
Makan malam itu masih dipenuhi rasa marah dan sedih atas apa yang menimpa Toni, Marianne dan Michael. Robert menyesal karena meninggalkan timnya begitu saja. Dia juga merasa telah 2 kali lalai memilihkan tempat yang baik untuk mereka membangun shelter. Tebing itu tepat di tepi pantai dan sangat mudah ditemukan jika ada kapal perompak datang.
Robert sangat sedih dan mengkhawatirkan keadaan Marianne serta Michael ditangan perompak. Tapi dia benar-benar tak tau harus bagaimana. Robert menjelaskan hasil perjalanan mereka yang tidak memuaskan. Itu membuat tim untuk sementara harus bertahan disitu.
"Robert, kenapa kita tidak berjalan setiap hari bersama-sama seperti waktu di hutan salju?" tanya Angel.
"Karena sulit menemukan sumber air di sini. Lebih sulit lagi jika harus membangun shelter setiap hari, Karena pohon-pohon di sini berbeda." Robert memberi pengertian.
Angel tetap mengangguk, meski tak terlalu mengerti. Yang dia tau hanyalah, dia merasa takut berada di tempat itu. Takut mengalami nasib serupa Marianne dan Michael yang diculik, atau tewas seperti Toni.
"Beristirahatlah. Besok kita harus bekerja keras lagi untuk membangun tempat berlindung," dokter Chandra menasehati.
Para wanita memasuki shelter darurat, sementara para pria masih melanjutkan diskusi mereka.
"Ku rasa lebih baik bangun pondok yang lebih memadai dari tanah lempung agar lebih aman," usul Robert.
"Tanah lempung atau batu bata? tanya Indra tak paham bedanya.
"Batu bata itu jika kita mencetak dan membakarnya lebih dulu baru disusun jadi dinding. Kalau lempung yang ku maksud itu, kita buat rangka dari kayu, menambahkan ranting willow atau pohon lain baru menutupinya langsung dengan tanah lempung." jelas Robert.
"Apa itu kuat?" tanya dokter Chandra.
"Kalau cukup tebal, dia akan kuat. Tapi dengan cara ini, kita bisa dengan cepat membangun tempat berlindung yang layak. Jika menggunakan batu bata, maka kita harus mencetak dan mengeringkannya lalu dibakar, baru bisa digunakan. Untuk membangun tembok bata, kita butuh semen. Butuh proses yang lebih lama." Leon turut menjelaskan yang dia ketahui.
"Yaahh kita tak punya semen di sini," celetuk Gilang.
"Kita bisa membuatnya juga. Tapi benar, prosesnya lama. Sementara kita kan harus segera punya tempat berteduh." Robert mengemukakan alasannya.
"Benarkah kita bisa membuat semen?" tanya Indra tak percaya.
"Yeahh, mungkin namanya bukan semen dan tidak mirip semen pabrik, tapi fungsinya masih sama, sama-sama untuk merekatkan batu ataupun bata." Robert memastikan.
"Ajari aku," Indra berharap.
"Hmm, nanti ku ajari. Mungkin kita memang akan membutuhkannya juga suatu saat." Robert mengangguk setuju.
"Terima kasih," Indra bersemangat. 'Ini ilmu baru, pikirnya senang.
"Baiklah. Jadi besok kita bangun pondok dengan tanah lempung. Sekarang beristirahatlah. Kumpulkan tenaga," saran dokter Chandra.
Mereka beristirahat beralaskan dedaunan di dekat perapian. Malam cerah dihiasi bintang gemintang mengantarkan untaian harapan mereka ke langit.
*
Laras dan Silvia membawa keranjang menuju ke padang berbunga untuk memetik beberapa bunga dan herba. Mereka mengingat bunga-bunga dan tanaman yang dipetik Marianne sebelumnya. Mereka juga ingin mencari kerang di pantai.
Angelina dan Niken harus mengumpulkan ikan dan membuat garam lagi karena yang dibuat sebelumnya sudah berhamburan di tanah akibat ulah orang-orang asing itu.
__ADS_1
Robert dan Liam mengambil ranting-ranting willow di seberang sungai. Mereka nyaris membuat gundul 2 batang willow yang tumbuh tak jauh dari tepi sungai. Beberapa kali mereka bolak-balik menggotong tumpukan willow ke area pondok yang akan mereka bangun.
Indra dan Leon bertugas menebang pohon-pohon untuk tiang dan atap pondok. Sementara dokter Chandra dan Gilang menggali serta mengumpulkan lempung dari tepi sungai, mencetak cukup banyak batu bata lebih dulu, karena dinding lempung hanya dikerjakan saat rangka pondok sudah selesai.
Mereka bekerja dengan giat dan hanya beristirahat saat matahari berada di puncak kepala.
"Apa kalian ingin air kelapa muda?" tanya Gilang.
"Yaaa.." jawab para wanita dengan cepat.
"Panas-panas begini memang nikmat minum air kelapa muda." Indra setuju.
"Mari kita petik," ajaknya menarik tangan Gilang ke arah shelter mereka sebelumnya. Di sana tumbuh 2 batang pohon kelapa.
*
Selama 4 hari Robert dan timnya menyelesaikan 2 pondok kecil untuk mereka tempati.
"Sekarang kita punya villa mungil," kata Niken bahagia.
"Ya, ini sangat memadai dan sehat. Punya pintu, jendela dan banyak ventilasi," tunjuk Angel ke atap yang masih bisa ditembus cahaya matahari.
Hahaha.. Mereka tertawa berderai. Kebahagiaan memenuhi hati mereka karena akhirnya bisa tinggal di tempat yang lebih baik.
