
Menjelang siang, kafilah dagang itu memasuki wilayah yang benar-benar berbeda.
Di gurun tandus berbatu dan berpasir itu, mulai terlihat kehijauan rumput di sana-sini. Meski hanya rumput-rumput pendek, tapi jelas itu seperti tempat transisi menuju area yang lebih subur setelahnya.
"Kita sudah dekat perbatasan!" teriak para penjaga.
Leon bangun dan duduk di samping Jane. Dia sudah menyiapkan uang untuk biaya masuk ke negara itu, sejumlah yang disebutkan oleh ketua kafilah.
Dari kejauhan di bukit batu, Leon bisa melihat ke arah bawah. Gerobak-gerobak berbaris rapi menuju sebuah jembatan batu yang kaki lengkungnya terendam dalam air yang membiaskan birunya langit.
Tak lama, gerobak kafilah dagang itu juga ikut mengantri untuk melewati jembatan batu. Semua pedagang merasa antusias. Di seberang sungai sana, terlihat pohon-pohon rimbun kehijauan. Itu adalah pemandangan yang indah bagi penduduk gurun pasir.
Gerobak Leon pun, akhirnya mulai berjalan di atas jembatan batu. Jane sangat senang melihat air sungai yang sangat jernih di bawah sana.
Leon mengerti. Untuk Jane dan dirinya yang tinggal di pantai, bermain air adalah keseharian. Namun selama mengikuti perjalanan ini, Jane tak mungkin menyentuh air untuk mandi. Dia pasti rindu bermain air sepuasnya.
Setelah melewati pos pemeriksaan dan membayar biasa masuk, Leon mengikuti kafilahnya. Para pengawal itu mengatakan boleh mengistirahatkan kuda sejenak. Tempat mereka menginap sudah tak jauh lagi.
Setelah mendapat tempat parkir, dan membiarkan kudanya menikmati rumput segar. Leon mengambil wadah rumput laut yang sebelumnya berisi air untuk minum. Dia turun ke sungai, seperti para pedagang lain, yang ingin menyegarkan diri.
Setelah mencuci muka, tangan dan kakinya, Leon mulai mengambil air dari sungai dan membawanya ke dekat gerobak. Leon bolak-balik tiga kali untuk memenuhi wadah lain.
"Jane, kau bisa membersihkan diri di sini," ujar Leon.
Jane kebingungan. Bukankah dia hanya punya baju yang melekat di badan saja?
Leon mengambil kain selimut mereka. mengikatnya pada gerobak dan 2 tongkat kayu yang ditemukannya di tanah berumput. Tong air itu ada di dalam kurungan kain sekarang.
"Mandilah di dalam sini. Aku akan berjaga. Tak ada yang akan melihatmu," ujarnya.
Jane mulai mandi dengan tenang. Dia tau Leon akan menjaganya dari pandangan orang lain.
Setelah Jane selesai, Leon kembali pergi mengambil air untuk persediaan minum mereka dan kuda.
Jane menyiapkan sedikit bekal siang itu. Karena persediaan mereka harus dicukupkan hingga besok.
Leon menatap Jane yang menikmati ikan asap dan roti kering dalam diam. Dia sudah bersih sekarang. Tak ada lagi debu yang membuat cemong wajahnya.
Hati Leon luluh melihat perjuangan hidup Jane yang berat. Namun dia tetap tegar. Jane tak pernah meminta apapun. Selalu Leon yang berinisiatif membelikan kebutuhannya.
Leon merasa sikap Jane itu karena tekanan hidupnya dulu. Hidup ditindas oleh pria barbar sejak kecil, tentu sudah mengajarinya untuk tidak meminta apapun. Atau akan mendapatkan penyiksaan dan pelecehan.
"Bersiap berangkat!" teriak seorang pengawal.
Jane membenahi piring roti. Meneguk air minum dan kembali duduk di sebelah Leon.
