PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 51. Berpindah Dimensi


__ADS_3

Toni menunjukkan cara masak agar kerang-kerang itu bisa dimakan. Dimasukkannya beberapa kerang ke dalam panci, menuangkan air teh herbal dari teko ke dalamnya serta menambahkan sedikit air laut yang sedang dimasak untuk dijadikan garam.


Dia melihat keranjang herbal Marianne, mencari sesuatu dan menemukan beberapa herba yang sepenuhnya berwarna hijau. Toni tak tau apa manfaat tanaman itu, tapi dia tak peduli. Menurutnya, apa yang dipilih Marianne pasti untuk dijadikan teh herbal yang enak, jadi diambilnya setangkai dibaginya menjadi 3 bagian dan dimasukkan dalam panci itu. Lalu memasaknya di atas perapian.


"Sekarang tinggal tunggu itu masak agar bisa dimakan." Toni menunjukkan gerakan mengangkat tangan ke dalam mulut. Yahh dia hanya bisa menggunakan bahasa isyarat agar mereka mengerti maksudnya.


Kelima orang asing itu ikut duduk di dekat perapian, membuat Toni sedikit khawatir. Tapi dia berusaha tenang dan tetap melayani agar nyawanya bisa selamat. Dituangnya teh dari teko ke dalam 3 cangkir yang ada disitu dan menyodorkannya pada salah satunya. Diangkatnya tangan ke arah mulut untuk menjelaskan bahwa itu bisa diminum.


Orang-orang asing itu telah melihat jika tadi air di teko itu ditambahkan pada masakan di perapian. Jadi mereka merasa itu bisa diminum. Lalu mencoba mencicipi rasanya. Wajah mereka terlihat cerah, lalu tertawa senang. Toni merasa lega melihat teh herbal yang dibuat Marianne ternyata disukai. Diangkatnya lagi teko untuk mengisi cangkir-cangkir yang telah kosong. Tapi hanya terisi setengah cangkir saja karena isi teko sudah habis. Dengan gugup dibukanya teko untuk melihat isinya.


"Sudah habis," tunjuk Toni sambil membalikkan teko yang hanya menjatuhkan bunga-bunga yang ada di dalamnya.


Orang-orang itu tau bahwa minuman itu sudah habis, lalu mengalihkan pandangan pada panci yang ada di atas perapian. Toni merasa mereka mungkin sedang lapar dan haus. Dilihatnya sekeliling untuk mencari dimana para wanita meletakkan ikan yang diawetkan. Tapi seseorang diantara orang asing itu memegang tangannya sambil menunjukkan cangkir.


"Kau ingin minum? Sebentar aku ambil air dan memasak teh lagi untukmu," Toni mengambil teko dan melangkah terhuyung menuju sungai untuk mengambil air.


Tapi langkahnya dicegat oleh salah satu dari mereka. Pedang tajam diarahkan ke lehernya. Wajah Toni dengan segera memucat. Dengan gemetar ditunjukkannya teko dan cangkir ditangan orang lainnya. Toni ingin bilang bahwa dia akan mengambil air untuk minum, tapi orang yang menghadang tidak bergeser sama sekali.


Tak lama terdengar salah seorang di dekat perapian bicara, hal itu membuat orang yang tinggi besar dan menghalangi jalannya tersebut akhirnya minggir.


"Terima kasih," Toni membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.


Toni melanjutkan langkah menuju sungai untuk mengambil air, diikuti oleh orang besar itu. Dilihatnya bubu ikan tak jauh dari tempatnya mengambil air. Diletakkannya teko berisi air di atas batu sungai dan melangkah menuju letak bubu. Air sungai sedikit memerah karena menyentuh luka di pinggangnya. Dia melihat air bercampur darah itu dengan cemas.


Toni sangat berharap bubu itu sudah berisi beberapa ikan, karena tadi pagi dia sudah mengambil hasilnya dan diserahkan pada Laras. Diangkatnya bubu dari air dengan tangan gemetar dan melihat hanya ada 2 ekor ikan di situ. Dibawanya teko dan bubu ke tepi sungai dan menunjukkan isinya. Wajah orang itu terlihat senang.


Mereka kembali ke shelter dan menemukan bahwa 4 orang lain disitu ternyata sedang asik makan kerang di panci. Orang yang mengawal Toni segera mendekat dan ikut makan. Toni menambahkan beberapa bunga dari keranjang ke dalam teko sebelum meletakkannya di perapian. Lalu dia melemparkan kedua ekor ikan ke atas bara setelah membungkusnya dengan daun pisang.


Toni merasa tubuhnya lemas, dingin dan kepalanya pusing. Rasa perih dari luka-lukanya terasa makin menjadi setelah terkena air sungai. 'Apakah aku akhirnya akan mati disini?' pikirnya gamang melihat darah yang terus mengucur dari luka bekas tusukan pedang di pinggang dan bahunya.


Orang-orang asing di shelter itu tak mempedulikan Toni. Mereka asik makan dan minum dengan gembira. Setelah mereka puas menikmati kerang dan ikan, baru mereka menyadari bahwa Toni sudah tergeletak dengan wajah pias. Darah merembes mengotori seluruh pakaiannya yang basah.


Salah seorang dari mereka menyenggol tubuh Toni dengan kakinya untuk memeriksa. Masih terdengar keluhan samar dari mulutnya. Orang itu mengatakan sesuatu dan dibalas oleh orang lainnya, lalu Toni dibiarkan begitu saja.


