
Menjelang pagi, Alan sadar dan duduk di dipan kayu. Di kanannya ada Sunil yang diam tak bergerak. Di sisi kirinya ada Dean yang sedang tidur pulas.
Alan kemudian mengingat apa yang sudah terjadi. Dengan cepat diperiksanya keadaan Sunil. Tubuhnya sudah bersih dari luka bakar, tapi dia masih belum sadarkan diri.
'Harusnya dia hanya terkena sedikit sambaran petir, tapi kenapa belum sadar juga?' batin Alan gugup.
"O, sadarlah O.. Sunil.. bangun.. Maafkan aku. Ayo bangun.." Alan menggoyang-goyang tubuh Sunil untuk membangunkannya.
"Hussttt.. Berisik. Aku baru tidur." Dean mengoceh tanpa sadar. Dia membalikkan badan dan memunggungi Alan dan Sunil lalu lanjut tidur lagi.
Alan terpaku. Dia gelisah dan khawatir terjadi sesuatu pada Sunil. Lalu dia turun dari dipan kayu dan keluar kamar. Tampak Michael berjaga sambil terkantuk-kantuk. Alan mengambil gelas, menampung air dari tempayan. Menenggaknya hingga habis. Tubuhnya terasa panas dan butuh segera didinginkan.
Ditampungnya lagi secangkir air. Alan berbalik membawa air itu untuk Sunil.
"Ah, Alan. Syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana dengan Sunil?" tanya Michael yang terjaga setelah mendengar beberapa suara.
"Dia belum sadar. Aku harus memberinya minum lagi. Pasti tubuhnya kepanasan di dalam," kata Alan sambil berlalu ke kamar.
Michael tercenung.
'Bukankah keadaan Alan jauh lebih parah dari Sunil. Kenapa Sunil masih belum sadar juga?' pikirnya dengan sedikit kekhawatiran.
"Aku lapar, apakah masih ada makanan?" Alan kembali dan memeriksa meja.
Michael menggeleng ragu.
"Coba lihat dekat perapian. Para wanita masak sup tadi malam. Mungkin masih ada."
Alan memeriksa panci yang diletakkan dekat perapian. Dibukanya tutup panci. Benar saja, masih ada sedikit sup yang terjaga hangat di dalam panci itu. Alan segera menuangkan ke dalam mangkuk kecil. Ini cukup untuk mengganjal lapar malam ini.
Alan menarik bangku dan duduk selang satu bangku dari Michael. Diletakkannya mangkuk di meja dan mulai makan dengan nikmat. Tak dipedulikannya tatapan penuh tanda tanya dari Michael.
"Kalau kau mau mengomel, tunggu aku selesai makan dulu. Aku lapar sekali," ujar Alan tanpa mengangkat pandangannya dari mangkuk.
Michael hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa berbedanya sikap Alan saat ini dengan petang kemarin. Sekarang dia tenang, serius dan sensitif. Kemarin nakal dan nekat seperti bocah labil.
'Apakah dia punya kepribadian ganda?' batin Michael heran.
Alan berdiri dan membawa mangkuknya ke tempat cuci piring. Bahkan panci sup juga dibersihkannya sekalian. Lalu dia mengisi air ke teko dan memasaknya di atas perapian batu.
"Sekarang tanyalah apa yang kau ingin tau." Alan kembali duduk dekat Michael.
"Siapa bilang aku ingin bertanya?" Michael bertanya balik.
"Huh" Alan mendengus.
"Atau mungkin kau pikir aku gila? Berkepribadian ganda, begitu?" Alan memandang Michael yang terkejut dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Apa kau bisa membaca pikiran orang?" Michael terheran-heran. Tubuhnya mundur tanpa disadari.
"Hehehee.. Melihat reaksimu, berarti tebakanku benar." Alan tersenyum dengan rasa puas, sebab bisa menebak isi hati orang dengan tepat.
Michael tak dapat berkata-kata. 'Sekedar tebakan? Siapa yang mau kau bohongi?' gerutu Michael dalam hati.
"Jangan menggerutu dan mengumpat dalam hati. Aku ada di depanmu. Jadi katakan saja terus terang." Alan meregangkan tubuhnya dengan malas.
"Hah?!" Michael terperanjat.
"Lupakan. Sekarang Sunil bagaimana? Apa dia akan baik-baik saja? Ku rasa, kau bisa sembuh lebih cepat itu karena bantuan Yoshi." Kata Michael.
"Yoshi? Dia kesini? Dia membantuku? Bagaimana caranya? Kenapa Sunil tidak dibantunya juga?" Alan duduk dengan tegak dan bersikap serius sekarang.
"Yoshi ada di kamar para wanita. Dia memiliki kekuatan penyembuhan. Tapi setelah mengobatimu, dia kehilangan kekuatannya. Dia bilang biasanya butuh waktu seminggu agar kekuatannya pulih lagi. Itu kenapa dia tak bisa membantu Sunil dan Dean." Michael menjelaskan panjang lebar.
