PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 71. Alam Luar Biasa Kaya


__ADS_3

Dokter Chandra keluar dari pondok, diikuti Liam yang mengangkat mangkuk berisi air yang telah kemerahan bekas membersihkan luka-luka Indra.


"Indra sudah sadar, lukanya banyak, terutama di bagian dada," jelas dokter Chandra.


Niken ingin masuk melihat keadaan Indra. Tapi ditahan dokter Chandra.


"Dia sedang sangat sakit, jadi biarkan dia istirahat sejenak," kata dokter Chandra lembut.


"Ini, aku membawakan obat untuk Indra." Niken menunjukkan mangkuk kecil berisi air kecoklatan yang dibawanya.


"Obat? Siapa yang menyuruh buat?" tanya dokter Chandra menyelidik.


"Robert yang mencari bahannya. Laras merebusnya. Obat pereda nyeri," jawab Niken tak sabar untuk masuk.


"Baiklah, berikan itu dulu lalu kita pantau kondisinya lagi." Dokter Chandra memberi ruang pada Niken untuk masuk. Niken menghilang dengan cepat.


"Dimana Robert?" Dokter Chandra melihat pemandangan aneh di situ. Silvia duduk di tanah dan Robert tak ada bersama yang lainnya.


"Emmm, Robert tadi keluar," jawab Angel. Dokter Chandra mengangguk.


"Dan kau, ngapain duduk di tanah? Ada masalah?" Dokter Chandra mendekati Silvia yang masih berperang dengan dirinya sendiri.


"Ah, ti.. tidak. Tidak ada." Silvia tersadar dan bangun dari duduknya dengan tersipu malu. 'Bagaimana aku bisa duduk di tanah seperti bocah sedang tantrum?' pikirnya kesal.


Dokter Chandra membersihkan tangannya di tempat penampungan air. Lalu duduk di bangku. Dilihatnya meja kayu itu penuh dengan potongan kulit kayu, berserakan.


"Hemm, apa ini obat yang disiapkan Robert? Kenapa ditinggalkan begini?" Dokter Chandra merapikan semua potongan kulit kayu ke dalam mangkuk yang ada.


"Lalu, apa kalian berhasil?" tanya dokter Chandra pada Gilang yang duduk di bangku lain.


"Yups, sekarang kita punya stok madu dan sarang madu yang cukup," sahut Gilang tersenyum senang.


"Aku senang mendengarnya. Kehidupan kita akan lebih manis nanti, karena Robert dan Liam juga membawa oat saat kembali tadi." Dokter Chandra tersenyum lebar.


"Gilang, tempat madu ini penuh dengan sarang lebah lama. Apa kau masih mau menghabiskannya?" tanya Leon yang sedang memindahkan madu dari wadah yang mereka bawa.


"Tidak lagi. Itu terlalu manis untuk digigit langsung, gigiku jadi ngilu. Tiriskan di wadah lain saja lalu buang jika sudah bebas dari madu," jawab Gilang.


"Aku pernah mendengar tentang beeswax. Ku rasa itu terbuat dari sarang madu. Dan itu biasa dibuat jadi lilin serta bahan kosmetik untuk melembabkan kulit." Dokter Chandra menerawang dan berpikir.

__ADS_1


"Oh ya? Bisa dibuat lilin dan kosmetik?" Angel tertarik. Dia sudah lama tak melakukan perawatan, kulitnya jadi kasar dan kusam.


Dokter Chandra mengangguk yakin.


"Ku kira, salah satu bahan lipstik juga itu. Atau yang untuk perawatan bibir? Kira-kira seperti itu. Tapi sejujurnya aku tak tau prosesnya. Coba nanti tanya Robert, mungkin dia tau sesuatu."


"Yaa, aku ingat sekarang, lilin aromaterapi juga dibuat dari lilin lebah. Oke Leon, setelah disaring, jangan dibuang. Nanti kita cari cara untuk mengubahnya jadi lilin atau yang lain." Laras mengingatkan Leon.


"Sipp, oke." Leon mengangkat tangannya dan menyatukan jari telunjuk dengan jempolnya membentuk huruf O ke arah Laras.


Laras dan Angel membantu Gilang dan Leon yang sibuk memindahkan madu serta mengisi kotak gerabah dengan sarang madu yang masih utuh dan dikerubungi lebah. Mereka mengikuti instruksi Robert untuk tidak lupa menambahkan beberapa batang kayu sebagai penyangga sarang baru.


Setelah semua selesai, mereka bersama-sama memindahkannya ke tumpukan bebatuan dekat makam Toni. Tempat itu ideal karena tenang, dekat padang bunga dan tak jauh juga dari pondok mereka yang baru. Kini ada 3 sarang madu di situ. Yang pertama dibuat Robert sudah mulai banyak dikunjungi lebah. Tampaknya sudah ada koloni ratu baru di situ.


**


Liam menerima isyarat dokter Chandra. Maka dia memilih pergi memeriksa bubu ikan dan mandi ke sungai untuk menyingkir.


"Ehem. Sekarang bisa kau katakan apa yang terjadi Silvi?"


Dokter Chandra meneruskan pekerjaan Robert mematahkan bahan obat itu lebih kecil lagi dan menyimpannya di mangkuk. Dia dengan sabar menunggu Silvia bicara.