Perjalanan kali ini, melewati jalan tanah yang di sebagiannya agak lembek berlumpur. Mungkin turun hujan sehari sebelumnya. Dengan kondisi ini, gerobak justru harus dibawa lebih hati-hati lagi agar tak terperosok ke dalam lubang berlumpur.
Meski tubuh jadi penat karena digoyang-goyang jalanan, tapi pemandangan hijau dan udara yang segar, menghibur kafilah itu. Mereka jadi lebih menikmati pemandangan indah di sekitarnya.
Sore hari menjelang. Dan jalanan dengan cepat menjadi gelap karena pepohonan yang tinggi dan rindang.
"Tempat istirahat di depan!" teriak para pengawal memberikan informasi.
Tak disangka tempat istirahat itu adalah lapangan terbuka. Sebagian ditutupi rumput, sebagian lg becek berlumpur. Dan... tempat itu penuh sekali.
"Sepertinya banyak kafilah yang biasa berdagang ke negri ini." Jane memberi komentar.
Leon mengangguk.
"Ya, kita saja yang baru tau. Dan ini pengalaman berharga." ujar Leon.
Mereka mengikuti petunjuk para pengawal dan mengambil lokasi istirahat terpisah dari yang lainnya.
__ADS_1
"Kau jangan kemana-mana! Jika punya hajat, beritau padaku," kata Leon mengingatkan.
Jane mengangguk mengerti. Yang berada di situ bukan hanya kelompok dari kota mereka. Jadi Leon tidak tau apakah orang-orang itu baik atau tidak.
Mereka memulai aktifitas petang itu dengan mengistirahatkan si kuda kelabu dan memberinya makan. Leon mencari rumput segar di sekitar situ. Jadi dia bisa menghemat jerami untuk saat sulit.
"Jane, kuda ini belum diberi nama," kata Leon.
Jane memandangi kuda itu dengan seksama. Dielusnya dengan sayang.
"Star. Namanya Star!"
Jane tersenyum bahagia dan memeluk kuda pertamanya.
"Hemmm... nama yang indah. Kulitnya yang kelabu, dengan taburan bintik putih di mana-mana. Seperti bintang di langit malam." Leon manggut-manggut.
"Ayo makan yang banyak, Star...."
Leon ikut mengusap-usap kepala Star. Kuda itu memang cantik dan kuat.
Mereka beristirahat setelah menikmati makan malam, yang terpaksa dijatah Jane.
"Untukmu saja," ujar Leon sambil mendorong piringnya ke arah Jane.
Jane menggeleng. Piring kecil itu kembali didorong ke arah Leon.
"Makan!" kata Jane memaksa.
Akhirnya Leon memakan setengah potong roti kering itu di bawah tatapan tajam Jane. Dan, Jane tersenyum senang melihat roti itu hilang di mulut Leon. Dia langsung membereskan peralatan yang tak seberapa itu.
"Kau tidurlah lebih dulu. Aku akan memeriksa ikatan di belakang gerobak," ujar Leon.
"Ya," sahut Jane.
Leon turun dari gerobak dan memeriksa ikatan penutup di bagian belakang.
Pedagang yang kehilangan gerobaknya di gurun, menyapa Leon.
"Ya. Kelihatannya banyak hujan di negri ini. Banyak kehijauan yang menyegarkan mata," sahut Leon sambil tersenyum.
"Hei, mari bergabung dengan yang lainnya. Malam ini tuan Ammar, pemimpin kafilah, mengundang semuanya untuk datang ke tenda beliau," ujar pria itu.
"Ada apa? Istriku sudah tidur. Nanti...."
"Para pengawal tidak ikut serta. Mereka akan terus berjaga," bujuk pria itu.
"Sebentar...."
Leon melihat ke tempat Jane yang masih belum tidur.
"Pergilah," katanya begitu melihat Leon.
"Tapi...." Leon merasa ragu.
"Aku punya ini!" Jane menunjukkan pisau besar yang biasa digunakan untuk membersihkan ikan saat jualan.
"Kau harus membangun relasi agar bisnis kita bisa lebih maju," ujar Jane meyakinkan Leon.
