PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 287. Kehabisan Makanan.


__ADS_3

Keesokan pagi.


Para tahanan masih belum diperkenankan beraktifitas di luar. Jadi Dean, Alan dan Michael memutuskan untuk kembali bermain di depan sel Alan. Mereka bermain dengan seru. Michael paling sering kalah dan kena sentil. Dahinya sudah memar merah. Tapi dia justru yang semangat untuk membalas, namun kalah lagi.


Para penjaga dan beberapa tahanan lain hanya menggeleng melihat permainan yang menurut mereka sangat kekanakan.


Tapi yang membuat Dean, Alan dan Michael merasa senang bukanlah karena permainan itu. Namun keputusan Penguasa Cahaya untuk bergabung dengan tim Dean. Mereka sedang menyusun rencana pelarian.


"Kalau dari pengamatanku selama berada di luar. Kompleks ini lumayan luas. Memiliki batas area yang mungkin dipasangi penghalang untuk menghadang para pencuri," urai Alan.


"Apa kita menunggu pintu kembali dibuka, baru melakukan aksi?" tanya Michael.


"Baiknya aku tanyakan dulu pada penguasa. Mungkin saja beliau punya rencana lain," ujar Dean.


"Kenapa kau tidak langsung menanyakannya tadi malam?" kritik Alan.


"Karena keputusan itu baru disampaikan dini hari tadi. Setelah itu beliau hanya memberi beberapa nasehat." Dean menjelaskan.


"Jadi sekarang kita mau ngapain lagi?" tanya Michael.


"Tidak ada. Kita tunggu keputusan Penguasa saja," ujar Dean lagi.


"Kenapa begitu? Harusnya kita cari cara dulu. Lalu ajukan pada penguasa, agar beliau menilainya," protes Michael.


Dean menggeleng. "Tapi kita kan tak tau keadaan di sini. Tak tau lingkungannya seperti apa. Lalu mau membuat rencana yang bagaimana? Lagi pula, kita juga dikurung di gedung bersama yang lainnya."


"Ku rasa, sebaiknya Alan memeriksa lagi ke sekitar. Mungkin ada sedikit petunjuk," saran Michael.


"Penguasa bilang, Hu Da mungkin juga ikut menyelidiki hal ini. Dan dia biasanya tak banyak menggertak. Tapi setelah yakin, dia akan langsung menarik orang yang dicurigai dan menghabisinya. Kita dilarang memancing kecurigaan. Bisa saja jebakan sudah dipasang di mana-mana."


Dean kembali menambahkan.


"Jika kita diminta melakukan tugas lagi, jangan terlalu menonjolkan kemampuan kita. Nanti orang itu curiga. Usahakan kalung kita jangan sampai terlihat. Aku menyimpan kalungku di dekat dada. Widuri menjahitkan kantong penyimpanannya tadi pagi."


"Kalau begitu, kami juga harus segera menyembunyikannya!"


Alan berdiri dari duduk.


"Aku bosan bermain begini. Kalian lanjutkan sajalah berdua."


Alan masuk ke dalam sel. Meminta Marianne untuk membantu menjahitkan kantong untuk kalung itu pada bagian dadanya agar tidak terlihat.


Alan berolahraga sendirian di dalam selnya. Hingga Michael juga kembali setelah bosan bermain.


Tak lama kemudian, pintu-pintu sel ditutup otomatis. Michael juga meminta hal yang sama pada Niken. agar menjahitkan tempat untuk menyimpan kalung di bagian dalam bajunya.


"Kau sudah selesai?" tanya Michael.


Alan mengangguk malas. "Hemm."

__ADS_1


"Apa kau sudah mendapatkan stok air minum dari Dean?" tanya Alan.


"Ya. Sini kalungmu, agar ku pindahkan," ujar Michael.


"Alan, menurutku kita tak bisa terlalu lama di sini ...."


"Aku juga tak mau lama-lama terkurung." Alan memotong kata-kata Michael.


Michael menggeleng. "Maksudku, teman-teman kita di dalam. Berhari-hari mereka tak melihat matahari dan ternak yang kau curi serta kuda Leon juga Cloudy. Mereka mungkin bisa sakit."


"Kau benar. Itu sebabnya aku terus mencari cara untuk mengetahui keadaan di luar. Aku benci dikurung!"


"Aakkhhh! Harusnya ku ledakkan saja semua gedung mereka. Aku benci pengkhianat itu!"


Teriakan Alan menggema di pikiran Michael.


"Bagaimana keadaan Robert dan Sunil?" tanya Michael.


