PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 167. Northtinghill


__ADS_3

Laras dan Liam dibangunkan oleh salah seorang yang membawa mereka. Keduanya digiring keluar ruangan.


Mereka berjalan melewati 2 bangunan. Langit mulai memancarkan cahaya awal subuh. Udara lumayan dingin dan membuat Laras memeluk kedua lengannya di dada.


Seorang penjaga di depan bangunan yang lebih besar menghentikan langkah mereka. Pria asing di depan berbicara. Lalu mereka diijinkan masuk.


Laras dan Liam dibawa melalui lorong-lorong panjang. Lalu pria di depan berhenti di sebuah pintu. Pintu dibuka lalu dia menyuruh Laras dan Liam masuk.


Laras memperhatikan isi ruangan itu. Ada tong kayu besar di depan sana. Ada tirai yang setengah terbuka. Di meja kayu ada kain-kain terlipat rapi. Ada 2 lilin di dua sudut sebagai penerangan.


Pria itu menarik lengan Laras menuju tong kayu besar di balik tirai. Laras menurut untuk melihat maksud pria itu.


"Hei, mau apa kau?" Liam menahan tangan Laras, tak mengijinkannya melangkah ke depan.


Pria itu mendorong tubuh Liam. Tenaganya begitu kuat, hingga Liam jatuh terjengkang ke belakang.


"Biar ku lihat dulu dia mau apa." Laras menenangkan Liam. Jika dia tak mengikuti mau mereka, maka Liam akan disakiti.


Laras berjalan ke depan sendiri. Kini dia bisa lihat bahwa itu tong air. Laras melihat ke arah pria yang membawa mereka dengan pandangan bingung.


Dengan bahasa isyarat, pria itu menunjuk tong air dan Laras, lalu kain yang terlipat di meja kayu.


"Apa kau menyuruhku mandi dan berganti pakaian?" Tanya Laras sambil memegang bajunya sendiri.


Pria itu mengangguk sambil tersenyum. Dia membungkuk sedikit, lalu keluar sambil menutup pintu.


"Apa maksudmu?" Liam bangkit dari lantai.


"Mereka ingin kita mandi dan ganti baju." Kata Laras.


"Untuk apa? Kalau mereka begitu manusiawi pada tahanan, harusnya ruangan tadi tak seburuk itu." Liam tak percaya.


"Apa salahnya diikuti. Kita memang kotor dan bau. Baiklah, kau berbalik. Aku mandi lebih dulu." Laras mendorong Liam menjauh.


Tirai yang setengah terbuka tadi ditutupnya. Lalu Laras menanggalkan pakaiannya.


"Jangan ngintip. Awas!" terdengar ancaman dari balik tirai.


"Enggak. Tenang saja."


Liam memilih duduk di lantai dan melanjutkan tidur ketimbang menunggu sambil berdiri.


Setengah jam kemudian keduanya telah rapi. Liam membuka pintu karena tak tau mesti apa lagi. Ternyata pria yang mengantar mereka tadi menunggu di balik pintu.


Dia mengangguk saat melihat Laras dan Liam sudah berpakaian rapi. Keduanya dibawanya melewati beberapa lorong lagi sebelum berhenti di sebuah pintu.


Pria itu mengetuk pintu. Seseorang membuka pintu dari dalam. Lalu mereka bertiga masuk. Di situ hanya ada meja segiempat yang cukup untuk 4 kursi. Sudah ada 2 pria yang duduk di situ.

__ADS_1


Laras dan Liam dipersilahkan menempati 2 kursi yang ada. Pria yang mengantar mereka keluar. Seorang pelayan masuk membawa cangkir minuman dan penganan.


Laras dan Liam menunggu saja, karena tak tau mesti bagaimana. Tapi setelah hening begitu lama, akhirnya Laras tak sabar juga.


"Apa kalian tak ingin mempersilahkan kami minum?" Mata laras menyelidik tepat ke mata pria di depannya. Pria itu sedikit gugup dengan keberanian Laras. Dia memalingkan muka ke arah lain.


Karena tak mendapat jawaban, Laras menunjuk minuman di depannya. Lalu mengangkat cangkir ke mulut dan meneguk isinya.


"Liam, ayo minum. Rasanya tidak buruk," kata Laras.


"Oke," Liam mengikuti apa kata Laras. Lagipula, dia memang merasa haus.


