
Pagi itu Indra memutuskan pergi dengan Leon untuk mengecek area tanaman jagung yang ditemukan kemarin. Mereka pergi segera setelah sarapan karena letaknya cukup jauh.
Marianne mengatakan rencananya memeriksa padang terbuka yang mereka lewati untuk memetik beberapa herba disana. Indra menugaskan Michael menemani Marianne.
Yang lain akan tetap di shelter melanjutkan membuat batu bata, menganyam keranjang willow dan mencari kerang yang tertimbun pasir pantai.
*
Marianne kembali dengan keranjang penuh bunga dan tanaman herbal saat matahari sudah di puncak kepala. Toni mengumpulkan cukup banyak kerang di pantai. Silvia masih lanjut membuat garam karena garam yang ada sudah digunakan Laras untuk mengasinkan ikan-ikan yang didapat pagi itu.
Liam, Niken dan Angel terlihat asik bermain lumpur sambil ngobrol. Dokter Chandra duduk di depan shelter sambil menganyam keranjang dari ranting willow. Belum ada satupun yang berhasil dibuatnya.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pantai. Michael berlari ke arah tebing untuk melihat. Tampak Toni menunjuk ke arah laut sambil terus berteriak.
"Kapal. Kapal. Itu ada kapal!" teriak Toni sambil menunjuk ke arah laut.
Michael memperhatikan laut lepas. Memang terlihat ada kapal layar disana. Dengan segera dia berteriak ke arah shelter.
"Di laut ada kapal layar!" teriakan Michael sukses membuat semua orang terperanjat dan segera berlari ke tepi tebing untuk melihat. Mata mereka berbinar penuh harapan.
"Hei, Kemarin Robert mengatakan untuk hati-hati jika ada kapal yang berlabuh di sini. Cepat panggil Toni kembali sebelum mereka melihatnya," dokter Chandra mengingatkan sambil berdiri dari duduknya.
"Bukankah jika ada kapal kita bisa minta pertolongan?" tanya Laras tak mengerti.
"Peringatan Robert bukan main-main. Pasti dia punya kekhawatiran sendiri," Marianne menyetujui.
"Toni, stop. Cepat kembali!"
Teriakan teman-temannya tidak terdengar oleh Toni. Dia justru makin semangat memberi tanda ke arah kapal agar terlihat, karena mengira tindakannya mendapat dukungan. 'Ada kapal, mereka akan segera diselamatkan' pikirnya gembira.
Tak lama tampak perahu kecil diturunkan dari kapal dan dikayuh menuju pantai.
Liam sedari tadi memperhatikan kapal layar itu dengan alis berkerut.
"Apakah tidak aneh, ada kapal layar besar dengan bendera seperti itu di jaman sekarang?" tanya Liam entah pada siapa.
Pertanyaan itu membuat semuanya kembali memperhatikan kapal itu.
"Itu kapal kayu yang modelnya tua sekali. Sementara di jaman sekarang, kapal layar sebesar itu biasanya milik angkatan laut suatu negara, khusus untuk festival dan singgah di negara lain sebagai tanda persahabatan. Mereka akan memasang bendera negaranya dengan jelas." Niken menjawab sambil berpikir keras.
"Sembunyi. Cepat!" dokter Chandra memberi perintah dan langsung diikuti semuanya dengan kalang-kabut.
Mereka ngintip dari balik pohon dan rimbunan semak dekat tebing. Memperhatikan lebih jelas saat perahu yang berisi 5 orang makin dekat ke pantai. Toni tak berteriak-teriak lagi. Dia justru tampak bingung dengan penampilan orang-orang itu.
"Perhatikan topi mereka!" Marianne tampak terkejut. Wajahnya pias.
"Ada tanduknya. Seperti di film-film apa yah itu.." Niken lagi-lagi berpikir keras, namun tak berhasil mengingat apapun.
"Viking!" gumam Liam kaku.
__ADS_1
"Hah?!" Semua terkejut dan kembali mengintip ke pantai.
