PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 399. Perjalanan Menuju Jakarta 2


__ADS_3

"Anjeun ningali éta?" ¹) tanya Mang Dudung pada kernetnya


"Naon?" ²) Kernet itu bertanya balik.


"Botol ieu mucunghul dumadakan!" ³) kata Mang Dudung masih dengan tampang shock.


"Leres? Abdi henteu ningali," ⁴) jawab kernetnya ikut bingung.


"Aranjeunna manusa?" ⁵) Tengkuk Mang Dudung tiba-tiba meremang dan itu membuatnya bergidik ngeri.


"Lamun teu manusa, sahenteuna aranjeunna alus. Sareng masihan naon waé pikeun kahadéan mamang," ⁶) ujar kernet itu.


"Botol naon cenah?" ⁷) tanya kernet itu.


"Botol ubar," ⁸) jawab Mang Dudung.


"Nyeri naon cenah?" ⁹) tanya kernet itu ingin tahu.


"Sakit gula." sahut Mang Dudung.


Kernet itu terkejut. Mang Dudung jadi ikutan lemas. Keduanya sama berpikir. "Bagaimana orang yang baru bertemu sekali, bisa tahu sakit Mang Dudung yang sudah bertahun-tahun?"


"Meureun Gusti ngutus aranjeunna pikeun nganteurkeun ubar mamang," ¹⁰) kata kernet itu sambil melanjutkan pekerjaannya membongkat muatan sayur.


Mang Dudung mengamati botol obatnya. Dibukanya tutup botol itu sedikit. Aroma obat yang kuat langsung keluar. Baunya bercampur antara bau tanaman, bunga dan wangi yang manis. Mang Dudung menggenggam kuat botol obatnya. Dia mempercayai perkataan kernetnya.


"Tuhan punya cara untuk membantu manusia, selama manusia juga saling membantu dengan sesamanya."


Mang Dudung mempercayai hal itu. Balasan baik untuk amalan yang baik. Dia merasa lega, karena tadi tidak merasa keberatan membawa tiga orang itu ke pasar.senyumnya terkembang.


"Ti ayeuna, terus ngalakukeun anu hadé. Gusti bakal ngaganjar anjeunna ku kahadéan ogé," ¹¹) pesan Mang Dudung pada kernetnya.


"Nuhun, Mang!" Kernetnya mengangguk dan tersenyum. Mereka cepat-cepat melanjutkan kerja yang tertunda.


*


******


"Dok, bagaimana cara kita kembali ke Jakarta? kita tak punya uang untuk ongkos," tanya Sunil.


"Kita coba cari dulu busnya. Dan coba bicara sama sopir. Jika tidak berhasil, kita bisa cari cara lain." Dokter Chandra berjalan melewati kios-kios pasar ke arah perhentian bus menuju ke kota.


Dokter Chandra menghampiri seorang pria yang meneriakkan kata Serang berkali-kali. Jurusan lain Dokter Chandra tidak tahu. Tapi dia pernah ke Serang beberapa kali.


"Bus ke Serang yang mana Jang?" tanya Dokter Chandra.


"Ieu!" tunjuknya pada bus di depannya.


"Sopirnya yang mana?" tanya Dokter Chandra ramah.


"Perlu apa Bah?" tanya orang itu sopan, melihat usia Dokter Chandra.


"Kami mau kembali ke Jakarta, tapi tidak ada uang. Mau minta ijin menumpang bus ini," jawab Dokter Chandra lembut.


Orang itu awalnya ingin mengangguk, tapi batal setelah melihat bahwa yang menumpang bukan hanya satu orang, tapi tiga.


"Kalau menumpang sebanyak ini, sulit atuh Abah," tolaknya halus.


"Mereka bukan orang kita, tidak akan tau jalan kembali kalau kami terpisah," jelas Dokter Chandra lagi.


Orang itu melihat sekilas ke arah Robert dan Sunil. Memang tampang mereka bukan wajah Indonesia. Tapi pria itu bergeming.


"Sopir juga akan marah sama saya kalau terlalu banyak yang menumpang, Bah. Nanti bayaran saya dipotong untuk gantinya," ujarnya menjelaskan masalah yang dihadapinya.


