PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 410. Pertemuan Orang Tua Widuri


__ADS_3

Sore hari, pesan Astrid masuk. "Saya ke sana!" Dia tidak menjelaskan, apakah berhasil membawa ibunya Widuri atau tidak. Itu membuat Widuri jadi harap-harap cemas.


"Tenanglah ... jika kau terus cemas, itu akan membahayakan bayi kita," bujuk Dean menenangkan.


Setelah Dyah pulang kuliah, dia membawa satu kaleng besar cat seperti permintaan Dokter Chandra. Untuk merintang waktu, mereka mengecat rumah itu. Sekarang, bagian dalam rumah sudah terlihat rapi. Indra segera menghangatkan ruangan, agar cat cepat mengering dan baunya segera hilang.


"Bagaimana yang di luar?" tanya Dimas. Dia takjub melihat kecepatan kerja Dean.


"Lebih baik melakukannya malam hari, agar tidak mengagetkan orang-orang," ujar Dean


"Ya, kecepatanmu itu benar-benar luar biasa. Takkan ada yang percaya ada manusia bisa mengecat rumah segitu cepatnya. Kalau ada yang merekam dan mengunggahnya di media sosial, pasti jadi viral!" cerocos remaja itu.


"Nah, sekarang kau sudah tahu jawabannya!" Dokter Chandra mengusal-usal rambut putranya.


"Iya, Pa. Sebenarnya tak sulit untuk memahami perjalanan kalian semua. Asalkan bisa melihat keajaiban seperti ini sebagai bukti!" timpal Dyah.


"Tapi kami pernah ditahan di pusat riset sebuah negara, karena ucapan kami tak dipercaya. Terlebih lagi karena orang yang sama ada di tempat lain. Dan peristiwa jatuhnya pesawat itu, tak pernah terjadi di sana!" beber Dean.


"Mengerikan! Ternyata tidak semudah itu juga menceritakan hal-hal ajaib dari dunia lain!"


Dimas tak bisa membayangkan kehidupan papanya ditahan di pusat riset untuk sebuah penelitian fenomena doppelganger.


"Kalau begitu, jangan ceritakan hal itu pada yang lain. Berbahaya!" cetusnya.


"Betul! Bukan cuma berbahaya untuk kami, tapi juga bahaya untuk dunia-dunia kecil yang tenang dan indah itu. Kau kan tahu bagaimana keserakahan manusia bisa menghancurkan segalanya!" Indra ikut bicara.


Dimas dan Dyah kini makin mengerti kenapa papanya dan anggota timnya memilih berhati-hati dan hanya menemui keluarga yang sangat mungkin bisa percaya.


"Itu mungkin mobil Astrid!" Dean mendengar suara klakson mobil.


"Biar kulihat ke depan!" Dyah berjalan keluar rumah.


Widuri merasa gugup. Dean menggenggam tangannya dan memintanya tetap duduk di sofa dengan tenang.


Tak lama, muncul Dyah, disusul Astrid. Baru kemudian masuk seorang pria dan wanita tua ke dalam rumah.


"Papa ... Mama...."


Widuri segera bangkit dari duduknya dan memeluk kedua orang tuanya.


Mereka terkejut melihat oenampilan Widuri. Namun tetap dapat mengenali putri semata wayangnya.


"Apa yang terjadi? Ceritakanlah pada kami," bujuk pria tua itu menenangkan istri dan putrinya yang terus menangis.


"Ayo duduk dulu ...." Dokter Chandra mempersilakan tamunya duduk.


"Apa kau hamil?" tanya mamanya.


Widuri mengangguk. Ditariknya tangan Dean mendekat. "Iya, Ma. Ini suamiku, Dean."


Kedua orang tua itu terperangah. "Kapan kalian menikah? Kau baru sajs bercerai saat pergi!" tanya papanya heran.


"Sebenarnya begini ceritanya ...."

__ADS_1


Kembali, Dean, Indra dan Dokter Chandra menceritakan perjalanan mereka setelah peristiwa jatuhnya pesawat, serta waktu yang telah berlalu di sana.


Dua orang tua itu hanya bisa terbengong bingung. Rasanya tak ingin percaya. Tapi putri satu-satunya sekarang ada di depan mata.


