
Dean, Alan dan Sunil sudah mencapai batas pinggir kota, tempat waktu itu mereka pertama kali masuk kota.
Malam yang gelap menyamarkan keberadaan mereka yang melayang tinggi di atas kota. Mereka belum beraksi, jadi belum tampak cahaya keemasan, merah dan biru dari tubuh masing-masing.
Tak lama akhirnya mereka tiba di panggung hukuman mati tempat mereka menemukan Michael dan Marianne. Pintu gerbang kediaman itu dijaga oleh setidaknya 4 orang. Dan tampak beberapa pria yang menyandang pedang masih keluar masuk kediaman Duke tersebut.
Dean, Alan dan Sunil terbang melayang di atas kediaman untuk mengenali tempat para budak dikurung.
"Di sana!" Alan menunjuk ke arah bangunan reot yang berdiri terpisah jauh dari gedung utama.
"Ya, tepat seperti kata Michael, bangunan ini terdiri dari beberapa ruang. Penjaganya juga lumayan banyak.
"Kemungkinan itu bangunan untuk para penjaga. Beberapa pria bersenjata tampak hilir mudik antara halaman dan tempat itu."
Sunil menunjuk satu bangunan lain yang berdiri terpisah, namun masih berada di halaman yang sama dengan tempat para budak.
Dean mengangguk. Dia terbang perlahan menuju kebun anggur luas yang berada di halaman belakang kompleks kediaman Duke.
"Bersiap lah. Sunil, kau hancurkan gedung utama. Lalu Alan, kau bakar kebun anggur ini. Jika para pengawalnya melawan, habisi saja. Aku akan melindungi para budak." Dean membagi tugas.
"Baik." Alan dan Sunil menjawab serempak. Lalu ketiganya berada di posisi masing-masing. Mereka menunggu aba-aba dari Dean.
"Sekarang!"
Dean mengirimkan pesan transmisi pada kedua temannya.
Sunil dan Alan serempak mengeluarkan cahaya merah dan biru terang. Cahaya-cahaya itu dengan cepat menyambar apapun yang bisa dilalap api.
Orang-orang panik dan berlarian keluar dari bangunan yang mulai terbakar. Para penjaga dan pelayan bahu-membahu mengangkat air untuk memadamkan api agar tak meluas kemana-mana.
Disaat bangunan utama terbakar itu, semua perhatian terarah pada kediaman Duke. Mereka tak menyadari bahwa kebun anggur itu juga dilalap api. Hingga seorang penjaga kebun berlari tergopoh-gopoh dan melapor pada petugas jaga bahwa kebun anggur telah terbakar.
"Bajingan! Kebakaran ini adalah sebuah kesengajaan. Kalian cari pelakunya sampai ketemu. Kita hukum mati begitu menemukannya." Duke merasa sangat marah.
"Baik Duke!"
Para penjaga segera berlarian untuk mencari orang yang diduga telah masuk dalam kompleks dan membuat gaduh.
Alan, Sunil dan Dean mengawasi keadaan di bawah sana. Tak seorangpun tau bahwa pelaku pembakaran sedang menonton dari atas ketinggian.
__ADS_1
Beberapa penjaga kembali menghadap Duke untuk melapor.
"Jumlah budak tidak ada yang berkurang atau bertambah."
"Kami sudah berkeliling dan memeriksa setiap kediaman, tapi tak ada orang yang mencurigakan,"
Plakk!
Duke sangat murka. Penjaga tersebut justru mendapat tamparan keras hingga terhuyung ke belakang.
"Kalian tak becus bekerja. Bagaimana bisa pembuat onar masuk tanpa seorangpun melihatnya? Apa kalian tidur saat berjaga?!" teriak Duke dengan kemarahan yang menyala.
Tak seorangpun dari penjaga itu yang berani membantah, apa lagi melawan Duke. Mereka sangat tau bahwa Duke adalah orang yang sangat kejam. Jadi mereka diam saja, berharap hukuman nanti tidak terlalu berat.
Di atas, Dean, Alan dan Sunil mengamati bangunan yang kini sudah tak mungkin diselamatkan lagi. Tampak para wanita cantik berpakaian seksi menangis meratapi harta benda mereka yang dimakan api.
"Sunil, habisi Duke." Suara Dean terdengar dingin.
"Baik," jawab Sunil.
"Aku akan menghabisi siapapun yang mencoba melawan balik." Alan memberi dukungan.