"Yah, aku yang salah," jawab Silvia singkat.


"Bagus jika sudah menyadari dan mau mengakui kesalahan. Di atas langit masih ada awan, bulan dan bintang-bintang. Di alam liar begini, kita harus berpikiran terbuka agar bisa menyerap banyak ilmu baru juga menerapkan pengetahuan yang kita miliki untuk mendukungnya."


Dokter Chandra mengamati bahan obat di tangannya.


"Jika bukan karena Indra, aku juga tak kan tau keberadaan obat ini. Alam memang luar biasa kaya," gumamnya pelan.


"Bagaimana cara aku menyelesaikan ini dengan Robert?" tanya Silvia.


Dokter Chandra mengangkat kepalanya ke arah Silvia.


"Tinggal minta maaf saja. Simpel kan."


Senyum hangat dan ramah dokter Chandra menenangkan Silvi. Dia tersenyum balik. Dia mulai percaya diri untuk memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Robert setelah salah paham ini diselesaikan.


**

__ADS_1


Robert berjalan melintasi sungai kecil, menyusurinya makin jauh dari pondok. Lalu menemukan bahwa aliran air itu bercabang. Robert belum baru tau jika sungai itu bercabang. Sebelumnya dia mengira air yang bermuara ke air terjun kecil di pantai berasal dari arah padang rumput tempat kuda-kuda biasa minum.


Robert mengikuti aliran sungai yang belum pernah disusurinya itu. Tak lama Robert mendengar suara kucuran air di balik rindang pepohonan. Tempat itu makin terasa lembab dengan banyak titik-titik air di udara.


"Apakah ada air terjun lagi?" gumam Robert penasaran. Berbeda dengan aliran sungai sebelumnya yang dinaungi pohon willow, maka bagian sungai ini ditumbuhi dengan pohon-pohon mapel berdaun kuning, orange dan merah.


Terdengar gemerisik suara sepatu Robert menginjak daun-daun mapel yang memenuhi permukaan tanah. Warna-warninya menghadirkan nuansa indah ke sekitarnya. Robert mengamati pohon itu. 'Besar dan tinggi sekali. Mungkin sudah berumur puluhan atau ratusan tahun?' pikirnya kagum.


Dilewatinya batang besar pohon mapel dan menemukan undakan air rendah yang mungkin tak sampai satu meter. Tampak uap menguar dari tempat air jatuh.


"Ini air hangat. Apakah di atas itu sumber air panas?" Robert melanjutkan langkah hati-hati karena permukaan tanah yang basah akibat percikan air dan uap hangat yang berkumpul di situ.


Robert mendekati undakan air dan menyentuh air yang jatuh. 'Beneran hangat' batinnya gembira. Dia ingin sekali mandi dan berendam air hangat untuk menenangkan pikirannya.


Diinjaknya sebongkah batu besar untuk melihat sumber air hangat tersebut. Dan dia segera kagum saat menemukannya.


"This is paradise!" teriak Robert sambil melompat gembira.


Sumber air itu diteduhi rimbunan pohon mapel yang indah, kuning orange dan merah cerah. Permukaan tanah dipenuhi bebatuan dan daun mapel yang gugur.


Robert mendekati tepian kolam itu. Airnya begitu bening hingga bebatuan beraneka warna di bawahnya bisa dilihat dengan jelas. Kolam itu tidak dalam, dan uap hangat tipis dengan sedikit aroma mapel yang manis, menyebar di sekitar, dilengkapi refleksi pepohonan di permukaan air dan cahaya matahari sore yang menyelinap diantara dedaunan mampu memberi ketentraman hati.


Tak menunggu lama, Robert melepas sepatu dan langsung terjun ke kolam.


"Aahhh, sudah lama betul tidak berendam air hangat. Nyaman sekali." Wajahnya tersenyum bahagia ketika beberapa kali menyelam dan membasahi kepalanya.


Perlahan di lepaskannya pakaiannya di dalam air dan mengucek untuk membersihkan kotorannya. Kemudian baju dan celana panjang itu dihamparkan begitu saja di bebatuan tepi kolam.


Robert berenang ke sisi lain kolam yang airnya tenang dan bening untuk melihat bebatuan cantik dasarnya. Diambilnya beberapa batu warna-warni itu dengan kagum. Dipilihnya beberapa batu cantik lainnya lalu menyimpannya di saku baju.


Robert berenang dengan santai lebih jauh lagi dari tempat semula. Bagian kolam itu tidak terlihat dari tempat dia masuk tadi. Di tengah kolam Robert berhenti dan melihat dengan tak percaya apa yang ada di depannya.


Tak jauh dari tepi kolam di depannya, berjajar beberapa batang mapel merah yang dahannya saling bertaut seperti membentuk lorong. Lorong itu tampak misterius.


"Apa itu sebuah jalan? Atau gerbang? Sepertinya menarik untuk diselidiki," gumam Robert.


Robert kemudian berbalik dan berenang ke tempatnya semula. Membersihkan tubuhnya dengan santai. Hingga dia merasa sudah cukup berendam air hangat dan ingin segera menceritakan temuan itu pada anggota tim lain. Robert mengenakan kembali pakaiannya yang basah dan bersiap untuk kembali ke pondok.


***

__ADS_1


__ADS_2