PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 372. Kisah Pengembaraan Ivy


__ADS_3

"Sekarang, bisakah kau ceritakan pengembaraanmu?" tanya Dokter Chandra.


Ivy menghela napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Seakan ada beban berat tergantung di pundaknya.


"Kurasa kau masih punya beban tanggung jawab saat kau meninggal," tebak Dokter Chandra.


"Mari kita ke gazebo itu dan berbincang," ajak Ivy. Dia langsung terbang, diikuti oleh dokter Chandra.


"Belajarlah membagi bebanmu," bujuk Dokter Chandra.


"Huft." Ivy menghela napas lagi. Dia mengangguk.


"Saat kehancuran dunia kita, aku dan beberapa pengawalku, berusaha menyelamatkan beberapa anak bangsa kita. Kami bertahan di pecahan dunia kita hingga pulih. Tapi keadaan memaksa kami untuk pergi mencari tempat lebih baik. Maka dimulailah pengembaraan yang teramat sulit." Mata Ivy menerawang jauh dan terlihat sedih.


"Akhirnya, aku menemukan satu dunia kecil. Menurutku, tempat itu memadai untuk dijadikan tempat berlindung. Tapi kau tau ... anak-anak bangsa kita hanya ditugaskan belajar. Mereka tidak tau caranya bekerja dan bertahan hidup di alam yang berbeda. Dan aku juga tak punya keahlian lain, selain memanah."


Dokter Chandra ikut termenung, memandang langit. "Itu kesalahanku, pemimpin yang tidak berpikir jauh ke masa depan. Kukira dunia takkan pernah bisa hancur, selama kita merawatnya dengan baik. Dan sampai saat ini, aku tidak tau apa penyebab kehancuran Dunia Bintang. Kalian pasti sangat kesulitan."


"Saat kejadian itu, aku dan para pengawalku sedang berkelana dari bintang ke bintang. Tapi kemudian terkejut, saat beberapa bintang melesat cepat dan saling menabrak menghancurkan diri. Kami berusaha menghindari terjangan bintang-bintang yang seakan terlepas dari tempatnya. Hampir setengah pengawalku, tewas dan hilang dalam peristiwa itu."


"Setelah kegilaan itu mereda, aku berusaha kembali ke Dunia Bangsa Bintang. Tempat itu sudah hancur berantakan. Banyak yang tewas dan melayang di angkasa. Saat itulah aku menemukan anak-anak itu. Kukira, pengasuh mereka telah berusaha menyelamatkan mereka dengan menempelkan banyak balon di bak-bak mandi, dan membuat mereka melayang-layang di angkasa."


"Bersama para pengawalku yang tersisa, kami mencari kepingan dunia yang masih bisa kami tempati. Dan kami menemukannya."

__ADS_1


"Dalam pengembaraan itu, dari dua puluh satu anak, yang tetap hidup hingga aku menemukan dunia kecil, hanyalah sebelas orang. Dan dua lagi pengawalku tewas, karena kamu juga harus menghadapi bangsa lain yang ingin merebut tempat itu."


"Beberapa kali aku mencari dunia kecil lain untuk menyuplai kehidupan kami. Hingga akhirnya aku menemukan dunia kecilmu ini. Saat itu aku mensyukuri kegilaanmu pada pertanian dan pengobatan. Berkali-kali aku memanen hasil di sini dan membawanya ke tempat anak-anak itu. Aku meminta mereka menanamnya, agar tak perlu lagi cemas karena tak punya makanan."


"Kenapa tak kau bawa saja mereka ke sini?" sela Dokter Chandra.


"Awalnya aku tak ingin merusak jerih payahnya di sini. Terutama melihat koleksi tanaman obat kesayanganmu. Tapi, saat kurasa anak-anak itu benar-benar tak tau cara bertani, akhirnya kuputuskan untuk membawa mereka ke sini!" cerita Ivy.


"Seperti biasa, bersama seorang pengawal, aku kembali ke sini, untuk menyiapkan tempat tinggal. Namun tak kusangka, ada orang lain yang juga menemukan tempat ini dan ingin menguasainya. Seorang penjaga teleportasi dipaksa memanen semua tanaman obatmu, begitu katanya."


"Kami bersepakat untuk menjebak orang itu, dan menangkapnya. Sementara dia pergi, aku menyelamatkan tanaman obat yang tersisa di dalam gua. Pengawalku kuminta kembali membawa hasil panen, untuk persediaan anak-anak, dan menjaga mereka di sana."


"Kau menolak bantuan para pengawalmu?" tanya Dokter Chandra heran.


Dokter Chandra berusaha mengingat-ingat. Hanya pernah mendengar sepak terjangnya saja. Tempatnya terlalu jauh dari dunia kita, jadi tak terlalu aku khawatirkan," jawab Dokter Chandra jujur.


