PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 122. Obsesi A


__ADS_3

Siang hari itu matahari terasa begitu terik. Nastiti dan Widuri telah menyelesaikan 5 buah kendi ukuran sedang. Sunil dan Michael menjemurnya di tempat terbuka.


"Ku rasa aku ingin istirahat dulu. Udara panas sekali," ujar Widuri sambil menyeka keringat di keningnya.


"Hahahaa..."


Terdengar tawa berderai dari teman-temannya.


"Apanya yang lucu jika udara panas?" Tanya Widuri tak mengerti.


"Ppffttt.. bukan udaranya. Tapi wajahmu seperti mengenakan masker lumpur," Nastiti menahan tawanya


Tapi Sunil dan Michael masih terpingkal-pingkal. Marianne hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.


"Ahh, benarkah? Aku cuci muka dulu deh," Widuri berlari ke kamar mandi.


"Langsung mandi saja. Kita sudahi membuatnya hari ini. Aku juga tak tahan dengan udara panas ini." Nastiti beranjak duduk di bawah pohon.


"Sunil, pelataran ini tak ada atapnya. Itu sebabnya kami tak bisa bekerja dengan nyaman saat matahari terik," keluh Nastiti sambil mengipas-ngipas tubuh dengan dedaunan.


Sunil menyadari hal itu kini. Pelataran depan kamar, dapur dan log kayu yang jadi kamar mereka memang tak ditutupi atap.


"Nastiti benar. Jika panas, akan kepasanan. Jika hujan akan kebasahan dan becek." Kata Michael.


Bangku-bangku kayu dipindahkan ke bawah pohon rindang di samping log kamar para pria. Mereka akhirnya berteduh di sana. Marianne sudah membuat minuman segar dari campuran blueberry dan perasan lemon, ditambah sedikit gula batu.


Dean dan Alan melihat pelataran kosong saat kembali. Ada beberapa kendi sedang dijemur di bawah terik matahari.


"Kemana mereka pergi?" Alan keheranan.


"Hahahaa..."


Terdengar gelsk tawa di balik dapur. Dean menoleh ke sana.


"Itu mereka," kata Dean.


"Kenapa kalian di sini?" tanya Alan menyapa.


"Di pelataran itu terlalu panas. Jadi kami berteduh dulu di bawah pohon." Michael menyahuti.


Dean menoleh ke belakang.


'Benar, tempat itu tak memiliki pelindung sama sekali' batinnya.


"Ku kira kita harus membuat atap untuk menutup dapur dan pelataran itu," kata Dean.

__ADS_1


"Bukan cuma pelataran dan dapur Dean. Jika turun hujan, maka log kayu itu juga akan kebasahan. Lalu bagaimana kita bisa tidur?" Michael menyanggah pendapat Dean.


"Kau benar." balas Dean setelah melihat kembali tempat berteduh darurat itu.


"Tunggu. Sebenarnya untuk apa kita memperbaiki pondok ini? Bukankah ini hanya tempat sementara saja. Kita harus secepatnya melanjutkan perjalanan. Atau kalian sudah terpikat dengan tempat ini? Kalian ingin tinggal di sini?"


Widuri mengingatkan kembali tujuan awal mereka untuk pulang ke Indonesia. Widuri sangat teguh dengan keinginannya untuk pulang.


"Dan karena Marianne dan Michael sudah kita temukan, bukankah kita seharusnya melanjutkan perjalanan dan meninggalkan dunia ini?"


"Widuri benar. Awalnya kita pikir kota itu adalah kota modern. Agar kita bisa memintai tolong mereka untuk mengatakan keberadaan kita di sini. Tapi setelah kita melihat kenyataannya, memang tak ada urgensinya kita berlama-lama di sini." Nastiti mendukung Widuri kali ini.


Sunil, Michael dan Marianne mengangguk setuju. Tapi Dean tampak tidak sependapat. Alan melihat Dean berperang dengan A di dalam hatinya.


Yah, tampaknya Bi bukan sekedar saudara atau adik kakak yang dibesar bersama.


"A, apa kau mencintai Bi? Kau sangat ingin tau tentang keadaan Bi. Tapi ingatlah satu hal penting. Apapun keadaan Bi, kau tak bisa apa-apa lagi. Bukan hanya karena dia sudah menikah, tapi karena kau, aku dan O sebenarnya sudah lama tewas di dunia kecil kita. Kita menempati tubuh manusia-manusia dari dunia lain. Dan mereka ingin pulang. Jangan lupa itu." Z mengirim transmisi suara pada Dean.


Dean terpaku dan menatap Alan sejenak.


"Kalian baru tiba, minumlah dulu. Basahi tenggorokan." Marianne datang dengan 2 cangkir minuman di tangannya.


"Ini bangku kalian."


Sunil meletakkan bangku yang barusan dibawanya. Dean dan Alan duduk dan ikut berteduh menikmati angin sepoi-sepoi.


Alan menoleh pada Dean, meminta dia yang menjelaskan.


"Kami tidak ke tempat tuan kota. Tapi pergi memeriksa lokasi tempat Bi menghilang." Dean menjawab jujur.


Alan memejamkan matanya. 'Tampaknya A tak akan menyerah untuk mencari keberadaan Bi. Meskipun itu berarti memicu kesalah pahaman antara Dean dan Widuri' batin Alan.


