PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 125. Kisah Tetua Klan Penyihir


__ADS_3

Saat pagi hari, Silvia, dokter Chandra, tabib Michfur dan asistennya sarapan bersama di ruangan khusus. di lantai satu. Mereka mendiskusikan kembali hal-hal tentang perawatan tetua.


"Apakah dokter sudah mengatakan bahwa tetua mengalami penyakit degeneratif?" tanya Silvia ingin tau.


"Ya, kami sudah menyampaikan bahwa semua yang dirasakannya umum diderita oleh orang tua. Kita juga mengatakan praduga tentang benjolan di ketiak dan lehernya. Kita sudah katakan tentang operasi pengangkatan jika itu terjadi di dunia kita. Bahwa operasi yang sama di sini, akan jadi sangat berbahaya mengingat usia dan ketahanan tubuhnya." Dokter Chandra menjelaskan.


"Jadi sekarang kita ngapain masih di sini?" tanya Silvia tak mengerti.


"Sementara ini kita melakukan perawatan seperti yang biasa tabib Cyrill lakukan. Itu untuk mengurangi rasa sakit tetua. Kita tunggu pangeran Edric mengantar kita kembali, karena memang tak ada yang bisa dilakukan lagi." Dokter Chandra mengangkat tangannya tanda menyerah.


Seorang pelayan masuk ruangan.


"Dokter, anda diminta menemui tetua jika sudah selesai sarapan."


"Oh, baiklah. Mari kita pergi."


Dokter Chandra bergegas pergi mengikuti pelayan itu. Mereka berjalan naik ke lantai dua, dimana kamar tetua klan penyihir berada. Penjaga membukakan pintu. Keduanya masuk dan memberi hormat.


"Dokter, tetua ingin bicara berdua dengan anda," kata pangeran Edric.


"Baik." Dokter Chandra mengangguk mengerti.


Semua orang di dalam ruangan berjalan keluar. Tinggal tetua dan dokter Chandra yang ada.


Tetua itu memanggil dokter Chandra untuk mendekat dengan isyarat tangannya. Dokter Chandra mendekati peraduan tua dan besar itu.


"Bawa bangku itu ke sini. Aku kan bercerita panjang padamu," perintah tetua. Matanya mengarah ke tempat tadi pangeran duduk.


Dokter Chandra mengangkat kursi itu dan meletakkannya di dekat tempat tidur.


"Duduklah... dan dengarkan.. ceritaku." Tetua bicara dengan nafas pendek-pendek.


"Jangan membuat diri anda lelah."


Dokter Chandra membantu pria tua itu duduk dengan nyaman. Sebuah bantal yang telah ditepuk-tepuk, ditambahkan ke punggungnya. Sebuah bantal lain diletakkan di bawah lututnya.


"Terima kasih.. dokter." Mata tuanya sangat teduh.


"Saya tau bahwa saya sakit tua. Ini memang sudah waktunya. Saya tidak berharap kesembuhan lagi. Saya justru ingin semua ini segera berakhir. Itu sebabnya tabib Cyrill hanya memberi ramuan untuk mengurangi rasa sakit yang saya rasakan." Tetua bicara dengan suara rendah dan lemah.


"Dan saya juga tau, karena hal itu anda mungkin tidak akan mendapat bantuan dari klan lain. Tapi saya punya kisah yang entah apakah ini bisa jadi petunjuk. Huk.. huk.."


Tetua terbatuk-batuk. Dokter Chandra membantu tetua duduk dengan bersandar pada tubuhnya, lalu mengusap-usap punggung tetua untuk memberi rasa nyaman.


"Anda orang yang baik. Cicit menantuku Felix beruntung bertemu dengan anda yang bisa menyelamatkan nyawanya. Aku bisa melihat cahaya bahagia di mata Leonora dan Edric. Jadi anggap saja cerita ini sebagai hadiah karena telah menyelamatkan nyawa keluargaku."

__ADS_1


Tetua itu tersenyum lemah dan menyandarkan kembali tubuhnya pada bantal yang disusun di kepala tempat tidur. Dokter Chandra mengangguk dan tersenyum sopan.


"Aku.. bukan berasal.. dari.. dunia ini."


Dokter Chandra tersentak. Matanya membulat tak percaya. Tetua mengangguk untuk meyakinkan.


"Aku berasal dari dunia lain yang lebih maju dari ini. Yang hanya dengan memikirkan satu tempat, aku bisa langsung berpindah ke sana."


"Hah?!"


