PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 366. Menyiapkan Rumah Baru


__ADS_3

Sepeninggal Dokter Chandra, Sunil dan Indra. Dean berencana melakukan hal lain.


"Robert, aku akan membangun rumah lainnya," ujar Dean.


"Untuk siapa?" tanya Marianne.


"Untuk Robert dan Sunil. Lihatlah ... Sunil tinggal di kediaman Dokter Chandra sekarang.


"Kau benar. Ayo kita kerjakan!" Robert jadi bersemangat.


"Kau pilihlah dulu lokasi yang kau suka," saran Dean.


"Oke!" Robert terbang keluar rumah untuk melihat-lihat tempat yang disukainya.


"Aku pergi dulu," pamit Dean pada Widuri.


"Hemm...." Widuri mengangguk.


"Kalian hati-hatilah di rumah," pesan Dean sebelum terbang keluar.


Dean mencari-cari dimana Robert berada. Akhirnya dia naik ke atas puncak bukit, agar bisa melihat ke seluruh tempat.


"Kau di mana?" tanya Dean lewat transmisi suara.


"Dekat bukit, arah ke pantai," sahut Robert.


"Aku di puncak bukit. Di gazebo!" ujar Dean lagi.


"Dean!" terdengar panggilan dari arah bawah.


Dean menoleh. "Di situ kau rupanya!" Dean terbang menuju ke arah Robert. "Apa kau sudah menemukan tempat yang cocok?" tanya Dean.


"Kurasa akan menyenangkan mendengar deburan ombak setiap pagi," ujar Robert.


"Kau ingin tinggal dekat pantai?" tanya Dean lagi.


"Entahlah.. Mana yang menurutmu lebih baik? Karena aku juga ingin bisa melihat padang rumput dengan ternaknya yang sedang bermain. Hahahaha...." Robert tertawa.


Dean terbang menjauh dari bukit. Dis mundur untuk bisa melihat dua tempat itu bersamaan. Lalu Dean berhenti. Kemudian melayang turun secara perlahan.


"Dari sini, mungkin bisa!" seru Dean. Robert terbang menyusul. Dia ikut meliat ke dua sisi kanan dan kiri.


"Kau benar. Di sini bagus," ujar Robert setuju. Kemudian dia melayang turun hingga mendekati tanah.


"Tapi dari ketinggian ini, tak terlihat lagi pantai dan padang rumputnya. Hanya ada kerindangan bukit. Aur terjun jg tak terlihat." gelengnya kecewa.


Dean turun dan menjejak tanah. Menandai titik yang dilihatnya, dengan menggoreskan tanah.


"Bagaimana kalau kita buat teras atas untukmu bisa menikmati kedua pemandangan itu?" usul Dean.


"Hemmm ... bagaimana kalau kamarku di atas, dan kamar Sunil di bawah. Kita buat rumah bertingkat saja," ujarnya tersenyum.


"Boleh juga. Mari kita mulai menebang pohon dulu. Pohon yang mengganggu pandanganmu ke arah padang rumput, ke arah pantai, dan ke arah air terjun."


"Dean kembali naik di titik yang telah ditandainya. Dia berhenti setelah merasa dapat melihat tiga titik dari tempat itu.


"Coba kau ke sini," panggil Dean.


Robert naik dan berdiri di tempat Dean tadi berdiri. Dia mulai bisa memahami cara pandang Dean.


"Kau jangan ke mana-mana. Tetap di situ, dan katakan bila telah dapat mihat air terjun!"


Dean lalu terbang ke arah air terjun. Dia mulai menebang pepohonan dalam satu jalur pandangan Robert. Beberapa pohon segera terbaring di tanah, membentuk jalan setapak menuju kolam air terjun.


"Aku sudah dapat melihatnya!" seru Robert lewat transmisi suara.


"Oke!" sahut Dean. Dia kembali ke arah Robert. Sekarang pandangannya tertuju ke padang rumput. Robert juga memutar tubuh ke arah yang sama.

