
Dean membuka pintu keluar. Suara bel kembali berdenting. Dia melangkah di teras, kemudian menuruni undakan tangga. Sebuah mobil bongsor berhenti di depan plang dan penumpangnya keluar. Dean sedang menapaki jalan kecil di taman ketika kalender yang dipegangnya meluncur jatuh, lepas dari genggaman Dean.
Pria itu berjalan buru-buru untuk membantunya yang terbengong bingung.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Dilihatnya kalender yang tergeletak di tanah itu. keningnya berkerut. Lalu diambilnya dan ditepuk-tepuk untuk membuang tanah yang tersangkut
"Apa ini milikmu?" tanyanya lagi.
"Y-ya! Wanita di dalam telah memberikannya padaku," jawab Dean dengan mimik polos.
Pria itu mengamati Dean sebentar, sebelum berpaling ke arah teras rumah.
"Robert, biarkan dia. Aku yang memberikan kalender itu tadi. Dia menyukai foto-foto jepretanmu!" Suara lembut wanita itu merekahkan senyum Robert.
"Baiklah, karena Mary sudah berkata begitu, maka ini milikmu." Robert mengembalikan kalender meja itu pada Dean, yang langsung memegangnya erat.
"Terima kasih." Dean langsung buru-buru pergi.
"Hati-hati di jalan!"
Dean masih mendengar teriakan Robert tadi.
"Ya Tuhan .... Takdir macam apa lagi, ini?" pikirnya putus asa.
*
*
Sore hari, Dean sudah mencapai kabin lagi. Semuanya tak sabar untuk mendengar cerita Dean. Tapi kata pertama yang keluar dari mulut Dean, adalah, "Aku lapar."
Widuri segera mengambil makan siang yang tadi dihangatkan ya di atas perapian. Ditemaninya Dean makan dan minum.
Semua menahan diri untuk bertanya. Tapi Robert sudah merasa tak enak. Dia keluar rumah dan berjalan mondar-mandir di halaman depan. Dokter Chandra hanya menggeleng melihatnya.
Selesai makan, Dean menyandarkan punggungnya pada kaki kursi. Kepalanya disandarkan pada bantalan kursi sambil memijit-mijit pangkal hidungnya.
"Ada apa?" tanya Widuri khawatir.
Tapi Dean tak menjawab. Dia menoleh pada Indra. "Apa dia belum bangun juga?"
Widuri menggeleng sebagai jawaban.
"Kalian terus memberinya air abadi, kan?" tanya Dean memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Niken. "Sekarang katakan apa yang terjadi di kota? Kenapa wajahmu begitu kusut?"
"Hah!"
Dean menghembuskan nafas kuat-kuat. Lalu membuka tas dan mengeluarkan kalender yang tadi didapatnya.
Widuri dan Niken berebut meraihnya.
"Apa yang istimewa dari kalender ini?" tanya Niken heran. Bukankah itu hanya kalender biasa? Untuk apa Dean membawanya ke mari?
"Tahunnya! Ya Tuhaaannn!"
Widuri berseru tertahan.
"Ada apa?" yang lain ikut nimbrung sekarang. Robert juga menyusul masuk.
"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Robert tak sabar.
"Ini!" Sunil menyodorkan kalender itu pada Robert.
Robert memegang kalender itu dengan tangan bergetar. "Ini-ini kalender yang—"
"Yang ada di toko Mary. Rumah dua lantai berwarna hijau zaitun dengan Lis krem dan putih. Dengan taman kecil berumput hijau," sambung Dean.
"Kita sampai di bumi yang sama, namun di tiga tahun sebelumnya." Marianne membuat kesimpulan.
"Ini, Dia memberikannya padaku, tadi. Dia cantik dan baik," tambah Dean lagi.
Robert tak dapat berkata-kata lagi. Dia terduduk. Dia merasa takdir telah mempermainkan hidupnya. Rambutnya yang tak bersalah jd korban diremas-remas dengan gemas.
Widuri memeluk Dean dan menangis. Semua jadi galau dan sedih. Alan sudah berkorban agar mereka bisa kembali ke bumi yang tepat. Namun sayang, ternyata ada di tahun berbeda.
Dalam suasana diam yang menyedihkan itu, tirai malam turun. Suasana yang makin temaram, menyadarkan dokter Chandra.
"Sudah petang. Ayo, pasang lampu. Aku juga sudah mulai lapar," ujarnya.
