PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 227. Operasi Vivian


__ADS_3

Dalam gelap malam, seekor naga dengan 2 penumpang di punggungnya, melesat terbang ke satu titik di ujung kegelapan. Arah cahaya kota pelabuhan. Hanya bulan sabit kecil dan bintang gemintang yang jadi penerang.


Setelah beberapa lama.


"Itu mereka, Kang," tunjuk Robert ke satu arah di bawah, diantara gelapnya hutan yang sudah terlewati.


Kang berbalik dan melayang perlahan. Mengamati. Jangan sampai mereka salah memasuki kediaman orang tak dikenal. Lalu Kang turun perlahan. Kepakan sayap besarnya membuat debu-debu naik ke udara.


*


*


Tim Dean masih duduk bercengkrama di meja usai makan malam. Masih ada Yoshi di situ. Tapi Yabie telah pergi ke kota mati sebelum sore.


"Jadi kapan penikahannya, paman?" tanya Yoshi.


"Bagaimana jika 7 hari yang akan datang?" tanya Indra minta pertimbangan.


"Jika semua persiapan sudah selesai, kenapa harus menunda lama?" tanya Sunil.


"Hiasan baju Niken belum selesai. Akan ku selesaikan sebelum 7 hari," kata Marianne.


"Baiklah. kalau begitu, kita bisa siapkan tempat pernikahannya di kota mati," ujar Dean.


"Memangnya mau bersiap apa dari sekarang?" tanya Yoshi heran.


"Ku pikir, membangun gedung serba guna sekarang, juga baik. Jadi anak-anak itu bisa mulai belajar lebih cepat," kata Dean.


"Bagaimanapun, kita memang harus menyiapkan banyak papan dan kayu untuk membangun rumah-rumah lainnya. Terutama memperbaiki tumah Yabie. Sudah lapuk dan berbahaya," kata Alan pula.


"Apakah malam ini akan turun hujan? Anginnya kencang sekali," celetuk Michael.


"Ughh! debu-debu beterbangan. Biar kami bereskan meja sebelum tidur." Widuri bangkit dari duduk.


Nastiti dan Niken membantu mengangkat piring dan cangkir kotor dari meja. Marianne melap meja agar kembali bersih.


"Dean!"


Terdengar sebuah teriakan sebelum sesuatu yang besar mendarat di halaman. Partikel debu yang naik, menyelubunginya.


"Uhuk... uhuk..."


Semua terbatuk-batuk.


"Alan, kau lupa menyiram halaman!" omel Marianne.


Tak lama, tampak seseorang berjalan keluar dari kumpulan debu. Berjalan ke arah Dean dan kawan-kawannya.


"Maaf, kami membuat tempat ini berdebu," ujarnya.


"Robert??" tanya Dean tak yakin.


"Ya. Tolong bantu dulu dia!" Robert meletakkan seorang gadis di atas meja besar di tengah pelataran.


Alan melayang naik dan menarik seluruh debu yang beterbangan ke arah atas. Debu-debu itu bergulung-gulung seperti badai kecil, mengikutinya pergi entah kemana. Kang memandangnya dengan kagum.


Udara yang kembali bersih, membuat semua orang bisa bernafas lega.


"Ini siapa?" tanya Yoshi menunjuk ke atas meja.


Robert melihat ke asal suara. Ada gadis tak dikenalnya di situ.

__ADS_1


Dean yang menyadari bahwa keduanya belum berkenalan, segera mengambil inisiatif.


"Robert ini Yoshi, keponakanku. Kakaknya Yabie," jelas Dean.


"Oh, saya Robert," sapa Robert ramah.


"Ini Vivian, tetangga Kang. Dia sakit perut dari kemarin. Tolong diperiksa Dok."


Dokter Chandra segera menghampiri wanita yang meringkuk di meja. Dia masih sadar.


"Tolong bantu pegangi tangannya. Aku harus memeriksa perutnya." Dokter Chandra segera memberi instruksi.


Indra dan Michael membantu memegangi tangan dan kaki gadis itu. Membuatnya berbaring telentang dan menggeliat-geliat kesakitan.


Dokter Chandra meraba perutnya, mencari-cari dimana rasa sakit itu berasal.


"Aahh!" seru Dokter Chandra.


"Vivian sakit apa Dok?" tanya Robert khawatir.


"Sepertinya usus buntu. Ini harus segera dioperasi," kata Dokter Chandra.


Berita itu mengagetkan mereka. Mau operasi malam-malam begini? Dengan penerangan minim, apa tak bahaya?


"Bagaimana jika kita bawa ke tempat tabib?" tanya Indra.


"Jangan!" cegah Yoshi.


"Kenapa?" tanya Robert heran.


"Dia bersayap. Itu akan mengejutkan semua orang. Itu bukan hal yang bagus. Percayalah," jelas Yoshi.


Dean mengerti. Yoshi pasti mengingat kisah kelompok ayahnya yang dikejar-kejar manusia dan dibunuh.


"Baik. Aku akan menjemput kakek tabib," ujar Yoshi.


"Kau butuh apa lagi Dok?" tanya Dean.


"Tidak ada. Kau sudah menyebutkannya tadi. Alat bedah, obat penghilang sakit, antibiotik dan kain perban," ujar Dokter Chandra.


Yoshi mengangguk, lalu melayang naik ke puncak pepohonan sebelum melesat pergi.


"Kalian membedah Laras?" tanya Robert kemudian.


"Ya. Saat dia jatuh, tulang punggungnya bergeser dan ada gumpalan darah beku yang mengganjal di punggungnya. Jadi itu harus dibersihkan," jawab Dean.


