
Sebulan berikutnya.
"Apakah dia masih sakit?" tanya dokter Ian pada perawat.
"Ya. Masih sama seperti kemarin. Dia tak ingin keluar dari kamar lagi. Cuma duduk termenung di tempat tidurnya.
"Baiklah ... biar aku memeriksanya." Dokter Ian memasuki kamar Dean.
"Hai Dean, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya dokter Ian.
"Nancy bilang, kau terus lesu sejak dua hari lalu. Apa ada yang kau pikirkan? Kau bisa cerita padaku. Atau pada dokter Chandra. Atau ngobrol dengan Robert?" tawar Dokter Ian.
Namun Dean tak memberikan respon apapun. Dia hanya terduduk diam di atas tempat tidurnya. Sepenuhnya mengabaikan keadaan sekitarnya.
Dokter Ian tak kehabisan akal. "Hei, bagaimana kalau kita piknik ke pantai? Kurasa cuaca hari ini akan bagus untuk piknik. Kau mau?" pancing dokter Ian.
Dean menoleh sejenak padanya. "Laut. Aku terdampar di laut." Dean mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kuartikan anggukanmu itu sebagai tanda setuju. Kita akan piknik sebentar lagi. Biar Nancy menyiapkan perbekalan dulu. Oke?" cecarnya.
Dean masih terus menganggukkan kepala tanpa menoleh. Matanya kosong.
"Di mana Widuri?" tanya Dean tiba-tiba, ketika dokter Ian sampai di ambang pintu.
Dokter dan perawat itu terdiam dan berpandangan. Dokter kembali mendekat.
"Dean, Widuri itu tokoh dalam novel terbarumu. Apa kau lupa? Atau kau ingin menyambung cerita itu lagi? Aku masih belum mencetaknya," ujarnya dengan mimik sedih.
Dokter Ian prihatin dengan Dean yang tampak banyak pikiran sebulan terakhir, sejak penulisan bukunya selesai. Dokter Ian berniat mencetak dan menjual novel itu, karena menurutnya, cerita itu sangat bagus dan menyentuh hati.
Tapi sekarang dia ragu untuk mencetaknya. Mungkin Dean masih ingin menambah bab atau semacamnya? Atau dia terlalu menjiwai hingga kehilangan tokoh itu, benar-benar melukai hatinya yang lembut dan sensitif?
Dua pasien lain lebih mudah beradaptasi dengan tempat itu. Robert sudah akrab dengan sesama tentara Angkatan Laut yang ditempatkan di pulau itu. Mereka kerap berolahraga bersama. Robert seakan sudah jadi bagian dari tempat itu, meskipun tak pernah mengikuti misi.
Sementara keahlian dokter Chandra sangat berguna di klinik. Dia bersedia membantu tugas-tugas pemeriksaan para tentara dan peneliti di tempat itu.
"Aku segera siapkan bekal untuk piknik, ya." Dokter Ian melangkah keluar dari ruangan bersama Nancy.
"Kau, siapkan bekal piknik untuk lima orang!" perintah dokter Ian pada perawat.
"Baik, Dok," jawab Nancy.
"Aku akan mengajak Robert dan dokter Chandra untuk ikut piknik. Mungkin dengan begitu, perasaan Dean bisa lebih baik," gumam dokter Ian.
Bagaimanapun, ketiga orang itu awalnya adalah teman yang dekat. Namun sejak malam mereka di sini, mereka telah melupakan ikatan satu sama lain. Dan hingga tiga bulan berlalu, ingatan itu masih belum kembali. Dokter Ian tidak tau lagi bagaimana cara mengembalikan ingatan mereka yang hilang.
__ADS_1
*
*
Di pantai, Robert dan Nancy berlarian sambil tertawa. Dokter Ian berenang di laut dan Dokter Chandra asik memancing di perahu kecil. Sementara Dean, hanya duduk termenung di bawah pohon kelapa. Matanya melihat semua orang yang asik beraktifitas. Tapi hatinya tak tergerak untuk ikut serta.
Dokter Ian menghampirinya.
"Mari kita lomba renang, Dean. Aku masih kalah terakhir kali," rayu dokter Ian.
Dean menggeleng. Matanya mengikuti Robert dan Nancy yang berlarian di pasir pantai.
"Apa kau menyukai Nancy?" terka dokter Ian. Dia duduk di tikar, mengambil sandwich dan menggingitnya.
"Tidak!" jawab Dean singkat.
"Bukankah Nancy baik? Dia juga menyukaimu," tambah dokter Ian lagi.
"Aku tak akan mengkhianati Widuri!" ketus Dean.
Dokter Ian tersentak. Nada ucapan itu, bukan lagi seperti menceritakan tokoh dalam novel, tapi seperti tokoh itu nyata bagi Dean. Hal ini menbuat dokter Ian makin sedih. Dia khawatir Dean mengalami Delusi yang makin parah.
Ternyata ide menulis novel itu justru membuat penyakit Delusi Dean, muncul. Dokter Ian merasa menyesal memberikan kertas-kertas kosong dan mesin ketik jadul itu untuk Dean.
