PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 107. Semakin Dekat


__ADS_3

Michael dan Sunil sudah selesai mandi. Michael mulai terbiasa dibawa terbang dan melayang. Tidak lagi terkejut dan takut.


"Ha.. kalian sudah kembali. Sekarang giliran kami untuk mandi. Tolong Marianne dilihat-lihat. Nanti dia terbangun, tak ada yang menyadari." Nastiti berpesan sebelum pergi dengan Alan.


"Oke," sahut Sunil.


"Itu? Dean dan Widuri?" tunjuk Michael ke arah keduanya yang tertidur berpelukan di bawah pohon.


Sunil tersenyum dan mengangguk.


"Tadi katamu ingin melihat makam Dewi? Mari ikuti aku." Sunil berjalan menyisiri beberapa semak. Michael mengikuti dari belakang.


*


Widuri terbangun dari tidur siangnya. Hari sudah sore. Tubuhnya menggeliat karena merasa kaku dan pegal tidur diposisi seperti itu.


Gerakan Widuri membuat Dean bangun.


"Kau sudah bangun?" tanyanya sambil menguap lebar.


"Kalau sudah bangun, pergi mandi dulu. Lalu kita siapkan makan malam," teriak Nastiti dari arah kamar.


"Bagaimana dengan Marianne?" tanya Dean. Nastiti menggelengkan kepalanya.


"Mari ku antar mandi dulu," ajak Dean pada Widuri. Mereka lalu menghilang.


Di dapur.


Alan, Sunil dan Michael sedang merapikan ikan-ikan yang sudah diasapi sejak pagi. Sunil menyimpannya di dalam kalung penyimpanan. Beberapa ekor ikan asap yang wangi disediakan di meja, untuk menu makan malam.


Mereka lalu menyalakan perapian dan dua api unggun di luar area duduk. Itu sebagai penanda dan peringatan agar binatang buas tidak mendekat.


Michael menggantikan Nastiti untuk menjaga Marianne. Nastiti segera menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam mereka.


*


"Sudah malam begini, tapi Marianne masih belum sadar juga," ujar Michael khawatir.


"Pernahkah dia pingsan selama ini sebelumnya?" tanya Alan.


Michael menggeleng, setelah mengingat-ingat waktu yang mereka lalui.


"Coba beri dia minum sekali lagi," usul Nastiti.


"Cobalah.. Hati-hati." sahut Dean.


"Michael, pergi beristirahatlah. Kalian semua juga. Karena tadi siang aku sudah tidur, maka aku yang akan berjaga pertama." Putus Dean.


Alan, Sunil dan Michael beranjak menuju kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kalian membuat log kayu raksasa ini menjadi kamar?" Michael melihat ruang kamar itu dengan takjub.


"Dean yang melakukannya. Nuat Dean, log kayu jauh lebih mudah dibentuk ketimbang gunung batu. Xixixi.." Sunil tertawa kecil.


Alan mengangguk sambil tersenyum lebar. Dean ahli untuk pekerjaan pertukangan seperti ini. Michael belum melihat yang lainnya, maka terkejut.


Nastiti dan Widuri menunggu reaksi Marianne setelah disuapi beberapa sendok air.


"Kau tidurlah. Kita tunggu pagi saja. Mungkin Marianne benar-benar butuh tidur sekarang. Jadi biarkan saja dulu." kata Widuri.


"Kau mau kemana?" tanya Nastiti yang melihat Widuri keluar kamar.


"Aku belum ngantuk. Biar ku siapkan dulu minuman hangat untuk yang berjaga," sahut Widuri di pintu kamar.


"Kau tak tidur?" tegur Dean yang melihat Widuri sedang membersihkan peralatan makan yang kotor.


"Belum ngantuk," jawab Widuri.


"Sebentar ku siapkan minuman hangat untuk menemani kalian yang berjaga," sambungnya lagi.


Dean bangkit dari duduk, lalu mengamati sisa batang pohon rebah yang masih utuh. Dean memotong dan mengukir batang pohon itu dalam temaram cahaya api unggun.


"Kau mau membuat apa?" tanya Widuri.


Dean menghentikan pekerjaannya mendengar suara Widuri. Diterimanya cangkir minuman yang disodorkan. Minuman itu masih mengeluarkan uap panas.


"Apa kita akan tinggal lama di sini?" tanya Widuri hati-hati.


"Kita tunggu Marianne sadar dulu. Dan sejujurnya, aku sangat marah pada orang yang memperlakukannya dengan kasar." Dean berkata dengan geram.


"Kau mau membalas mereka?" Mata Widuri bertanya penuh selidik. Ditatapnya Dean tepat di matanya.


"Entahlah.. Makanya kita tunggu bagaimana keadaan Marianne nanti."


Dean menjawab dengan enggan. Dia memang belum punya rencana pasti. Yang diucapkannya murni karena dikuasai amarah saja.