"Kekuatan penyembuhan? Itukah sebabnya dia berumur panjang?" gumam Alan.
"Apa katamu?" tanya Michael yang tak mendengar jelas omongan Alan.
"Bukan apa-apa." Alan menggoyang tangannya.
"Aku hanya sedang berpikir."
"Kau pergilah tidur. Biar aku yang berjaga." Kata Alan.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Michael. Alan mengangguk tegas.
Alan menunduk tak menjawab. Dia sudah tau kesalahannya dan juga sedang cemas dengan keselamatan Sunil.
Ada beberapa kemungkinan berkelebat dalam pikiran Alan. Antara jiwa O yang terkena efek kejut petir hingga dia tertidur panjang. Atau organ vital Sunil mengalami cedera dan luka dalam hingga membuat fisiknya koma.
"Cerobohnya aku!" Z mengetuk-ngetuk meja dengan keningnya.
"Bagaimana aku bisa lupa bahwa kami hanyalah jiwa yang menggunakan tubuh manusia biasa yang lemah begini."
Alan mengalami perang batin hingga tak menyadari bahwa Michael sudah lama masuk kamar. Tiba-tiba telinganya menangkap desiran suara halus yang aneh. Jari telunjuknya segera mengarah ke sebelah kanan. Seberkas cahaya merah melesat dari ujung jarinya dan menyambar sesuatu di dalam kegelapan.
Blaarrr..! Zzttt..
Alan melesat cepat ke arah itu. Kini dia bisa mendengar suara desisan tertahan. Matanya yang bersinar merah, menyorot tajam ke balik dedaunan.
"Ada apa?" Michael bertanya dari pelataran. Dia baru saja ingin tidur saat mendengar suara ledakan.
"Ada sesuatu di sini. Aku sudah melukainya, tapi tak menemukannya. Bawakan obor ke sini." perintah Alan.
"Ada apa?" tanya Dean yang juga sudah keluar kamar.
__ADS_1
"Ada sesuatu di sana kata Alan." Michael membawa sebatang kayu api yang masih menyala. Dean membantu mencari. Tapi mereka tak menemukan apapun.
Yoshi, Nastiti dan Widuri ikut keluar kamar setelah mendengar keributan. Yoshi melesat cepat menghampiri ketiga pria yang sedang memeriksa semak belukar dekat pagar.
"Kalian mencari sesuatu?" tanyanya.
"Ya, tadi sepertinya ada sesuatu di sini. Aku melesatkan cahayaku dan aku yakin itu mengenainya." Jawab Alan.
"Bagaimana kau tau?" tanya Michael.
"Aku mendengar desisannya sesaat cahaya yang ku lesatkan sampai di sini." Jawab Alan yakin.
"Mendesis? Mungkinkah itu ular?" tanya Widuri yang sudah berada di dekat mereka.
"Baiknya dibabat saja seluruh semak ini." Usul Nastiti.
"Baiklah." Dean lalu menarik rumpun semak itu ke arah atas. Tak lama akarnya lepas, menyisakan tanah berantakan.
"Apa itu?" Yoshi menunjuk sesuatu di tanah becek berlumpur.
"Seperti bekas darah. Ku rasa serangan paman Alan benar melukainya." Yoshi berjongkok dan memperhatikan dengan serius. Matanya bersinar putih susu. Pandangannya kini mengarah ke pagar.
"Dia melarikan diri dengan melewati pagar ini. Ini jejak darahnya." Yoshi menunjuk sesuatu yang tak terlihat oleh siapapun.
"Matamu luar biasa jeli. Tapi aku tak melihat apapun," Kata Nastiti dengan tampang bodoh.
"Benarkah? Bagaimana dengan kalian paman? Apakah tidak bisa melihatnya juga?" tanya Yoshi ingin tau.
Alan menggeleng. Dean juga menggeleng meski sudah mengamati dengan seksama.
"Nah, karena hanya kamu yang bisa melihat jejaknya, jadi sebaiknya kau yang memeriksa di depan." Alan mendorong Yoshi untuk melanjutkan pemeriksaan.
"Ah, baiklah." Yoshi mengangguk.
Diikutinya jejak darah itu melewati tembok kayu pagar hingga keluar.
"Hei, kami tak bisa memanjat itu. Jadi kami jaga pondok saja," kata Michael.
"Oke. Michael kami serahkan mereka padamu," kata Dean.
Michael mengangguk. Dia kembali duduk di bangku depan meja. Meski batal tidur, tapi kantuknya memang sudah hilang sekarang.
"Kalian pergi tidurlah lagi. Aku akan menunggu mereka kembali." Alan menuang air panas ke cangkir dan membawanya ke meja.
"Sudah tak bisa tidur lagi kalau begini." Nastiti ikut duduk dan membawa cangkir yang mengepulkan uap panas.
"Hari hampir pagi. Biar ku buatkan adonan roti untuk sarapan nanti." Kata Widuri yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Terserah kalian saja. Sebentar aku cek Sunil dulu." Michael bangkit dari duduknya.
*****