PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 95. Felix Ockhenliche,


__ADS_3

Sore itu.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar ketukan di pintu kamar Robert. Robert membuka pintu, dan tampak seorang pelayan berdiri di depannya.


"Tuan Glenn ingin bertemu dengan tuan Robert dan dokter Chandra." pelayan itu menjelaskan.


"Ah, baik. Sebentar saya panggil dokter Chandra di kamar sebelah," balas Robert.


Beriringan ketiga orang itu menuruni tangga menuju lantai dasar. Pelayan membawa keduanya ke arah ruang kerja Glenn.


Tok.. tok.. tok..


Pelayan mengetuk pintu yang tertutup.


"Masuk." terdengar jawaban dari dalam.


Pelayan membuka pintu dan mempersilahkan Robert dan dokter Chandra masuk. Lalu pintu kembali ditutup.


"Silahkan duduk."


Glenn bangkit dari duduknya dan menyapa dengan ramah.


Robert dan dokter Chandra duduk, dan siap mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh Glenn.


"Tadi siang saya pergi ke kediaman orang tua saya. Sejujurnya ayah saya sudah lama sakit. Tapi tabib kami masih belum bisa menyembuhkannya. Saya tadi ada membicarakan tentang kedatangan kalian dengan ayah. Dan setelah dibujuk, ayah akhirnya setuju untuk membiarkan dokter Chandra memeriksanya. Apakah dokter bersedia?"


Glenn bertanya langsung pada intinya. Dia tak terlalu suka basa-basi.


"Ini begini. Saya memang dokter. Tapi saya tidak membawa peralatan pemeriksaan bersama saya. Tak ada alat medis penunjang seperti yang biasa kami pakai di dunia ini. Saya khawatir, jika saya tak dapat banyak membantu."


Dokter Chandra menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Bagaimanapun, dokter Chandra tak tau bagaimana cara kerja tabib di dunia peri. Apakah seperti dokter tradisional tiongkok yang menggunakan akupunktur ataukah semacam sihir?


Glenn tampak berpikir keras.


"Sebagai diagnosa awal, boleh saya bertanya bagaimana kondisi ayahmu sebenarnya? Awal mula sakit dan lainnya?" tanya dokter Chandra yang tak tega melihat Glenn menahan kecewa.


"Baiklah, saya akan mengatakan semua yang saya tau." jawab Glenn.


Mereka berbincang cukup lama dalam ruang tertutup itu.


Saat bel makan malam terdengar, ketiganya segera bangkit.


"Baik, sudah waktunya makan. Mari kita ke sana bersama," ajak Glenn.


Di ruang makan, semua anggota tim dan Randal sudah menunggu. Semua berdiri saat Glenn masuk diikuti Robert dan dokter Chandra.


Ting.. ting.. ting..


Glenn mengetuk cangkirnya hingga berdenting. Tak lama semua perhatian mengarah padanya.


"Baik, besok saya akan bawa kalian semua berkunjung ke kediaman orang tua saya. Kalian tentu sudah merasa bosan terus tinggal di sini kan," Glenn tersenyum.


"Apakah kami boleh melihat suasana kota? Kami ingin tau seperti apa kota dan pasar di dunia ini." tanya Niken bersemangat.


Glenn mengangguk-angguk.


"Tentu saja. Setelah kunjungan, nanti kita akan melintasi kota jika kalian suka." Glenn tersenyum lebar.


"Sekarang silahkan makan,"


Maka suasana makan malan itu lebih riuh dari biasa. Mereka sangat antusias karena besok bisa melihat-lihat kota indah di negeri dongeng.

__ADS_1


Hingga menjelang tidurpun, Niken masih terus mengoceh.


"Aku tak sabar menunggu besok," wajahnya terlihat bersemangat.


Angel menutupkan bantal di atas kepalanya, karena tak tahan mendengar Niken yang terus saja bicara meski tak ada yang menjawab.


*


Pagi hari mereka semua sudah rapi. Semua berbaris menuju ruang makan saat bel sarapan terdengar. Dengan cepat sarapan yang tak seberapa itu segera dihabiskan. Glenn tak tampak di meja makan. Hanya ada Randal yang menemani.