"Apapun itu, rencanakan dulu dengan matang sebelum bertindak. Mereka bukan makhluk mutasi di area tak bertuan yang bisa dibasmi begitu saja tanpa konsekwensi." Kata Widuri.


Dean juga menyadari itu. Tempat itu adalah sebuah kota yang pasti memiliki penguasa diatasnya. Mungkin seorang raja? Lagi pula, Duke itu tak mungkin bisa bertindak seenaknya jika tak punya pendukung.


"Ya, aku mengerti," sahut Dean dengan suara lembut untuk menenangkan Widuri.


"Baiklah, aku pergi tidur sekarang. Jangan lupa waktu karena pekerjaanmu," Widuri mengecup pipi Dean sebelum berbalik untuk pergi.


Tapi Dean tak melepaskan kesempatan itu begitu saja. Diraihnya pinggang Widuri dengan sebelah tangan. Lalu mendaratkan ciuman yang dalam pada bibirnya yang ranum. Keduanya berpagutan erat sesaat. Bersandar pada log kayu raksasa yang belum rampung dikerjakan. Ciuman itu begitu intens hingga Widuri terengah-engah menerimanya.


Dean berhenti dan melihat wajah cantik itu bersemu merah. Ditatap begitu, Widuri menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Dean. Dean merasakan percikan api di tubuhnya makin membesar. Ini harus segera diakhiri. Dikecupnya puncak kepala Widuri dengan sayang.


"Beristirahatlah," kata Dean sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Tanpa melihat Dean lagi, Widuri berbalik cepat dan melangkah menuju kamar.


'Bodoh. Bodoh. Apa aku semurahan ini?' pikirnya kesal sambil berusaha meredakan deburan hasrat dalam dadanya.


Dean terdiam sesaat lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya. Sudah sangat lama sejak terakhir dia dekat dengan wanita. Beruntung masih bisa menahan diri malam ini.


*****


Dokter Chandra mengembalikan gunting kecil dan pinset pada wadahnya. Dia sudah selesai melepas benang-benang yang menyatukan luka bekas pisau bedahnya. Silvia membereskan peralatan dan membawanya keluar ruangan. Dia harus segera membersihkannya agar siap digunakan lagi.


"Luka ini sudah kering dan menyatu sepenuhnya. Tubuh anda sudah beradaptasi dengan kondisi satu ginjal sehat. Bagus sekali." Puji dokter Chandra pada tuan Felix.


Selanjutnya beberapa nasehat kesehatan, serta pantangan yang harus dijaga tuan Felix agar tetap sehat. Tuan Felix mengangguk-angguk dan mendengarkan dengan serius.


"Ingat-ingat itu, sayang. Jangan melanggarnya. Karena tak ada ginjal cadangan lagi yang bisa diangkat dari tubuhmu nanti." Nyonya Felix mengomeli kebiasaan suaminya yang ternyata juga jadi pemicu sakitnya.


"Iya.. iya. Aku janji tak kan melakukannya lagi. Apa kau puas sekarang?" sahut tuan Felix sambil tersenyum mesra pada istrinya.


"Baiklah. Tugas saya sudah selesai sekarang. Saya pamit tuan." Dokter Chandra membungkukkan kepalanya sebelum undur diri.


"Tunggu dulu."


Tuan Felix menahan dokter Chandra. Istrinya mengerti dan mengambil sebuah kotak dari meja samping tempat tidur. Lalu menyerahkan kotak itu pada suaminya.


"Aku hanya bisa memberi ini sebagai balas budiku. Bukalah. Jika masih kurang, katakan saja." Perintah tuan Felix.


Dokter Chandra menerima kotak itu dan membukanya. Ada 5 batangan emas di dalamnya. Juga ada sebuah botol kristal kecil di dalamnya.


"Di botol kristal itu, ada air suci yang kami yakini bisa menolong nyawa di saat kritis. Tapi hanya berfungsi sekali saja untuk setiap orang."


Tuan Felix menjelaskan tentang manfaat isi kristal itu.


"Terima kasih atas hadiah yang sangat berharga ini tuan," jawab dokter Chandra sambil menganggukkan kepala.


Tuan Felix melambaikan tangannya. Pintu dibukakan oleh pelayan. Dokter Chandra pun, keluar dari ruangan.


Randal sudah menunggu di lorong, untuk mengantar dokter Chandra kembali ke kediaman Glenn.


"Dimana Glenn?" tanya dokter Chandra, yang tak melihat Glenn sejak pagi hari.


"Tuan muda dipanggil menghadap ke istana pagi tadi," jawab Randal.


"Oh, baiklah. Kita langsung kembali saja. Tapi jika Glenn kembali, tolong sampaikan bahwa aku perlu membicarakan sesuatu dengannya," pinta dokter Chandra.


"Baik, akan saya sampaikan."


Mereka kembali ke kediaman Glenn dengan teleportasi.


*****

__ADS_1


__ADS_2