
Setelah cukup lama berjalan di lorong gua yang hanya diterangi sinar redup kayu api, Dean akhirnya menemukan percabangan jalan. 'Hmmm,, arah mana yang harus ku pilih? Kiri atau kanan?' Dean berpikir keras.
"Ah,, ke kanan saja dulu.. Jika jalannya buntu ya tinggal balik lagi," gumam Dean. Dia lalu mulai masuk ke lorong kanan dan berjalan cukup jauh sebelum akhirnya melihat cahaya kecil dari arah depannya. Dean senang sekali. Harapannya untuk keluar dari gua akan segera kesampaian. Dengan langkah cepat Dean mendekati arah cahaya putih kecil itu.
'Apakah itu cahaya matahari yang masuk lewat mulut gua ini? Jalannya agak menurun, berarti ada mulut gua di bagian kaki gunung' batinnya lagi.
Dean memperhatikan jalan menurun dan terlihat lebih luas seperti sebuah ruangan di depannya. Itu mungkin masih mudah untuk dituruni, tapi tak akan begitu mudah untuk bisa naik tanpa bantuan. Akan sulit untuk kembali dan memberitahukan hal ini pada Widuri yang menunggu jauh darinya. 'Jika Widuri kemudian menyusul masuk dan memilih jalan yang satu lagi, kami mungkin akan terpisah' batin Dean. Dia memutuskan menunda turun lalu berbalik kembali ke persimpangan jalan.
Tiba di persimpangan, Dean melanjutkan penyelidikan ke arah lorong yang belum dimasukinya tadi. Dean berjalan kira-kira 15 menitan ketika lorong yang gelap dan hanya diterangi cahaya redup dari kayu api yang dipegangnya tiba-tiba menjadi lebih terang. Tapi itu berbeda dengan terangnya cahaya putih di lorong lainnya. Dengan rasa penasaran Dean mendekati titik-titik kecil yang bercahaya keunguan di sepanjang dinding. Dean mendekatkan kayu apinya untuk melihat benda apa yang bersinar di dinding. Dia terkejut. Itu seperti batu permata berwarna ungu. Batu itu mengeluarkan cahaya redup di dalam gelap. Tidak akan cukup terang jika hanya ada 1 batu, tapi karena batu itu berada di sepanjang lorong gua dalam jarak tertentu, maka cahayanya cukup untuk menerangi lorong.
"Ada yang aneh," gumam Dean mengerutkan kening lalu memperhatikan lebih cermat semua cahaya di dinding. Dean terkejut luar biasa saat menyadarinya.
"Batu-batu ini disusun rapi dan lurus setinggi dadanya dengan jarak yang sama antar tiap batu. Batu-batu cahaya itu sengaja diletakkan pada lubang kecil di dinding. Berarti sebelumnya ada orang di sini. Tapi di mana penghuni sebelumnya ini?"
__ADS_1
Dean sangat bersemangat untuk melanjutkan langkahnya. Seratus meter setelah itu Dean menemukan percabangan lainnya. Kedua cabang itu diterangi cahaya batu permata ungu. 'Hmmm, ku rasa mereka tinggal cukup lama di sini hingga merasa perlu untuk mencahayai lorong-lorong agar mudah berjalan. Mungkin kedua lorong ini adalah tempat mereka tinggal, dan lorong dengan cahaya putih itu adalah pintu keluar masuk'. Dean berfikir sambil tersenyum senang. Dia memilih lorong ke kanan.
Cukup jauh dari persimpangan Dean akhirnya melihat cahaya ungu yang lebih terang di ujung lorong itu. Dean mempercepat langkahnya dan terpaku ketika akhirnya tiba di ujung lorong yang seperti mulut gua. Dean lebih mendekat dan melihat bahwa gua itu cukup luas dan dipenuhi cahaya dari dinding hingga ke atas. Bahkan di bawah kakinya juga terdapat batu-batu permata ungu yang bersinar terang. Ukurannya beragam, dari yang besar hingga kecil. Dean melangkah masuk dan melihat beberapa batang kayu yang dimakan usia tersandar di dinding.
