
Tim itu bergerak dan mencari jalan menuju Timur. Karena terbiasa terbang, membuat mereka merasa, berjalan itu terlalu lambat. Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Karena ada banyak orang berseliweran di sana sini, mencari di puing-puing bangunan.
Hingga tengah hari. Setelah bertanya berulang kali pada banyak orang, akhirnya mereka menemukan jalan yang dimaksud Niken. Saat tak ada yang melihat, Niken dan Indra dikeluarkan. Tapi Niken terdiam di ujung jalan. Dia terlihat ragu. Hingga seseorang berjalan melewati tempat itu. Mereka bertanya lagi.
"Maaf bertanya, Pak," sapa Niken ramah.
"Ya. Ada apa?" jawab pria setengah baya itu.
"Apa ini jalan Melati, Cipayung?" tanya Niken.
"Ya, betul. Mau mencari siapa? Coba cari di pusat penampungan gedung Pertanian di depan sana," ujar pria itu.
"Mencari Orangtua saya, Pak. Sudah enam tahun berlalu. Saya khawatir salah jalan," balas Niken.
Pria itu mengangguk mengerti.
"Setelah melihat keadaan begini, pemilik rumah pun, bisa merasa tak yakin pada rumahnya sendiri." Pria itu menunduk sedih.
"Terima kasih bantuannya pak. Saya mau lihat rumah saya dulu."
Niken dan teman-temannya berpamitan pada pria itu. Mereka memperhatikan seluruh rumah di kiri dan kanan jalan. Sementara Niken, dia menghitung jumlah rumah sejak dari ujung jalan. Kemudian dia berhenti di depan sebuah halaman yang pagar besinya sudah meleleh dan meninggalkan tembok berongga yang rapuh.
"Apakah di sini?" tanya Alan.
Dengan ragu, Niken menjawab, "Rumahku adalah rumah ke tiga belas dari ujung jalan. Tapi rumah ini, pagar ini sangat berbeda."
"Mungkin sudah direnovasi? Atau pindah?" Sunil memberi gambaran.
Niken tak menjawab. Dia melihat juga dua rumah di samping kiri dan kanan rumah itu. Dia tak mengenali satupun. Kemudian seorang pria usia dua puluhan, berjalan keluar dari arah belakang rumah. Dia membawa sebuah tas plastik besar yang terlihat berat. Wajahnya sangat murung.
Robert mencegatnya.
"Permisi, kami mau bertanya sesuatu."
"Ya?" jawab pria itu lesu.
Niken mendekat. "Apakah ini rumah Pak Sobri Maskut?" tanyanya.
"Bukan! Ini rumah saya," jawab pria itu yakin.
"Apakah anda baru membelinya?" tanya Dean.
"Tidak! Ini rumah warisan orang tua. Saya tinggal dan lahir di rumah ini." Pria itu kini memandang Dean dan timnya dengan curiga.
"Mungkin kami salah rumah," ujar Indra berusaha menghapus kecurigaan pria itu. "Apa Anda tau yang mana rumah Pak Sobri Maskut?" tanyanya lagi.
"Aku tak pernah mendengar nama itu di sini. Pria itu kemudian menunjuk rumah sekitarnya dan menyebut nama pemilik bangunan-bangunan itu. Dia kemudian menurunkan tas yang dipegangnya dan mencari sesuatu.
__ADS_1
"Lihat. Ini saya saat bersama kakek, di depan rumah." Pria itu menunjukkan sebuah foto buram pada Dean dan timnya.
Mereka memperhatikan. Meski sedikit buram, tapi gambaran itu hampir mirip.
"Niken, coba lihat foto rumah ini," panggil Indra pada Niken yang masih kebingungan.
Pria muda pemilik rumah membiarkan Niken melihat dengan seksama. Dilihatnya Niken menggelengkan kepala.
"Apa kau mencari rumah orang tuamu?" tanyanya saat Niken mengembalikan foto.
"Ya, Istriku sudah enam tahun tak pulang. Dia mungkin sedikit bingung," jawab Indra.
"Cobalah cari di tempat lain. Dan jangan lupa minum air, udara masih cukup panas. Dehidrasi bisa menganggu konsentrasi." Pria itu menyodorkan botol airnya dengan ramah.
"Terima kasih. Anda boleh menyimpannya. Kami punya persediaan air juga. Dan, terima kasih untuk bantuannya," ujar Sunil ramah.
Pria itu menarik kembali tangannya yang mengulurkan botol minum.
"Kalian mungkin bisa mencari ke arah sana, atau blok sebelah. Karena pemilik rumah di deretan ini dan seberang situ, saya kenal semuanya. Atau cari di penampungan gedung Pertanian," sarannya.
"Baik. Kami akan memeriksa di sini dulu, baru mencari ke gedung itu.. Terima kasih bantuannya." Robert menyalami pria itu.
Dia mengangguk dan berjalan pergi.
"Mari kita lihat rumah lainnya," ajak Dean.
Tim itu berjalan mengitari beberapa jalan sekitar situ. Tapi tak juga menemukan rumah Niken. Bahkan setelah menyusul ke penampungan, tak seorangpun yang mengenal ayahnya. Tak ada yang mengenal Niken di situ.
"Aku juga merasakan kejanggalan. Tapi kita harus memastikannya dulu sebelum menyimpulkan," balas Dean.