"Dean, Widuri hanya tokoh dalam novelmu. Jika kau sedih karena dia meninggalkan tokoh utama, kau bisa ganti dengan akhir yang bahagia," bujuk dokter Ian lagi.
"Itu benar! Kau bisa membuat seri kedua novel itu, dimana Widuri kembali dan berakhir bahagia selamanya," dukungnya antusias.
"Ya, aku akan buat begitu."
Kali ini Dean benar-benar tersenyum. Dokter Ian merasa lega melihatnya.
"Kau mau sandwich?" tawarnya. Dean meraih roti yang ditawarkan dokter Ian.
Roti isi buatan Nancy selalu enak. Dean memakannya dengan nikmat. Pikirannya kembali melayang, membayangkan hal-hal bahagia tentang tokoh Widuri. Dia akan menulis cerita baru yang happy ending.
Dokter Chandra kembali membawa ikan-ikan segar hasil tangkapannya. "Kita bisa barbekyu siang ini!" ujarnya senang.
Robert dan Dean segera bangkit dan pergi mencari ranting-ranting kayu untuk membakar ikan, seperti permintaan dokter Chandra.
Dokter Ian telah lama memperhatikan. Secara naluriah, Dean dan Robert selalu menuruti permintaan dokter Chandra, kapanpun itu. Seperti insting yang otomatis dan terjadi secara alami. Meski mereka tak saling mengingat satu sama lain, tapi insting itu masih ada. Mereka bertiga berteman, tapi entah bagaimana ... bisa tiba-tiba saling melupakan.
"Jika saja aku adalah peneliti gila, dan Kolonel mengijinkan. Aku mungkin akan menggunakan berbagai peralatan percobaan untuk mencari tau misteri ketiga orang ini," batin dokter Ian.
"Apa mungkin hilang memory mendadak itu merupakan tindakan defensif mereka? Apa yang mereka sembunyikan hingga harus mengambil langkah ektrim dan melupakannya dalam semalam?"
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di hati dokter Ian. Semakin dia pikirkan, semakin membuatnya tergelitik untuk mencari lebih jauh.
Dean dan Robert mengumpulkan kayu dan ranting yang mereka peroleh. Dean menyusun bebatuan untuk tempat pemanggangan. Lalu dia menunggu Robert menyalakan api.
Robert mengarahkan tangannya ke tumpukan kayu. Tak ada yang terjadi pada kayu-kayu itu.
'Kalian sedang apa?" sapa Nancy yang kembali dari berenang.
"Membakar kayu," jawab Robert.
"Mana bisa kayu terbakar tanpa korek api?" ledek Nancy tertawa.
"Gunakan ini!"
Diangsurkannya sebuah korek api pada Robert. Maka api untuk barbekyu telah siap. Dengan telaten, Dean dan Robert membalik-balik ikan agar tak gosong.
Mereka bersantai di pantai hingga matahari terasa terik menyengat. Semua kembali dengan riang.
*
*
Satu bulan lagi berlalu.
Dokter Chandra sudah sakit selama seminggu. Itu dimulai saat dia jatuh di kamar mandi. Meski tak mengalami stroke ataupun hal berhaya lain, namun cedera kaki dan punggungnya, membuat tubuh tuanya kian melemah.
Dokter klinik di tempat itu sudah berganti, karena dokter Ian mengambil cuti untuk risetnya. Kolonel Jack juga sudah ditarik bulan lalu ke kantor pusat. Tugas lima tahunnya di situ, telah selesai. Meski dokter Chandra masih diijinkan beraktifitas di klinik, tapi dia tidak merasa nyaman lagi. Dia sudah lama merasa kesepian yang tak dimengertinya. Itu memperburuk kondisi mentalnya.
Dokter Chandra berjalan menggunakan tongkat berkaki empat agar tak terpeleset lagi. Bergantian Dean dan Robert menjenguknya di kamar. Mereka mengobrol tak tentu arah, hanya agar pria tua itu sedikit terhibur.
Sebenarnya Dean dan Robert juga sudah sangat bosan di tempat itu. Tapi mereka tak bisa ke mana-mana lagi. Mereka mulai melupakan tentang masa lalu dan asal usul masing-masing. Ingatan mereka hanya sebatas terdampar di pantai.
"Kau harus tetap semangat, Dok. Suatu saat kau juga bisa terbang seperti tokoh dalam novelku," dorong Dean memberi semangat.
"Aku juga ingin bisa terbang!" sambung Robert.
Dokter Chandra manggut-manggut. "Aku takut waktuku habis. Tapi rasanya masih ada hal yang masih membebaniku," ujar dokter Chandra.
"Jangan terlalu banyak pikiran. Itu hanya akan makin memberatkan hati. Justru jadi makin sakit nanti," larang Robert.
...************...
Jangan lupa kasih like, komen, difavoritin❤️, gift dan vote yaa..
Maafin, jika masih banyak typho dan salah kata.. 🙏
__ADS_1
💙Love you all 💙