__ADS_1


Dean kembali terbang dan menebangi pepohonan yang berada dalam jalurnya. Dia membuat tempat itu sedikit lebih terbuka lagi dari arah pandangan Robert.


"Sudah kelihatan padang rumputnya!" seru Robert senang.


Dean terbang menuju Robert dan ikut menilai. Namun dia kembali terbang dan menebangi beberapa pohon yang lebih tinggi lagi sebatas satu setengah meter dari tanah, membentuk satu barisan memanjang.


"Sekarang pandangan sudah lebih bebas tanpa pohon-pohon tinggi itu!" ujar Robert puas.


"Kenapa tak kau potong hingga bawah?" tanya Robert saat Dean kembali.


"Padang rumput itu harus dipagari, karena pagar alaminya sudah ditebang," jawab Dean.


Kemudian dia menoleh ke arah pantai. Robert juga ikut menoleh ke sana.


"Tidakkah itu terlalu jauh? Kau jadi harus menebang lebih banyak pohon agar view pantai terlihat," komentar Robert.


"Apa salahnya? Kita juga butuh kayu untuk membangun rumah, kan?" sahut Dean acuh. Dia kembali terbang ke arah pantai.


Setiap pohon yang dilewatinya, ditebang dengan cara Dean. Ada yang dipotong hingga habis, ada yang disisakan setinggi satu meter, ada pula yang ditebang setinggi lutut.


Robert hanya mengamati. Dia tau, Dean pasti punya pemikiran sendiri tentang itu. Pandangannya tertuju ke pantai yang makin terlihat jelas.


"Kurasa, kita perlu menanam beberapa pohon kelapa dari tempat Aslan," celetuk Robert lewat transmisi suara.


"Ya, kau benar. Tak ada pohon kelapa di pantai ini. Jadi terasa ada yang kurang," sahut Dean.


"Oke Dean. Pandangan ke pantai sudah clear dari sini."


Dean terbang kembali ke arah Robert. Dia mengangguk setuju. "Sekarang giliranmu membawa semua pohon itu ke sini. Kita membutuh kayunya untuk membangun rumah," ujar Dean.


"Oke!" Robert terbang dan melakukan tugasnya. Semua kayu dipindahkan dan ditumpuk tak jauh dari tempat yang akan mereka bangun jadi rumah.


Mereka beristirahat dan duduk di atas gunungan batang kayu.


"Kenapa tempat yang akan kita bangun tak kau tebangi juga?" tanya Robert memperhatikan kumpulan pohon dan semak yang masih meninggi di tempat itu.


"Bukankah tiang paling kuat adalah pohon yang masih hidup?" lontarnya.


"Apa kau suka?" tanya Dean lagi.


"Tentu saja! Hahaha ... kau memang jenius!" puji Robert gembira. Tawanya masih membahana di kesunyian dunia kecil itu.


Dean berdiri. "Mari kita kembali dan melihat, apakah para wanita butuh bantuan," ajaknya.


"Oh ... tentu saja! Penguasa menyerahkan mereka pada tanggung jawab kita. Jadi jangan sampai diabaikan. Aku tak berani menanggung kemarahannya nanti," komentar Robert.


Keduanya kembali ke rumah panggung.


"Apa yang sangat membahagiakan, sampai suara tawamu terdengar hingga ke sini?" selidik Niken.


"Aku hanya tak menduga rencana Dean," jawab Robert.


"Apa rencananya? Ceritakan padaku," ajuknya dengan antusias.


"Dia ingin membuat rumah pohon, agar aku bisa melihat pantai, air terjun dan padang rumput secara bersamaan," jelas Robert.


"Wow! Pasti akan sangat bagus. Aku juga ingin melihat dari rumah pohon!' seru Niken tak sabar.


"Apa tidak berbahaya bagimu naik setinggi itu?" tanya Robert khawatir.


"Tapi aku ingin lihat." Niken bersikeras.


"Rumahnya bahkan belum dibangun," terang Dean.


"Tapi aku sudah bisa membayangkannya. Pasti sangat bagus jika bisa melihat tiga tempat itu sekaligus," lirihnya dengan mata terpejam.


