
Pagi yang sejuk dan damai. Marianne sudah sibuk di dapur sejak kokok ayam dan suara burung meramaikan dunia kecil itu.
"Nyeri punggungku makin berkurang karenamu. Terima kasih, Ivy," ujarnya dalam hati.
Marianne pantas bersyukur. Rasa nyeri punggung dan sakit di dadanya, berkurang drastis setelah Ivy menetap di tubuhnya. Gerakannya jadi lebih lincah dari sebelumnya. Dia bangun pagi dengan tubuh bugar. Hal itu membuatnya bahagia.
Dokter Chandra masuk ke rumah itu dan mendengar Marianne yang bersenandung bahagia.
"Bagaimana kabarmu pagi ini?" sapanya, kemudian duduk di kursi.
Marianne datang dan menuangkan secangkir kopi untuknya.
"Aku merasa lebih bugar. Rasa nyeri dan sakit yang kurasakan bertahun-tahun, berkurang. Bukankah ini hebat?" sahutnya bersemangat.
"Bagus. Seperti itulah simbiosis mutualisme. Ivy memang harus membantu menyembuhkan penyakitmu." Dokter Chandra mengangguk senang.
"Dia juga bisa menyembuhkan?" tanya Marianne heran.
"Sebenarnya tidak persis begitu. Dia ahli memperbaiki hal-hal yang rusak," jawab Dokter Chandra.
"Dia tukang?" Marianne makin heran.
"Bukan ... bukan seperti itu. Dia punya bakat memulihkan tanaman, hewan yang sakit, rusak, patah atau terluka. Aku juga baru tahu ternyata bisa digunakan untuk menyembuhkan manusia," jelas Dokter Chandra panjang lebar.
"Ohh ... jiwa penyembuh," lirih Marianne.
"Ya. Seperti itu." Dokter Chandra mengangguk membenarkan.
"Apa yang kalian bahas?" sapa Sunil yang baru masuk.
"Aku hanya mengatakan kalau nyeri punggung dan sakit di dadaku sudah berkurang," sahut Marianne. Ditinggalkannya teko kopi untuk Sunil dan Robert yang baru tiba.
"Itu kabar bagus. Mungkinkah itu ada hubungannya dengan kehadiran Ivy di tubuhmu?" balas Sunil.
"Menurut Dokter Chandra memang begitu." Marianne menyahut dari dapur. Dia sudah sibuk mempersiapkan bahan untuk sarapan.
Tak lama menyusul Indra, Niken, Dean dan Widuri berkumpul di rumah panggung.
"Setelah memakamkan orang itu, aku mau membuka lahan untuk jagung dan padi di sebelah area makam. Bagaimana menurut kalian?" Dokter Chandra minta pendapat.
"Kita akan menebang lebih banyak pohon lagi, kalau begitu," sahut Dean.
"Atur penebangannya, agar pohon-pohon bisa menjadi pemisah antara area satu dengan lainnya," saran Sunil.
"Ide bagus. Akan kulakukan seperti itu saja. Jadi dunia kecil ini tidak perlu kehilangan terlalu banyak pohon lagi." Dean setuju.
"Lakukan pekerjaan setelah sarapan," saran Niken dari arah dapur.
"Tentu saja. Perutku sudah kelaparan sejak bangun," timpal Indra.
"Kapan kau tidak merasa lapar!" dengus Niken sebal.
"Itu karena masakan istriku memang paling enak!" sanjung Indra.
"Gombal!" balas Niken.
*
*
Marianne, bisakah kau menengok Aslan nanti? Tadi dia masih belum bangun," pesan Dokter Chandra.
__ADS_1
"Oke!" sahut Marianne.
"Aku pergi kerja dulu!" Dean pamit pada Widuri dan mengecup dahinya.
"Oke. Hati-hati," Widuri melepaskan pelukan Dean.
Robert dan Sunil membawa jasad penjaga pintu teleportasi untuk dimakamkan. Para wanita mulai membereskan kekacauan setelah sarapan, lalu beristirahat sejenak.
