PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 256. Tuan Farouk


__ADS_3

Leon yang masih menunggu Mustafa di pinggir jalan, jadi bersemangat melihat dua pria berkuda menuju ke arahnya.


"Mereka sudah kembali," gumamnya penuh harap.


Mustafa melewati Leon. Dia tak menegurnya. Begitu juga penjaganya. Penjaga itu hanya membawa seseorang bersamanya. Dan itu bukan Silvia.


"Hei, dimana Silvia!" teriak Leon.


Dikejarnya kuda yang berlari itu.


Mustafa menghentikan kudanya di tengah lapangan luas. penjaganya turun dari kuda. Penjual budak itu juga ditarik turun, lalu dibiarkan jatuh.


Leon baru sampai di tempat itu saat Mustafa dan 2 orang lainnya kembali melangkah. Dia bingung. Tak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi dia kembali mengekori mereka.


"Tunjukkan orangnya!" penjaga itu menyeret si penjual budak.


Pria penjual budak itu melihat berkeliling. Berusaha mengingat-ingat siapa orang yang tadi membeli wanita itu.


"Aku rasa mereka di sana!" tunjuknya ke arah kafilah yang berada cukup jauh dari yang lainnya.


Mustafa mengernyitkan kening. Dia tak yakin apakah sudah memeriksa kafilah tersebut. Mereka terpisah cukup jauh dari yang lainnya.


"Semoga itu benar. Karena kau takkan mau membuang-buang waktuku percuma!"


Ancaman Mustafa itu sukses membuat pria itu bergidik ngeri. Dia mengangguk tak yakin.


Ketiganya berjalan cepat. Leon membuntuti dari belakang dengan kepala penuh pertanyaan. Di belakangnya, dua pengawal berlari menyusul tuannya. Mereka semua menuju kafilah yang dimaksud.


"Iya, di sini. Ku jual pada tuan Farouk. Tapi aku tak tau yang mana kereta miliknya." Pria penjual budak itu mengangguk dengan yakin.


"Hempphh!"


Mustafa berjalan mendahului yang lain. Dia terlihat tak sabar. Pengawalnya berlari mengejar, untuk menjaganya dari segala kemungkinan.


"Yang mana orang yang bernama tuan Farouk!"


Teriakan Mustafa mengagetkan penjaga yang setengah tertidur.


"Ada apa kalian membuat onar di sini!" Para penjaga itu maju dan menghadang Mustafa.


Pengawal Mustafa juga segera maju dan menghalau para pria itu dari menyentuh Tuannya.


"Kami hanya mencari seseorang." Salah satu pengawal itu bicara.


"Tidak ada orang lain di sini kecuali anggota kafilah."


Para penjaga itu tak mau beranjak dari tempatnya. Dan tubuhnya yang tinggi besar, menghalangi langkah pihak Mustafa. Dia terlihat kukuh seperti tembok batu.


Penjual budak, "Kami mencari tuan Farouk. Aku bertemu dengannya tadi sore di sini!"


Para penjaga itu saling pandang. Salah seorang menggeleng pelan.


"Tidak ada tuan Faruk di sini."

__ADS_1


"Kau berbohong! Aku menjual seorang budak wanita padanya sore tadi. Pria ini suaminya! Dia sedang mencari istrinya," jelas si penjual budak ngotot.


Para penjaga itu terkejut. Lalu saling berpandangan dan melihat ke arah Mustafa yang terus menatap tajam.


Tapi sebelum mereka bicara lagi, Mustafa sudah melompat. Lalu salto diatas dua penjaga sambil memukulkan gagang pedang di kepala mereka dari atas.


Saat Mustafa menjejakkan kaki di tanah, dua orang penjaga itu telah jatuh tergeletak di tanah. Dua pengawal Mustafa akhirnya dapat menerobos barikade yang telah pecah. Kelima penjaga di sanapun berhasil ditaklukkan dengan usaha keras. Salah satu pengawal Mustafa mengikat erat kelima penjaga itu agar tidak lagi menghalangi mereka.


"Buang-buang waktu saja!"


Mustafa menendang kaki salah satu penjaga itu. Orang itu meringis dan membalas tatapan Mustafa dengan marah. Tapi dia tak bisa berteriak, karena mulutnya segera disumpal dan diikat kain.


"Hemmppp... hempphhh!" Dia masih berusaha berontak.


Brukkk!


"Ughh...!"


Pria itu akhirnya pingsan setelah menerima pukulan keras di kepalanya.


"Berisik!" ujar Leon kesal. Di tangannya yang gemetar, tergenggam sebuah batu. Semua orang menatapnya dengan pandangan rumit.


Mustafa, " Ayo kita cari. Geledah seluruh kafilah ini!


Para pengawalnya yang semakin banyak berkumpul, mulai menyebar ke seluruh area. Leon juga tak mau ketinggalan. Selama mereka berdebat itu, Leon telah merasa di sebuah kereta penumpang, ada yang tak beres. Dia langsung menuju ke sana.


"Coba diingat lagi, yang mana kereta atau gerobaknya!" teriak pengawal Mustafa pada si penjual budak.


Si penjual budak telah mengatakan yang dia tau. Dia juga orang yang menghargai privasi pembeli. Dia tak harus menyelidiki asal-usul pembeli. Yang diinginkannya hanya uang mereka.


"Tidak berguna!"