Ivy mengangguk. "Saat itu, aku merasa dialah yang mendesak penjaga teleportasi untuk berpindah-pindah menuju dunia kita yang tersisa, lewat pintu teleportasi dan keahliannya. Hingga sampailah mereka di sini. Dan ini adalah surga. Dia ingin menguasainya. Tentu saja aku menolak. Dunia kecil ini milikmu. Kau yang merawatnya bertahun-tahun, hingga layak disebut kepingan surga!"


"Dua hari aku menunggu di sini. Dia akhirnya datang juga. Aku sudah menyiapkan berbagai jebakan untuknya. Tapi dia bisa menghindarinya. Aku sedikit mengakui kecerdasannya. Tapi saat kata-kata penolakan dan argumenku tak berguna, senjata jadi pilihan. Kami bertarung sengit. Aku membawanya menjauh dari tempat ini. Jangan sampai tanaman obat yang baru kupindahkan ke dalam gua, jadi sia-sia karena bukit runtuh."


"Harus kuakui, serangannya berat dan berbahaya. Tapi tak ada pilihan. Aku harus mengeluarkannya dari tempat ini. Aku terus mendorongnya ke arah belakang hutan sana. Hingga kami sama-sama terkejut, karena telah berakhir di angkasa luas. Dunia kecilmu itu sudah lenyap."


"Kami bertarung tanpa henti sehari semalam. Dia sangat marah, karena kehilangan besar itu. Dia tak kan membiarkan aku hidup. Dan aku sudah pasrah. Yang terpenting, anak-anak itu dapat bertahan."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana kau bisa terdampar di pulau itu?" tanya Dokter Chandra tak sabar.


Ivy mengangguk. Biar kutuntaskan ceritaku. "Kami sudah kelelahan, dan aku bersiap untuk serangan terakhir. Namun sekonyong-konyong ada batu meteor besar melesat dan menghantam kami hingga terpental saling berjauhan. Aku tak tau dia terlempar ke mana. Tapi aku terbangun di pasir pantai sebuah pulau karang. Ratusan tahun aku mencari jalan kembali, tapi tak menemukannya. Akhirnya aku menetap di situ setelah mengadopsi seorang putri yang kutemui di jalan," Ivy menuntaskan kisah perjalanannya.


"Kenapa kau tak menikah dan memiliki keturunanmu sendiri?" tanya Dokter Chandra.


"Aku melihat dunia itu berbeda. Aku tak ingin keturunanku dianggap aneh dan dibenci orang-orang di situ. Lagi pula, selama ratusan tahun itu, hidupku sudah kuhabiskan untuk mencari jalan kembali."


"Saat aku sudah menua, aku menemukan gadis kecil itu. Dia yang membuatku menetap dan membangun tempat itu. Beberapa orang yang dikucilkan oleh masyarakat, datang dang bergabung ke tempat itu. Aku melindungi mereka. Dan mereka menganggapku guru dan pemimpin."


"Di sana, aku merasa ilmu bertarung dan memanahku, menemukan jalannya lagi. Aku mengajari mereka hal-hal yang kuketahui, untuk melindungi nyawa." Ivy tersenyum. "Bagaimana keadaan mereka seoenunggalku yaa...." Terlihat ekspresi rindu dan nostalgia di matanya.


"Mereka sudah hidup lebih baik sekarang. Aku akan membawamu ke sana untuk melihat. Mereka menghormatimu. Jadi saat aku datang, mereka juga menghormatiku. Aku yakin itu semua berkat didikanmu pada putrimu itu. Dia langsung mengenaliku sebangai bagian dari bangsa ibunya. Sebelum dia meninggal karena tua, dia menitipkan putrinya padaku. Kau punya cucu sekarang!" Dokter Chandra terkekeh.


Atmosfer muram di gazebo mulai berganti ke arah yang lebih baik. Ivy menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Terima kasih, Kak. Aku tau kau dan teman-temanmu pasti telah bekerja keras merubah tempat keras itu agar bisa ditempati dengan layak."


"Dulu, aku selalu menganggapmu pemimpin lemah, karena lebih suka bermain tanah dan bau obat. Menurutku, ayah tak adil saat menyerahkan kekuasaan padamu. Aku telah terbukti lebih kuat darimu!" ujar Ivy tersenyum lucu.


"Aku seharusnya mendengar saran Ayah untuk mendukungmu, alih-alih merongrong dengan beberapa kali pemberontakan. Maafkan kepicikanku," ujarnya tulus.


Dokter Chandra tersenyum haru. Matanya bercahaya kemilau. Keduanya berpelukan di sana. "Kau adikku. Aku tak boleh membencimu. Kita hanya salah paham dan karena aku tak bisa berkomunikasi dengan baik."


Aslan melihat Dua cahaya, putih kemilau dan hijau keemasan, di atas bukit. Bibirnya menggurat senyum bahagia. "Kakek dan nenek telah menyelesaikan masalah mereka."

__ADS_1


********


__ADS_2