
Langit menggelap dan makin pekat. Sunil dan Alan yang bergantian mencari ke dalam air sudah sangat kelelahan. Dean mengeluarkan tempayan air abadi dan membiarkannya melayang di udara. Kelima orang itu memulihkan tenaga dengan meminum air abadi.
"Ini sudah sangat malam. Jika kita tak segera mencari daratan, kitapun akan jatuh dan tenggelam," kata Dean untuk menyadarkan situasi mereka sekarang.
"Meja kayu! Gunakan meja kayu agar kita bisa tetap mengapung di air," usul Widuri.
"Kau benar. Kayu bisa mengapung di air," Nastiti setuju.
Alan mengeluarkan meja kayu. Permukaan meja itu mengapung di air. Widuri dan Nastiti diturunkan pelan-pelan. Mereka berusaha duduk dengan posisi seimbang.
"Untuk kalian, keluarkan saja bangku kayu, dan duduk disitu," kata Nastiti.
Alan kembali mengeluarkan tiga bangku kayu untuk mereka duduk. Meski tetap basah, tapi bangku itu mempertahankan tubuh mereka tetap mengapung. Kelimanya saling berpegangan agar tak terpisahkan oleh aliran air.
Krukk.. krukk..
Nastiti menunduk malu.
"Aku kedinginan dan lapar," katanya jujur.
Dean mengeluarkan daging berbumbu yang mereka awetkan. Widuri mengiris beberapa kerat daging untuk mengisi perut malam itu.
Setelah itu Dean, Alan dan Sunil tidur bergantian untuk berjaga dari segala kemungkinan.
Cahaya fajar tampak di langit timur.
Dean membangunkan Alan.
"Gantian jaga. Aku mau tidur sebentar," katanya.
"Ya, tidurlah." Alan membasuh wajah untuk mengusir kantuk.
"Sebenarnya tempat apa ini? Hilang kemana Dewi?" gumamnya pelan sambil melihat keindahan langit menyambut pagi.
Alan terus saja menikmati suasana pagi. Tangannya menepuk-nepuk permukaan air pelan, meningkahi suara camar yang terbang sambil memekik. Diperhatikannya burung-burung yang riang menukik ke dalam air dan keluar dengan menjepit seekor ikan di paruhnya, lalu terbang entah kemana.
"Pasti daratan tak jauh lagi. Bagaimanapun, burung-burung itu harus kembali ke sarang bukan?" gumamnya sambil berpikir.
Tapi keindahan itu tak lama. Alan merasakan aliran air makin cepat. Dan di depan sana air bergolak dengan deras hingga suaranya terdengar ke tempat mereka.
"Bangun.. bangun.. Cepat!" Alan berteriak dengan suara menggelegar.
Semua orang bangun dengan kaget. Suara itu begitu keras, tak mungkin tak bisa mendengarnya.
"Ada apa?" tanya Dean yang belum lama tidur.
Alan sudah melayang. Bangkunya sudah lenyap dalam kalung penyimpanannya.
"Itu pusaran air. Cepat bangkit dan simpan semua ini!" teriaknya panik.
Alan segera meraih Nastiti dan Widuri dalam pelukannya. Dean dan Sunil yang merespon lambat terlanjur terseret aliran deras air bersama meja dan bangku-bangku kayu yang mereka duduki.
"Dean, Sunil. Cepat terbang!" teriak Widuri ketakutan dan ingin meraih keduanya.
"Jangan banyak bergerak. Nanti kau jatuh." Alan mengingatkan Widuri.
"Dasar bodoh! Cepat keluar dari sana!" Alan tampak sangat marah melihat kedua temannya tak juga berusaha terbang.
Brakkk.. Brakk..
Suara derak kayu-kayu bangku dan meja yang patah akibat saling bertubrukan. Cipratan air yang tercipta karenanya bahkan mengenai wajah Alan yang pias dan terpaku tak percaya.
"Dean!" teriak Widuri histeris.
__ADS_1
"Sunil..." Nastiti menatap pusaran air itu dengan mata tak berkedip.
Alan terbang di atas pusaran air dengan marah.
"Kalian bodoh. Bodoh! Bisa terbang tapi memilih mati hanyut seperti ini!"
Meski murka, tapi Alan hanya bisa berputar-putar di atas pusaran air mencari sosok Dean dan Sunil.
Widuri dan Nastiti hanya bisa menangis dan memanggil keduanya dengan suara lemah.
