
Tak terasa piring hidangan terakhir telah kosong. Tanda makan malam itu akan segera berakhir. Seorang pelayan mendekati Robert dan membisikkan sesuatu. Robert mengangguk.
Tamu-tamu elf mulai berdiri. Memberi salam, lalu berjalan keluar. Melihat itu, Silvia ikut berdiri. Tapi dicegah Robert. Dia kembali duduk dengan canggung.
"Tunggu sebentar," cegah Robert.
Ruangan mulai sepi saat orang elf terakhir beranjak pergi.
"Ehem. Tampaknya malam ini kita masih belum bisa berbincang santai. Saya masih harus menghadiri pertemuan dengan para ketua ras elf tentang perjalanan saya minggu ini."
Glen menggeleng dan terlihat menyesali.
"Tidak apa. Anda baru tiba, tentu saja harus membahas banyak hal. Kami tidak akan mengganggu." Robert menyahut dan mengangguk.
"Jadi sekarang silahkan beristirahat. Mungkin kita bisa berbincang lagi besok pagi. Saya tak sabar untuk mendengar cerita tentang negara anda," Glenn mempersilahkan Robert untuk kembali.
"Terima kasih. Kami permisi."
Robert dan anggota timnya bangkit dari kursi lalu memberi salam dengan sedikit menundukkan kepala. Mereka lalu menghilang di balik pintu ruang makan.
Glenn memberi kode, Randal datang menghampiri.
"Apa kau sengaja mengatur wanita yang mirip Aymee itu duduk tepat di depanku?"
Sinar mata biru Glenn meredup. Dia tidak marah, justru terlihat sedih. Mata itu menyirat selaksa luka dan rindu yang dalam.
"Maafkan kelancangan saya Tuan."
Randal menunduk merasa bersalah telah membuat tuannya bersedih kembali.
Glenn memberi kode. Randal berjalan keluar sambil menyesali kebodohannya. Glenn menenangkan diri sejenak sebelum berjalan menuju ruang kerjanya, untuk mulai rapat dengan petinggi ras elf.
*
"Lumayan lama juga acara makan malam ini. Dan makanannya lezat. Membuatku merasa kekenyangan." Niken mengelus perutnya.
"Kau mau berjalan-jalan sebentar di bawah bulan?" usul Indra.
"Itu pasti menyenangkan." Niken tersenyum bahagia.
"Kalian mau ikut jalan-jalan di taman sebentar tidak?" tawar Indra pada yang lainnya.
"Aku ikut. Itu baik untuk percernaan kita," kata dokter Chandra, mengikuti Indra dan Niken yang sudah lebih dulu berjalan santai menuju taman.
"Baiklah.. Aku ikut juga. Belum terlalu ngantuk juga sih," Gilang membuntuti.
Akhirnya, semuanya ikut berjalan sambil ngobrol menuju taman, dibawah terangnya sinar bulan. Mereka ngobrol di gazebo dekat kolam. Sebuah patung peri bersayap yang indah, berdiri di tengahnya. Guci yang dipeluknya tak henti mengucurkan air.
"Bagaimana kesanmu tentang tuan Glenn, Robert?" dokter Chandra bertanya.
"Sejauh yang tampak tadi, dia terlihat baik. Tapi aku masih belum membuat kesimpulan apapun. Kita lihat saja perkembangan selanjutnya," jawab Robert. Dokter Chandra mengangguk mengerti dengan kehati-hatian Robert.
Mereka bercengkrama hingga kantuk menyerang, lalu kembali untuk beristirahat di kamar.
*****
Hari sudah tinggi. Domba dan ayam sudah ribut sejak tadi, tapi Widuri, Nastiti dan Dewi masih juga belum bangun.
Dean yang sudah terbangun dan melihat ketiganya masih tidur pulas, membiarkan saja. Diamatinya mulut gua yang masih memiliki celah itu.
"Z, bangun." Dean menggoyang tubuh Alan untuk membangunkannya.
"Hemmmm.. ya, bentar. 5 menit lagi," sahut Alan dengan mata masih terpejam.
"Ini sudah siang. Banyak yang harus dilakukan hari ini." Dean kembali mengoyang tubuh Alan. Kali ini lebih keras.
__ADS_1
"Bangun, ternakmu sudah kelaparan." Dean menepuk-nepuk lengan Dewi.
Dean berdiri dan menuju kolam untuk membersihkan wajahnya. Alan sudah duduk dan memperhatikan celah di mulut gua.
"Aku akan memeriksa keluar sebentar," kata Alan.
Dean mengangguk.
"Aku akan mengecek Sunil di dalam," balas Dean sambil berlalu.
Dewi menatap menatap ternak-ternak peliharaannya yang sedang berdemo minta makan. Dia bangkit menuju tumpukan sayur yang berhasil diambil Alan. Dipisahnya mana yang untuk mereka makan, mana pula yang untuk ternak.
"Bangun. Sudah siang. Siapkan sarapan. Semuanya sudah kelaparan." Dewi menarik lengan Nastiti dan Widuri agar segera bangun.
"Kalau masih mau melanjutkan perjalanan, maka harus segera bangun. Masih banyak yang harus dilakukan."
Dewi kesal melihat keduanya kembali tidur dan saling peluk di lantai gua. Padahal udara sama sekali tidak dingin.
"Ahhh.. terserah. Tunggu saja Dean murka."
Dewi pergi meninggalkan Widuri dan Nastiti.
*
Dean menemukan Sunil masih tertidur.
"Sunil, bangun. Sudah siang."
"Heemm?" perlahan Sunil membuka matanya. Melihat sekitar dan mengenali tempat itu.
