PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 291. Makhluk Apa?


__ADS_3

Lima bayangan melesat cepat keluar dari area basecamp yang sedang kacau balau. Mereka mengikuti Dean yang terbang di depan.


Setelah terbang selama hampir satu jam, Dean berhenti. Dia melihat sekeliling. Yang lain ikut berhenti dan melihat sekitar mereka.


Tak ada tanaman yang tumbuh satu batangpun. Tanah luas dan terbuka itu gersang kecoklatan.


"Di mana ini?" gumam Sunil.


Dean turun dan menjejak tanah. Matanya yang kuning keemasan memeriksa semua tempat.


Dean menyerahkan tawanan itu pada Alan. "Korek dia!"


Wajah Alan berseri-seri. Kejahilannya muncul. Saatnya melampiaskan kejengkelan.


Dengan segera terdengar teriakan-teriakan di tempat itu.


"Kau berisik sekali!"


Alan menyumpal mulut pria itu. Dia kembali asik mengganggu, tanpa menanyakan hal-hal penting.


Tapi Dean tak menggubris. Ditemani Sunil, dia memeriksa kondisi tanah tempat itu. Kondisinya ternyata tidaklah kering kerontang. Masih ada rerumputan berwarna coklat yang bisa tumbuh meninggi. Kening Dean mengerut.


Digalinya sedikit tanah dengan tangannya. Dia menggali hampir sedalam dua meter baru akhirnya menemukan sumber air. Namun penemuan itu benar-benar mengejutkan.


"Air apa itu? Keruh dan kotor!"


Sunil tampak jijik melihatnya. Dean tak menjawab. Dia juga tak punya gambaran. Tapi yang jelas, bukan tanah ini tak bisa ditanami. Hanya saja, air tanahnya telah terkontaminasi secara massive. Hingga tanaman yang tak dapat beradaptasi, tak mungkin bisa tumbuh. Atau, bisa saja tumbuh. Namun hasilnya takkan sesuai harapan. Coklat suram seperti rumput-rumput di sini.


Dean menoleh pada tawanan itu. Dia menuju ke arahnya. Di sana, Alan berhenti menyiksa setelah melihat Dean mendekat.


"Tempat apa ini sebenarnya?" tanya Dean setelah berdiri di depan Tawanan itu.


Orang itu meludahkan darah dari mulutnya dan tertawa mengejek.


"Kalian hanya akan mati di sini. Hahaaa ...."

__ADS_1


Bugh!


Alan langsung meninjunya dengan sekuat tenaga. Darah terlontar keluar dari mulutnya.


"Kau pikir kau di mana sekarang, heh! Jika ada bahaya mengancam, maka kaulah yang lebih dulu kami korbankan!" teriak Alan emosi.


"Kenapa kau mengkhianati Yang Mulia?" Michael sudah tak dapat menahan emosinya.


"Rakyat macam apa kau! Beraninya menyiksa Yang Mulia!"


Bugh!


Robert ikut menendang kaki orang itu hingga tulang keringnya berderak.


"Aaaaaaaaahhhhh!"


Teriakannya melengking tinggi.


Alan menambahi siksaan itu dengan setruman jari-jarinya.


"Ayo pergi! Kita jelajahi lebih jauh dunia ini!" ujar Dean.


Mereka kembali terbang tinggi. Hingga sebelum gelap datang, mereka tiba di tepi sebuah tebing. Tebing yang sangat tinggi, hingga dasar lembah di bawahnya tak bisa dilihat mata.


"Kita bermalam di sini saja," ujar Dean.


"Tidak! Jangan! Kita bisa mati jika di sini!"


Wajah tawanan itu benar-benar pucat dan sangat ketakutan.


"Kami akan mempertimbangkannya jika kau mau bicara! Yang tak punya kemampuan beladiri adalah kau. Jadi kau bisa jadi umpan yang baik nanti." Sunil berkata dingin.


"Aku bicara!" katanya putus asa.


Sunil mengangkat sebelah alisnya, menunggu dia bicara.

__ADS_1


"Ada makhluk buas di lembah itu. Mereka keluar saat malam tiba. Mereka bahkan bisa menjelajah hingga basecamp. Itu sebabnya sekeliling basecamp dipagari listrik. Untuk mencegah mereka masuk!" ujarnya.


"Makhluk buas ya? Apa kau pernah melihatnya sendiri?" Ejek Michael tak percaya.


"Sungguh! Sudah banyak korban yang jatuh jika berada di luar saat malam tiba." Dia terlihat gelisah dan takut.


"Namamu Hu Da heh? Kau beruntung dibesarkan seorang ayah. Kasihan ayahmu, membesarkan anak serendah dirimu!" Michael mengejeknya lagi.


Pria itu membelalakkan mata marah. Tapi sekejap kemudian dia menunduk diam.


Dean telah mengeruk tanah, dibuat melingkar. Lalu menyusun kepingan-kepingan batu dari gunung batu, membentuk hunian kecil dan rendah. Setiap celahnya ditutup dengan tanah berlumpur hitam.


"Kita istirahat di sini, malam ini," ujar Dean.


Yang lain mengangguk setuju. Semua masuk ke dalam lubang yang ditutupi batu itu. Beberapa kristal cahaya ungu sedikit menerangi ruangan itu.


Huda tiba-tiba terkejut melihat banyaknya anggota tim itu. Bahkan ada juga para wanitanya. "Bagaimana cara mereka membunyikannya?" batinnya.


Malam beranjak. Setelah menikmati makan malam sederhana, mereka beristirahat dan berjaga bergantian.


Tengah malam, saat Robert dan Michael berjaga. terdengar sedikit keributan di luar tempat perlindungan mereka. Tapi tak ada yang benar-benar mendekati tempat itu. Semua hanya lewat, kemudian sepi.


Robert dan Michael bersikap waspada. Namun di tengah-tengah tempat itu, Hu Da sudah ketakutan setengah mati. Namun hingga pagi menjelang, semuanya kembali damai.


Indra dan Sunil yang berjaga terakhir, tertidur sambil duduk. Dean memeriksa keadaan di luar dengan membuka penutup celah antar batu. Cahaya buram matahari menyelinap ke dalam tempat itu.


"Leon, temani aku!" panggil Dean. Leon mengangguk. Keduanya keluar setelah satu diding batu dibuka.


Dean melayang dan melihat sekeliling tempat itu. Ada banyak jejak kaki yang melewati tempat perlindungan ini. Tapi mereka tak mengganggu sama sekali.


"Apa sebabnya mereka hanya melewati kami? Makhluk apa mereka?" Dean berpikir keras.


******


Besok Hari Raya Idul Adha, Author libur. Up Senin... 🙏

__ADS_1


Selamat berlibur semuaa💙💙💙


__ADS_2