"Jika benar cerita kalian, maka pesawat itu takkan pernah lagi bisa ditemukan. Kecuali alam berkata lain!' kata mamanya Widuri bijak.


"Tapi---" ucapan papa Widuri terputus.


"Tidak ada tapi," mamanya. "Aku sudah sering katakan, bahwa ada makhluk lain di dunia ini, selain kita! Aku mempercayai putriku. Aku mengenalinya. Mustahil seorang ibu yang melahirkan, bisa tak mengenali anaknya!" ucap wanita tua itu tegas pada suaminya.


"Jika kau tidak mempercayai cerita mereka, maka kau akan kehilangan Widuri selamanya!" Mata wanita tua itu menatap suaminya dengan tajam.


"Tapi Frans bilang, Widuri mandul. Bagaimana bisa ...." Pria tua itu memandangi Widuri yang berbadan dua.


Widuri terluka melihat papanya tak mempercayainya. "Papa bisa cari surat pemeriksaan dokterku di laci dalam lemari baju. Papa akan tahu siapa yang mandul. Lelaki itu menggunakan alasan tidak masuk akal untuk membenarkan perselingkuhannya!" ujar Widuri marah.


"Kau ini papanya atau bukan! Kenapa lebih mempercayai orang lain ketimbang putri sendiri! Dia sudah menyimpan rasa sakitnya begitu lama. Sekarang kau ungkit lagi! Pergi sana! Jangan mengganggunya lagi, kalau kau tak menginginkannya kembali! Aku membencimu!" pekik wanita tua itu marah pada suaminya.


"Tenang Mama, aku sudah punya suami yang baik sekarang. Dia sangat baik dan lebih layak dari bajingan itu!" Ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis.


Tak ada yang ingin ikut campur dalam drama rumah tangga orang lain. Melihat kejadian itu di depan mata, membuat Niken dan Astrid menyeka air mata.


"Harusnya hari pertemuan ini, kita berbahagia. Kenapa malah jadi sedih?" celetuk Indra, setelah suasana muram berlangsung beberapa lama.


Di ruang makan, Dokter Chandra membawa papa Widuri bicara. Mereka bicara sebagai sesama orang tua dan kepala keluarga. Dimas melirik dari pintu penghubung, keduanya bicara sangat serius.


"Sebentar lagi malam. Sebaiknya kita siapkan makan malam untuk semuanya!" ide Niken.


Suasana tegang dan mendung mulai terurai. Widuri banyak cerita hal-hal ajaib yang ditemuinya. Dia juga mengatakan memiliki hewan peliharaan kesayangan di sana. Dan jelas semua terkejut saat dikatakan bahwa Widuri memelihara seekor macan tutul abu-abu.


"Waahh hebat! Aku ingin melihatnya!" Dimas sangat antusias mendengar cerita Widuri.


Saat makan malam, ketegangan Widuri, mamanya dan papanya telah hilang. Ketiganya kembali bersikap hangat.


"Apa Mama boleh pergi ke tempatmu itu?" tanya mamanya.


Widuri memohon pada Dean. "Asalkan Papa tidak keberatan, tentu bisa. Yang tidak bisa itu, jika nanti kecarian, lalu panik dan membongkar rahasia kami!" ujar Dean terus terang.


Semua mata menoleh pada pria tua itu. Dia kembali tersudut. Kemudian menghela napas lelah.


"Pergilah ... tapi jangan terlalu lama. Aku bisa mati kalau kau menghilang juga!" rayunya manis pada mama Widuri.


Semua tergelak mendengar rayuan itu. Tak mengira papanya Widuri yang tadi ngotot tidak percaya, sekarang mengijinkan istrinya pergi dengan rayuan.


"Aku harus belajar darimu, pak! Jadikan aku muridmu. Istriku sangat sulit dirayu!"


Ucapan Indra membuat suasana semakin hangat dan penuh gelak tawa.


"Aku sudah harus kembali," pamit Astrid.


"Sebentar." Dean berdiri dan mengiringi Astrid ke depan.


"Kau ingat saat aku memintamu membuatkan rekening lain dengan namamu?" tanya Dean.

__ADS_1


"Ya, Pak. Apa anda ingin saya mengambil uang itu?" tanya Astrid.