Dokter Chandra terperangah.


"Sihir anda hebat sekali. Tak heran anda menjadi tetua di klan ini." Puji dokter Chandra.


Tetua menggeleng.


"Itu bukan sihir. Itu memang cara bangsa kami berpindah. Semuanya bisa melakukan itu, bahkan anak kecil sekalipun. Itu mengandalkan kekuatan otak, pikiran, konsentrasi."


"Dunia kami berada diantara bintang. Kau tau, kami juga punya kemampuan terbang. Tapi tentu bukan terbang antara bintang. Untuk itu dibutuhkan alat teleportasi jarak jauh yang sangat rumit."


"Apakah alat teleportasi di dunia ini ciptaan anda?" tanya dokter Chandra takjub.


"Aku hanya memberi gambaran dan ide. Tetua lain yang memikirkan detailnya. Eh, jangan terus dipotong ceritanya. Nanti malah lupa pada hal yang ingin ku sampaikan." Tetua mengingatkan.


"Baiklah, saya akan mendengarkan dengan baik." Dokter Chandra menunjukkan rasa bersalah.


"Tapi aku sangat tertarik pada bintang-bintang. Hingga suatu hari aku menyelinap ke bangunan pemerintah yang paling tinggi, dengan harapan dapat melihat lebih banyak bintang dan lebih jelas."


"Hari itu sudah lebih 10 hari sejak penguasa menyampaikan bahwa bangsa kami diserang oleh bangsa lain dan beberapa dunia kecil lenyap dari kordinat. Sekolah di liburkan. Kami diminta tak berkeliaran dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk bergabung dengan pasukan untuk berperang."


"Itu kali kedua aku pergi menyelinap ke atas menara pengintai. Saudaraku adalah petugas pengintai saat itu. Aku mengikutinya."


"Awalnya semua terlihat seperti sebelumnya. Aku kagum pada cahaya-cahaya kecil benderang di langit itu. Hingga tiba-tiba menara terasa bergoyang. Bunyi sirine meraung-raung di seluruh kota. Semua lampu menyala terang. Beberapa prajurit sudah terbang ke atas untuk melindungi warga."


Tetua menghirup nafas panjang seperti meredakan gejolak hatinya.


Dokter Chandra mengambilkan air minum untuknya.


"Aku masih terkejut saat saudaraku berteriak dan melompat ke arahku. Kami terjatuh dari menara. Aku bisa melihat bintang-bintang yang ku kagumi datang mendekat dan menabrak dunia kami hingga hancur lebur. Seakan dunia kami itu magnet yang menarik segala benda angkasa."


Dokter Chandra memandang tak percaya. Matanya berkedip beberapa kali. 'Apakah ini science fiction?' pikirnya ragu.


Tetua tak menyadari ekspresi bodoh dokter Chandra karena dia sedang berusaha mengumpulkan semua ingatannya.


"Yang masih beruntung tak terkubur dalam reruntuhan, segera melayang terbang, menangis, berteriak histeris melihat kehancuran yang datang dalam sekejap. Aku mencoba mengirim transmisi suara menanyakan kabar beberapa saudaraku, tapi hanya 3 orang yang membalas. Kau tau, kami sejak kecil tinggal di asrama. Ada 100 orang anak yang dibesarkan bersama. Lalu aku kehilangan mereka semua dalam sekejap. Tapi ternyata itu belum apa-apa."

__ADS_1


Tetua menunduk. Bahunya berguncang pelan. 'Tampaknya dia menahan kesedihan mendalam' batin dokter Chandra. Digenggamnya tangan tua dan keriput itu.


"Tiba-tiba kami merasakan bahwa kami kehilangan kemampuan terbang dan terjatuh dalam jurang kehampaan yang sangat dalam seakan tersedot sesuatu. Beberapa prajurit menggila mengira dirinya ditarik musuh, lalu menyerang sekeliling secara membabi buta. Maka sebagian lainnya akhirnya tewas dalam kehampaan di tangan bangsanya sendiri. Akupun hampir tewas, jika bukan saudara yang bersamaku di menara tidak mendorongku menjauh. Tapi dirinya sendiri justru tidak selamat. Cahaya matanya menghilang dalam pelukanku."


Dokter Chandra menunduk sedih.