"Sebaiknya kita cari tempat beristirahat. Sebentar lagi sore," ujar Dean.
Yang lain mengikuti Dean mencari tempat beristirahat sendiri. Niken membawa tim itu berjalan ke arah yang menurutnya masih sepi dan bisa dijadikan tempat istirahat. Namun mereka terkejut, karena mereka menemukan sebuah gedung besar tanpa atap di situ.
"Hah .... Semuanya terlihat berbeda di sini," keluh Niken.
"Tidak apa-apa. Kita bisa beristirahat di pelataran gedung ini saja. Halamannya lumayan luas kok," hibur Dean.
Tim itu membersihkan area yang akan mereka pakai untuk beristirahat. Semua teman dikeluarkan. Tapi, para wanita memilih untuk menyiapkan makanan di ruang penyimpanan. Menurut mereka, dalam situasi saat itu, memasak di tempat terbuka hanya akan menimbulkan keributan. Karena makanan adalah hal yang langka saat ini.
Senja baru saja jatuh, saat sepiring makanan dibagikan oleh para wanita. Mereka memakannya dengan rasa syukur. Karena masih ada sepiring makanan untuk hari ini.
Semua sudah bersiap untuk membaringkan tubuh ketika suara berdebum terdengar dari pintu pagar. Alan berjalan ke sana untuk melihat.
"Hei, ada yang tumbang di sini," teriak Alan. Dia berlari untuk mendekati.
"Jangan sentuh! Menjauh dari sana, Z!" teriakan Penguasa menggema di kepala Alan. Dia berhenti lari dan mundur.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Robert yang heran melihat Alan tak jadi mendekat.
"Dia sakit, dan sudah mati!" jawab dokter Chandra.
Seberkas cahaya putih berkilau, menyambar tubuh pria itu. Tak lama tubuh itu lenyap tak berbekas. Alan terbengong. Orang itu lenyap di depan matanya hanya dalam waktu kurang dari semenit. Dia berbalik dan berjalan kembali. Tapi sebuah cahaya melingkupi Alan.
"Kau harus disterilkan lebih dulu, sebelum bergabung dengan yang lainnya," perintah Penguasa terngiang di telinganya. Alan memilih tiduran santai di tempat lain, jauh dari teman-temannya.
Semua terheran-heran melihat tindakan dokter Chandra.
"Orang itu sakit apa?" tanya Dean.
Dokter Chandra menggeleng dengan wajah sedih. "Sakit yang bisa dengan cepat menular dan kemudian orang yang tertular juga mati dan menularkannya pada orang lain." jelas dokter Chandra.
"Dulu, saat aku muda dan suka berkelana. Aku pernah menemukan penyakit ini menimpa suatu bangsa. Kemudian bangsa itu punah."
"Tapi tidak tau bagaimana penyakit seperti itu juga ada di dunia ini. Itu sudah ribuan tahun yang lalu. Kupikir, aku sudah melenyapkan bintang itu, agar penyakitnya tak menyebar ke mana-mana." dokter Chandra berpikir keras.
"Mungkinkah serangan panas matahari beberapa hari yang lalu membuat penyakit dari bintang ini menyebar ke sini?" tanya Widuri.
Semua menoleh padanya dengan terkejut.
"Kurasa, perkiraanmu yang paling mendekati kemungkinan." dokter Chandra tampak muram.
"Berdasarkan pencarian kalian siang tadi, menurutku, bumi ini bukanlah bumi asal kalian. Dan dengan penyakit itu, maka lebih baik kita meninggalkan tempat ini sekarang juga." ujar dokter Chandra serius.
"Benarkah? Siang tadi aku dan Dean juga sudah meragukannya. Tapi kami perlu membuktikannya dulu sebelum membuat kesimpulan. Apa hal yang paling mudah dijadikan pembuktian bahwa ini bumi yang benar?" tanya Robert.
"Monas!" jawab Niken dan Widuri serempak.
"Ya. Jakarta kalian punya Monas. Kalian pergilah cari gedung-gedung iconik kota ini," perintah dokter Chandra.
"Baik, penguasa," jawab Dean dan Robert.
"Apa kalian tau bentuk Monas?" tanya Indra.
"Aku tau. Aku sudah tinggal di Jakarta lima tahun, Indra," jawab Dean. "Aku juga tau gedung iconik lainnya."
"Oke, pergilah. Hati-hati dilihat orang," pesan Widuri.
Malam itu bentuk bulan makin membulat. Mungkin sudah hari ke tiga dua belas atau tiga belas. Jadi langit terlihat lebih terang. Dean dan Robert harus terbang lebih tinggi untuk menghindari pandangan manusia.
Di tempat istirahat, Alan sudah tidur mendengkur. Yang lainnya mencoba untuk beristirahat juga. Dokter Chandra menutupi semua anggota tim dalam selubung cahaya putih. Tak ada lagi yang menanyakan apa maksudnya melakukan itu.
"Dok, lalu bagaimana dengan Leon? Apakah mereka aman di pulau itu?" tanya Marianne.
"Selama tak ada yang mendatangi pulau, maka mereka baik-baik saja," jawab dokter Chandra.
__ADS_1
Tak ada yang mengetahui bahwa Penguasa telah mengirimkan pesan suara agar Leon melindungi pulau dengan mengikuti petunjuknya.
*******