*
*
Dua hari berlalu. Aslan belum juga sadarkan diri. Dokter Chandra dan Marianne bergantian memeriksa keadaannya.
Sementara ladang yang baru dibuat, sudah hampir selesai. Dengan petunjuk Dokter Chandra, Dean membagi-bagi area itu menjadi hutan-hutan kecil diantara ladang gandum, ladang jagung dan sawah yang ditanami padi.
"Kurasa, besok kita sudah bisa mulai memupuk dan mengolah tanah untuk ditanami," kata Robert.
Tapi tetap saja ada segunung log kayu hasil penebangan!" tunjuk Sunil ke satu tempat, yang dijadikan tempat mengumpulkan batang-batang pohon yang baru ditebang.
"Kita mungkin akan perlu membuat rumah untuk Aslan nanti?" ujar Indra. Sunil mengangguk.
"Aslan sudah sadar," lapor Marianne lewat transmisi suara.
"Aku mau lihat Aslan dulu. Dia sudah sadar." Dokter Chandra menghentikan pekerjaannya.
"Biar kami lanjutkan di sini," ujar Dean.
Dokter Chandra melesat meninggalkan ladang yang baru dibuka. Dia langsung pulang ke pondok mungilnya. Marianne sudah menunggu di depan pintu.
Aslan duduk di ruang tengah dengan pandangan bingung. Dokter Chandra masuk dan duduk di dekatnya.
"Aslan, bagaimana perasaanmu sekarang? tanya Dokter Chandra
"Ya, kau Aslan, cucuku. Cucu kami." Tunjuk Dokter Chandra ke arah Marianne. Aslan mengikuti pandangan Dokter Chandra ke arah pintu. Marianne berdiri di situ seraya tersenyum.
"Apa menurutmu kau bukan Aslan?" Dokter Chandra kini duduk di hadapannya.
"Ambilkan dia minum. Dia masih bingung.?" Dokter Chandra menoleh pada Marianne.
"Baik." Marianne terbang ke rumah panggung.
Apa yang kau pikirkan saat terbangun?" tanya Dokter Chandra.
"Dua orang bertarung sengit. Saling menyerang dan mengelak. Aku bersembunyi. Tapi, sebuah anak panah menuncur cepat dan menembus dadaku!" Aslan menyentuh dadanya.
"Tapi luka itu tak ada lagi," gumamnya bingung.
"Bagaimana aku bisa ada di sini?" tanyanya heran.
"Biar aku ceritakan...."
Dokter Chandra menjeda kalimatnya melihat Marianne datang membawa air minum dan penganan.
"Kau minumlah dulu." Dokter Chandra mendekatkan nampan ke arah Aslan. Marianne ikut duduk di situ.
Dokter Chandra menceritakan apa yang terjadi dua hari sebelumnya. Aslan menatap tak percaya. Mulutnya ternganga mendengar kisah yang absurd itu.
"Anda Penguasa Cahaya? Dia Jenderal Pedang Pembunuh?" Aslan mengulang-ulang apa yang dikatakan Dokter Chandra.
"Lalu siapa namamu?" tanya Marianne.
__ADS_1
"Aku Ta," penjaga pintu teleportasi," ucapnya bangga.
Marianne dan Dokter Chandra mengangguk. "Apa kau masih ingat bagaimana menentukan titik kordinat pintu teleportasi?" tanya Marianne lagi.
"Tentu saja. Itu pergi napas yang menghidupiku, maka aku akan mengingatnya terus.
"Tapi kau sudah mati!" cetus Marianne kasar.
Ta terdiam. Dia baru mengingat cerita Dokter Chandra tentang pemindahan jiwanya ke tubuh Aslan.
"Mungkin aku perlu menyegarkan ingatanku yang mulai berkarat," sahutnya dengan suara rendah.
"Baiklah, Ta. Mari kita keluar dan melihat-lihat. Mungkin ada yang bisa membuatmu mengingat sesuatu," ajak Dokter Chandra.
