PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 119. Pertemuan Dengan Para Wakil Klan


__ADS_3

Dokter Chandra dan Robert sampai di depan ruang baca Glenn. Pintu tertutup. 2 orang penjaga berdiri di kiri kanan pintu.


Tok.. tok.. tok..


"Dokter sudah ada di sini, Yang Mulia," lapor penjaga setelah membuka pintu.


Penjaga lalu mempersilahkan dokter Chandra dan Robert masuk ke ruangan.


Ruangan itu penuh orang dari berbagai klan. Tak seorangpun yang mereka kenal. Robert dan dokter Chandra menundukkan kepala, memberi hormat pada Yang Mulia Raja klan Elf.


'Apa Sang Raja ingin memperkenalkan kami pada mereka?' pikir Robert.


"Ini dokter Chandra yang menyembuhkan penyakit paman Felix," kata raja.


Semua orang menatapnya penuh rasa ingin tau. Seseorang bicara pada raja dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Robert dan dokter Chandra.


"Dokter, pemimpin klan penyihir ingin tau, apakah kau bisa menyembuhkan penyakit tetua mereka." Raja menjelaskan percakapan itu pada dokter Chandra.


"Saya tidak bisa mengatakan apapun sebelum memeriksanya Yang Mulia," jawab dokter Chandra.


Raja kembali terlibat pembicaraan dengan orang lainnya.


"Aku sudah mengatakan keinginan kalian untuk menyeberang ke dunia lain dan mungkin harus meminjam pecahan cermin lain dari mereka. Tapi mereka ingin melihat kemampuan anda lebih dulu," Raja kembali menjelaskan pembicaraan mereka.


Robert dan dokter Chandra saling berpandangan.


"Saya harus melihat pasien lebih dulu sebelum memutuskan bisa atau tidak mengobatinya. Yang Mulia tau benar, bahwa peralatan di dunia ini tak mendukung pengobatan dengan cara dunia kami," jawab dokter Chandra diplomatis.


Raja dan yang lainnya kembali berdiskusi dengan bahasa mereka. Robert dan dokter Chandra menunggu penuh harap.


Seseorang menghampiri mereka.


"Saya sepupu dari istri pangeran Felix. Yang sakit adalah tetua klan penyihir. Anda bisa datang ke tempat kami dan memeriksa." Pria setengah baya itu memperkenalkan dirinya.


Dokter Chandra menundukkan kepalanya hormat.


"Kapan dan bagaimana kita akan ke sana? Dan, saya mungkin akan butuh bantuan tabib Michfur dan rekan saya yang lain yang mengerti tentang medis." Dokter Chandra menjawab dengan sopan.


"Lalu bagaimana dengan klan lain Yang Mulia?" tanya Robert.


Raja memahami pemikiran Robert. Dia kembali berbicara dengan yang lainnya. Kelihatannya diskusi itu tak mudah.


"Mereka menunggu kabar baik dari klan penyihir." Sang Raja menyampaikan hasil diskusi tersebut.


Robert dan dokter Chandra saling pandang. Ternyata tak mudah meminta bantuan dari klan lain. Klan penyihir mungkin bersikap ramah hanya karena hubungan pernikahan dengan tuan Felix.


"Saya harus memeriksa lebih dulu. Jadi belum bisa menjanjikan apapun. Bahkan meskipun kami tidak bisa mendapatkan bantuan untuk kembali ke dunia kami, saya akan tetap berusaha menyembuhkan pasien yang mungkin bisa disembuhkan. Itu adalah sumpah saya sebagai seorang dokter." Dokter Chandra menjawab lugas kali ini.


Ruangan itu hening. Raja melihat wakil dari masing-masing klan yang ada di situ. Matanya menunjukkan kekecewaan, tapi tak ingin mendesak pihak manapun yang tak ingin membantu.


Wakil klan penyihir berdehem kecil.


"Kita bisa berangkat ke klan penyihir 2 hari kemudian." Suaranya terdengar ramah dan tulus kini.


Bagaimanapun, dia sangat tau bagaimana keparahan sakit tuan Felix sebelumnya. Dan kini pangeran tua itu bahkan terlihat sangat sehat dan segar di pesta pernikahan. Dia mempercayai dokter Chandra sepenuhnya.

__ADS_1


Belum lagi keponakannya pangeran Glenn akhirnya mengakhiri masa berkabungnya dengan menikahi gadis dari dunia lain tersebut. Bahkan Raja Elf memfasilitasi pertemuan ini. Itu artinya mereka sudah mendapat kepercayaan dan dukungan kuat.


"Baik, kami akan menunggu."


Dokter Chandra mengangguk.


Robert dan dokter Chandra meninggalkan ruang baca setelah urusan mereka selesai.


"Ternyata tak mudah meminjam pecahan cermin itu." keluh dokter Chandra saat mereka berjalan menyusuri lorong menuju ruangan pesta.


"Huh. Bahkan setelah Raja Elf yang meminta bantuan, mereka tetap tak memandangnya." Robert mendengus jengkel.


"Jika tetua itu bisa dirawat, aku akan berusaha." Dokter Chandra menenangkan kemarahan Robert.


Mereka tiba di ruang pesta yang mulai sepi. Bahkan Glenn dan Angel sudah tak terlihat di situ.


"Kalian sudah kembali?"


"Bagaimana pembicaraannya?"


Anggota tim lain bertanya tak sabar.