"Ambil setengah untukku. Sisanya untukmu!" kata Dean.


"Untuk saya? Itu sangat banyak. Bapak bisa pakai membeli rumah dengan uang itu!" ujarnya tak percaya.


Dean menggeleng. Setengah itu saja. Aku ingin membelikan keperluan istriku sebelum melahirkan," kata Dean.


"Apa lagi?" tanya Astrid. Dia siap untuk menyediakan apapun permintaan Dean.


"Di sana tak ada listrik. Kami perlu paket panel surya. Udara di sana sejuk, tak butuh ac, tapi lebih baik jika ada kipas angin. Lemari es, mesin cuci, setrika. Ah ... sementara itu saja. Yg paling penting adalah panel surya. Beli beberapa. Karena ada 7 rumah di tempat kami. Kau siapkan saja secara bertahap. Jika aku sedang tak ada di sini, hubungi Dyah dan taruh semuanya di rumah ini!" ujar Dean.


"Baik, pak!" jawab Atrid. "Beri saya waktu untuk menyiapkan semuanya." Dean mengangguk.


Dyah mengantar Astrid keluar dan mengunci pintu pagar serta pintu garasi.


Malam itu, orang tua Widuri menginap di sana. Dimas dan Dyah juga berada di sana.


Malam berlalu. Saat penghuni kompleks lelap, Dean mengecat seluruh dinding luar rumah dengan tenang. Pukul dua dini hari dia beristirahat di sofa.


Pagi sekali, semua bangun dan bersiap. Dokter Chandra, Dean dan Indra akan kembali ke dunia kecil. Mamanya Widuri ngotot ingin ikut. Papanya mengijinkan. Jadi keduanya disembunyikan Dean dalam penyimpanan. Niken juga ikut tak terlihat.


"Apa yang kau lakukan? Di mana mereka?" tanya pria tua itu panik.


"Mereka ada di dalam tempat penyimpanan, agar aman dalam perjalanan," jelas Dean.


"Tidak! Kau menipuku!" seru pria itu panik. Dyah dan Dimas juga tertegun.


"Penyimpanan itu tidak cuma untuk barang? Makhluk hidup juga bisa?" tanyanya.


Dokter Chandra menyentuh Dimas dan Dyah. Keduanya langsung hilang. Tapi tak lama, mereka dikeluarkan lagi.


"Luar biasa! Di dalam sana---" kata-kata Dimas terputus setelah melihat jari papanya menempel di bibir.


Papanya Widuri terkejut melihat dua anak itu muncul kembali. "Mereka...." dia terdiam, tak tahu mesti berkata apa lagi. Terlalu banyak kejutan.


Dean menyentuh lengannya. "Papa bisa lihat Widuri dan Mama di dalam," ujarnya sambil memasukkan pria itu ke dalam penyimpanan.


Tak lama dia keluar lagi. Meski mimiknya masih bingung, tapi sudah tampak lebih tenang. "Baiklah, aku sudah mengerti. Kalian melakukan itu untuk menjaga keamanan manusia biasa selama perjalanan melintasi ruang dan waktu." Dia menganggukkan kepala.


"Dyah, seperti sebelumnya, kunci semua pintu dan jendela sebelum pergi. Antar papanya Widuri hingga mendapatkan taksi untuk pulang. Dan jaga mama kalian baik-baik!" pesan Dokter Chandra.


"Iya, Pa." Angguk Dyah.


Kamar labtai bawah kembali diselubungi cahaya putih berkilauan. Pak tua itu tidak lagi terlalu panik sekarang. Pikirannya semakin terbuka. Dia hanya bertanya. "Ini apa?" tunjuknya pada selubung putih itu.


"Pelindung ruangan ini. Sekarang tak ada siapapun yang bisa menerobos masuk dan mengambil pintu teleportasi itu!" Dimas menunjuk tiga orang yang lenyap dalam pintu teleportasi.


"Mereka sudah pergi. Kita juga sudah waktunya pergi. Kau juga bisa terlambat ke sekolah!" kata Dyah sambil mengunci pintu kamar dan semua pintu serta jendela.


Pukul enam pagi, sebuah mobil keluar dari rumah yang sudah tampak bersih dan rapi.


*******

__ADS_1


__ADS_2