
Tiba-tiba Dean menegakkan kepala. Dia mengingat sesuatu. Z masih di depan gua. Ditampungnya air di cangkir batu.
"Kalian jaga Sunil. Aku akan memeriksa Alan," perintah Dean sebelum melesat pergi meninggalkan bayangan keemasan.
"Z, bertahanlah," gumam Dean makin kalut. Dia tau bahwa Z menggunakan kekuatan jiwanya untuk menahan ledakan cahaya biru O agar tidak sampai membakar isi gua. Dia pasti juga terluka sangat parah, tapi masih membelah jiwanya untuk mencari keberadaan tubuh Sunil dalam kabut panas itu.
Dean menemukan Widuri yang kebingungan duduk di sebelah Alan yang tak sadarkan diri. Uap putih panas menguar dari tubuh Alan. Widuri mengipasi Alan dengan selembar kain, hingga uap panas itu makin menguar kemana-mana.
"Z, maafkan aku, terlambat membantumu," ucap Dean.
Diangkatnya sedikit punggung Alan hingga setengah duduk. Diminumkannya air dari dari ke mulut Alan hingga habis.
"Ambilkan lagi air dari dinding batu," perintah Dean pada Widuri sambil menyodorkan cangkir di tangannya.
Kali ini Widuri tidak membantah. Cangkir itu segera diraihnya lalu melangkah memasuki lorong batu.
Dean membaringkan kembali tubuh Alan di lantai. Ditutupnya pintu gua dengan menyusun batu-batu yang berserakan di situ. Batu-batu itu tidak cukup, hingga masih menyisakan celah lubang di bagian atas mulut gua. Tapi Dean membiarkan itu saat ini.
'Besok masih bisa dilanjutkan menutup seluruh celah jika memang perlu,' pikirnya.
Diangkatnya tubuh Alan menuju kolam dimana tetes air dari langit-langit dan aliran air dari ruang bak batu itu bertemu. Tubuh Alan perlahan dimasukkan ke dalam kolam. Dean menahan kepala Alan tetap di permukaan air saat tubuhnya tenggelam.
"Apa yang kau lakukan?!" Widuri berteriak marah dan berlari mengejar ke kolam. Air di cangkir batu itu terpercik keluar.
Wajah Dean memerah melihat itu.
"Kau tau air itu bisa menyelamatkan nyawanya. Tapi kau sengaja menumpahkannya. Apa kau mau dia mati setelah berkali-kali menolong org keras kepala sepertimu?!" Suara Dean menggelegar dan bergaung di gua itu. Kilatan keemasan dari matanya seketika menahan laju kaki Widuri.
Widuri tertegun dan mundur dengan tak sadar. Matanya terbelalak melihat kemarahan Dean. Belum pernah Dean seperti ini. Apakah itu Dean atau A?
Dean mengangkat tubuh Alan yang basah kuyup ke udara. Uap panas yang menguar sebelumnya telah hilang. Dean pergi meninggalkan Widuri yang masih berdiri kaku tanpa menoleh sama sekali. Disambarnya cangkir di tangan Widuri saat melintas. Mereka menghilang di dalam lorong batu.
Widuri merasakan kakinya bergetar lalu melembut tak mampu menahan posisinya lagi. Perlahan tubuhnya merosot dan terduduk di lantai gua yang basah. Badannya ikut bergetar. Jantungnya berdentam keras dan cepat.
Widuri sedang marah dan terkejut. Belum pernah dia dibentak begitu rupa. Tubuhnya terhenti otomatis karena kejutan itu. Dan Widuri marah karena reaksi pengecut yang ditunjukkan tubuhnya. Pada hal dia tak merasa berbuat kesalahan.
"Kenapa dia membentakku? Aku sudah melakukan yang dimintanya. Aku sampai berlari membawakan air untuk Alan."
Widuri menggerutu kesal tapi kemudian terhenti saat melihat kedua tangannya kosong.
"Dimana cangkir batu itu? Dimana airnya? Itukah yang membuat Dean marah? Apa aku lupa membawa atau menumpahkannya?"
"Ahhh.. Sial.. Aku benar-benar ceroboh dan bodoh."
__ADS_1
Widuri memukul-mukul kepalanya sendiri sambil terus menyesali sikapnya yang menyusahkan teman-temannya.
*
Di ruangan itu, Dewi dan Nastiti mulai melihat perubahan pada fisik Sunil. Perlahan tapi pasti, kulit gosong yang terbakar itu berubah digantikan kulit baru yang sehat tanpa ada satupun jejak terbakar. Bersih mulus seperti kulit yang rutin mendapat perawatan di klinik kecantikan.
"Amazing. Aku juga pingin punya kulit sebagus ini."
Mata Dewi dan Nastiti tak lepas mengamati perubahan itu. Sampai mereka tiba-tiba berbalik dengan wajah semerah tomat.
"Kau lihat itu?" tanya Nastiti sambil menutup wajahnya.
"Oohhh.. mataku ternoda." Nastiti berlari keluar ruangan.
"Kenapa kita tak sadar kalau pakaiannya juga terbakar? Dasar bodoh." Dewi menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas lalu menyusul Nastiti keluar.
Keduanya baru saja tiba di ujung lorong ruangan itu ketika Dean kembali dengan tubuh Alan yang melayang mengikuti.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Dean heran.
