
Perjalanan teleportasi Dokter Chandra, Sunil dan Robert sangat tidak menyenangkan. Sepanjang jalan, bola cahaya Penguasa diombang-ambingkan tekanan dalam lorong teleportasi. Mereka terus menabrak dinding lorong ke kanan, kiri hingga jungkir balik. Membuat ketiganya sama sekali tak bisa duduk untuk menikmati waktu yang panjang.
"Kenapa tekanan di lorong teleportasi ini sangat kacau?" ujar Robert.
"Mungkin pintu teleportasi di sana sudah rusak. Atau mungkin juga ada kebocoran di jalurnya?" duga Sunil.
"Jika jalurnya bocor, bukankah harusnya tak ada tekanan? Kau ingat tidak, saat kita melewati teleportasi dari Bumi dua? Kita yang justru harus terbang melintasinya!" Robert mengingatkan.
"Yah ... saat itu Michael tewas ditabrak batu meteor raksasa yang meluncur cepat." Sunil berkata dengan getir.
"Setiap perjalanan, ada ceritanya," ujar Dokter Chandra bijak.
Robert dan Sunil mengerti. Ada cerita pahit dan manis dalam setiap perjalanan mereka. Dan itu harus diterima sebagai sebuah takdir yang sudah digariskan Sang Pencipta.
"Lihat! Jalur teleportasi ini bercabang dua!" tunjuk Dokter Chandra.
"Ah, pantas saja tekanannya kacau. Sepertinya, yang satu itu justru mengarah ke mari!" ujar Sunil.
"Apa?" Robert terkejut mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Sunil heran.
"Jika dia mengarah kemari, artinya itu pintu teleportasi menuju dunia kecil, bukan? Siapa lagi yang tau tentang dunia kecil selain kita dan penjaga pintu teleportasi?" Jelas Robert dengan mimik bertanya-tanya.
"Kau benar!" Dokter Chandra mengangguk sepakat dengan analisa itu.
"Jadi bagaimana, apakah ingin melihat ke sana, atau tetap ke tujuan kita?" tanya Robert.
Sunil dan Robert menunggu keputusan Dokter Chandra.
"Aku tak ingat pernah mengatakan pada orang lain tentang Dunia kecil," gumam Dokter Chandra.
"Lalu?" tanya Sunil tak sabar. Sebentar lagi, percabangan itu akan mereka lalui.
"Kita lihat ke sana!" putus Dokter Chandra akhirnya.
"Baik!" Sunil dan Robert mengangguk.
Mereka bersiap untuk masuk ke jalur yang berlawanan arah itu. Mereka butuh tenaga ekstra agar bisa menembus daya tolak loring itu.
"Sekarang!" seru Dokter Chandra.
Ketiganya mengeluarkan tenaga ekstra untuk mempertahankan bola cahaya itu di posisi percabangan jalur. Jalur tujuan semula, mulai menarik bola cahaya, sementara jalur tujuan baru, menolak bola itu.
"Kalian berdua ke sana! Aku di sini, kita tekan dan paksa masuk!" ujar Dokter Chandra.
"Bagaimana jika bola cahaya ini pecah menahan tekanan itu?" Robert khawatir.
__ADS_1
"Lebih baik kita mengambil jalur pinggir, ketimbang menghadang tekanan di tengah!" saran Sunil.
"Baik, kita lakukan seperti itu!" Dokter Chandra setuju.
Ketiganya kembali berusaha melewati persimpangan jalan itu. Sungguh tidak mudah menahan daya tolak itu, sambil mencoba untuk masuk.
"Bersama-sama!" seru Dokter Chandra lagi. Mereka mendorong lebih kuat lagi.
"Penguasa, bisakah bola cahaya ini dibuat tidak gendut bulat begini? Makin lebar kita, makin besar tekanan yang kita terima!" ujarnya.
"Kau benar. Kalian berbaris di belakangku dan alirkan kekuatan kalian padaku!" ujar Dokter Chandra..
"Tidak! Biar aku di depan!" Sunil menggantikan posisi Dokter Chandra.
"Sunil benar. Anda harus fokus menjaga selubung cahaya ini tetap bertahan dan melindungi kita!" kata Robert. Dokter Chandra tak membantah.
"Ayo! Dihitungan ketiga!" ujar Sunil. Dokter Chandra kini berada di belakang. Diubahnya bola cahaya itu menjadi sekedar selubung cahaya untuk mereka bertiga.
"Satu ... dua ... tiga!"
Robert meletakkan tangannya pada punggung Sunil. Dia membagi kekuatannya pada Sunil, agar dapat maju lebih cepat. Sementara Dokter Chandra menhaga selubung cahaya dan mengalirkan kekuatannya pada punggung Robert. Perlahan tapi pasti, mereka berhasil maju.
