
Selesai sarapan, dengan tas dan perlengkapan lain yang sudah siap dibawa, juga perbekalan makanan yang diikat jadi satu, keenam amggota tim 1 berkumpul di dekat pintu cahaya. Mereka akan melanjutkan perjalanan pagi ini.
Dean merapikan coat, tas, memasang di bahunya ransel bekas Alex yang sudah diisi cukup banyak batu cahaya ungu dan bebatuan merah yang ternyata berfungsi seperti batu api. Dean mengambil tombaknya dan berjalan mendekati pintu cahaya putih di gua itu.
"Baik, aku akan mencoba lebih dulu. Alan, pegang tanganku. Jika aku mengacungkan jempol, maka keadaan aman dan kalian bisa menyusul." Dean kembali menjelaskan rencananya.
"Baik," Alan mendekati Dean dan menggenggam tangan kanannya.
Dean mengarahkan pandangannya menyapu semua anggota timnya. Semoga mereka bisa bersama lagi nanti.
"Baiklah, sampai jumpa lagi." Dean lebih dulu memasukkan kepalanya untuk melihat situasi, disusul sebelah kakinya. Jempolnya mengacung dalam genggaman Alan sebelum dia menghilang dibalik pintu cahaya itu.
"Dia mengacungkan jempolnya!" teriak Alan gembira.
"Ya, aku melihatnya." Widuri menyahut. Matanya berbinar cerah.
"Tapi dia memang terasa seperti terjatuh. Tanganku tertarik ke arah bawah," Alan menambahkan.
"Bisa jadi letak pintu cahaya ini lebih tinggi seperti halnya pintu itu. Tapi karena tidak berbahaya, jadi Dean mengacungkan jempolnya." Dewi berasumsi.
"Hmm.. mungkin juga," Alan akhirnya setuju dengan asumsi Dewi.
"Baik, jadi kita bisa ikut masuk ke sana. Ayo.." Sunil meminta para wanita pergi lebih dulu.
Widuri, Dewi dan Nastiti menghilang bergantian. Sunil menyusul sambil membawa ikatan sayuran dan ubi yang tadi mereka panen. Lalu diikuti Alan yang membawa 3 ekor kelinci hidup yang mereka dltemukan di jebakan pagi tadi di hutan salju.
*
Byuurr.. Dean jatuh di sebuah kolam kecil di dalam gua tinggi dan luas yang pintunya begitu lebar. Dean segera menepi untuk menghindari tubrukan dari teman-temannya yang akan segera jatuh di situ.
Tak lama suara ceburan disertai riak air terdengar. Dean mengusap wajahnya yang basah kena cipratan air.
"Cepat menyingkir dari situ, nanti tertimpa dari atas." teriaknya menyuruh Widuri menepi dari tengah kolam.
Widuri yang sedikit bingung karena tiba-tiba berada di air, segera tersadar saat mendengar suara Dean. Dia berenang ke tepi kolam. Belum sampai dia di tepi, Dewi sudah jatuh tercebur di air dan lamgsung gelagapan karena terkejut.
"Cepat kesini!" teriak Widuri menyadarkan Dewi. Dean yang sudah melepaskan semua tas bawaannya di tepi kolam, segera menarik Dewi menyingkir dari tengah kolam. Dewi terbatuk-batuk karena menelan air kolam. Widuri sudah naik ke tepi kolam saat Nastiti juga jatuh dan tercebur.
Dean kembali menarik Nastiti dari tengah kolam. Dia memandang ke arah langit gua di tengah kolam dengan sangat heran. 'Bagaimana kami bisa keluar dari sana dan tercebur ke air?' batin Dean.
"Widuri, coba lihat ke atas gua itu," tunjuk Dean ke arah langit-langit gua di atas kolam.
Widuri memperhatikan arah yang ditunjuk Dean, tak ada yang aneh dengan itu sampai tiba-tiba muncul Sunil dari kehampaan dan jatuh di tengah kolam. Itu membuat mereka semua terpana.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" serempak Dewi dan Nastiti bersuara.
Byuurr.. Alan menyusul keluar dari kehampaan dan jatuh di air kolam. Sunil yang masih di tepi kolam terpana melihat keajaiban itu. Mulutnya ternganga tak percaya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Awas mulutmu dimasuki lalat kalau terus ternganga begitu. Hahaa.." Alan yang semula meledek Sunil, akhirnya berhenti karena tak seorangpun temannya ikut tertawa. Mereka sedang melihat langit-langit gua dengan ekspresi tak percaya.
"Kalian sedang lihat apa sih?" Alan penasaran dan ikut melihat ke arah langit-langit gua, tapi tak menemukan apapun hal yang aneh.
"Apa yang kau lihat di situ?" Dean menepuk bahu Alan pelan sebelum berenang ke tepian.
"Tidak ada apa-apa di situ," Alan bingung.
"Apa disitu ada pintu?" tanya Dean lagi.
"Gak ada." Alan menggeleng kuat-kuat untuk meyakinkan.
"Hal itulah yang membuat heran. Tak ada pintu di situ, tapi kita semua tiba-tiba muncul disitu dan langsung jatuh ke kolam ini." Widuri menjelaskan sebab keheranan mereka.
"Itulah sebabnya pelayan Eugene terasa seperti jatuh saat melangkahi pintu cahaya." Sunil menambahkan.
"Yaa.. dia juga tak bisa kembali ke tuannya, karena tak ada jalan dan pintu untuk kembali ke tempat sebelumnya." Dewi ikut berasumsi.