Randal menunjukkan jalan ke arah tempat teleportasi. Beberapa saat kemudian Glenn muncul. Dia mengenakan pakaian berbeda kali ini dan terlihat makin tampan.


Laras melirik Angel yg wajahnya mulai bersemu merah. Angel hanya tertunduk dan memeluk lengan Laras lebih keras tanpa sadar.


"Aku bisa remuk jadi perkedel kalau semua wanita di sini jatuh cinta sepertimu," bisik Laras ke telinga Angel.


Wajah Angel makin merah, dan hanya bisa mendelik ke aras Laras yang tersenyum menggoda.


"Baik, kita mulai."


Suara Glenn memberi aba-aba. Tampak sinar hijau kebiruan melingkupi seluruh area teleportasi. Lalu sinar itu hilang kembali.


"Selamat datang tuan muda," sapa seorang pria setengah baya dengan senyuman hangat.


"Paman Houx, bagaimana kabarmu? Kapan kau kembali dari perbatasan?" Glenn memeluk pria itu tak kalah hangat.


"Aku baru tiba tadi malam tuan muda. Siapakah mereka?" tanya paman Houx menunjuk ke arah Robert dan lainnya.


"Ah ini tamu-tamuku. Ingin ku perkenalkan pada ayahanda," jelas Glenn.


"Kita sudah sampai," ujar Glenn dengan wajah cerah.


"Selamat datang di kediaman tuan Felix Ockhenliche," paman Houx membungkukkan tubuhnya sedikit tanda hormat.


"Tuan sudah menunggu di taman samping dengan Nyonya."


Seorang pelayan pria menghampiri Glenn.


"Baik."


Glen melanjutkan langkahnya menuju taman, diikuti oleh anggota tim Robert.


Di taman yang asri, di bawah keindahan juntaian bunga-bunga oranye dari tanaman rambat yang menutupi gazebo, tampak seorang pria yang mulai berumur duduk santai ditemani seorang wanita yang masih menampakkan kecantikannya.


"Ayahanda, Ibunda," Glenn setengah jongkok di lantai.


Robert dan timnya terkejut melihat tata cara ini. Mereka segera berjongkok mengikuti apa yang dilakukan Glenn. Tampaknya orang tua Glenn bukan orang sembarangan di negara ini. Itu tampak karena Randal dan paman Houx juga ikut berlutut.


Tangan pria itu terangkat.


"Berdirilah," ujarnya dengan suara lemah, lalu terbatuk-batuk.


Mereka semua kembali berdiri.


"Ayah.. bagaimana keadaanmu hari ini."


Glenn menghampiri ayahnya. Mencium tangan ibunya dan mendapatkan ciuman di pipi kiri dan kanannya. Begitu pula dengan ayahnya.


Robert ingin bangkit mengikuti, tapi tak yakin. Jadi dia melirik Randal yang tetap berdiri di tempatnya sambil menggeleng samar.


Glenn memperkenalkan Anggota tim Robert satu persatu. Ibu dan ayah Glenn sedikit terkejut melihat Angelina, tapi dapat menyamarkan ekspresi mereka dengan cepat. Paman Houx yang lama baru tersadar, setelah disikut oleh Randal.


Mereka sedang berbincang santai saat seorang pelayan mengantar tabib masuk ke ruangan.

__ADS_1


Seperti biasa dia memeriksa perkembangan kesehatan ayah Glenn dan memberikan resep untuk disiapkan. Saat pelayan ingin menerima resep obat seperti biasa, tapi Glenn segera meraih kertas resep itu.


"Ayah, sudah bertahun-tahun anda sakit, tapi aku tak pernah sekalipun membuatkan obatmu. Kali ini ijinkan aku merebus sendiri obat untuk ayah. Bolehkah?" tanya Glenn merayu.


"Terserah kau saja. Lakukan apa maumu. Lagi pula kau sudah lama tak pulang. Dengan merebus obat, maka kau akan lebih lama di sini."


