra.


"Yahh.. sejauh ini, itulah yang terjadi." Jawab Widuri. Lalu dia meragu sejenak.


"Apa maksud dokter Marianne akan..?" Widuri tak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Bukan begitu. Kau salah paham. Aku hanya berusaha menarik benang merah masalah ini. Jika setelah sekian lama, setiap hari mengkonsumsi air itu, tapi fisiknya tetap menurun, ku rasa memang ada penyakit lain yang tak dapat dipulihkan hanya dengan air itu. Atau memang ada campur tangan Tuhan yang tak bisa kita elakkan." Dokter Chandra menjelaskan pandangannya.


"Atau mungkin juga dia mengalami trauma yang sangat dalam. Dan itu menggerogoti kesehatannya," duga dokter Chandra.


"Untuk menilainya, butuh observasi lebih lama.." dokter Chandra berpikir keras.


'Apakah mungkin Sunil juga mengalami masalah serupa?' Widuri risau.


"Jangan tunjukkan reaksi begitu di hadapan Marianne," tegur dokter Chandra.


"Kita harus bersikap wajar, hargai apaoun keputusannya. Aoakah ingin menyimpan rapat beban yang disimpannya, atau ingin cerita. Jika dia ingin bicara, maka kita akan siap untuk mendengarkan. Jadi jangan tunjukkan rasa khawatir yang berlebihan yang mungkin justru membuatnya ragu untuk bicara." Saran dokter Chandra.


Widuri mengangguk mengerti.


"Hapus air matamu. Mari kita kembali dan melihat perkembangan Niken dan Sunil.


"Terima kasih nasehatnya dok." Ucap Widuri.


"Aaaaaaaahhhh.. toloooonggg.."


Terdengar teriakan dari arah pondok. Widuri dan dokter Chandra terkejut. Keduanya segera berlari untuk kembali ke pondok.


*****

__ADS_1


__ADS_2