
"Tuan Mustafa?" gumamnya bingung.
'Bukankah tuan ini baru kembali dari kota yg akan mereka tuju? Celaka! Aku salah periksa gerobak orang lain!'
Leon lemas seketika. Tuan Ammar baru memperkenalkan anggota kafilahnya pada Mustafa. Dan dia sudah merusak nama baik saudagar kaya itu.
Leon hanya bisa menunduk menyesali kesembronoannya. Padahal, Jane sudah mengingatkannya.
"Coba katakan apa maksudmu dengan tuduhan aku menculik temanmu." Suara Mustafa datar n tajam.
Tapi menurut Leon, pria itu tidak sepenuhnya tenang. Dia terlihat berusaha keras untuk tidak memperlihatkan emosinya.
"Maaf tuan. Saya salah sangka. Setelah melihat anda, saya yakin bukan anda yang menculik teman saya."
Leon berkata dengan suara yang lemah. Dia menunduk dan benar-benar menyesal telah salah menuduh.
"Temanmu diculik? Kapan?" selidik Mustafa santai.
"Saya melihatnya di dalam kerangkeng salah satu gerobak. Di persinggahan terakhir, sebelum ke sini. Kemarin malam. Itu sebabnya setelah melihat tuan, saya tau telah keliru menuduh anda. Maafkan saya."
Leon mengatakan yang diketahuinya dengan jujur. Dia bahkan menyesali, karena tidak langsung mengenali temannya dan menolongnya lari malam sebelumnya.
"Jika aku membantumu untuk melihat seluruh gerobak di sini, bisakah kau bisa mengenalinya?" tanya Mustafa.
Leon langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ditatapnya Leon dengan pandangan tak percaya.
"Saya bisa mengenalinya! Apa Tuan bersedia membantu saya?" mata Leon berbinar-binar.
"Membantumu? Tidak! Aku akan membantu temanmu!" katanya tegas.
Pria tanpan itu segera berdiri dan memakai mantelnya dengan cepat.
"Ayo!" serunya.
"Ya!"
Leon berjalan di belakang, mengiringi Mustafa. Penjaga dan 2 pengawal mengikuti mereka.
Dengan mengandalkan nama dan kekuasaannya, Mustafa bisa melihat semua gerobak diparkir di lapangan terbuka itu.
Hampir 2 jam memeriksa, Tapi gerobak yang dimaksud Leon tidak juga ditemukan. Leon semakin cemas. Sementara Mustafa sudah tak bisa menahan emosinya.
Dia mengerahkan lebih banyak penjaga untuk memeriksa hingga diluar area lapangan itu.
Leon agak tidak mengerti kenapa tuan Mustafa jadi sangat emosi. Dan para pengawalnya langsung berhamburan ke segala arah, memeriksa dengan lebih teliti.
Terdengar langkah kaki berlari...
"Tuan! Di sana...! Ada gerobak yang berusaha pergi!" teriak salah seorang pengawal.
"Kejar! Aku ingin tau, siapa yang berani melawanku!" Teriak Mustafa murka.
__ADS_1
Leon terbengong.
'Bukankah seharusnya aku yang sedang marah, di sini?' pikirnya.
Mustafa berlari mengejar dengan pedang di dalam genggaman tangannya. Leon juga ikut berlari di belakang Mustafa.
Lapangan luas itu hiruk-pikuk tengah malam ini. Semua keluar dan berjaga-jaga. Jangan sampai ada pencuri yang mengambil keuntungan dari kericuhan.
*
Di diantara semua orang, Jane yang tak tidur sepicingpun, duduk di gerobak dan menunduk lesu. Dia bisa mendengar jelas kata-kata kejar, dan bunuh yang diteriakkan dan derap kaki berlari.
Airmatanya menetes membayangkan Leon dikejar dan dihajar sepasukan pengawal. Dipeluknya selimut lebih erat, untuk mendapatkan kekuatan. Tubuhnya bergetar menahan luapan ketakutan dan kesedihan hatinya.
'Pria baik itu. Demi menolong orang, dia rela mengorbankan dirinya sendiri.... Apakah aku masih bisa melihatnya nanti?' batin Jane.
*
*
Di tempat lain...
Pengawal-pengawal Mustafa berhasil mendekati gerobak yang melarikan diri di malam buta. Ada 2 gerobak berpenutup yang terseok-seok karena dibawa berlari dengan cepat.
Mustafa terus mengejar dari belakang.
"Tuan, ini kuda anda."
Penjaganya menyusul dengan kuda dan seekor kuda lagi. Mustafa segera naik dan menggebah kudanya untuk mengejar 2 gerobak yang terus berupaya kabur itu.