"Mereka sudah pulih. Robert mengingat orang yang menyiksa dan merampas pisau komandonya. Dia akan membalas perbuatan orang itu!"


"Bukankah kekuatan Jenderal So bisa ditekannya? Bagaimana Robert mau membalas?" tanya Michael heran.


"Robert adalah tentara. Dia punya kemampuan sendiri. Jika jiwa Jenderal So lemah, maka biarkan saja. Kekuatan sebenarnya adalah kebulatan tekad. Skill dan fisik dan kecerdasan adalah penunjang keberhasilan!" ujar Alan berapi-api.


Michael menatap Alan takjub.


"Sesaat aku mengira Robert yang bicara."


"Xixixiii," Michael tertawa kecil.


Kemudian perhatian keduanya teralihkan. Pintu sel berbunyi. Dua nampan makanan dimasukkan. Makan malam sudah datang. Dan itu hanya bubur gandum. Sama seperti menu tadi pagi.


"Mereka kehabisan makanan. Tapi tak mungkin membiarkan tahanan kelaparan. Akan timbul pemberontakan," ujar Michael.


Wajah Alan berseri-seri.


"Aku tak tau kalau kau sangat cerdas. Apakah karena ada jiwa Penasihat Ma? Apakah dia yang mengajarimu belakangan ini?" goda Alan.


Michael kebingungan dengan maksud perkataan Alan.


"Apa sih? Ngomong gak jelas banget!"


"Hehehehe ...."


Alan terkekeh. Dia mendapat ide cemerlang dari Michael.


"Bagaimana kalau kita hasut tahanan lain untuk memberontak?"


Alan mengirim pesan transmisi pada Michael. Sebelah alis matanya bergerak naik turun dengan jenaka.

__ADS_1


"Kau pasti sudah tak waras."


Michael menggerutu. Dia mulai menyuap buburnya pelan-pelan.


"Ahh, andai saja para wanita bisa memasak di dalam ruang penyimpanan. Maka kita bisa punya lauk tambahan," gumam Michael.


"Hah! Kenapa tak dicoba? Aku mencintaimu, Michael."


Alan meraih kepala Michael dan menciumnya.


"Kau menjijikkan. Pergi sana!" Hardik Michael kesal.


"Kau menumpahkan sebagian buburku!" omel Michael.


Tapi Alan tak mengacuhkan. Dia sedang sibuk berkomunikasi dengan Sunil.


Michael yang melihat Alan tersenyum penuh rahasia, hanya bisa menggeleng. Kelakuan temannya yang satu ini memang tak bisa diduga. Michael melanjutkan menikmati buburnya dengan tenang.


"Ini untuk tambahan isi perutmu!" Alan melempar sebutir buah apel ke arah Michael.


Setelah mengembalikan mangkuk ke dekat pintu sel, Michael naik ke bed atas. Dia duduk dengan menjuntaikan kaki ke bawah.


Alan memukul sepatu Michael.


"Tak sopan! Sepatumu tepat di depan mukaku!" omel Alan.


Michael menggeser duduknya. Dia menikmati buah apel yang terasa agak kecut itu. Diperhatikannya buah itu, lalu menggeleng.


'Alan mengambil apapun, termasuk buah yang belum matang,' batinnya. Tapi dia terus menggigit dan mengunyah apel itu hingga habis. Perutnya lumayan penuh sekarang.


Michael tiba-tiba melongok ke arah bawah. Alan sejak tadi diam tak bersuara.


"Apa kau ti ...." Michael melotot ke arah Alan yang sedang makan bubur dengan lauk telur dadar.


"Dari mana kau mendapatkannya? Kau tak membaginya denganku," protes Michael.


"Aku sudah membagimu apel kan," jawab Alan tanpa rasa bersalah. Dia asik menikmati bubur lezatnya.


"Huh!" Michael kembali ke posisinya dengan muka cemberut. Dia merasa dikerjai.


Sel itu kembali sunyi. Michael merebahkan dirinya di tempat tidur. Alan baru meletakkan mangkuk bubur, ketika penjaga berpatroli melewati sel.


"Michael, Marianne dan Jane ternyata bisa memasak di dalam sana. Kau bisa beritahukan itu pada Niken. Jadi kalian tak kan kelaparan lagi."


Suara Alan menggema di pikiran Michael. Dia sedikit terkejut. Ternyata gumamannya tadi yang membuat Alan gembira. Michael tersenyum sendiri. Baguslah kalau begitu.


Hal ini juga harus dikabarkan pada Michael. Jadi semua anggota tim bisa makan dengan benar.


******

__ADS_1


Masih 1 bab ya. Othor masih kurang enak badan


__ADS_2