"Baiklah. Aku tak kan lama. Jadi, kau berhati-hatilah," pesan Leon.
"Ya."
Jane mengangguk.
__ADS_1
Leon pergi mengikuti pria sebelumnya, menuju kemah ketua kafilah. Sudah banyak yang berkumpul di sana. Suasana ramai. Juga ada banyak makanan di sana.
Tiba-tiba Leon merasa perutnya kembali lapar. Tapi dia ingat pada Jane yang juga menahan lapar di gerobak mereka. Dia langsung kehilangan selera melihat aneka makanan itu.
"Apa semua kafilah kita sudah berkumpul?" tanya Tuan Ammar.
"Sudah tuan!"
Seseorang di sampingnya menjawab. Tuan Ammar mengangguk dan banyak tersenyum. Terutama pada seorang pria tanpan dan berwibawa yang duduk di sebelahnya.
"Ehemmm.... Aku mengundang kalian yang menjadi anggota kafilah ini, selain untuk mengucapkan terima kasih karena sudah saling bekerjasama saat anggota lain mendapat musibah. Juga sebagai salam perpisahan. Sebab kafilah ini akan mencapai tujuan esok hari." Tuan Ammar kembali tersenyum.
"Bagi yang ingin mengikuti kami kembali, bisa bergabung 10 hari kemudian," katanya lagi.
Suara-suara terdengar, mengomentari berita itu. Artinya mereka punya waktu 9 hari untuk berbisnis di kota tujuan.
"Ehemmm...."
Tuan Ammar kembali meminta perhatian.
"Aku mau memperkenalkan seorang saudagar muda yang sukses. Dia baru saja kembali dari kota itu. Dan bisnisnya lumayan bagus di sana."
Tuan Ammar mengalihkan wajah pada pria tampan di sampingnya. Lalu tersenyum.
"Apa kalian sudah pernah mendengar nama Tuan Mustafa? Saudagar cemerlang yang menguasai 5 kota perdagangan di negri kita?
"Aku pernah mendengar namanya di kota kita. Tapi baru tau dia setampan ini."
"Apakah dia, Tuan Mustafa yang memiliki toko di kota kita?"
Beberapa orang yang kedudukannya lebih tinggi, memberanikan diri berbincang-bincang dengan tamu Tuan Ammar.
"Silahkan dinikmati. Hidangan harus dihabiskan. Setelah itu kita akan mengambil waktu istirahat."
Tuan Ammar mempersilahkan tamunya untuk makan. Suasana menjadi makin ramai. Namun Leon yang baru pertama bergabung dalam kafilah, lebih banyak menyimak.
Seseorang menawarkan makanan untuk Leon. Leon melihat makanan lezat di piring itu.
"Bolehkah aku ambil ini untuk istriku?" tanya Leon tanpa sadar.
Tenda itu langsung hening. Bahkan Tuan Mustafa itu memandangnya dengan heran. Tapi kemudian tawa Tuan Ammar berderai, memecah keheningan.
"Apakah kau yang tadi pagi menghambat perjalanan?" tanyanya sambil tersenyum.
"Maafkan saya tuan." Leon langsung berdiri dan minta maaf dengan tulus.
'Apakah peristiwa aku memeluk Jane tadi pagi juga sampai ke telinganya?" batin Leon malu.
"Hemmm... antarkan satu piring seperti itu untuk istrinya," perintah Tuan Ammar.
"Baik, tuan." pelayannya itu lalu pergi.
"Ayo, kau bisa menikmati hidangan di sini tanpa perlu mengkhawatirkan istrimu lagi," ujar Tuan Ammar masih dengan senyuman di wajahnya.
Untuk beberapa waktu, tenda itu sangat ramai. Lalu semua bubar dan kembali ke gerobak masing-masing.
Leon juga kembali berjalan menuju gerobaknya. Di sana, ternyata Jane belum tidur juga.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Leon.
"Temani aku buang hajat," kata Jane memohon.
"Ayo!"
__ADS_1
Leon mencari area yang lebih sepi dan jauh dari lapangan itu.
******