"Aaaaaargghh!"
Suara teriakan kesakitan Duke melengking tinggi, membuat bulu kuduk berdiri. Anggota keluarga dan para penjaga terperanjat melihat tubuh tuan mereka mengeluarkan asap mengepul. Tubuh itu masih berputar-putar tak tentu arah beberapa kali sebelum akhirnya jatuh ke tanah dan tak bergerak lagi. Tercium aroma daging gosong di tempat itu. Semua orang terlambat bereaksi karena sangat terkejut.
"Tuan.. tuan Duke tewas!"
Seorang pelayan menunjuk tubuh gosong di tanah itu, dengan jari bergetar. Tak seorangpun tau apa yang sedang terjadi.
"Sayaaaaang... bagaimana dengan anak ini?" seorang wanita hamil histeris dan pingsan di tempatnya.
Wanita-wanita berpakaian seksi lainnya memandang tak acuh. Hingga seorang pelayan wanita maju dan memapahnya menjauh dari tempat itu.
Setelah hening cukup lama, terdengar bisik-bisik yang makin lama makin gaduh. Mereka memperebutkan harta Duke yang tersisa.
Dean merasa urusan di tempat itu telah selesai. Ternyata para pelayan dan penjaga Duke bukanlah orang-orang yang setia. Begitu tuannya tewas, mereka akan segera memiliki bos baru. Mungkin yang akan menjalankan kediaman ini adalah para wanita.
Dean, Alan dan Sunil terbang meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas. Balas dendam sudah terlaksana. Semoga para budak tak kan terlalu menderita lagi.
__ADS_1
*****
Saat sarapan di taman istana, tim Robert masih belum bisa bertemu dengan Angel, bahkan Glenn juga tak kelihatan.
"Dimanakan tuan muda Glenn?" tanya Robert pada pelayan
"Pangeran Glenn dan nona Angel sedang sarapan bersama. Sebentar lagi pangeran Felix dan istri akan tiba. Lalu anda dan yang lainnya diharapkan hadir di balai utama. Raja punya pengumuman untuk disampaikan."
Pelayan itu menjelaskan semuanya dengan detail.
"Oh, baiklah. Ingatkan kami jika waktu pertemuannya tiba," balas Robert ramah.
Di balai utama, semua pejabat penting telah hadir. Tim Robert juga sudah duduk manis di tempatnya. Mereka hanya menunggu kedatangan sang raja.
"Yang Mulia telah tiba!"
seorang penjaga berteriak lantang.
"Semoga yang mulia panjang umur." Terdengar suara kompak hadirin yang ada.
Raja duduk di singgasananya. Ikut duduk di sisinya, sang permaisuri. Yang terkenal kecantikannya hingga ke klan lain. Sementara tuan Felix dan istri duduk di sisi kanan sang raja. Lalu Glenn dan Angel duduk di sisi kiri sang ratu.
Asisten sang raja maju, Raja menyerahkan sebuah gulungan kertas ke tangan si asisten. Lalu dibukanya gulungan itu untuk membaca titah raja.
"Nona Angel telah melakukan ritual pembersihan diri. Dan sebagai hadiah pernikahan, makan raja memberikan gelar putri rembulan untuk nona Angel."
"Upacara pernikahan ditetapkan 3 hari ke depan. Semoga pernikahan ini berjalan lancar."
Asisten sang raja menggulung kembali kertas itu dan menyimpannya. Beragam reaksi terdengar setelah titah raja selesai diumumkan. Yang mulia raja dan permaisuri kembali ke kediaman mereka dengan senyum tersimpul di matanya. Raja merasa puas karena Glenn akan segera menikah.
Orang-orang lainnya juga segera meninggalkan tempat itu. Tinggal tuan Felix dan istri sedang berbincang-bincang dengan Angel dan Glenn.
"Kau benar-benar sangat cantik. Tolong bahagiakan putaku ini," Nyonya Felix langsung menyambut Angel.
Angel mengangguk dan tersenyum. Impiannya untuk menikahi bangsawan tercapai. Terlebih lagi karena dia mencintai glenn.
"Angel, kau terlihat sangat cantik," puji Laras, setelah mereka bertemu.
Anggota tim lainnya juga merasa gembira melihat Angel yang terlihat semakin cantik. Dia mengalami perubahan nyata setelah melakukan ritual pemurnian. Kulitnya lebih terang dan telinganya juga runcing, sama seperti para elf lainnya.
__ADS_1
*****