Robert mengangguk mengerti.


"Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Robert.


"Kita harus tunggu tabib tua itu datang. Dia yang punya obat-obatan di sini," kata Dokter Chandra.


"Tolong bantu bersihkan meja ini. Kita harus membuatnya steril," kata dokter Chandra.


Dean mengangkat tubuh Vivian. Indra dan Michael mengambil air dan menyiram meja. mereka menyikat seluruh permukaan meja sebelum kembali menyiramkan air.


Lalu Alan membantu mengeringkan meja dengan cahaya merah di matanya. Cahaya seperti laser itu menyapu seluruh permukaan meja, membuatnya kering seketika.


Alan juga menyapu seluruh lantai yang kotor dan basah itu dengan cahaya merahnya hingga semua kembali kering dan bersih.


Robert tak mengira ada cahaya merah yang akan keluar dari mata Alan. Cahaya itu terasa hangat saat menyapu kakinya. Dan meja sudah siap untuk digunakan. Dean membaringkan kembali tubuh Vivian di meja.

__ADS_1


Sunil sudah selesai memasang lebih banyak obor di dekat pelataran.


Marianne merebus air di panci besar. Mungkin itu akan diperlukan nanti. Widuri mengambil kain selimut bersih di kamarnya. Menempatkannya di atas meja. Persiapan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.


Kang bisa melihat kesibukan orang-orang di situ. Semua membantu dengan sigap. Sejak pertama bertemu, Kang tau teman-teman Robert adalah orang-orang yang baik. Tapi dia tak menyangka mereka semua mau mengikuti perintah Dokter Chandra. Bahkan Dean yang sejatinya pemimpin kelompok itu, juga mengikuti instruksi Dokter Chandra. Kang belajar beberapa hal malam ini.


"Bahkan seorang pemimpinpun, harus mengikuti saran ahli," simpulnya dalam hati. Kang tersenyum samar.


A few moments later.


"Aku kembali," Yoshi muncul bersama Yabie dan tabib tua.


Ketiganya mendarat halus di halaman. Yabie menurunkan kakek tabib. Yoshi membawakan kotak peralatannya. Ketiganya menuju pelataran.


"Siapa yang sakit?" tanya tabib tua.


"Dia," jawab Dean menunjuk ke atas meja.


Tabib itu memeriksa. Setelah berdiskusi berdua Dokter Chandra, akhirnya mereka sepakat untuk mengoperasi malam itu juga. Semua peralatan akhirnya disiram dan direndam dengan air mendidih untuk membuatnya steril. Mereka bersiap untuk operasi malam itu.


Alan menyingkirkan semua bangku ke halaman, kecuali satu bangku untuk Yabie yang harus siap membantu meredakan rasa sakit Vivian.


Vivian diberi obat yang segera membuatnya mengantuk dan tertidur. Terutama karena rasa sakitnya telah berkurang, setelah Yabie mengalirkan sedikit kemampuannya.


Sementara operasi dilakukan dokter Chandra dibantu tabib, Yoshi dan Yabie, yang lain duduk menunggu dengan cemas di halaman. Terutama Kang yang bahkan lupa untuk berubah ke bentuk manusia. Matanya tak lepas dari punggung-punggung yang mengelilingi Vivian.


"Kau jangan cemas. Biasanya operasi usus buntu tidak berbahaya. Yang bahaya justru jika dia tidak dioperasi. Vivian sudah ada di tangan yang tepat," hibur Robert


Kang membuang muka. Robert tertawa kecil.


Nastiti mendekati Robert dan Kang.


"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanyanya.


Meski heran dengan sikap Nastiti, tapi Robert tetap mengangguk.


"Katakan saja," ujar Robert.


"Tidak, dia tidak ingin mengatakan apapun. Lupakan saja. Hanya bercanda," Niken dengan cepat menarik Nastiti pergi menjauh dari yang lainnya.


Robert dan Kang memandang keduanya dengan bingung.


"Apa kau mau mempermalukan dirimu sendiri?" bisik Niken pedas.


"Apa maksudmu?" elak Nastiti.


"Huh! Kau kira mataku bisa kau tipu? Kau mau nembak dia kan? Apa kau tidak melihat Kang terus memandangi gadis itu dengan tatapan khawatir?" bisik Niken lagi.


Nastiti segera membalikkan badan untuk melihat kebenaran kata-kata Niken. Dan benar. Kang sedang melihat ke arah pelataran.


"Tapi semua orang juga terlihat khawatir kok," kata Nistiti ngeyel.


"Kau ini!" Niken begitu kesal melihatnya.


"Apa kau tak bisa bedakan tatapan dari orang yang mencintai dengan orang yang tak punya perasaan khusus?" tanya Niken jengkel.


Nastiti menggeleng putus asa. Dia juga tak tau kenapa dia sangat menyukai Kang. Padahal pria itu tak pernah bicara sepatah katapun. Tersenyum padanyapun tidak. Tapi dia tak bisa menahan diri untuk mendekati Kang.


"Aku pernah baca tentang veromon yang bisa membuat makhluk sejenis saling mengetahui dan terpikat untuk bereproduksi. Tapi kau dan Kang jelas berbeda. Dan hanya kau yang mengejarnya. Dia bahkan tak mengenalimu sebagai pasangannya." kata Niken heran.


"Kau ini bicara apa?" ujar Nastiti kesal. Wajahnya memerah mendengar kata-kata Niken tentang reproduksi.

__ADS_1


"Memalukan!" katanya menyesali diri.


*****


__ADS_2