"Kami.. kami.." Keduanya hanya bisa menunjuk ke dalam.
Alis Dean bertaut melihat tingkah mereka. Jadi dia segera melanjutkan langkah untuk melihat apa yang terjadi.
Dean mendapati bahwa tubuh Sunil sudah mulai membaik seperti yang harapkannya. Lalu dia menyadari sesuatu dan tersenyum sendiri. Dibukanya tempat penyimpanan di kalung Sunil untuk mengambil pakaian lain. Digantinya pakaian Sunil dengan hati-hati. Lalu memindahkan dan membaringkannya di dalam ruang transmisi disamping jasad Z.
Alan ditempatkan di atas bak batu. Dean mulai menampung air dengan cangkir batu lalu meminumkannya pada Alan.
"Semoga belum terlambat. Maafkan aku Z. Perempuan payah itu selalu membantah hingga menunda pekerjaan kalian. Bahkan disaat darurat dia masih bersikap sok pintar hingga mungkin membahayakan nyawamu. Aku tak punya pilihan selain menahannya diluar sampai keadaan kalian membaik. Jadi tolong, cepatlah sembuh. Atau aku akan terus murka padanya."
Dean mengadu sambil terus menampung air dan menyiramkannya pada tubuh Alan, hingga Alan benar-benar basah kuyup. Gerak tangan Dean terasa seperti mesin otomatis yang terus menerus bergerak menampung dan mengguyur Alan dengan air.
Alan membuka matanya perlahan. Tubuhnya merasa dingin. Dilihatnya Dean menampung air lalu air di cangkir di tuangkan ke tubuhnya. Kemudian tangan itu kembali menampung air.
Alan mengerutkan kening melihat itu. Diamatinya wajah Dean dengan seksama. Matanya, pipinya basah dialiri air mata tanpa suara. Alan kembali merasakan air mengguyur tubuhnya.
"Apa kau berniat membekukanku?"
Alan mengangkat sebelah alisnya. Suara Alan sontak menghentikan gerak tangan Dean, membuat ekspresinya berubah, lalu menoleh ke arah Alan.
"Kau sudah sadar? Apa yang kau rasa? Kau tak apa-apa? Kau.." pertanyaan Dean yang bertubi-tubi itu terhenti saat melihat Alan berusaha bangun.
"Kau cerewet. Bantu aku turun," omel Alan.
__ADS_1
"Ah, ya. Hati-hati." jawab Dean sigap. Dia bersyukur Alan baik-baik saja.
Alan berdiri disamping bak batu. Dia tak menemukan Sunil.
"Dimana O?" tanyanya pada Dean.
"Ku baringkan di ruang transmisi." Dean maju ke depan tapi di hentikan oleh Z.
"Cuci muka dan bersihkan dulu ingusmu. Apa yang akan dikatakan para wanita itu jika mengetahui seorang A yang jenius menangis sampai beringus?" ledek Z usil.
"Ahh.. ya." Dean berbalik dan segera menampung air untuk mencuci wajahnya.
Z melangkah masuk ke ruang transmisi. Lalu terhenti di pintu saat menyadari pakaiannya basah kuyup dan meneteskan air di lantai ruangan. Seberkas cahaya merah yang hangat berhembus memenuhi ruang. Tubuh Z kembali kering. Sisa-sisa air di lantai juga ikut menguap. Lantai itu kembali kering.
Z mengangkat tubuh Sunil dan kembali meletakkannya di bak batu.
"Beri dia cukup minum," perintah Z pada Dean yang dijawab dengan anggukan kepala patuh.
Z kembali ke ruang transmisi dan menemukan jasad kakunya di lantai. Diamatinya wajah pias itu. Wajah yang sangat dikenalnya, tapi sudah tak mungkin untuk ditempati lagi.
"Ku kira aku bisa beristirahat dengan tenang di tubuh ini. Tapi A justru memindahkanku ke tubuh lain. Jadi, kau beristirahatlah. Dunia kita sudah hilang. Sekarang aku akan menjelajah di dunia baru ini. Aku janji akan mencoba hidup dengan baik."
Alan bicara sendiri. Lalu diambilnya kalung dan tanda bintang di dada jasad itu. Melalui panel batu, Z memeriksa informasi yang ada di tanda bintang itu.
Z kembali mendapati Dean yang berdiri menunggu di sebelah bak batu. Dengkuran halus terdengar dari atas bak batu. Itu pasti Sunil.
"Bantu aku menguburkan jasad Z," kata Alan.
Alan keluar sambil membawa tubuh Z yang melayang di belakangnya. Dean berjalan mendahului.
"Kalian mau kemana?" tanya Dewi yang melihat Dean dan Alan keluar. diikuti tubuh yang melayang.
"Kami mau menguburkan jasad Z." sahut Dean.
"Sunil bagaimana?" tanya Nastiti.
"Dia sedang tidur. Kalian juga pergilah beristirahat. Nanti kami menyusul." jawab Dean.
"Baik. kami akan mengajak Widuri istirahat."
Dewi dan Nastiti berjalan menuju ruang gua dimana dulu mereka pernah tinggal. Malam ini sungguh melelahkan. Mereka benar-benar butuh istirahat.
"Hoaammm. Aku mau tidur sampai siang. Capek sekali." kata Dewi sambil menguap.
__ADS_1
"Menegangkan," tambah Nastiti.
***