Sementara itu, Widuri terlihat sangat terkejut. Secara tak langsung, Dean mengakui telah berbohong pada mereka tadi pagi.


'Begitu istimewanya Bi, sampai dia harus berbohong tadi pagi. Dia tak mempercayai kami atas rencananya mencari wanita itu' pikir Widuri tak senang.


Marianne yang menyadari perubahan ekspresi Widuri segera buka suara.


"Jadi apa yang kalian temukan?" tanyanya.


"Kami memeriksa sampai jauh sekali. Ternyata pulau ini sangat besar. Kami bahkan belum melihat sampai ke ujung lain pulau ini." Alan menjawab.


"Lalu akhirnya kami memeriksa sebuah lahan yang terlihat kosong. Dean mengetesnya dengan melemparkan ranting. Ternyata benar itu kubah transparan yang dimaksud tuan kota. Tapi kami tak menemukan apa-apa," tambah Alan.


"Eh, ada ding. Kami melihat sesosok makhluk yang terlihat seperti manusia masuk ke dalam kubah itu lalu menghilang." Sambung Alan.

__ADS_1


"Hemmm, makhluk misterius lagi. Yang waktu itu mengintip pondok kita saja belum terpecahkan." Nastiti menggerutu.


"Apakah itu begitu penting? Bukankah di dalam situ hanya ada monster? Jadi untuk apa didekati? Lebih baik kita tanya tuan kota, apakah dia tau tentang jalan menuju dunia lain." Kata Michael.


"Bi penting untukku, aku harus pergi memeriksanya apapun konsekwensinya!" Mata Dean bercahaya keemasan. Dia terlihat tak senang dengan kata-kata Michael.


Nastiti terkejut melihat reaksi Dean seperti itu. Michael apa lagi. Dia merasa sangat ngeri, karena menyadari bahwa Dean sedang emosi.


"Hei, A. Kau tau diri sedikit. Kau itu sudah mati. Mati! Kau hanya menumpang di tubuh Dean. Jadi jangan buat keputusan apapun sesukamu yang mungkin bisa mencelakai Dean!"


Nastiti meneriaki Dean dengan kasar. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Dean.


"Sabar.. sabar.."


Marianne berusaha menyabarkan Nastiti. Widuri tak peduli. Yang dia fikirkan sudah disampaikan oleh Nastiti.


Alan segera menarik tangan Dean menjauh dari sana. Dia tak memberi Dean kesempatan membalas kata-kata Nastiti. Itu hanya akan berakhir runyam.


"A, sudah ku ingatkan bahwa kau tak boleh lupa. Kita sudah mati. Seberapa kuatpun cintamu, hasrat dan obsesimu tentang Bi, kau tak boleh membahayakan nyawa Dean. Tanpa mereka, kita bertiga pasti akan terus terkubur di gunung batu tanpa siapapun yang tau. Jadi, keluarkan Dean sekarang!" Alan menekan jarinya di dada Dean. Matanya berkilat merah, memperingatkan kecerobohan A.


A merasa dadanya panas saat ditekan oleh Z. Dia segera menyadari bahwa kekuatan Z sebagai pelindung tetaplah diatasnya. Jari itu bisa membakarnya seketika jika Z ingin. Kilatan keemasan di mata Dean kemudian menghilang.


"Terima kasih Z," kata Dean tulus.


Alan memperhatikan mata Dean. Sinar mata itu tak lagi segarang sebelumnya.


"Baiklah. Ku rasa A sudah menyebabkan masalah antara kau dan Widuri. Kau bisa membujuknya kalau mau." Saran Alan sambil kembali ke tempat duduknya.


Dean berjalan menghampiri Widuri. Dia membisikkan sesuatu. Widuri mengangguk, dan mereka menghilang di balik kerimbunan pepohonan.


Nastiti melihat dengan heran. Barusan dia mau bertanya, Alan sudah menyela.


"Biarkan mereka bicara dulu. Tadi itu A yang menguasai Dean. Jadi biarkan mereka membereskan perselisihan kecil diantara mereka."


Alan meregangkan tubuhnya sebentar sebelum berjalan menuju kamar mandi.


"Ya ampuun, airnya habis." gerutunya sambil keluar dari kamar mandi.


"Hehehe.. Hari terlalu panas, jadi kami sudah menggunakannya untuk mandi tadi." Michael tersenyum miring.


Alan melesat menuju laut. Lalu kembali dengan membawa air di atas kepalanya. Air itu dimasukkan dalam tempat penyimpanan air di atas kamar mandi. Bak air di kamar mandi segera diisi lagi. Alan menggunakannya untuk mandi.


Hari sudah menjelang sore, kegarangan sinar matahari mulai berkurang. Anggota tim itu melanjutkan aktifitas mereka.


Sunil dan Michael menyiapkan pembakaran untuk kendi-kendi yang dibuat Nastiti dan Widuri.

__ADS_1


Saat matahari terbenam, Dean dan Widuri duduk di dekat tebing menikmati suasana petang. Tangan keduanya saling menggenggam. Kesalah pahaman sudah berakhir. Pondok darurat itu kembali dalam kedamaiannya.


*****


__ADS_2