Perahu itu sudah mendarat. Orang-orang itu mendekati Toni yang mundur sampai terjatuh di pasir. Pedang panjang diarahkan padanya. Hal itu membuat semua anggota tim yang ngintip jadi terkejut dan ketakutan.
"Pergi. Cepat pergi dari sini. Atau kita akan mati." Marianne dengan cepat menjauh dari tebing.
"Dok, kau sangat dibutuhkan dalam tim, jadi kau harus selamat dan bawa para wanita ke tempat Indra," Michael dengan cepat mengambil keputusan.
"Liam, kau kawal para wanita dan dokter Chandra. Pergi ke arah tempat kau mencari kayu. Cari Indra dan Leon. Cepat, sebelum mereka naik kesini." Michael menyuruh semua bergegas.
"Hei, bawa semua tas kalian, jangan buat orang-orang itu merasa ada banyak orang di sini. Bawa Ikan-ikan untuk persediaan kalian nanti," kata Marianne.
"Kau tidak ikut Marianne?" tanya Laras heran.
"Tidak. Biar aku di sini. Aku sudah tua, mereka tak kan melakukan hal yang buruk apapun. Cepat pergi," tandas Marianne.
"Jangan lupa bawa tombak. Kami akan menahan mereka di sini agar kalian punya cukup waktu untuk bersembunyi." Michael tampak teguh.
"Aahhh! Toloooong." Terdengar teriakan kesakitan Toni di pantai.
Michel merangkak ke arah tebing untuk mencari tau apa yang terjadi. Dia seketika panik.
"Pergi sekarang! Mereka sudah melukai Toni," katanya panik. Ditariknya ke atas jalinan tali yang biasanya dijadikan tangga untuk menuruni tebing.
Semuanya berhamburan menuju hutan, menjauh dari tepi pantai. Liam membawa rombongan itu menyelamatkan diri.
"Apakah orang Viking itu berbahaya?" tanya Angel dengan suara terputus-putus akibat berlari.
"Atau mungkin kita yang melintasi waktu masuk ke era mereka? Oh my God!" Angel terpekik.
"Sstttt.. kau ini. Apa mau ketahuan sama mereka? Jangan jerit-jerit dong," gerutu Silvia ketakutan. Mereka terus berlari mengikuti Liam.
*
Marianne dan Michael mengintip situasi pantai. Toni yang sudah dipukuli sampai berdarah dan jatuh justru menunjuk-nunjuk ke arah tebing.
"Sialan si Toni ini. Dia malah menunjukkan tempat kita. Apa sengaja mau mencelakai kita?" maki Michael kesal terhadap sikap Toni.
"Heh, tidak heran sih. Itu orang pengecut dan hanya mencari aman serta keuntungan sendiri jika ada kesempatan," cibir Marianne.
Marianne ingat sikap Toni saat pertama mereka berkumpul setelah pesawat jatuh. Marianne selalu merasa Toni bukan orang yang terpuji. Sekarang saja dia bisa mengorbankan anggota tim lain setelah dipukuli orang tak dikenal. Sungguh pengecut.
Michael mencerna kata-kata Marianne. 'Apakah pernah terjadi sesuatu sebelum ini yang aku tidak tau?' pikir Michael yang heran melihat rasa tak suka yang tampak jelas di wajah Marianne.
"Ahh.. Tolong, sakit. Teman-temanku ada di sana. Ya, akan ku tunjukkan. Aduh.." Toni jatuh telungkup dipasir setelah kena tendangan.
"Dia mau kemari, Marianne. Apa yang harus kita lakukan?" Keringat tampak jelas mengucur di dahi Michael.
"Aku siap jadi tameng di sini. Kau bisa pergi menyusul Liam kalau mau," jawab Marianne pasti.
__ADS_1
"Baiklah, kita bertahan disini." Michael bangkit berdiri dan mengambil tombak. Dia tak akan menyerah begitu saja tanpa melakukan perlawanan.