Kedua orang itu melihat bahwa pria dan wanita asing itu tidak merasa takut dan terintimidasi. Akhirnya pria yang belum pernah dilihat Liam mendorong piring penganan.


Buat Laras, itu sama artinya dengan mempersilahkan makan. Jadi dia tak sungkan lagi. Laras mengambil sepotong roti keras di depannya. Dimasukkan mulut dan dikunyahnya pelan-pelan. Wajahnya berseri-seri. Liam akhirnya ikutan makan juga.


Dua pria di depan itu saling berpandangan. Menyadari bahwa tamu mereka itu sedang kelaparan. Keduanya tersenyum samar lalu meneguk minuman mereka dengan santai.


*


Setelah acara makan sepihak itu selesai. Pelayan masuk dan mengangkat cangkir serta piring roti yang sudah kosong. Ruangan itu kembali sunyi.


Pria di depan itu menempelkan tangannya di dada dan berkata: "Stevan... Stevan." Ulangnya.


Lalu pria yang waktu itu membawa mereka juga melakukan hal yang sama. "William.. William." Katanya sambil menekan tangan di dada.


"Liam.. Liam." kata Liam sambil menekan dadanya.


"Laras.. Laras," kata Laras juga.


Dua pria di depan tersenyum. Dibalas senyuman oleh Laras dan Liam.


Stevan memutar jarinya ke seluruh ruangan, lalu menunjuk meja. "Northtinghill," katanya.


Laras dan Liam saling pandang.


"Bagaimana cara mengatakan asal kita?" Liam bingung.


Tapi Laras segera menggores permukaan meja dengan jarinya. Menggambar pulau-pulau besar Indonesia. Lalu dia menunjuk dadanya dan dada Liam, lalu meletakkan jari di meja. "Indonesia." Kata Laras lantang.


Kedua orang itu heran. Saling pandang lalu kembali melihat ke arah Laras dan Liam.


Stevan menunjuk Laras dan Liam bergantian, lalu menunjuk meja.


"Indi..?" Dia tak bisa meneruskannya.


"Indonesia," Liam mengulangi kata itu.

__ADS_1


Setelah 3 kali, baru Stevan bisa menyebutnya.


Laras mengangguk senang.


"We are from Indonesia," katanya dengan wajah berseri-seri.


Kedua orang itu terperanjat.


"You can speak English?!" Dia tak percaya.


"Yes, a little." Jawab Laras pede.


"Where do you live in England?" tanyanya penasaran.


"No. We live in Indonesia. Indonesia is other countries in Asia." Jawab Laras.


Kedua orang itu makin bingung.


"Can you give me a paper and pen? I'll draw it for both of you."


Orang yang pertama mereka jumpai segera keluar ruangan. Tak lama dia kembali membawa segulung kertas dan pena di tangan. Kertas itu dibentangkan di permukaan meja.


Laras menoleh pada Liam. Apa kau bisa menggambar peta dunia? Harus ada Indonesia dan England di situ." tanya Laras.


Liam mengangguk. Diambilnya pena lalu menggambar peta negara England, Perancis, Jerman. Lalu di bagian bawah dia gambar 3 pulau besar Indonesia. Diantara itu dia buat tulisan besar SEA. Peta asal jadi itu disodorkan pada kedua orang asing itu yang menatap tak percaya.


*


Seharian itu Liam dan Laras terjebak di ruangan itu. Mereka juga menjelaskan bagaimana mereka sampai di tempat itu.


Kedua orang itu sungguh tak bisa mempercayainya. Penjelasan aneh macam apa itu?


"Kurasa mereka tak kan percaya. Cerita kita terlalu ajaib. Lebih mirip dongeng," keluh Laras.


Liam tak dapat berbuat apa-apa lagi.


Stevan berteriak. Pintu dibuka. Orang yang tadi mengantar mereka, masuk ruangan.


Stevan mengatakan sesuatu padanya. Lalu dia menunjuk Laras dan Liam untuk mengikuti pria itu.


Liam dan Laras berdiri. Menganggukkan kepala sedikit, lalu mengikuti pria itu keluar ruangan.


Mereka kembali menyusuri lorong-lorong. Hingga tiba di depan sebuah pintu. Pintu dibukanya. Laras dan Liam masuk. Pintu kembali ditutup.


Mereka kini berada di sebuah kamar dengan 2 tempat tidur kecil yang menempel di dua sisi dinding.


"Lebih baik kita beristirahat sekarang. Kumpulkan tenaga." Saran Liam. Laras mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2