
Gua terlihat gelap gulita. Selain cahaya dari pintu teleportasi, tak ada satupun cahaya pelita.
"Gelap sekali," celetuk Dean.
Robert menyalakan api di telapak tangannya.
"Ayo, kita keluar!" ajak Dokter Chandra.
Ketiganya terbang di lorong gua. Sampai di luar, hari masih gelap. Dunia kecil itu sunyi. Mereka langsung menuju rumah panggung di dekat air terjun. Rumah itu sunyi. Hanya ada cahaya redup di sela-sela dinding kayu.
Dokter Chandra langsung menapak ke lantai bawah rumah yang memang didesain terbuka. Ketiganya memutuskan utk tidak mengejutkan senua orang. Jadi hanya membaringkan diri di bangku yang disusun berjajar, kemudian beristirahat dengan tenang.
*
*
"Kau sudah bangun?" Marianne menggeliat bangun, ketika menyadari bahwa Widuri sudah duduk dan sedang termenung.
"Apa perutmu masih terasa tidak nyaman?" tanya Marianne.
"Tidak lagi. Itu hanya kadang-kadang saja," jawab Widuri menenangkan.
"Usi kandunganmu sudah hampir lima bulan 'kan?" Marianne memastikan.
Widuri mengangguk. Dielus-elusnya perut dengan rasa sayang sekaligus sedih. Marianne mengenali ekspresi itu.
"Sudah ... jangan terlalu banyak pikiran. Tak baik untuk bayimu," nasehatnya.
Aku rindu Dean. Di mana dia sekarang? Kita tak tau apa yang terjadi dengan mereka bertiga. Rntah masih hidup, ataukah...."
"Hush! Tak boleh mendahului takdir. Mungkin mereka hanya sedang berhalangan. Dan itu pasti ada alasannya," bujuk Marianne.
Widuri menunduk. Kehamilannya senakin besar dan sedikit menyusahkan. Terutama, karena ketidak hadiran Dean yang menghilang berbulan-bulan. Itu menyusahkan hatinya.
"Percayalah ... mereka pasti akan kembali! Kita sudah melakukan perjalanan panjang. Seringkali itu perjalanan yang sulit. Tapi kita tak pernah saling melupakan. Aku percaya, mereka akan kembali!" Marianne memompakan semangat.
"Sudah pagi. Aku turun dan menyiapkan sarapan dulu," ujar Marianne sambil berjalan turun. Widuri mengangguk.
Tak lama terdengar jeritan Marianne dari lantai bawah. Widuri jelas terkejut. Dia khawatir wanita paruh baya itu jatuh terpeleset.
"Marianne ... apa yang terjadi?" teriak Widuri dari atas. Dia segera melempar selimut dan bangun dari tempat tidurnya. Berjalan bergegas ke bawah.
__ADS_1
Di rumah ini hanya ada mereka berdua saja. Sejak Sunil sadar, dia pindah ke rumah Dokter Chandra. Sementara Niken dan Indra tinggal di rumah mereka sendiri. Dan jaraknya lumayan jauh. Jika terjadi sesuatu pada Marianne di saat yang lain jauh, maka Widurilah yang harus segera membantunya.
"Marianne ... sebentar aku ke sana!" serunya. Dia memegang kuat-kuat pegangan tangga agar tidak sampai jatuh.
Di bawah, Marianne yang menjerit karena terkejut, akhirnya membangunkan tiga pria yang baru beberapa jam tertidur.
"Ada apa?" tanya Dokter Chandra dengan mata yang masih setengah terpejam. Dia bertanya pada Marianne. Robert dan Dean ikut duduk dan memandang Marianne dengan khawatir.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu di luar?" Robert melihat ke halaman yang mulai remang-remang menjelang pagi.
Kemudian terdengar suara Widuri yang mengatakan akan turun. Dean langsung tersadar. Bahaya jika Eiduri menuruni tangga buru-buru karena khawatir. Dia langsung terbang ke arah tangga.
"Hati-hati, jangan buru-buru," Dean langsung memegangi tubuh Widuri yang sedang menuruni tangga.
"Aaahhh!" pekik Widuri kaget.
"Ahh ... aduhh ... kupingku berdenging." Dean memegang telinganya akibat jeritan Widuri.
"Kau mengagetkanku! Kalau aku jatuh bagaimana!" bentak Widuri dengan mata melotot.
Tapi di detik berikutnya, matanya melembut. Air matanya menggeng di sudut mata. Dean menunjukkan permintaan maaf dan rasa bersalah di wajahnya. Hatinya terenyuh melihat istrinya sesedih itu.
"Kau ... kau kembali!" Bendungan air di mata itu akhirnya jebol. "Kau akhirnya kembali...."
"Maafkan aku sayang...." Hanya kata itu yang bisa diucapkannya.