"Artinya pintu gua itu adalah pintu satu arah. Hanya bisa keluar dari situ, tak bisa masuk lagi karena pintu itu langsung lenyap." Dean ikut menambahkan.
"Sepertinya begitu." Yang lain menyetujui kata-kata Dean.
Mereka menepi dan keluar dari kolam. Pakaian dan hp serta laptop Dean basah dan tak kan bisa dipergunakan lagi.
"Ahh,, koleksi galeri hp ku hilang semua deh gara-gara tercebur di kolam." Widuri menatap hp di tangannya yang basah dengan sedih.
"Alan, temani aku mencari kayu bakar di sekitar."
Dean berjalan ke arah Alan setelah menghamparkan pakaian-pakaiannya di atas bebatuan besar yang banyak terdapat dalam gua besar itu. Anggota tim lain mengikuti langkahnya dan menjemur pakaian masing-masing.
Tak lama mereka berdua keluar. Anggota tim akan segera kedinginan dalam pakaian basah jika tidak segera membuat api.
"Waahh pemandangan hutan yang indah," seru Alan setelah keluar dari gua.
"Ya, dan tak ada salju. Hutan ini berisi beragam pepohonan. Dan pasti ada macam-macam binatang juga. Jadi hati-hati." Dean mengamati hutan yang terbentang di depan gua itu.
Mereka hanya memeriksa dan mencari kayu di sekitar gua saja. Dean membuat beberapa jebakan untuk mendapatkan binatang buruan. Hujan yang tiba-tiba turun memaksa mereka kembali ke gua agar kayu bakar tidak basah.
"Jadi bagaimana situasi di luar gua?" tanya Widuri penuh keingintahuan.
"Kita masih berada di hutan. Hutannya terasa basah dan lembab. Tadi juga kami segera kembali karena hujan turun tiba-tiba." Alan menjawab sambil mencoba mengeringkan satu bajunya dekat perapian.
"Mungkinkah kita sudah di dunia nyata lagi? Apa kita ada hutan di Indonesia atau Malaysia? Sekarang Desember kan memang musim hujan," Nastiti nimbrung.
"Mungkin saja. Besok kita coba lihat lebih jauh ke dalam hutan," ujar Dean.
"Tapi tetap berhati-hatilah. Gua ini begitu besar, mustahil tidak ada binatang yang menggunakannya sebagai rumah. Jadi jangan berjauhan." Dean mengingatkan.
__ADS_1
"Mungkinkah ada ular?" Dewi bergidik ngeri.
"Mungkin. Aku tak bisa memastikan, karena memang belum memeriksa seluruh gua ini," ujar Dean jujur.
"Sunil ayo.. Bajumu sudah cukup kering. Temani aku memeriksa gua."
Dean mengambil tombaknya dan berjalan ke arah dalam gua diikuti Sunil. Makin jauh berjalanan, gua itu makin terasa lembab dan dingin. Bau tajam mulai menusuk hidung. Dean berhenti dan mengamati.
"Apakah kau melihat itu Sunil?" tunjuk Dean ke arah depan.
"Itu terlihat seperti stalaktit dan stalakmit." jawab Sunil.
"Tepat! Tapi bagaimana kita bisa melihat bentuknya padahal masih cukup jauh?" Dean bertanya balik.
"Ahh ya.. Pasti ada cahaya yang bisa menembus masuk makanya kita bisa melihatnya." Sunil jadi ikut mengamati dengan lebih teliti.
"Kita tak bisa masuk lebih jauh lagi, karena bau kotoran kelelawar disini sangat tajam. Sepertinya kita memasuki wilayah kekuasaan mereka. Hehee," Dean terkekeh sendiri.
"Jadi bagaimana kita bisa tau keadaan disana kalau tak bisa maju? Kau ada cara?" tanya Sunil.
"Bagaimana jika kembali dulu saja. Ini sudah terlalu sore dan kita juga sudah berjalan cukup jauh. Kalau diteruskan, nanti kita tersesat karena tadi tak membawa kristal cahaya untuk menerangi jalan." Usul Dean.
"Kau benar. Besok saja kita lanjutkan." Sunil menyetujui.
"Tapi apakah kelelawar-kelelawar itu tidak akan mengganggu kita saat malam?" tanya Sunil lagi.
"Di tempat kita sepertinya tidak ada tercium bau kotoran kelelawar. Mungkin mereka masuk dan keluar dari celah tempat cahaya itu masuk." tunjuk Dean ke kedalaman gua.
"Baguslah kalau begitu." Sunil mengangguk. Dia mengikuti Dean yang berjalan kembali ke tempat anggota tim mereka. Tak lama, keharuman khas daging panggang menuntun langkah mereka di keremangan gua.
Malam itu mereka langsung beristirahat setelah makan malam. Mereka tidur mengitari perapian agar tetap hangat. Beberapa kristal ungu diletakkan di tempat tertentu untuk mencahayai gua itu.
Malam itu berlalu tenang sampai saat Dean tiba-tiba berteriak dalam tidurnya.
"Aaaaahhhh!"
Semua rekannya bangun dengan terkejut dan mendapati Dean berkali-kali menggeliat, mengejang dan terlihat takut.
"Dean.. Dean.. Bangun!"
"Dean, ada apa? Jangan menakuti kami.."
"Dean!"
Mereka dengan panik berusaha membangunkan dengan menepuk-nepuk pipi Dean dan memanggilnya. Tapi Dean tak juga bangun..
***
__ADS_1