Satu jam kemudian.
Sunil yang lelah, digantikan oleh Robert. Semua kelelahan, sementara tekanan makin kuat.
"Hal tersulit adalah di pintu keluar!" tambah Sunil.
"Aku melihat cahaya di sana!" seru Robert. "Ayo!"
Ketiganya kembali mengerahkan sisa kekuatan terakhir mereka untuk bisa mencapai pintu cahaya dan keluar dari tempat itu.
Butuh satu jam juga baru mereka bisa melewatinya dan akhirnya melompat keluar dari lorong teleportasi.
Ketiganya nyaris jatuh bergulingan, jika saja Dokter Chandra tak segera memegang pinggiran pintu teleportasi itu.
"Ya Tuhan. Tempat apa ini!" Ketiganya berseru dengan rada terkejut yang hebat.
"Banyak sekali pintu di sini!" kata Robert.
"Kita tadi, keluar dari pintu yang mana?" tanya Sunil.
"Aku masih memegangnya!" sahut Dokter Chandra. Dia kini melayang, sambil memegang sebuah pintu teleport bercahaya hijau. Dia juga menatap semua pintu yang digantung itu, dengan mata terpana.
"Siapa yang mengumpulkan pintu teleportasi sebanyak ini?" gumam Robert.
"Aku kira, kita sekarang berada di sebuah gua besar. Entah siapa pemilik gua ini. Tapi dia jelas sangat hebat, hingga bisa mengumpulkan berbagai model pintu teleportasi!" komentar Dokter Chandra
__ADS_1
"Beruntung Anda tadi mencengkeram pintu itu. Atau kita mungkin akan tertukar dan salah pintu, lalu tersasar makin jauh!" tambah Sunil.
"Bagaimana sekarang?" tanya Robert lagi.
"Aku ingin memeriksa gua ini dulu, sebelum kita pergi," putus Dokter Chandra.
"Tapi sebelumnya, bukankah lebih baik jika kita menyimpan dulu pintu itu?" saran Sunil.
"Oke!"
Dokter Chandra menyimpan pintu yang menuju dunia kecil itu dalam penyimpanan. Ketiganya langsung jatuh ke lantai gua yang berdebu.
"Aduhhh ... kenapa tak pakai aba-aba," keluh Sunil. Dia jatuh terlentang di lantai gua yang keras.
Dokter Chandra dan Robert segera membantunya berdiri. "Tempat ini terlihat bersih tanpa tanaman merambat. Kurasa, penghuninya kerap datang ke sini!" Robert menilai keadaan sekitarnya.
Ketiganya terbang menuju jalan keluar gua itu. "Tertutup rapat, tapi punya lubang-lubang pencahayaan alami. Apakah ini gua asli, atau buatan seseorang?" tambah Robert lagi.
"Dan tetap kering, meskipun tidak terkena matahari!" imbuh Sunil.
"Kau benar! Harusnya gua ini terasa lembab, bukan?" Robert menyahuti.
Sambil terus menilai, ketiganya akhirnya sampai di mulut gua. Dan, kejutan lain menyapa mereka.
Ladang gandum yang menguning, padang rumput penuh ternak, pohon-pohon buah, serta hamparan tanaman Soba yang sedang berbunga.
"Serasa ada di dunia kecil di gunung batu, tempat A bertugas!" gumam Sunil.
"Melihat hamparan Soba, aku langsung ingat Kang!" tambah Robert.
"Kang!" seru ketiganya dengan ekspresi bahagia.
"Tapi di tempat Kang, tak ada gua dengan banyak pintu teleportasi. Jika mereka tau ada pintu begitu, Ayahnya pasti sudah keluar, mencari keluarga mereka!" Robert membantah sendiri imajinasinya.
"Yahh ... Soba tak hanya ditanam Kang seorang!" imbuh Sunil.
"Kalian siapa? Bagaimana bisa sampai di sini! Bagaimana kalian bisa kenal Kang?" sebuah suara berat dan menggentarkan hati, mengajukan berbagai pertanyaan.
Robert, Sunil dan Dokter Chandra mencari asal suara. Dan mulut mereka langsung ternganga setelah menemukannya. Yang berbicara itu, sedang berdiri di atas dahan pohon besar dan raksana.
Tapi bukan pohon itu yang membuat mereka terkejut. Melainkan sosok yang bertanya itulah.
"Dia...."
Sunil tak perlu lagi melanjutkan kata-katanya. Robert dan Dokter Chandra telah mengangguk membenarkan pemikirannya.
********
__ADS_1