Alan masih memeluk kedua wanita itu sambil melayang di dekat pusaran air. Dia berharap, apapun yang ditelan pusaran itu, nanti akan dikeluarkan juga. Jasad Dean dan Sunil harus ditemukan. Asalkan tubuh mereka masih ada, maka jiwa A dan O masih bisa diselamatkan.
Tiba-tiba air bergolak. Sebuah cahaya biru menembus permukaan air hingga ke angkasa.
Alan berteriak kegirangan melihat itu.
"O.. itu O. Dia kembali!" Alan terbang menjauhi pusat pusaran air. Bagaimanapun, kedua wanita ini bisa langsung tewas jika kena sinar biru O yang mematikan.
Terdengar ledakan keras di dalam air. Dan permukaan air melonjak naik ke atas hampir setinggi 5 meter, menciprat ke segala arah. Bahkan Alan, Widuri dan Nastiti ikut terciprat basah.
Dua cahaya, Biru dan keemasan keluar dari tirai air. Cahaya-cahaya itu melesat menuju tempat Alan menunggu.
"A, O. Syukurlah kalian baik-baik saja," Alan sangat bahagia melihat kedua temannya baik-baik saja.
"Itu.... Dewi?" tanya Nastiti yang menyadari bahwa Dean membawa seseorang di kedua tangannya.
"Kami tadi menemukannya di dasar pusaran air. kakinya terbelit tanaman air." Sunil menjelaskan dengan sedih.
"Wajahnya membiru. Apa dia masih hidup?" tanya Widuri.
"Biar ku bawa dia," Sunil meminta tubuh Dewi dari Dean. Dean memberikannya.
Alan lalu menyerahkan Widuri pada Dean untuk dibawa terbang.
Dean mencoba terbang lebih tinggi agar bisa memandang lebih jauh.
"Coba kita ke sana. Aku melihat ada bias putih di sana." Dean menunjuk ke arah yang dilihatnya.
Mereka terbang dan melesat cepat ke arah yang ditunjuk Dean. Burung camar makin ramai terbang dan berputar di situ.
Dean tiba-tiba berhenti. Dia sudah menemukan sumber cahaya putih berkilau yang dilihatnya tadi. Itu tebing batu putih yang berkilauan. Ya.. tebing itu adalah daratan. Mereka akhirnya menemukan daratan.
"Kita ke sana." Suara Dean terdengar bersemangat.
Wajah yang lain juga ikut berseri-seri. Kini mereka bisa beristirahat dan memeriksa Dewi yang sudah terkulai di pelukan Sunil.
Di atas tebing itu dipenuhi aneka pohon yang tumbuh rapat dan menjulang. Kelihatannya hutan ini masih perawan, alias tak tersentuh manusia.
Dean mencari-cari tempat yang pohonnya tak terlalu rapat. Dia menemukan sebuah tempat dimana sebatang pohon raksasa jatuh melintang di permukaan dan membuat beberapa pohon lain ikut patah. Tempat itu kelihatan ideal bagi Dean.
Dia berhenti dan berdiri di atas batang pohon yang rebah itu. Alan dan Sunil ikut berhenti. Mereka mengamati area sekitar.
"Bagus untuk tempat sementara kita," puji Sunil.
"Posisi kayu ini bagusnya sejajar tebing, untuk menghalangi angin laut yang dingin saat malam." usul Alan.
"Pikirkan nanti saja. Bagaimana Dewi?" tanya Widuri khawatir.
Sunil menurunkan tubuh Dewi dan membaringkannya di permukaan batang pohon.
Nastiti mencoba mencari denyut nadi Dewi di pergelangan tangan dan lehernya. Dia menggeleng lemah.
Widuri tak percaya. Diraihnya tangan dingin Dewi mencoba memastikan. Bahkan diletakkannya telinga di dada Dewi untuk mendengarkan suara detak jantung. Sekecil apapun, itu adalah harapan. Tapi itu sia-sia.
__ADS_1
Widuri dan Nastiti hanya bisa menangis. Seorang teman seperjalanan sudah mendahului mereka pulang.
Dean meninggalkan keempat temannya. Melangkah mencari-cari tempat yang diinginkannya. Dirapikannya beberapa tanaman liar. Lalu menggali lubang untuk makam Dewi. Dean menemukan sebuah batu, lalu mengukir nama Dewi dan tahun kematiannya di atas batu itu.
"Aku menemukan tempat bagus dengan pemandangan indah sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir." Kata Dean halus.
Semua orang mengangguk. Sunil kembali meraih tubuh Dewi, mengikuti Dean dan Alan. Mereka melepas Dewi dengan kesedihan mendalam.