Robert dan Dean berpandangan.

__ADS_1


"Apa kau sedang ngidam?" tanya Widuri heran.


"Ngidam? Aku tidak tau. Tapi mendengar cerita Robert, aku jadi ingin melihatnya juga," tutur Niken dengan penuh harap.


"Baiklah. Kau tunggulah beberapa hari lagi. Setelah selesai, kau bisa ikut melihat dari sana," Robert tak mungkin menolak, jika itu keinginan wanita hamil.


"Tapi aku ingin melihatnya sekarang!" bantah Niken.


"Sekarang belum ada apapun di sana. Hanya tumpukan batang kayu saja!" Robert menjelaskan dengan sabar.


"Bawa aku terbang ke sana. Aku ingin lihat!" desak Niken.


"Ya Tuhan ... apakah semua wanita hamil serumit ini?" batin Robert.


"Kau tak mau?" Niken terlihat kecewa.


"Antar dia melihatnya!" perintah Marianne.


"Oh? Oke. Baiklah ... mari kuantar." Robert tak ingin berdebat dengan Marianne. Jika harus antar, ya antar saja. Tak masalah.


"Beneran?" Niken tak percaya. Tapi matanya kembali berbinar secantik bintang timur di waktu subuh.


"Hemm...." Robert mengangguk. Kemudian menggendong Niken dan membawanya terbang keluar.


"Aku juga ingin lihat," rayu Widuri pada Dean.


"Oh, ayolah.... Jangan ikut-ikutan. Jika terjadi sesuatu padamu, Penguasa akan menghukumku!" tolak Dean.


Widuri cemberut. Marianne jadi geleng-geleng kepala. "Tak bisakah kau memeluk dan membawanya terbang dengan aman? Dia bahkan belum begitu berat! Dan kau sudah keberatan?" hardik Marianne pedas.


Dean terdiam. "Aku tidak keberatan. Hanya takut jika itu membahayakan," bantah Dean menbela diri.


"Bawa dia!" suruh Marianne tegas.


"Oke. Mari kita pergi sayang," ujarnya pada Widuri yang masih cemberut.


Dean benar-benar tak berkutik. Hanya ada tiga wanita di sini. Tapi kata-kata mereka adalah perintah yang harus segera dikerjakan. Kedudukan perintah mereka, satu tingkat di bawah perintah Penguasa Cahaya.


Dean menyusul Robert ke lokasi yang mau dibangun. Tapi tak terlihat ada Robert di situ.


"Di mana kalian?" teriak Dean.


"Di sini!" sahut Robert dari tumpukan kayu.


"Kenapa kalian di sana? Apa sudah puas melihatnya?" tanya Dean lagi.


"Niken muntah!" sahut Robert.


"Oh? Mungkin karena masih hamil muda, jadi mudah muntah!" teriak Widuri dari atas.


Dean senang melihat Widuri kembali tersenyum di gendongannya. "Apa di sini cantik?" tanya Dean.


"Ya, cantik sekali. Kalian pintar memilih lokasi," puji Wuduri.


"Kalau sudah puas, ayo kita turun dan melihat Niken," ajak Dean.


"Hemm." Wuduri menganggukkan kepala. Keduanya turun ke tempat Niken dan Robert beristirahat.


"Tubuhmu belum kuat. Nanti jika rumah ini sudah selesai kita naik lagi dan melihat pemandangan dari atas," bujuk Widuri.


"Ya, kau benar." Niken mengangguk. Wahahnya sedikit pucat.


"Ayo kita kembali, agar Niken bisa istirahat," saran Widuri.


"Baiklah ... ayo, aku akan membawamu dengan hati-hati," ujar Robert lembut.


Keempatnya kembali terbang menuju rumah panggung. Mereka beristirahat sejenak.

__ADS_1


Robert termenung di meja makan. Sepiring buah potong dengan saus pedas yang dihidangkan Marianne, telah lenyap dalam perutnya. "Kira-kira, apa yang terjadi pada Dokter Chandra, Indra dan Sunil yaa...."


*********


__ADS_2