"Apa kau baik-baik saja sekarang?" tanya Dean.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan di luar?"
Sunil bangun dari tidurnya lalu turun dari bak batu.
"Aku yakin tempat itu tak bisa didiami lagi sekarang." Sunil melangkah menuju lorong.
"Ya, tapi aku masih ingin tau makhluk apa yang mengejar kita tadi malam." Dean ngotot.
"Itu domba-domba dan binatang lain yang bermutasi, beberapa orang yang tidak ku kenal. Juga... Alex." jawab Sunil.
"Apa?! Alex? Kau melihatnya?" Dean sungguh terkejut. Selama ini Dean mengira Alex sudah mati.
Sunil mengangguk sambil terus melangkah diikuti Dean yang masih tak percaya.
"Bagaimana dia bisa selamat dengan luka yang begitu parah?" Dean menggumam.
"Pastinya sama seperti kita, dia juga jatuh di kolam itu setelah kau lempar ke pintu cahaya. Air di kolam kan bercampur dengan sisa air abadi di bak dalam." Sunil menjawab gumaman Dean.
"Ahh, aku lupa tentang itu." Dean membenarkan kesimpulan Sunil.
Sampai di gua, tampak Alan sedang duduk, tubuhnya diselubungi cahaya merah redup. Tak jauh dari situ, Widuri dan Nastiti masih saling berpelukan dan tidur pulas. Hanya Dewi yang sudah mulai mengurus ternaknya.
"Bagaimana peliharaanmu?" tanya Dean.
"Aman. Syukurlah." Dewi tersenyum.
"Sunil, bisa kau keluarkan peralatan masak dari ruang penyimpananmu?" tanya Dewi.
"Oh ya, tentu saja."
Sunil mengeluarkan semua yang disimpannya dari dapur pondok. Dewi mengangguk berterima kasih.
"Sekarang kalian harus bangun. Masak. Kita semua sudah lapar."
__ADS_1
Dewi mendudukkan Nastiti, lalu Widuri. Dipandangnya kedua temannya yang masih mengantuk itu dengan jengkel.
Saat selubung cahaya merah mulai menghilang dari tubuh Alan, Dean dan Sunil mendekatinya.
"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Sunil.
"Kau sukses O," Alan tersenyum lebar.
"Apa kita keluar dan memeriksanya sekarang?" tanya Sunil.
"Bukankah suhunya masih panas?" Dean tak yakin.
"Entahlah, aku tak merasakannya," jawab Alan.
"Jiwamu berunsur api, mana mungkin kau merasa panas. Tapi aku bisa merasakan udara hangat bahkan di dalam gua ini. Padahal biasanya lumayan dingin."
Dean menoleh ke Dewi.
"Dewi, apa kau bisa merasakan suhu yang agak panas di ruang gua ini?" tanya Dean.
"Betul. Ku kira itu karena kita bangun kesiangan dan matahari sudah tinggi," sahut Dewi.
"Bukan. Itu karena O membakar semua yang ada di luar sana tadi malam," jawab Alan santai.
"Apa?! Membakar semuanya? Semuanya apa maksudmu?" tanya Dewi bingung.
"Ya semuanya yang ada di luar gua ini." Alan tersenyum dengan wajah polosnya.
"Apakah itu termasuk kebun dan pondok kita?" Widuri mulai bereaksi.
"Hmmm, kalau pondok kita, masih ada terlihat bekasnya sih," jawab Alan cepat.
Jawaban itu membuat Widuri, Dewi dan Nastiti langsung terbengong. Area seluas itu dibakar habis? Bagaimana bisa?
"Apa kau memeriksa sampai batas kabut hitam?" tanya Dean tak sabar. Masalah penting mereka adalah kabut hitam itu, dan Alan belum menyebutnya sama sekali.
"Aku sudah memeriksa cukup jauh. Tapi dalam kabut asap panas bekas terbakar, sulit juga membedakannya dengan kabut hitam." sahut Alan.
"Lalu bagaimana kita tau apa yang ada dibalik kabut hitam itu jika tak memeriksanya?" bantah Dean.
"Kau tentu bisa bisa memeriksanya A. Tapi tidak mereka," tunjuk Sunil ke arah Widuri dan Nastiti yang masih belum beranjak dari tempat semula.
"Oh, aku mengerti. Baiklah, setelah sarapan, kita periksa sebentar keluar sana." Putus Dean. Alan dan Sunil mengangguk setuju.
Saat sarapan, keenamnya mendiskusikan hal yang terjadi pada malam sebelumnya.
"Bagaimana domba-dombaku bisa bermutasi?" Dewi merasa heran.
"Apakah kabut hitam itu bisa merubah sifat dan fisik makhluk hidup yang masuk ke sana?" Nastiti juga tak habis pikir.
"Bagaimana kau menyimpulkan mereka makhluk mutasi?"
Widuri bukanlah orang yang mudah percaya pada omong kosong tanpa bukti.
"Mata mereka semua memerah dan mengejar kita dengan agresif seperti ingin menelanmu." jawab Sunil.
"Mata Z juga merah, apa dia juga makhluk mutasi?" Widuri kembali memberi argumen.
Mata Z memang sudah seperti itu sejak lahir. Tapi, coba kau lihat mata domba yang ada di sini, adakah yang merah?" Sunil balik bertanya.
"Peliharaanku tak ada yang bermata merah." jawab Dewi lantang.
Widuri tak bisa membantah lagi. Akhirnya dia setuju dengan penilaian Sunil tadi malam.
Ahh, sayang sekali semua kebun buah dan sayur mereka yang sudah dibakar O menjadi abu. Bahkan rumah batu mereka tinggal puing.
__ADS_1
***