
Di sebuah ruangan yang bersih dan luas. Seorang pria muda berbincang dengan pria tua sambil sesekali menoleh pada tubuh yang tergolek lemah penuh perban. Bahkan wajahnyapun tak luput dari luka bakar.
"Baiklah. Lakukan yang terbaik yang kau bisa."
Pria itu menoleh sekali lagi ke ranjang, lalu melangkah pergi. Pria tua itu lalu berbicara dengan seseorang lainnya, kemudian ikut pergi juga.
Orang itu menyiapkan obat yang diinstruksikan oleh si pria tua. Dia harus menjaga wanita tak dikenal ini dengan baik.
Wanita yang menarik. Meski kulitnya melepuh terbakar, tapi saat dia membantu menggantikan pakaian, dia tau wanita tak dikenal ini punya kulit yang bagus. Warnanya lebih terang dari orang-orang di negara ini. Matanya juga unik. Dari negara manakah dia? Pelayan kecil sepertinya tak tau luasnya dunia.
Tepat saat obat selesai diracik, pria tua itu kembali.
"Obatnya sudah selesai?" Tanya pria tua.
"Sudah tabib," jawab pelayan wanita itu.
"Bawa kemari," kata tabib.
Dia duduk di sisi pembaringan. Pelayan wanitanya membawa nampan dengan 2 mangkuk yang terlihat berbeda isinya. Ada sebuah sendok juga di situ. Nampan diletakkan di meja kecil dekat tabib.
"Angkat tubuhnya sedikit," perintah tabib pada pelayan.
Pelayan wanita itu duduk di sisi kepala pasien. Diangkatnya tubuh bagian atas wanita pingsan itu dan menyandarkan pada tubuhnya. Kepala pasien itu terkulai lemah. ke arah ke samping.
"Bantu buka mulutnya."
Tabib memegang sendok berisi obat di tangan kanannya. Pelayannya membantu membuka sedikit mulut pasien agar obat bisa masuk. Tabib menyuapkan obat cair di srndok itu ke dalam mulut pasien. Tak menunggu lama, pasien itu terbatuk-batuk. Matanya melotot.
Uhukk.. uhukk..
Dia berusaha batuk dengan keras agar tenggorokannya menjadi lega dari rasa pahit yang begitu lekat.
Tapi tabib justru menyodorkan mangkuk kecil berisi obat pahit itu ke hadapannya. Dia menggeleng, menolak untuk minum.
"Kau harus minum ini jika ingin segera sembuh." Perintah tabib dingin.
Pelayan memaksa membuka mulut pasien yang terlalu lemah untuk berontak. Akhirnya semangkuk obat yang luar biasa pahit itu habis masuk ke lambungnya.
"Sialan, obat apa ini? pahit dan lambungku jadi seperti terbakar."
Silvia menggeliat jatuh ke pembaringan, memegangi perutnya yang sakit. Rasa terbakar itu kemudian memberi sensasi mual yang makin lama makin sulit dibendungnya.
Ketika Silvia sudah ingin muntah, pelayan wanita itu seakan tau. Dia sudah siap dengan wadah untuk menampung muntahan tersebut. Silvia mengeluarkan semua cairan pahit dari perutnya.
Setelah tak ada lagi yang bisa dikeluarkan, Silvia kembali berbaring lemah. Lebih lemah dari sebelumnya. Wajahnya pucat dan berkeringat sebesar-besar biji jagung. Tubuhnya terasa dingin.
"Keringat dingin begini seperti sensasi ingin muntah. Tapi tak ada apapun lagi yang bisa ku muntahkan." Silvia bergumam lemah.
Pelayan wanita menghampirinya dengan selembar kain lembab dan menyeka bekas muntahan dari mulutnya. Silvia tak bereaksi. Tapi saat tubuhnya kembali didudukkan, dia cemas lagi.
'Aku akan dicekoki obat apa lagi kali ini?' pikirnya putus asa. Tubuhnya benar-benar tak bertenaga. Seperti boneka mainan tanpa daya.
"Perutmu sudah bersih. Sudah siap untuk obat ini. Ayo minum."
Tabib menyodorkan sesendok obat lain ke depan Silvia. Pelayan sigap membantu membuka mulutnya. Sesendok obat itu meluncur melewati tenggorokan dengan leluasa.
"Rasanya dingin," gumam Silvia. Matanya berkedip-kedip tak percaya.
"Kau pasti menyukai rasanya. Sekarang habiskan ini." Tabib menyodorkan sisa obat di mangkuk.