"Ini sudah sore, biarkan mereka berdua makan dulu." Laras menengahi. Diseretnya Robert dan dokter Chandra menuju meja hidangan.


"Makan dulu. Kami butuh kalian tetap sehat. Hal lainnya bisa kita bicarakan nanti," kata Laras tegas.


Robert mengangguk dan mulai mengambil hidangan yang ada. Keduanya makan dengan lahap. Perut mereka memang tak diisi dengan benar sejak pagi.


*****


"Alan, kau menjaga di sini. Jika hingga sore aku tak kembali, kau susul Widuri dan Nastiti ke pasar dan bawa mereka pulang." Dean memberi Alan tugas.


"Oke," jawab Alan.


"Michael, berlatihlah dengan serius. Mungkin itu akan berguna suatu saat," kata Sunil sambil menepuk bahunya.


"Siap." Michael menjawab bersemangat.


"Marianne, kami berangkat." Widuri melambaikan tangan saat mereka melayang naik. Marianne membalas lambaian itu.


*


Sampai di pinggir bukit.


"Kalian nanti berjualan dulu saja. Kami berdua akan menemui tuan kota." kata Dean.


Dikeluarkannya 2 bilah pisau belati dan diserahkan pada Nastiti dan Widuri.


"Ini untuk berjaga-jaga jika kalian diganggu di pasar," kata Dean.


"Aku lebih suka sepasang pisaumu yang melengkung itu," kata Nastiti.


Dean mengeluarkan apa yang diminta Nastiti. Nastiti menerima dan mengayunkannya beberapa kali. Beruntung dulu mereka dilatih menggunakan senjata saat tinggal di gunung batu.


Nastiti merasa puas. Dia langsung menyelipkan kedua senjata itu di tali pinggangnya kanan dan kiri. Senyumnya merekah.

__ADS_1


Keempat orang itu berjalan menuju perbatasan kota dan menuju pasar. Setelah menemani Widuri dan Nastiti berjualan sebentar, Dean dan Sunil bergerak menuju kediaman tuan kota.


Gedung itu sangat mudah ditemukan. Tembok pagar putih bersih yang membentang lebar, menunjukkan halaman kediaman yang luas. Dean dan Sunil berhenti di depan gerbang setinggi hampir 4 meter itu.


"Marianne benar, lihat lambang bintang di atas pintu gerbang itu," Sunil mengirimkan transmisi suara pada Dean.


Dean melihat ke atas dan mengangguk. Mereka melanjutkan langkah menghampiri 2 orang penjaga yang berdiri di luar gerbang.


"Kami diundang oleh ketua kota." Dean menunjukkan lambang bintang yang ditinggalkan oleh gadis yang datang tadi malam.


Kedua penjaga itu terkejut. Itu bukan undangan yang biasa. Salah seorang segera berlari masuk ke dalam.


"Kami konfirmasi dulu undangan ini," kata penjaga lain. Dia berdiri di tengah pintu untuk menghalangi Dean dan Sunil menerobos masuk.


Penjaga yang pergi tadi, kembali tak lama kemudian.


"Tuan-tuan dipersilahkan masuk," katanya sopan sambil membuka gerbang lebar-lebar.


Dean dan Sunil melangkah masuk dan mengikuti penjaga yang mengantarnya ke tempat pertemuan.


"Tuan kota sudah menunggu anda berdua," katanya dengan senyum ramah.


"Tuan, kedua tamu sudah ada di sini," lapor penjaga dari balik pintu sebuah ruangan.


"Persilahkan masuk," terdengar suara wanita dari dalam.


Penjaga itu membuka pintu dengan hati-hati. Dean dan Sunil melangkah masuk. Pintu kembali ditutup rapat.


Tampak seorang pria yang terlihat sudah sangat tua. Dia duduk di sebuah kursi besar yang terlihat dilapisi cukup banyak kain hingga tampak tebal. Posisi duduknya yang setengah bersandar itu membuat Dean mengira bahwa orang itu mungkin sedang menderita sakit.


Wanita yang berkunjung tadi malam, duduk tak jauh darinya. Matanya terlihat khawatir tiap kali pria tua itu bergerak.


"Silahkan kedua tamu untuk duduk." Pria itu berkata dengan suara lemah.


Dean dan Sunil mengambil duduk pada kursi yang tersedia di situ.


"Salam tuan ketua kota. Kami datang atas undangan nona wakil ketua kota. Bisakah kami diberitau perihal apa undangan ini?" tanya Sunil.


Uhuk.. uhukk..


Pria tua itu terbatuk-batuk. Wajahnya memucat sebentar, sampai nafasnya kembali teratur.


"Yo, dimana sopan santunmu. Hidangkan minuman lebih dulu," tegur pria itu pada wanita di sebelahnya.


Dengan tampang tak suka, wanita itu keluar ruangan.


"Maafkan sikap putriku. Dia memang terlihat ketus dan galak. Tapi dia sangat baik." Pria itu bicara perlahan.


'Putrinya? Wanita itu bilang Bi adalah ibunya. Apakah pria tua itu suami Bi?' Pikiran Dean berkecamuk. Dadanya berdebar kencang.


"A, apa kau baik-baik saja?" suara transmisi Sunil memasuki kepalanya.


Dean meredakan gemuruh hatinya dan mencoba untuk bersikap tenang. Ditolehnya Sunil dan kilatan cahaya keemasan terlihat samar di matanya.


"Aku baik-baik saja," jawab Dean lewat transmisi suara.

__ADS_1


*****


__ADS_2