Meskipun murung, mereka masih tetap bangkit dari duduk dan berjalan melaksanakan perintah dokter Chandra seperti robot. Disuruh menyalakan lampu, Robert melakukannya. Disuruh tutup pintu, Sunil segera menutupnya. Para wanita pun begitu juga. Dokter Chandra sampai menggelengkan kepala melihat anggota tim itu lesu dan bergerak seperti robot.
Ketika makanan terhidang, mereka hanya melihat makanan itu tanpa selera.
"Ya ampun, kalian menggemaskan sekali. Aku tak tau kalau selama ini punya teman robot yang dapat bergerak sesuai instruksi." Dokter Chandra terkekeh geli.
Tapi tak ada yang menanggapi.
"Ayo makan. Ini perintah!" seru dokter Chandra kesal.
__ADS_1
Dan yang lain mulai makan. Benar-benar sesuai perintah. Membuat dokter Chandra terdiam melihatnya.
"Ah, sudahlah. Yang penting mereka makan dulu," pikirnya.
"Malam yang sangat sunyi. Aku seperti sendirian di hutan ini," keluh dokter Chandra sehabis makan. Yang lain masih malas menanggapi.
"Apa kalian sudah lelah menjalani semua ini, Huh?" tanya dokter Chandra.
"Ya, ini melelahkan. Mempermainkan perasaan kita," jawab Marianne.
"Aku ada ide. Bagaimana jika begini saja. Kita kabari semua kembaran kita di dunia ini, untuk tidak menaiki pesawat sialan itu di hari, tanggal dan jam yang sama. Bagaimana menurut kalian?" Wajah dokter Chandra terlihat cerah. Seakan dia telah menemukan solusi jitu untuk kasus mereka.
"Apa tujuannya?" tanya Niken.
"Ya tentu saja, biar kita tidak mengalami kecelakaan. Bagaimana sih!" decaknya kesal.
"Tapi Dok, jika seandainya kita larang mereka menaiki pesawat itu. Taruhlah kembaran kita bersedia mengikuti nasehat. Lalu bagaimana dengan teman-teman kita di sana? Leon, Laras, Liam, Angel, Gilang juga Alan?"
"Yah, kupikir ...."
Dokter Chandra meragu. "Yang hidup ya akan tetap hidup ...."
"Anda saja tidak yakin," sergah Robert.
"Kita adalah satu kesatuan dalam kejadian itu. Jika satu atau beberapa elemen dihilangkan, maka probabilitasnya akan kacau. Bagaimana pun, hukum sebab akibat selalu ada!"
Dean menambahkan teori yang bikin teman-temannya bingung mencernanya. Mereka melihat Dean dengan pandangan bertanya.
"Maksudku, bisa jadi ... tanpa kehadiran kita, kemungkinan mereka untuk selamat sangatlah kecil. Mereka akan terkubur di tempat yang tidak kita ketahui," jelas Dean.
"Bagaimana kau bisa merasa begitu?" tanya Niken dengan ekspresi tak suka.
"Jujur saja, bantuan jiwa Bangsa Cahaya memperbesar kemungkinan kita semua selamat hingga sampai di sini!" tegasnya. Widuri mengangguk setuju. Dia merasakan banyak kemudahan sejak di gunung batu.
"Angel dan Gilang tidak pernah bertemu Bangsa Cahaya," bantah Niken lagi.
"Tapi saat itu kalian dipimpin Robert. Ada Dokter Chandra, ada Indra juga." Dean lalu melihat tepat ke mata Niken.
"Coba jawab dengan jujur, tanpa bimbingan Robert, apa kalian bisa melewati kesulitan di sana?" Pertanyaan Dean yang masuk akal, membuat Niken terdiam. Itu benar adanya.
"Bahkan kalau dituntut ke belakang, yang pertama membimbing kita sejak di hutan salju, adalah Dean, dibantu Robert," ujar Sunil akhirnya.
"Jadi, teoriku salah nih? Ya sudah, kita tinggal cari teori baru," ujar dokter Chandra santai. Yang penting baginya, suasana kabin itu tidak lagi suram. Sekarang mereka sudah saling berdebat. Bukankah itu lebih menarik.
Diskusi malam itu berakhir tanpa menghasilkan konsensus. Mereka tidur dengan pikiran yang masih berkecamuk. Tapi malam sudah larut. Dan beruntungnya, mereka tinggal di kabin yang nyaman. Jadi tak perlu repot membangun pondok baru yang akan membutuhkan ijin di sini.
__ADS_1
********