"Entah berapa lama aku terjatuh sambil terus memeluknya, hingga tiba-tiba aku tercebur di air. Saat aku tersadar, aku sudah berada di sebuah pondok kecil seorang nelayan. Setelah melihatnya, aku segera tau bahwa dia bukan bangsa kami. Aku menanyainya tentang saudaraku, aku mengira bangsanya yang menyerang bangsa kami. Aku bahkan memukulnya dalam kemarahanku. Dia terus mengatakan sesuatu yang tak ku mengerti."


"Hari berikutnya setelah tenagaku pulih, dia menarik tanganku menuju pantai. Terus saja menunjuk ke laut luas sambil bicara bahasa yang asing. Aku tak mengerti bahasanya, tapi aku bisa mengira apa maksudnya. Mungkinkah saudaraku masih terapung di laut? Seketika aku terbang menuju laut. Mengitari tempat yang ditunjuknya. Mencari ke sana ke mari tapi tak menemukan apapun. Aku kembali ke pantai menemui nelayan itu untuk bertanya tentang maksudnya. Tapi dia sudah pingsan di pantai."


Dalam satu bulan aku terus memeriksa sepanjang bibir pantai. Tetap tak menemukan jasad saudaraku itu. Tapi dalam perjalan kembali ke tempat nelayan itu, aku melihat bias cahaya di tengah laut. Semula aku tak memahami itu apa. Tapi setelah mendengar kisah anda, aku memiliki pemikiran. Mungkin saja itu gerbang dimensi lain. Tapi aku tak tau dunia apa yang ada di baliknya. Juga tak tau apakah bias cahaya itu masih ada di sana atau tidak. Sudah lebih 1000 tahun yang lalu kejadiannya."


"Apa? 1000 tahun?"


Dokter Chandra tak percaya. Matanya membulat.


Tetua menghembuskan nafas lega setelah menyelesaikan ceritanya. Dia mengabaikan ketidak percayaan dokter Chandra.


"Aku tau anda tak kan mempercayai hal itu. Itu sebabnya orang-orang di sini hanya mengatakan 200 tahun pada orang asing. Tapi coba lihat dulu mataku," perintah tetua.


Dokter Chandra mematuhi dan melihat tepat ke mata tetua. Lalu dia segera mundur saat melihat mata itu mengeluarkan cahaya putih susu.


"Aku masih bisa terbang, tapi itu akan menghabiskan energiku yang tersisa. Tapi bila aku membuatmu terbang, anda mungkin akan menganggap itu sihir. Aku tak punya sihir. Tapi istriku dari klan penyihir. Dan berbagai kemampuan serta pengetahuanku, dianggap sebagai sihir di dunia ini. Anak-anakku masih memiliki sebagian kemampuanku serta umur yang panjang. Tapi sampai giliran Edric dan Leonora, mereka harus belajar keras agar punya kemampuan lebih untuk mendukung bakatnya."


Lautan dan pantai tempat aku jatuh dan terdampar dulu itu, ada di negara yang dikuasai klan kurcaci biru. Saya rasa tempat itu masih ada. Anda bisa cari tau sendiri. Sudah bertahun-tahun saya tidak melihat dunia luar.


"Terima kasih informasi tetua. Lalu apakah tetua tau tentang cermin portal antar dunia itu?" tanya dokter Chandra.


Tetua menggeleng.


"Jika cermin itu berasal dari bangsaku, maka artinya itu bukan keahlianku, karena aku sendiri tak mengerti. Jadi mungkin saja itu milik bangsa lain yang ikut hancur lebur saat kekacauan bintang itu terjadi."


"Apakah anda pernah melakukan perjalanan melintasi dunia dengan cermin itu?" tanya dokter Chandra.


"Aku kerap melewatinya untuk mengajari anak-anakku dulu. Mereka harus tau bahwa dunia itu bermacam-macam. Tapi..." Tetua mengerutkan keningnya memikirkan sesuatu.


"Rasanya ada yang aneh. Jika kalian mengatakan bahwa dunia kalian sangat maju, bahkan ada alat angkut besar yang bisa terbang di udara antar negara. Kenapa Felix mengatakan bahwa dunia yang dia masuki terlihat seperti dunia dengan peradaban yang ketinggalan jauh dari dunia ini? Dia yang belakangan sering pergi ke sana." Tetua masih tidak bisa memahami.


"Mungkinkah, selain berpindah dunia, juga berpindah ke waktu lampau?"


Dokter Chandra bergumam. Tapi gumamannya masih terdengar oleh tetua.


"Aahh.."


Keduanya lalu berpandangan. Mata tetua berkilat dan sinar putih susu muncul samar-samar.

__ADS_1


*****


__ADS_2