"Haizz... aku sudah berbulan-bulan tidak joging. Sudah macam siput berlari saja," keluhnya dengan nafas berat.
Ditatapnya Mustafa dan penjaganya yang sudah semakin jauh dari pandangan.
"Hah... sudah tak mungkin dikejar lagi."
Leon menggeleng kesal, dan menunggu dengan cemas di sana. Matanya terus mengarah ke jalan, dimana Mustafa menghilang.
*
Di garis depan....
Seorang pengawal Mustafa akhirnya mendorong kuat gerobak yang terus dipaksa lari. Gerobak itu miring ke kiri dan
Brakkk! Jatuh terhempas dengan keras di tanah, sebelum terseret kuda yang akhirnya juga ikut jatuh ke tanah becek, lalu berhenti.
"Tahan dia!" teriak Mustafa.
Dia dan penjaga berkudanya mengejar gerobak depan yang berusaha untuk terus lari. Kecepatan lari kuda tanpa gerobak jelas berbeda dengan kuda penarik beban di depan sana.
Mustafa berhasil menyusulnya dengan cepat. Bersama penjaganya, mereka menghadang laju kuda dan mengacungkan pedang.
__ADS_1
Kuda di gerobak itu meringkik dan mengangkat kakinya ke atas. Dia berhenti tiba-tiba melihat kilauan pedang di bawah cahaya bulan. Kusir yang mengendalikan gerobak itu, jatuh terjungkal di tanah.
"Kuda sial!"
Sumpah serapah keluar dari mulutnya saat berusaha bangun.
Sebilah pedang tajam telah menempel di lehernya. Membuatnya terdiam sesaat. Tapi tidak lama.
Setelah melihat Mustafa duduk di atas kudanya, sepertinya keberaniannya bangkit.
"Apa yang kalian lakukan? Mau merampok?" tuduhnya marah.
"Kenapa kau pergi tengah malam begini?" tanya Mustafa dingin.
"Apakah ada aturan harus datang dan pergi jam berapa?" teriaknya galak.
Mustafa mencibir. Dia tak mempercayai ekspresi palsu yang ditunjukkan orang itu. Dihelanya kuda dan mendekati gerobak tertutup itu.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kau tidak berhak memeriksa barang-barangku!" teriaknya hendak menghalangi Mustafa.
Namun seorang penjaga lain telah tiba dan segera menggeledah serta meringkusnya. Dia disuruh berlutut di tanah dengan tangan diikat ke belakang. Tapi dia terus mengumpat, dan baru berhenti setelah dipukul oleh pengawal.
"Mulutmu kotor!" katanya sebal.
Mustafa menyingkap penutup gerobak itu. Betul, itu kerangkeng seperti yang dikatakan Leon. Tapi tak ada Silvia di dalam situ. Dimana dia? Namun Mustafa masih menemukan gelang yang dikatakan Leon, terselip diantara lantai kayu.
Mustafa memungutnya. Dia mengenali gelang itu sebagai salah satu hadiah yang pernah diberikannya. Mustafa berbalik dengan wajah memerah.
"Jika kau sayang nyawamu, katakan! Kau serahkan pada siapa istriku?!"
Wajah pria itu pias.
'Istri? Bukannya aku membeli budak yang dijual seorang nyonya?' pikirnya.
Mustafa menunjukkan gelang di tangannya pada pria itu.
'Oh, tidak! Aku ditipu wanita sialan itu. Dia ingin menyingkirkan saingannya dan menyeretku dalam masalah!' pikirnya panik.
"Kesempatanmu hanya satu kali. Jadi pikirkan baik-baik jawabanmu!" kata Mustafa dingin.
"Seorang nyonya menjual budaknya padaku. Aku tidak tau dia istrimu. Aku sudah menjualnya pada salah satu saudagar di sana sore tadi." Katanya jujur.
Pria itu tak berani macam-macam lagi sekarang. Kulit lehernya sudah teriris dan mengeluarkan darah tiap kali dia bicara. Dia berurusan dengan orang yang salah. Pria ini pasti orang berkuasa.
"Tunjukkan padaku orangnya!"
Penjaga Mustafa membawa org itu naik ke atas kudanya. Bersama Mustafa, mereka kembali ke lapangan tempat gerobak parkir.
"Bawa mereka kembali!" teriak penjaga itu dari atas kuda.
"Baik!" jawab para pengawal di sana.
__ADS_1
Mereka mengarahkan 2 gerobak itu untuk kembali ke lapangan. Kusir yang membawa gerobak hingga terjungkal juga sudah diringkus. Dan benar saja, masih ada 2 anak kecil di dalam kerangkeng itu.
******