Area sekitar pondokan juga sudah mereka pagari dengan jalinan willow agar tak mudah diterobos binatang liar.
Angel dan niken bahkan sudah memiliki kebun kecil yang diisi beragam tanaman yang mereka kumpulkan tiap kali keluar menjelajah. Ada tomat cerry, ada cabe yang bulat- bulat lucu berwarna-warni. Ada beragam sayuran kale, bayam, butternut, bunga matahari, kemangi, dill bahkan jahe yang semua tumbuh liar. Mereka bahkan juga memindahkan beberapa tanaman jagung muda dan kentang. Bahkan beberapa jenis bunga cantik di padang bunga mereka pindah tanamkan di halaman pondok yang membuat lingkungannya menjadi asri.
Para wanita belajar mengawetkan herba dan bunga-bunga agar bisa disimpan lebih lama. Jadi mereka tak perlu sering-sering ke padang bunga hanya untuk membuat teh yang wangi.
*
"Robert, lihat itu," bisik Liam menunjuk ke tepi sungai saat mereka berdua keluar untuk memeriksa lebih jauh.
"Kuda!" seru Robert senang.
Mereka berdua mengendap-endap mendekat untuk mengamati.
"Tidak ada pelana dan tali kekang. Sepertinya tidak ada pemiliknya," kata Robert.
"Apa kau bisa menangkap dan menjinakkannya?" tanya Liam ingin tau.
"Tidak tau. Aku bisa naik kuda, tapi tidak pernah menjinakkan kuda liar." Robert menjawab jujur.
"Mau coba? Akan sangat bagus jika kita punya kuda kan," bujuk Liam.
"Itu ada 4 ekor kuda yang sedang minum. Mari kita coba saja. Masa sih gak bisa dapat seekorpun?" Robert tertantang.
__ADS_1
Dikeluarkannya tali yang dibuatnya dari kulit kelinci dan kulit serigala. Diajarkannya Liam membuat simpul dengan lubang besar yang harus dimasukkan ke kepala kuda.
"Menjinakkan kuda, bisa sangat berbahaya, jadi hati-hati. Jika memang sangat genting, lepaskan saja. Nyawa kita lebih penting." Robert mengingatkan.
Mereka berpencar untuk mengepung keempat ekor kuda cantik yang sedang minum itu. Setelah dalam jarak memadai, mereka saling memberi kode tangan untuk bergerak bersamaan.
"Hup!" Robert melempar tali kulit yang dipegangnya ke arah kepala kuda coklat keemasan di dekatnya. Liam melakukan hal yang sama pada kuda hitam tapi tidak berhasil. Kuda itu lari ke seberang sungai sementara Liam terjerembab di lumpur tepi sungai.
Kuda coklat yang dijerat Robert juga tak kalah terkejut. Dia melompat dengan gesit lalu berlari mengikuti arah lari teman-temannya. Tapi lehernya sudah terjerat dan Robert menahannya kuat-kuat. Kuda itu berusaha sekuat tenaga untuk terus lari dengan Robert yang terseret di belakangnya.
"Robert!" teriak Liam cemas.
Dikejarnya Robert yang terus terseret oleh kuda.
"Robert, bahaya. Lepaskan saja!" teriak Liam yang berlari mengejar.
Robert mengeratkan belitan tali di tangannya agar tidak terlepas. Dia merasa kecepatan kuda itu mulai berkurang.
"Sshhh.. tenang.. tenang.." ujar Robert sepanjang jalan untuk menenangkan kuda itu.
Kuda itu mulai memperlambat larinya, jadi mirip berjalan, hanya sedikit lebih cepat. Kepalanya digerakkan ke atas bawah karena mulai kesulitan bernafas akibat tercekik tali yang digenggam Robert.
Akhirnya dia berhenti juga. Robert dengan cepat mengendurkan sedikit talinya agar si kuda dapat bernafas lega. Diusap-usapnya kepala kuda itu sambil terus mengatakan..
"Sshhh.. tenang.. tenang.. aku bukan ingin menyakitimu.." bujuk Robert.
Kuda itu masih mencoba melepaskan diri tapi Robert kembali mengeratkan kekangannya yang membuat kuda itu kembali tercekik lalu diam. Beberapa kali seperti itu hingga kuda itu mengerti bahwa dia sudah tak bisa lepas lagi. Dia hanya meringkik protes. Masih tak sudi menurut dengan mudah.
Liam yang mengamati diam-diam di belakang akhirnya tersenyum lebar.
"Hehehe.. Kita sudah punya seekor kuda tampan. Perjalanan akan lebih mudah jika punya beberapa ekor lagi." katanya bersemangat.
"Aku jadi ingat film-film Amerika jaman dulu. Kita akan mirip para cowboy yang menunggang kuda dan hidup di alam liar. Keren sekali kan. Hahaha," Liam mulai berkhayal.
Robert tersenyum lebar.
"Mari kita kembali."
Robert menarik kekang kuda ke arah mereka datang tadi.
"Kenapa kembali sekarang? Kita mungkin bisa menemukan kawanannya jika mengikuti arahnya berlari," Liam tidak setuju.
"Kita sudah jauh melenceng dari jalur biasanya. Nanti kita tersesat jika jejak yang barusan ini hilang," sahut Robert.
"Bagaimana kalau besok kita cari lagi ke sini. Sekarang mari buat tanda dan jejak yang jelas agar mudah ditemukan lagi," usul Robert.
"Oke. Itu lebih bagus." Liam setuju.
__ADS_1
Mereka kembali sembari menuntun kuda yang sesekali masih ogah jalan dan perlu ditarik ulur agar patuh.
***