PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 395. Perjalanan Menuju Indonesia


__ADS_3

Sarapan pagi itu masih diliputi ketegangan, sebab Penguasa meninggalkan diskusi dengan perasaan tak nyaman.


Semalaman Dean berdiskusi dengan Widuri. Saling beradu argumen hingga larut. Perdebatan itu berakhir setelah Widuri berbalik tidur munggunginya.


Dia merasa sangat sengsara malam itu. Dean lebih suka Widuri marah ataupun mengomel. Mencubit juga tak masalah. Itu masih jauh lebih menyenangkan ketimbang mendapati istrinya cemberut dan memberikan punggung.


Pagi ini wajahnya kuyu, karena hanya dapat tidur sekejap menjelang pagi. Itupun setelah Widuri tak lagi menyadari, jika tubuhnya dipeluk dari belakang.


Para wanita menyajikan sarapan tanpa bicara. Ruangan makan yang biasanya ramai jadi sunyi dan mencekam.


"Kenapa aku merasa seperti sedang menghadapi tiang gantungan?" celetuk Marianne.


Semua terkejut mendengar perkataannya. Mereka tak meresponnya. Sekarang ini, sepertinya hanya Marianne dan Kakek Kang yang bisa mengimbangi posisi Dokter Chandra.


"Bagaimana rencanamu, Dean?" tanya Marianne.


"Apa?" Dean tak menyangka akan ditanya.


"Apa kau akan ikut serta dalam perjalanan pulang ini?" tanya Marianne.


Dean, Indra, Robert dan Sunil tak menyangka Marianne justru bertanya seperti itu.


"Dean menghembuskan nafas berat. "Aku minta maaf, tapi setelah pengalaman terakhir, aku jadi sedikit khawatir meninggalkan Widuri tanpa kepastian," ujarnya.


Widuri menatap Dean penuh rasa cinta. Dia tau jelas bahwa semalaman mereka telah berdebat. Hingga Widuri merasa lelah membujuk Dean untuk menemani di dunia kecil, akhirnya ditinggalnya tidur.


Jadi itu bukanlah keinginan Dean. Itu keinginan Widuri. Tetapi Dean mengambil alih tanggung jawab ke arah dirinya. Dia siap menerima rasa tak suka teman-temannya, untuk melindungi Widuri.


Dokter Chandra menyesap tehnya. "Ekhemm!"


Deheman Dokter Chandra seperti suara pedang tajam yang sedang diseret algojo ke arah pesakitan. Semuanya kembali tegang. Meja makan itu seperti meja hakim.


Meski merasa sedikit bersalah, tapi Dean sudah menyiapkan dirinya. Semalaman dia sudah berpikir apa yang harus dilakukan jika Penguasa menghukumnya.


"Apa kau harus seperti itu? Kembalikan Dokter Chandra! Kau membuat mereka takut!" sentak Marianne kesal.


Dokter Chandra terkejut dengan reaksi Marianne. "Apa salahku? Tenggorokanku gatal! Kau menambahkan terlalu banyak madu dalam teh! Dan ada sari bunga yang tadi tersangkut di tenggorokanku!" bantah Dokter Chandra pada Marianne.


"Kau— Kau selalu menjengkelkan!" Kali ini Ivy benar-benar menguasai Marianne.


"Aku sudah sering bilang pada ayah, kau itu menjengkelkan. Tidak peka! Kaku! Kuno!" Ivy terbang dari dapur ke arah Dokter Chandra.


Dokter Chandra lebih dulu terbang keluar rumah, menghindari kemarahan Ivy.


"Hei ... apa salahku. Kenapa kau terus marah-marah sejak pagi? Apa kau kehilangan sisir?" ejek Dokter Chandra.


"Kau menyebalkan! Menyebalkaaaann!" Ivy terus mengejarnya.

__ADS_1


Yang di dalam ruangan terpana. Melihat dengan bingung kakak beradik terbang mengelilingi dunia kecil sambil bertengkar. Suara teriakan Marianne masih terdengar, meskipun kedua orang itu tak kelihatan.


Kakek Kang terkekeh senang. "Kalian sangat menyenangkan. Kuharap Kang akan segera memberiku cicit, agar ada yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa setiap hari."


"Apakah melihat mereka bertengkar itu, menyenangkan? Bukankah akan berbahaya jika keduanya lepas kontrol? Dunia kecil ini bisa langsung lenyap!" ujar Indra ngeri.


"Hehehehe ... tidak akan. Pertengkaran mereka justru karena rasa kasih dan sayang yang kuat!" ujar Kakek Kang yakin.


Sepuluh menit kemudian, terdengar suara tawa Ivy membahana. Entah dari mana, dan entah apa yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka saling pandang sambil tersenyum. Dan kelegaan pun menghampiri. Ketegangan di rumah itu menghilang begitu saja.