Selepas itu, mereka lalu beristirahat sejenak. Dean mengeluarkan daging asap untuk mengisi tenaga mereka yang terkuras karena berada di air sejak kemarin. Bagaimanapun, matahari sudah makin tinggi.
Sebelum sore datang, Dean, Alan dan Sunil sudah giat membersihkan area yang mereka pilih untuk dijadikan tempat tinggal sementara.
Dean memotong dua bagian batang pohon raksasa yang tumbang itu. Dibantu Alan, dia menggeser satu bagian untuk ditempatkan sejajar tebing, namun masih dihalangi oleh 3 batang pohon lain yang tumbuh tepat di tepi tebing.
Lalu bagian batang pohon lain diletakkannya membentuk siku dari yang sebelumnya. Sekarang area tengah itu bisa dijadikan tempat untuk mereka berkumpul, masak serta makan. Dean dan Alan mengeluarkan beberapa peralatan dapur untuk menghibur Widuri dan Nastiti. Tempayan air abadi juga sudah dikeluarkan. Bahkan batu-batu gunung yang sebelumnya mereka gunakan di tanah gersang, ikut dikeluarkan dan dijadikan penutup permukaan tanah serta sebagian dinding area dapur.
Dean lalu merapikan batang pohon raksasa. Meski sudah dibaringkan di tanahpun, masih tampak lebih tinggi dari Dean. Dengan telaten dia memotong dan memahat pintu serta jendela. Dean ingin memanfaatkan batang kayu raksasa itu sebagai kamar mereka.
Widuri dan Nastiti sudah selesai menutupi permukaan makam Dewi dengan bebatuan, agar tak mudah dihanyutkan oleh air hujan.
"Kau sudah pulang lebih dulu dari kami. Pasti kau bahagia di sana. Dean memilihkan tempat dengan pemandangan indah untukmu. Kau bisa memandangi laut biru yang teduh itu saban hari." Bisik Nastiti sesenggukan.
Widuri menyusut air mata dari ujung matanya dan menepuk bahu Nastiti lembut.
"Aku akan merindukanmu Dewi." bisik Widuri pelan.
"Hari sudah sore, mari kita kembali, Nastiti." bujuk Widuri. Mereka berjalan berangkulan menuju tempat para pria yang sibuk menyiapkan tempat mereka berteduh.
Kedua wanita itu melihat bahwa pondok darurat mereka sudah hampir selesai. Alan masih sibuk menyusun lempengan batu gunung untuk menyediakan dapur yang layak bagi kedua wanita yang sedang berduka.
Dean tak terlihat. Sementara Sunil sudah sibuk memetik beberapa daun liar yang ditemukannya.
"Untuk apa ini?" tanya Nastiti.
"Ini selada liar. Bisa kita masak jadi sayur." Sunil menjelaskan.
"Baiklah, biar kami bantu." jawab Nastiti.
"Tanaman apa saja yang kau temukan?" tanya Widuri.
"Aku menemukan sebanyak ini tanaman liar yang bisa dimakan. Kita tak perlu khawatir lagi soal makanan."
Sunil menunjukkan beragam sayuran dan umbi-umbian. Bahkan ada ciplukan diantaranya. Itu bisa jadi pengganti tomat untuk menumis masakan yang sehat dan enak.
Mereka mengerjakan tugas masing-masing. Hingga langit senja yang temaram menjadi pertanda untuk menghentikan aktifitas.
Alan sudah menyiapkan perapian. Batu-batu cahaya sudah ditempatkan di beberapa titik. Sudut hutan perawan itu mulai diterangi cahaya redup.
"Dean, sudah! Lanjutkan besok saja jika belum selesai."
Alan menyusul Dean ke dalam batang kayu raksasa itu. Tapi dia terbengong sejenak sebelum tertawa kecil.
"Ppffttt.."
Alan meninggalkan sebuah batu cahaya di atas permukaan kayu yang dipahat Dean. Lalu dia keluar sambil menggelengkan kepala.
"Mana Dean? Ayo kita mulai makan," tanya Nastiti.
"Tadi pagi dia baru tidur saat ku bangunkan karena pusaran air. Tampaknya dia sangat ngantuk. Jadi tidur lebih dulu." Alan menjelaskan.
"Kalau begitu, biarkan saja dulu. Pisahkan makanan untuknya." kata Widuri.
Alan pertama berjaga malam itu. Tempat itu sunyi. Hanya terdengar suara binatang malam dan lamat-lamat suara debur ombak memecah karang di bawah tebing. Beberapa kunang-kunang terbang naik turun mengitari tempat itu. Alan merasa bosan. Lalu bernyanyi sumbang tentang kampung halamannya.
__ADS_1
*****