"Apakah ini tambang batu cahaya itu? Mereka menambangnya dengan bantuan kayu itu" Dean bicara pada dirinya sendiri. Dijangkaunya salah satu kayu yang tersandar di dinding dan mencoba mencongkel salah satu batu. Setelah mengungkit dengan kayu tua itu dua kali, kayu itu langsung patah. 'Yahh, kayu ini sudah terlalu tua dan mulai rapuh' batin Dean. Lalu diambilnya tombak dan digunakannya untuk mengungkit batu bercahaya ungu itu. Setelah beberapa usaha, batu itu akhirnya melonggar dari tempatnya. Dean mencoba menggoyang-goyangkan dengan tangan untuk melepaskannya dari tumpukan batu sekitarnya.
Krakk! Batu itu akhirnya lepas. Bagian bawah yang menempel dengan tumpukan batu telah patah. Dean mengamati patahannya. Mencoba memukul sedikit ujung patahan itu dengan tombaknya. Krakk. Kembali ujung batu itu patah sedikit. 'Ini lebih mirip kristal, rentan pecah atau patah. Permata biasanya jauh lebih keras dan mungkin harus ditambang dengan peralatan besi' pikir Dean.
Dean berjalan keluar tambang sambil membawa kristal cahaya ungu yang cukup besar itu. 'Aku harus diskusikan hal ini dengan yang lain. Jika di sini adalah tambang, berarti lorong berikutnya adalah tempat mereka tinggal.' Dean melangkah dengan lebih bersemangat menuju persimpangan lorong semula lalu mengambil langkah memasuki lorong yang berikutnya.
Lalu Dean juga menemukan sebuah buku kecil bersampul kulit di sebuah batu datar. Dean mengambil buku itu dan duduk di batu. Dia melepas lilitan tali kulit yang mengikat buku itu. Dean terbelalak dengan sangat terkejut melihat tulisan di situ. Bagaimana tidak, itu tulisan dalam bahasa Perancis. Dean berasal dari Kanada, dia juga bisa berbahasa Perancis selain Inggris. Kedua bahasa itu adalah bahasa resmi di negaranya.
Dean membaca halaman depan buku itu.
__ADS_1
Carnet de voyage de Eugene et Cerise.
*Catatan perjalanan Eugene dan Cerise.
(Selanjutnya ditulis dalam bahasa Indonesia aja yaa.. Author gak mahir berbahasa Perancis yang indah itu ðŸ¤)
June 1956
Musim panas pertama setelah kami menikah. Ini adalah perjalanan bulan madu yang ku janjikan saat melamar Cerise. Semoga selalu saling mencintai selamanya.
'Tunggu dulu! 1956? Ini sudah lama sekali. Dari Perancis sampai ke sini? Bagaimana bisa?' Dean berpikir keras.
Dean membalik halaman berikutnya ketika sebuah foto tua meluncur jatuh. Dean memungutnya. Foto pernikahan hitam putih di teras sebuah bangunan megah yang memperlihatkan pilar dan pintu besar di belakangnya. Meski mulai buram karena dimakan waktu, tapi karena foto itu diambil dengan jarak yang pas maka Dean masih bisa melihat seorang pria tampan dan wanita cantik di situ. Mereka tersenyum bahagia di foto itu. "Mereka pasti Eugene dan Cerise. Keluarga yang cukup berada." gumam Dean lalu menyelipkan kembali foto itu di halaman depan. Dean melanjutkan untuk membaca halaman catatan yang dibukanya saat samar-samar terdengar suara menggema memanggil-manggil namanya. Dean mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
"Ahh,, itu Widuri. Dia pasti cemas ditinggalkan sendirian. Aku terlalu asik menjelajahi lorong-lorong gua ini. Baiknya aku kembali dan menceritakan temuan ini. Lagipula, harusnya orang-orang di shelter sudah mengantarkan sedikit makanan kesini." Dean bicara sendiri. Dia menutup dan membelitkan kembali tali kulit untuk menutup buku catatan itu dan menyimpannya dalam tas. Disimpannya juga batu kristal ungu yang didapatkannya tadi. Dean berjalan kembali ke tempat Widuri ditinggalkannya sambil menggenggam tombak dan batang kayu api yang tinggal bara.
***