"Boleh saya bicara sama sopirnya?" tawar Dokter Chandra.


"Itu sopirnya. Kang Asep, baju biru lagi ngupi!" Tunjuk pria itu ke arah kios penjual gorengan

__ADS_1


"Nuhun, Jang." Dokter Chandra mengangguk dan melangkah ke arah kios gorengan.


"Maaf mengganggu sebentar Kang Asep," sapa Dokter Chandra, menyela pembicaraan pria itu dengan orang lainnya.


Kang Asep menoleh ke arah Dokter Chandra dan dua temannya. Dia tadi melihat tiga pria ini ngobrol dengan kernetnya. Mengira mungkin itu calon penumpang yang menanyakan bus-bus di situ.


"Iya, Bah. Aya naon?" tanyanya datar.


"Kata si Ujang, Kang Asep yang bawa bus itu?" tunjuk Dokter Chandra.


"Leres," jawabnya sambil mengangguk membenarkan.


"Saya mau minta ijin Kang Asep untuk menumpang sampai Serang. Kami mau ke Jakarta, tapi tak punya uang," kata Dokter Chandra terus terang.


Kang Asep terdiam. Dilihatnya tiga orang itu dengan pandangan datar. Kemudian menarik nafas panjang.


"Untuk Abah, bisa gratis. Tapi yang dua lagi—" Kang Asep tampsk dilema.


"Mereka orang asing. Kalau kami terpisah, nanti mereka tak bisa kembali ke Jakarta," jelas Dokter Chandra.


"Tapi, jika butuh bantuan angkat-angkat barang, mereka pasti mau. Asalkan bisa ikut ke Serang."


Dokter Chandra tiba-tiba mendapat ide, saat melihat bus lain menaikkan kotak-kotak barang ke dalam bagasi belakang.


Kang Asep melihat ke arah Sunil dan Robert yang bertubuh tegap. Mereka memang terlihat kuat.


"Ujang!" panggil Kang Asep.


"Iya, Kang!" Si Ujang berlari mendekat.


"Aya naon, Kang?" tanyanya.


"Ini, Si Abah bisa ikut gratis. Yang dua, suruh angkat-angkat barang naik dulu sampai bus berangkat!" perintahnya.


"Iya, Kang," sahut pria itu.


"Nuhun Kang Asep. Tidak usah khawatir." Dokter Chandra meyakinkan dan memberinya senyum bijak.


"Ya, sudah. Abah bisa naik dulu!" kata pria itu sembari mengangguk.


Tiga pria itu mengikuti Ujang, kembali ke tempat bis menunggu.


"Kalian harus mau angkat-angkat barang sebagai bayaran untuk ikut bus ini," kata Dokter Chandra lewat transmisi suara.


"Baik, Dok," sahut Sunil dan Robert.


Beberapa penumpang sudah menunggu. Beberapa hasil bumi ditumpuk di dekat mereka. Ujang membuka bagasi belakang. Sunil dan Robert sigap membantu mengangkat barang6 itu dan menyusunnya dengan rapi.


Ujang dan para pemilik barang terbengong melihat dua orang bule yang membantu mengangkat barang itu tidak terlihat kepayahan sedikitpun.


Selama satu jam berikutnya, Robert dan Sunil bekerja keras memasukkan barang-barang penumpang. Kemudian bus itupun penuh. Mereka siap untuk berangkat.


Ujang menyodorkan tiga dingklik kayu, untuk tiga penumpang gratis itu duduk di lorong, diantara kursi penumpang.


"Nuhun, Jang." Senyumnya sambil menerima bangku-bangku itu dan membagikannya pada Robert dan Sunil.


Bus tua itu keluar dari terminal kecamatan dengan terseok-seok. Tak ada ac di bus. Jadi semua jendela dibuka lebar, agar udara di dalam bus tidak pengap.


"Ini menyenangkan," kata Sunil lewat transmisi suara. "Apa ini pengalaman pertamamu naik bis sambil jongkok?" Dokter Chandra mengejeknya.