Pengawal Mustafa kemudian menampar wajahnya dengan keras. Darah keluar dari sudut bibirnya. Diapun dikumpulkan bersama para penjaga yang diikat.


Di barisan gerobak dan kereta penumpang, mulai terjadi keributan. Tapi para pedagang yang sedang beristirahat itu langsung terdiam setelah melihat mata pedang diarahkan ke leher mereka.


Mereka dibariskan menjauh dari gerobak dan kereta mereka. Mereka terpaksa hanya bisa melihat saja, saat sepasukan orang tak dikenal menggeledah semua tempat. Barang-barang dagangan berhamburan di tanah becek.


Salah satu pedagang itu merasa heran. Setelah melihat sepak terjang para pengawal yang membuang barang-barang di tanah, dia akhirnya mengerti bahwa mereka bukan mau merampok. Semua kekacauan ini harus segera dihentikan. Atau mereka akan rugi besar.


"Kalian mencari siapa!" tanyanya berani.


"Farouk. Yang mana kereta atau gerobak Farouk!" pengawal Mustafa menjawab pertanyaannya.


Orang itu terkejut. Lalu jarinya langsung menunjuk ke arah kereta yang berada sedikit terpisah dari yang lainnya.


"Dia di sana!" Tunjuk pria itu.


"Ayo!" Teriak Mustafa.


Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar. Wajahnya sudah terlihat sangat jelek karena amarah. Dia tak sabar untuk menghajar orang itu.


Belum lagi sampai sana, Mustafa sudah merasa ada yang tak beres. Kereta penumpang itu bergoyang-goyang hebat dan berisik sekali. Mustafa berlari tak sabar, untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Disibaknya kain penutup kereta dengan kasar. Matanya terbelalak melihat situasi kacau di dalam situ.


Di sana, Leon sedang berjuang untuk lepas dari cekikan pria besar itu. Di salah satu sudut, terlihat Silvia memucat di belakang Leon. Mulutnya masih diikat kain. Matanya melotot ngeri melihat keadaan Leon.


Mustafa segera melompat masuk dan menusuk pinggang orang yang memunggunginya itu.


"Aaarrggghhh!"


Terdengar pekikan tertahan. Cekikan di leher Leon mengendur. Dan akhirnya lepas sama sekali. Darah segera mengucur, membasahi lantai kereta.


"Huh... huh...."


Leon mengatur nafasnya yang tadi hampir putus. Berulang kali dia menarik nafas panjang untuk mengisi kembali seluruh rongga paru-parunya. Tapi dadanya masih terasa sesak, dan hanya bisa bernafas pendek-pendek. Kepalanya keliyengan dan mulai menghitam.


Brukkk!


"Hemmpp... hemmpp...!"


Silvia menggoyang-goyangkan tubuh Leon yang tergeletak di dekatnya. Matanya melotot panik. Silvia ingin memeriksa keadaan Leon, tapi tangannya diikat di belakang punggung. Akhirnya dia membungkuk dan meletakkan telinga di dada Leon, berusaha mendengar detak jantung temannya itu.


Wajah Silvia terlihat lega. Meski samar, tapi dia masih bisa mendengar detak jantung Leon.


'Baiklah... kau boleh pingsan dulu. Istirahatlah. Terima kasih sudah menemukanku' kata Silvia dalam hatinya. Airmatanya menetes, membayangkan seandainya Leon terlambat datang.


Silvia kembali menyadari sekelilingnya. Kereta itu sudah tak bergoyang lagi.


'Dimana pria mesum itu?' pikirnya.


'Ah... pastilah Leon tak datang sendiri. Mungkin teman-temannya telah datang untuk menyelamatkannya'. Silvia merasa bahagia dengan bayangan di kepalanya.


Dia sangat merindukan Robert, Indra, Niken, Laras, Liam dan Dokter Chandra. Senyum penuh harapan itu terpancar indah di matanya. Dia ingin segera melompat keluar, tapi kakinya ditindih tubuh Leon yang pingsan.


Brakkk!


"Akhhh!"


Terdengar suara-suara ribut di luar. Lalu hening. Silvia menatap ke arah ke pintu kereta dengan harap-harap cemas. Semoga Robert dan kawan-kawannya bisa mengalahkan pria itu.


Kain penutup kereta disingkap. Muncul wajah tampan Mustafa di sana. Mata kelabu kehijauan yang menghipnotis itu, menatap Silvia dengan sedih. Dia naik dan masuk ke kereta. Menghampiri Silvia yang melotot ke arahnya.


Tangan Mustafa ingin menyentuh wajah Silvia, tapi wanita itu mengelak. Matanya terus melotot menunjukkan kemarahan.


Mustafa menghela nafas berat. Hatinya luka mendapati penolakan dan kemarahan Silvia.


"Aku ingin melepaskan tali yang mengikat mulutmu itu," ujar Mustafa lembut.


Silvia akhirnya tak mengelak lagi. Tapi ekspresinya jelas sangat marah.


"Aku tau yang melakukan ini padamu. Aku akan menghukumnya saat kita pulang nanti," bujuk Mustafa saat membuka ikatan tali di belakang kepala Silvia.


Hatinya membuncah rindu ketika kepala Silvia berada dekat dengan pundaknya. Tapi dengan segera menjadi dingin ketika merasakan gelengan kepala Silvia.


******

__ADS_1


__ADS_2