Silvia meminumnya dengan sukarela. Obat itu menghilangkan semua sensasi perih, panas terbakar dan rasa mual yang membuatnya berkeringat dingin. Sekarang lambungnya tenang dan dingin.
__ADS_1
Obat sudah habis. Pelayan membaringkan tubuhnya sedikit tinggi dengan menumpu pada bantal di punggungnya.
Pelayan itu pergi membawa nampan dan tempat muntahannya. Tabib itu tersenyum, lalu memeriksa denyut nadi tangannya.
Silvia dapat merasakan tubuhnya menghangat. Keringat dingin itu sudah hilang. 'Ini lebih baik' batinnya.
"Selain kelaparan, kurang cairan serta luka-luka bakar dan beberapa lebam membiru, pada dasarnya kau tak punya penyakit lain. Kau sangat sehat. Jadi aku akan fokus untuk menyembuhkan luka bakarmu agar tak meninggalkan bekas yang buruk."
"Jadi jalani proses perawatanmu dengan sabar di sini. Kau akan menjadi manusia baru setelah keluar dari sini." Tabib itu berkata penuh percaya diri.
"Siapa yang menolongku?" tanya Silvia.
"Ah, seorang tuan yang kaya raya. Kau akan bertemu dengannya setelah sembuh. Jadi kau bisa berterima kasih sendiri padanya. Dia bersedia membiayai pengobatan orang yang ditemukannya di jalan, sangat sulit menemukan orang srperti itu." Tabib itu terlihat kagum.
"Satu jam lagi kau bisa makan. Kau butuh tenaga. Sekarang istirahatlah." Tabib itu bangkit dan berlalu meninggalkan ruangan.
Silvia mengambil waktu istirahatnya dengan baik. Dipejamkannya mata sejenak dan segera tertidur pulas.
Pelayan masuk membawa nampan makanan. Dia mendengar dengkur halus dan teratur dari pasien. Diletakkannya nampan di meja. Diperhatikannya wajah yang mulai berwarna itu dengan gembira.
"Nona, bangun. Makanan anda sudah siap."
Merasa tangannya digoyang-goyang, Silvia terbangun. Dilihatnya pelayan wanita tadi duduk di tepi tempat tidur.
"Waktunya makan."
Ditambahnya bantal di punggung Silvia agar posisinya lebih nyaman. Silvia membiarkan. Pelayan itu mulai menyuapinya bubur pelan-pelan.
'Rasanya enak' batin Silvia.
Diliriknya mangkuk di tangan pelayan. Itu tampak seperti bubur ayam encer yang juga dicampur potongan kecil sayuran. Itu bagus untuk pencernaan yang sudah berhari-hari tidak diisi. Silvia makan dengan lahap. Pelayan itu senang melihat makanan yang dibuatnya dihabiskan dengan cepat.
"Bubur ini enak sekali. Terimakasih." Ucap Silvia sopan.
"Ini minuman anda. Saya tinggalkan di sini," katanya sebelum membawa nampan dan mangkuk kosong pergi.
Silvia melirik cangkir di meja. Segelas air rendaman kurma.
"Hemm.. segelas minuman penambah energi."
Silvia meneguk sedikit minuman itu. Wajahnya tampak puas. Lalu dia kembali bersandar pada bantal.
"Bagaimana dengan anggota tim yang lain? Apakah mereka ditolong orang lewat juga?"
Ingatan tentang teman-temannya membuatnya kembali sedih.
"Aku harus segera sembuh, agar bisa mencari mereka." Silvia bertekad kuat.
Silvia membuat beberapa perencanaan untuk langkah-langkah yang akan diambilnya nanti setelah selesai menjalani perawatan. Pertama dan terpenting adalah berterima kasih pada pria yang telah menolongnya itu.
*****
Seorang pria tergolek lemah di sebuah dipan kayu tua, dalam gubuk jerami yang tak kalah tuanya. Pria itu terbatuk-batuk sambil sesekali meringis saat tangan seorang wanita muda mengoleskan obat hijau kehitaman pada luka robek di perutnya.
Setelah proses pemberian obat selesai, gadis itu menyodorkan mangkuk gerabah.
"Obatmu," katanya kaku.
Pria itu menerima mangkuk obat itu dan meminumnya hingga habis. 3 hari ini dia hanya diberi makan ikan bakar dan obat yang sangat tidak enak. Tapi melihat gadis itu merawatnya dengan susah payah, dia tak ingin bersikap manja atau protes. Dia bersyukur karena telah diselamatkan oleh gadis nelayan itu saat terapung-apung di tengah lautan.