"Betul Dok. Rakat kalian sangat kreatif. Dengan bangku kayu ini, jadi ada kursi tambahan untuk yang menumpang gratis," jawab Sunil


"Untuk perjalanan jauh, duduk seperti ini jauh lebih baik ketimbang berdiri!" timpal Robert


"Yah ... kalau begitu silahkan menikmati perjalanan ini. Kalian tidak akan mendapatkan pengalaman ini di tour wisata manapun!" kelakar Dokter Chandra.


Perjalanan itu ternyata sangat jauh. Jalanan juga tak selalu mulus. Tapi Kang Asep memang sopir bus yang handal. Dia bisa mengemudi dengan baik, meskipun saat melewati jalanan buruk. Penumpang di dalam tetap merasa aman dan nyaman.

__ADS_1


Sore hari, bus itu tiba di terminal Kota Serang. Semua penumpang kelelahan dan kepala jadi sedikit berputar-putar, akibat ayunan bus berjam-jam.


Dokter Chandra, Robert dan Sunil harus turun lebih dulu, agar penumpang lain bisa turun.


Dokter Chandra meregangkan punggungnya yang kaku karena terus membungkuk selama itu.


"Ah ... punggung tuaku," keluhnya dalam hati.


Robert dan Sunil langsung sibuk membantu menurunkan barang-barang para penumpang, dari bagasi. Keduanya tetap cekatan, meskipun wajah mereka terlihat lelah.


"Hatur nuhun Kang Asep, Ujang," ujar Dokter Chandra. Sunil dan Robert sudah menyelesaikan tugasnya. Jadi mereka sudah harus pamit.


"Bagaimana Abah mau ke Jakarta?" tanya Kang Asep.


"Mencari tumpangan lainnya besok. Sekarang ingin istirahat dulu, Kang." Dokter Chandra tersenyum lebar.


"Abah tidak punya duit. Tapi masih bisa senyum lebar dan tulus begitu. Saya merasa sangat iri," kata Kang Asep.


"Tidak perlu risau, Kang. Jika hidup kita baik, Tuhan akan menuntun kita bertemu orang-orang baik juga! Kebaikan akan membawa kebahagiaan!" kata Dokter Chandra bijak.


Disalaminya pria itu. Tapi dua tangan Dokter Chandra menggenggam tangan Kang Asep cukup lama. Pria itu heran. Dia ingin menarik tangannya, tapi seperti ada tekanan yang melarangnya.


Dilihatnya tangan Dokter Chandra sedikit bersinar terang dan menghangatkan tangannya. Dilihatnya pria tua yang dipanghilnya abah itu, memejamkan mata dengan alis tertaut.


Ada rasa gentar di dada Kang Asep, tapi dia tak dapat melepaskan diri. Ujang juga terpaku melihat hal itu. Tapi dua pria asing itu terlihat tenang dan santai.


Tak lama, tangan Kang Asep dilepaskan Dokter Chandra. Senyumannya makin lebar dan cerah. Pria paruh baya itu terlihat bahagia.


"Selamat Kang, putramu nanti akan jadi orang besar!" kata Dokter Chandra.


"Apa?"


Kang Asep dan Ujang berseru serempak. Keduanya terlihat tak mempercayai pendengaran mereka sendiri.


"Kami pamit!" Dokter Chandra, Robert dan Sunil menganggukkan kepala dengan hormat.


Kang Asep dan Ujang masih terbengong melihat ketiganya berjalan menjauh.


*


*


Terjemahan:


¹) "Apa kau lihat itu?"


²) "Apa?"


³) " Botol ini muncul tiba-tiba!"


⁴) "Masa sih? Saya tidak lihat."


⁵) "Apa mereka manusia?"


⁶) " Kalaupun bukan manusia, setidaknya mereka baik. Dan memberikan sesuatu sebagai balasan kebaikan Mamang."


⁷) "Itu botol apa katanya?"


⁸) "Botol obat."


⁹) "Sakit apa katanya?"


¹⁰) "Mungkin Tuhan mengirim mereka untuk mengantarkan obat buat mamang."


¹¹) "Mulai sekarang, tetaplah berbuat baik. Tuhan akan membalasnya dengan kebaikan juga."


********

__ADS_1


__ADS_2