Ibu Glenn menjawab pertanyaan itu. Ayahnya hanya mengangguk setuju.


"Terima kasih ibunda," Glenn tampak sangat gembira.


Tabib akhirnya pergi setelah memberikan beberapa nasehat.


"Dokter Chandra, bisa temani saya merebus obat?" tanya Glenn diplomatis.


"Ah, tentu saja. Dengan senang hati."


Dokter Chandra mengangguk mengerti.


"Kalian silahkan berbincang dulu dengan ayahanda dan ibunda. Jangan khawatir, mereka sangat baik." Senyum Glenn terkembang melihat mata ibunya yang tiba-tiba membesar.


"Pelayan, bawa jalan ke tempat pembuatan obat." perintah Glenn pada pelayan. Mereka beriringan pergi.


Glenn menunjukkan kertas resep pada dokter Chandra. Tapi dokter Chandra kebingungan membaca huruf yang keriting dan berukir itu.


"Bagaimana membaca ini?" tanya dokter Chandra dengan polosnya.


Glenn langsung berhenti jalan mendengar pertanyaan itu.


"Kau tak bisa membaca?" alis Glen bertaut erat. Segala rasa mulai menghampirinya kini. Jika dokter Chandra tak bisa memberi alasan bagus, maka ini akan buruk.


"Tulisan kami berbeda dengan ini. Tolong ambilkan kertas dan pena agar aku bisa menuliskannya, baru memahami apa yang ditulis di resep ini." jelas dokter Chandra.


"Baiklah. Pelayan, ambilkan kertas dan pena untukku nanti." pesan Glenn pada pelayannya.


"Baik tuan muda. Silahkan tuan muda, ini ruang penyimpanan obat." Pelayan itu membuka kunci pintu ruangan obat itu.


Mereka masuk. Aroma khas rempah-rempah memenuhi ruangan.


"Apakah bahan obat ini ada tersedia semua?" tanya Glenn sambil menyerahkan resep tersebut.


"Akan saya siapkan tuan. Stok banyak, semua ada. Kemarin paman Houx membawa cukup banyak persediaan bahan obat saat kembali."


Pelayan itu mengambil bahan-bahan obat dengan cekatan. Semua itu disusunnya di sebuah nampan sesuai urutan resep.


"Panggil Robert. Ini semua obat ramuan, berbeda dengan cara pengobatanku. Robert mungkin sedikit lebih paham obat rempah," bisik dokter Chandra pada Glenn.


"Sekarang kau panggil tamuku Robert di tempat ayahanda, lalu bawakan kertas dan pena. Cepat." perintah Glenn.


"Baik tuan muda." Pelayan itu segera menghilang.


"Jika bukan seperti ini, bagaimana seorang dokter memberi resep obat di tempatmu?" Glenn ingin tau.


"Di kebanyakan negara di dunia kami, obat yang disediakan rumah sakit dan diresepkan dokter adalah obat pabrik yang sudah berbentuk pil, kapsul, tablet, sirup ataupun injeksi. Jadi kami tidak tau bahan asli yang ada di dalam obat," aku dokter Chandra dengan jujur.


"Wahh, hebat sekali. Jadi dokter tinggal meresepkan obat untuk satu penyakit dan penderita tinggal mengambil obatnya yang sudah siap minum? Tak perlu susah merebus dan lama ya?" Glenn benar-benar tak menyangka.


Lalu dia bertanya seperti apa itu obat pil, kapsul bahkan injeksi, membuatnya terkejut.


"Disuntik?" tanyanya makin bingung.


"Obat itu bentuk cairan, lalu dimasukkan dalam tabung. Diujung tabung ada jarum halus berongga untuk tempat obat keluar. Jarum itu ditusukkan ke pembuluh darah, lalu obat cair didorong masuk ke dalam darah. Itu namanya injeksi, obat disuntikkan dengan jarum langsung ke dalam darah."


Dokter Chandra menjelaskan dengan sabar semua pertanyaan Glenn.

__ADS_1


***


__ADS_2