Yak lama, Dokter Chandra dan Ivy kembali dengan senyum merekah di wajah mereka.


"Widuri, Niken, bantu aku menyiapkan perbekalan mereka," panggil Marianne.


"Oke. Maafkan aku," ujar Dokter Chandra. Lalu pandangannya jatuh pada Indra. Kau juga tinggal di sini, bersama Dean dan Aslsn. Kalian bertanggung jawab menjaga tempat ini. Bisa?" tanya Dokter Chandra tegas.


"Bisa!" jawab ketiganya cepat.


"Oke! Jadi yang pergi untuk pertama kali adalah kita bertiga!' Dokter Chandra menunjuk Robert dan Sunil.


"Apa kalian keberatan?" tanyanya memastikan.


"Tidak!" sahut Sunil dan Robert.


Sekarang ayo sarapan. Setelah itu kita bersiap-siap. Sebelum siang kita akan memulai perjalanan!" putus Dokter Chandra.


*


*


"Aku sudah menyiapkan cukup obat di rumah. Kau bisa ambil jika butuh. Aku sudah memberimu buku tentang obat herbal. Kau pasti tahu peruntukan tiap obat yang ada di sana!" pesan Dokter Chandra pada Indra.


"Baik, Dok!" sahut Indra.


"Oke! Apa persiapan kalian sudah selesai semua?" tanya Dokter Chandra pada Sunil dan Robert.


"Sudah, Dok!" jawab keduanya.


"Kalian baik-baik di sini. Minta tolong Kakek Kang, jika ada masalah pelik!" pesannya lagi.


"Iya, Dok. Kami mengerti!" Widuri dan Marianne mengangguk patuh.


"Sudah ... aku tak mau diserang Ivy lagi, jika terlalu cerewet!" sungut Dokter Chandra.


Dan kalimat itu sukses mengusir mendung yang mulai menggelayut di hati mereka. Perpisahan memang tak pernah terasa menyenangkan. Terutama jika perpisahan itu belum diketahui akan menghadapi bahaya nesar apa di sana! Itu sedikit mencemaskan hati.


"Mari kita berangkat!" Dokter Chandra menyelubungi Sunil fan Robert dengan cahaya putihnya.

__ADS_1


"Sampai jumpa!" teriak Robert sebelum menghilang dalam pintu teleportasi.


Dean dan Indra termangu. Mereka ingin ikut, tapi istri-istri hamil tidak mungkin ditinggal. Terutama Widuri, yang saat itu nyaris putus asa karena Dean terjebak terlalu lama di dunia asing.


"Mari kita kembali kerja!" ajak Dean.


"Aku juga mau kembali ke rumahku." Kakek Kang pamit. Para pria pun pergi meninggalkan rumah.


"Sekarang kita juga yang mesti menyiapkan baju-baju lucu untuk penghuni baru!" ujar Marianne.


*


*****


Tim kecil Dokter Chandra keluar dari lorong teleportasi saat malam hari. Ujung pintu teleportasi itu ada diangkasa. Mereka sedikit terjatuh saat ditarik keluar.


"Menghindar!" Sunil mengingatkan Dokter Chandra.


Dokter Chandra dan Robert terkejut. Di depan sana ada moncong pesawat mengarah pada ketiganya. Meski jaraknya masih ratusan meter, tidaklah benar jika mereka berada dalam jalur pesawat.


Dokter Chandra turun lebih rendah, untuk menghindari pandangan pilot dan copilot di pesawat itu. Pesawat itu akhirnya lewat seratus meter di atas ketiganya. Robert terpaku melihat kejadian itu. Dia menyadari satu hal yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Untung saja cepat menyadarinya. Atau kita akan ditabrak pesawat yang melintas!"


Suara Sunil terdengar lega. Dokter Chandra mengangguk. Tapi Robert masih tenggelam dalam pemikirannya.


"Apa yang mengganggumu?" tanya Dokter Chandra.


"lorong keluar dari pintu teleportasi itu!" tunjuk Robert ke atas.


"Kenapa dengan lorong itu!" tanya Sunil.


"Dia ada di angkasa!" Suara Robert meninggi. Matanya memercikkan sedikit cahaya.


"Bukankah bagus jika itu di angkasa? Jikapun kita jatuh terdorong seperti tadi, kita masih bisa terbang untuk menghindari kefatalan," imbuh Dokter Chandra.


"Betul. Tak terbayangkan jika ujung lorong itu di dalam laut. Saat keluar bisa masuk mulut hiu! Hahaaa!" kelakar Sunil.


"Bukan itu maksudku!" sanggah Robert.


"Lalu apa?" tanya Dokter Chandra.


"Melihat akhir lorong teleportasi itu, aku jadi ingat dengan kecelakaan pesawat kita!" jelas Robert.


"Jelaskanlah maksudmu. Aku jadi semakin bingung," keluh Sunil.


******

__ADS_1


__ADS_2