Ketiganya keluar. Ta makin tercengang melihat tempat itu. "Aku masih di dunia ini!" ujarnya tak percaya.
"Kau masih mengenalinya. Itu bagus." Dokter Chandra tersenyum puas. Dia menaruh harapan besar pada Ta.
"Aku mengingatnya. Meskipun banyak perubahan, tapi aku mengenali bukit itu!" tunjuknya ke arah bukit.
"Ayo, kutunjukkan makammu!" Dokter Chandra bergerak menuju area makam.
"Jasadmu kami baringkan di sini," tunjuk Dokter Chandra.
Ta diam terpaku menatap makamnya. Hatinya luluh seketika. "Saat sekarat, kukira aku akan mati tanpa seorangpun yang tahu," ujarnya lirih.
"Terima kasih sudah memakamkanku. Katakan apa yang bisa kulakukan untuk membalas budi," ucapnya tulus.
"Kami memindahkan jiwamu ke tubuh cucu kami, karena berharap bantuanmu mengatur koordinat pintu teleportasi," jelas Dokter Chandra.
"Aku mengerti. Bagaimana pun sudah tak ada pilihan lain. Bangsa kita sudah hancur sejak kejadian itu. Jadi lebih baik hidup tenang dan damai bersama," katanya bijak.
"Aku setuju. Mari kita lihat pintu teleportasi yang ada di dalam gua!" ajak Dokter Chandra.
Tiga orang itu terbang ke dalam gua di bukit. Dokter Chandra terus bercerita tentang manusia bumi yang tubuhnya mereka tempati. Dia juga menjelaskan gambaran bumi serta posisi bintang-bintang dari pandangan manusia bumi.
"Saat pendidikan, aku ingat mempelajari banyak benda-benda angkasa. Dan memang ada satu planet biru. Tapi, Anda yang mengatakan bumi pada akhirnya menjadi lima, setelah ledakan besar di angkasa. Jadi bagaimana kita memastikan bumi yang mana yang dituju? Yang aku tahu hanya kordinat planet biru yang kupelajari saja!" ujarnya.
"Benarkah? Syukurlah. Semoga itu adalah dunia manusia yang kami tempati ini," cetus Marianne senang.
"Apakah Aslan bukan dari bumi yang sama?" tanyanya.
"Bukan. Dia dari bumi lainnya lagi. Tapi kita takkan ke tempat itu. Karena kami telah meletakkan pintu teleportasi lain di sana!" ujar Dokter Chandra.
"Benarkah? Kalian menemukan pintu teleportasi di mana?" tanya Ta heran.
"Di sembunyikan di dalam tebing batu, daerah kutub utara yang dingin bersalju!" jawab Dokter Chandra.
"Bagaimana kalian bisa menemukannya?" tanyanya keheranan.
"Apa kau yang menyembunyikan benda itu di situ?" selidik Dokter Chandra.
"Ya. Aku menyembunyikan pintu teleportasi itu di tempat yang takkan ditemukan oleh orang jahat itu. Dia memaksaku menjelajah semua runtuhan dunia kita dan mengumpulkan banyak harta. Aku bukan prajurit. Aku tak mampu melawannya meskipun tak suka."
Mata Ta berkilat sejenak. Masih tersisa nyala api di sana. Nyala kemarahan namun tak berdaya.
"Sebenarnya, pintu teleportasi itu berada di bumi yang benar. Namun lokasinya terlalu jauh dari negara tujuan. Dan tahunnya mundur ke dua tahun sebelumnya," terang Dokter Chandra.
"Jadi, kalian melakukan uji coba dengan pintu teleportasi itu?" tanyanya tersenyum.
"Ya. Kami mencoba berkali-kali. Dan kali terakhir, harusnya benar, tapi kenapa malah melenceng ke bumi yang lain?" Dokter Chandra menggelengkan kepala. Wajahnya menunjukkan kekesalan, karena terus saja gagal.
__ADS_1
******