"Hai.. namaku Leon. Bagaimana aku harus memanggilmu?" Sapa Leon hangat.
__ADS_1
Sudah sejak awal Leon mengajaknya bicara. Tapi gadis itu tak menjawab sepatah katapun. Bahkan tak pernah mau menyebutkan namanya.
"Baiklah. Jika kau tak ingin mengatakan namamu, biar aku memanggilmu Jane saja. Oke?" Leon tak kehabisan akal.
Gadis itu tak merespon. Dia berdiri dan keluar dari pondok.
"Hah.." Leon menghembuskan nafas untuk membuang kesalnya.
"Bagaimana dengan anggota tim lain? Adakah yang seberuntung aku ditolong orang?"
"Seingatku, lautan itu sangat luas. Setelah perahu kami berbenturan, kami terpencar ke berbagai arah. Suara terakhir yang ku dengar adalah teriakan Indra untuk meraih kayu perahu yang mengapung. Setelah itu kami terpencar mengikuti gelombang ombak. Jika bukan karena selembar papan perahu itu, aku pasti sudah tenggelam di lautan," gumamnya dengan pandangan bergidik ngeri.
"Aaakhhh!"
Terdengar teriakan dari luar pondok. Leon menolehkan kepala. Tapi tak terdengar lagi suara gadis itu.
"Lena! Ada apa?" Teriaknya dari pondok. Tak ada jawaban.
"Ah, bodohnya aku. Bahkan di hadapanku saja dia tak mau bicara selain mengatakan obatmu ."
Leon tak mendengar suara apapun dari luar pondok. Ini sunyi yang tak biasa. Dia khawatir terjadi sesuatu dan gadis itu mungkin butuh bantuannya.
Terseok-seok Leon berjalan keluar pondok. Tempat itu sunyi. Tampak tempat pengasapan ikan mengepulkan asap. Ladang garam itu sunyi.
"Dimana gadis itu?"
Leon berjalan menuju ladang garam. Dia melihat garis-garis dari ladang garam menuju ke arah rumah. Leon curiga. Dengan tertatih dia mempercepat langkah menuju rumah gadis itu. Pintu rumah terbuka sedikit. Dia bisa mendengar suara pergumulan di dalam.
Prangg! Suara benda pecah.
Leon tak sabar lagi. Dijangkaunya sebuah sekop kayu yang disandarkan di dinding rumah. Lalu menggebrak pintu hingga terbuka.
Dilihatnya gadis itu melawan dan menolak dilecehkan dibawah tindihan pria besar dan kasar itu.
Prakk!
Leon menggepruk punggung pria itu dengan sekop kayu. Pria itu terkejut dan menoleh ke belakang. Tak menyangka ada orang lain di tempat itu. Dia berbalik menghadap Leon.
"Siapa kau?" teriaknya kasar.
"Aku adalah penjaganya. Kau tak bisa bersikap semaunya di sini." Jawab Leon percaya diri.
"Dasar ******. Kau menyimpan pria lain saat aku pergi hah?" Sebuah tamparan melayang dan wanita itu jatuh tersungkur ke lantai. Tubuhnya gemetar ketakutan.
"Berhenti!" teriak Leon marah.
"Aku suaminya. Aku akan membereskan dia dulu, setelah itu giliranmu." Pria itu menghampiri istrinya yang meringkuk di lantai.
Leon terkejut tak menyangka mendengar kata-kata itu. Dia hampir saja mundur saat kembali melihat perbuatan keji pria itu di depannya.
"Suami macam apa kau. Sekasar itu pada istrimu? Lepaskan dia!" Kemarahan Leon memuncak melihat pria itu memukuli istrinya bertubi-tubi sambil memaksakan kehendaknya.
"Binatang kau!"
Prakk!
Leon memukulkan lagi sekop kayu di tangannya. Kali ini kepala pria itu jadi sasaran. Darah mengucur deras. Pria itu jatuh tertelungkup di atas tubuh istrinya yang terbaring di lantai setengah sadar.
Leon menarik tubuh pria besar itu. Mendorongnya ke samping. Diambilnya sehelai kain untuk menutupi tubuh wanita itu. Diangkatnya wanita yang setengah sadar itu ke atas pembaringan. Dibiarkannya di situ. Dia harus membereskan pria itu lebih dulu.
Diseretnya pria itu keluar ruangan. Dibawanya ke pondok jeraminya. Pintu ditutup. Kemudian hanya ada teriakan dan caci-maki Leon seorang dan suara gedebak-gedebuk dari dalam sana.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, pondok jerami itu kembali sunyi.
*****