Hatinya sedih merasakan tubuh wanitanya bergetar di pekukannya. Berapa besar beban yang sudah ditimpakannya pada wanita ini, tergambar dari gemetar dan isak tangis yang menyayat hatinya.
Dibopongnya tubuh yang makin membulat itu, kembali ke lantai atas. Widuri pasrah dibawa terbang kembali ke kamar. Hatinya sedang mengharu-biru. Dia hanya ingin bersama Dean saat ini.
Melihat Dean dan Widuri menghilang, Marianne kembali mengalihkan pandangan pada dua pria di depannya. Pandangan tajam yang minta penjelasan! Seperti seorang ibu yang marah pada anak yang telat pulang dari bermain.
Robert dan Dokter Chandra hanya bisa menunduk. Tak ingin berdebat dengan Marianne yang sudah seperti ibu di kelompok mereka.
"Kami butuh penjelasan. Jadi, rangkailah kalimat yang pantas untuk diucapkan saat sarapan nanti!" kata Marianne pedas.
Dia berbalik dan menuju dapur dengan wajah kesal. Namun hatinya lega melihat tiga orang itu kembali dengan selamat. Marianne tak ingin kehilangan teman-teman satu timnya lagi.
"Kalian sebaiknya pergi mandi. Baunya tercium sampai ke dapur!" omelnya.
Robert dan Dokter Chandra berpandangan sambil tersenyum. Omelan Marianne berarti dia tidak benar-benar marah. Jadi sekarang ikuti saja perintahnya.
__ADS_1
"Aku rindu berenang di air terjun!" seru Robert. Dia segera melesat ke luar, menuju air terjun.
"Tunggu!" Dokter Chandra juga mengikuti Robert.
Marianne tersenyum bahagia dalam hatinya. "Keluarga besar ini utuh lagi," gumamnya penuh syukur.
Pagi yang cerah, Sunil bangun karena mendengar gelak tawa yang tak asing di telinganya. Dia keluar dari rumah dan terbang untuk melihat asal keributan di pagi yang biasanya tenang.
"Hei ... kalian kembali!" teriak girang. Sunil ikut menceburkan diri ke kolam air terjun.
"Wah, kau sudah sehat! Syukurlah!" sambut Dokter Chandra senang.
"Kalian pergi lama sekali. Eh, Dean dimana?" tanya Sunil khawatir.
"Kurasa, dia harus menahankan sakit dan panas di telinga. Nyonya pasti tak mudah dihadapi!" ujar Robert sambil melihat ke jendela kamar Widuri yang belum dibuka.
Sunil tertegun mendengarnya. Dia tak tersenyum sama sekali mendengar kelakar Robert.
"Bagus kalian pulang sekarang. Kondisi Widuri mencemaskan kami. Dia sangat rapuh. Kami hampir kehilangan dia beberapa waktu yang lalu!" Ujar Sunil serius.
"Apa?" Robert terkejut.
"Katakan, apa yang terjadi!" perintah Dokter Chandra.
Selama seminggu itu, dia terlihat murung, sering menangis sendiri. Meski Marianne dan Niken menghibur, itu tak berpengaruh banyak."
"Aku dan Indra membangun pondok di atas bukit. Lalu membawa para wanita ke sana utk melihat keindahan pemandangan dari atas. Itu juga tak dapat menghiburnya. Kami berusaha mengalihkan pikirannya dari Dean, agar tidak terus murung. Tetap tak berhasil.
"Sampai satu siang, Widuri dan Niken berenang di sini. Marianne memanggil Niken untuk mengambil makanan yang dibuatnya. Niken meninggalkan Widuri sebentar untuk kembali ke rumah. Saat Niken kembali ke sini, Widuri sudah tenggelam!" papar Sunil sedih.
"Apa? Bukankah Widuri bisa berenang?" Robert merasa heran.
"Itu dia! Dia bisa berenang. Bagaimana bisa tenggelam, kalau bukan karena membiarkan diri tenggelam? Beruntung masih bisa kami selamatkan. Setelah itu, Marianne marah besar padanya."
"Kami menjaganya dengan ketat. Segala hal yang mungkin memicu keinginan bunuh dirinya, dijauhkan. Semua jendela lantai atas kami pasangi pasak, agar tidak bisa dibukanya!"
"Aku sudah selesai mandi!" Dokter Chandra keluar dari air. Dengan cepat mengganti pakaian basahnya dengan yang kering. Robert dan Sunil mengikuti.
"Aku kabarkan dulu kedatangan kalian pada Indra!" Sunil melesat terbang ke kediaman Indra di pinggir hutan.
Dokter Chandra melangkah buru-buru ke rumah panggung. Robert mengikuti dengan rasa takut. Dokter Chandra tidak terlihat bersahabat saat ini.
__ADS_1
********