"Hei, kalian. Ini orang-orang dari kapal mencari kalian. Sini cepat turun." Toni berteriak memanggil.
Marianne dan Michael saling pandang dengan geram. 'Orang itu benar-benar tak punya otak' batin Michael geram.
"Apa kau bodoh? Malah membawa mereka kemari." cibir Marianne yang muncul di tebing.
Di bawah tebing, orang-orang asing itu berteriak keras dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti. Mereka kembali melukai Toni dengan pedangnya. Tapi Marianne hanya memandang dingin.
"Tolong, mereka melukaiku," rintih Toni mengiba. Darah mengucur dari beberapa luka tusukan pedang yang diterimanya.
"Mereka itu petarung. Kau mau aku melawan mereka?" ejek Marianne sinis.
Marianne terus memperhatikan orang-orang di bawah. Tunggu, tadi dia yakin melihat ada 5 orang di perahu. Tapi di bawah tebing hanya ada 4 orang termasuk Toni. 'Dimana yang lainnya?' pikir Marianne sambil mencari ke seluruh pantai.
Brukk!
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu dipukul dan ambruk ke tanah. Marianne menoleh ke asal suara dengan tombak digenggam kuat. Tampak Michael pingsan dengan kepala berdarah tergeletak tak jauh dari perapian.
Itu adalah kedua orang asing yang hilang dari pandangan Marianne. Ternyata mereka mengambil jalan lain untuk mencapai shelter dan menyergap Michael.
Marianne berlari mendekati Michael.
"Michael, kau mendengarku? Michael!" tanya Marianne sambil berusaha membalik badan Michael yang tertelungkup. Marianne menatap orang yang memukul itu dengan marah.
"Apa yang kau lakukan! Bajing**!" Marianne sangat marah.
Tapi orang itu tak peduli. Dia melangkah ke tepi tebing dan meneriakkan beberapa kata asing. Lalu dia juga menemukan tangga yang ditarik Michael. Tangga itu dilempar kembali kebawah.
Sementara yang seorang lagi memeriksa kedua shelter dan mengacak-acak isinya. Bahkan gerabah hasil kerja Angel dan Niken juga tak luput dari sasaran pedang.
Tak lama Toni muncul diikuti 3 orang asing di belakangnya. Marianne memandang Toni dengan tatapan sengit seolah mengatakan bahwa ini adalah akibat ulah perbuatannya. Toni menunduk setelah melihat Michael yang tak bergerak dengan darah mengucur dari kepalanya.
"Kau bajing** pengecut. Tolol!" teriak Marianne tepat di hadapan Toni.
"Bahkan Alex jauh lebih berani menghadapi bahaya untuk melindungi kekasihnya," ejek Marianne pedas. Toni makin menunduk tak tau mau berkata apa.
Plakk!
Marianne tiba-tiba jatuh tak bergerak di depan Toni yang seketika pucat pasi.
'Orang-orang liar ini benar-benar kasar, wanita pun dipukul juga. Aku harus bisa mengambil hati dan membujuk jika tak ingin mati seperti mereka berdua' pikir Toni mencoba mencari akal.
Orang-orang asing itu berdiri mengelilingi Toni sambil mengamati. Salah seorang dari mereka duduk sambil mencicipi kerang sisa sarapan di dalam panci dekat perapian. Dia terlihat menyukainya. Toni merasa ada peluang untuk selamat lalu mencoba menunjukkan kerang lain yang belum dimasak.
"Ini, masih ada kerang segar. Aku akan mencarikan lagi jika kau mau," seru Toni sambil menunjukkan keranjang tempat kerang-kerang itu disimpan Laras.
Orang itu tampak senang dan mencoba untuk memakan kerang mentah tapi jadi kesal karena tertutup cangkang.
__ADS_1
"Tidak begitu. Harus dimasak dulu baru dimakan," kata Toni sambil bolak balik menunjuk kerang dan perapian. Namun orang itu tampak makin kesal karena tak mengerti apapun.
***