Orang-orang asing itu meninggalkan shelter setelah melihat ketiga orang disitu tak ada lagi yang bergerak. Mungkin mereka pikir yang dua orang sudah mati dan yang luka tak lama lagi juga akan mati. Mereka turun dari tebing dan memeriksa sekitarnya.


*

__ADS_1


Liam dan rombongannya yang melarikan diri ke hutan akhirnya berhenti karena kelelahan.


"Aku terakhir mencari kayu sampai sini," kata Liam sambil mencari tempat untuk duduk.


Teman-temannya ikut berhenti dan beristirahat. Para wanita itu sangat kelelahan. Mereka mengamati keadaan sekitar. Hutan itu tidak begitu lebat, dan pohonnya juga beragam, tidak seperti hutan salju yang hanya ditumbuhi pinus.


"Kira-kira ke arah mana Indra pergi?" tanya Silvia.


"Sebaiknya tunggu disini saja bila memang tak tau arah pasti. Nanti kita tersesat," ujar Angel.


"Bagaimana keadaan Marianne dan Michael disana ya?" Niken bergumam.


Kata-katanya membuat rombongan itu hanya bisa mendesah panjang tanpa mengatakan apapun. Mereka menunduk sedih, ingin kembali tapi juga takut.


Samar-samar terdengar suara orang bicara. Mereka segera merunduk dan waspada. Dokter Chandra meletakkan jarinya di mulut meminta mereka tak mengeluarkan suara. Jika mereka bertemu orang-orang viking itu, maka dipastikan tak kan bisa melawan. Dua pria biasa yang menjaga 4 wanita muda kota metropolitan melawan 5 pelaut ganas, tentu saja tak seimbang. Jadi mereka hanya bisa bersembunyi.


Suara itu makin dekat. Liam menegakkan tubuhnya dengan mimik senang.


"Itu suara Indra!" katanya.


"Indra.. Leon.." mereka memanggil dengan suara tertahan.


"Kau juga dengar ada yang memanggil nama kita kan?" wajah Indra tampak bingung karena tak melihat seorangpun di sekitar situ.


"Apa tempat ini bisa membuat kita berhalusinasi?" Leon khawatir.


"Hei, kesini!" Liam tiba-tiba muncul dari balik semak tinggi.


"Ahh, kau disitu rupanya." Indra menghampiri Liam.


Leon dan Indra terkejut melihat Liam yang ternyata tak sendirian. Apalagi saat tubuhnya tiba-tiba dipaksa ikut merunduk dibalik semak.


"Sembunyi," Laras mengingatkan dengan suara lirih.


"Ada apa?" Indra tanpa sadar ikutan berbisik juga.


"Kenapa kalian di sini? Bawa-bawa ransel begini banyak, mau kemana?" Leon bertanya dengan heran.

__ADS_1


"Duduklah dulu, kami akan jelaskan situasinya," dokter Chandra bersuara.


"Dimana Marianne, Michael dan Toni?" Indra bertanya penuh selidik. Dia merasa telah terjadi hal besar di shelter.


Akhirnya dokter Chandra menceritakan apa yang terjadi pada Indra dan Leon.


"Kita harus secepatnya kembali," Indra berdiri dengan wajah khawatir.


"Tidak!" Leon menahan tangan Indra.


"Jika orang-orang asing itu benar seperti yang mereka sangkakan, kita lebih baik menghindar saja. Kita tidak akan mampu melawannya," lanjut Leon.


"Lalu kita biarkan saja Marianne dan Michael?" tanya Indra gusar.


"Jika mereka ditawan bagaimana?" Indra masih merasa tak puas.


"Lebih baik kita periksa dengan hati-hati keadaan di sana. Mencari tau apa yang mereka lakukan di pantai ini dan siapa mereka sebenarnya." Leon memberi alasan.


"Mereka bahkan dengan mudahnya memukul dan melukai Toni dengan pedang. Pakaian dan topi bertanduk di kepalanya itu benar- benar kuno." Niken menegaskan pendapatnya.


"Apakah pesawat kita terlempar menembus ruang dan waktu?" Liam tak percaya.


"Hanya itu jawaban yang mungkin dari semua keanehan yang kita alami sejak terdampar di hutan salju." Silvia akhirnya bersuara.


"Apakah pernah ada yang bisa kembali setelah terlempar menembus ruang dan waktu?" tanya Laras dengan ekspresi keingintahuan besar di wajahnya.


Semua rekannya memandang Laras dengan takjub atas kenaifannya.


"Perjalanan menembus ruang dan waktu itu belum bisa dijelaskan secara ilmiah," dokter Chandra menjelaskan.


"Lalu kenapa kalian membahasnya?" Laras bertanya dengan heran.


"Karena hanya kemungkinan yang mustahil itu saja yang bisa menjelaskan semua kejadian ajaib yang menimpa kita," kata Niken.


"Aku bahkan berpikir liar bahwa kita telah berpindah dimensi. Dan... kecil kemungkinan bisa kembali ke dunia kita yang sebenarnya."


Kata-kata Niken mengejutkan semua temannya. Mereka saling pandang dengan gelisah dan bingung, membuat suasana tiba-tiba jadi hening. Hanya terdengar gemerisik dedaunan yang digoda angin sore.

__ADS_1


***


***


__ADS_2