
Setelah selubung cahaya kuning kehijauan itu menghilang, tubuh Marianne terjatuh. Tapi Dean dengan cepat menyambarnya agar tak membentur lantai. Marianne diberi air abadi, agar tubuhnya segera pulih.
Marianne dibawa ke lantai atas untuk diistirahatkan di kamarnya. Dokter Chandra menyerahkan sebutir obat dan meminta Widuri memberikannya pada Marianne.
"Sekarang giliran ibumu," ujar Dokter Chandra pada Aslan. Pria itu tegang. Apakah ibunya juga akan diperlakukan sama seperti nenek?
Niken menyiramkan air abadi ke tubuh yang terbaring di lempeng batu kedua. Tak butuh waktu lama untuk menulihkan kondisinya. Karena wanita itu belum lama meninggal.
Aslan terkejut melihat wajah ibunya pulih kembali. Sama persis seperti sebelum jatuh sakit.
"Ibu...." Airmatanya menetes mengingat kebaikan wanita itu.
"Gantikan pakaian basahnya dengan ini,"
Dokter Chandra menyerahkan satu set pakaian wanita pada Niken. Para pria kembali menunggu di luar.
"Sudah!" panggil Widuri tak lama kemudian. Dia dan Niken bekerja keras melepas pakaian basah itu dengan yang lebih bersih dan kering.
"Baik. Kalian sudah bisa beristirahat. Aku akan memeriksa Marianne ke atas.
"Kakek, bolehkah aku menjaga nenek dan ibu di sini?" tanyanya.
"Silahkan. Ini waktu terakhirmu." Dokter Chandra mengangguk.
Kemudian rumah panggung itu mulai hening. Indra dan Niken pulang. Robert dan Sunil juga pulang ke rumah pohon.
"Dean, kalian juga istirahatlah. Widuri sudah letih," suruh Dokter Chandra.
"Iya, Dok," sahut Dean. Dibawanya Widuri naik ke lantai atas dengan hati-hati.
"Kau kutinggal dulu." Dokter Chandra naik menuju kamar Marianne.
*
*
Sejak pagi, Dean dan Dokter Chandra telah pergi untuk mencari lokasi pemakaman untuk dua keluarga baru mereka.
"Kurasa di sini cukup bagus." Dokter Chandra menunjuk sisi tebing lain di ujung ladang gandum. Tempat yang masih dipenuhi pepohonan tinggi.
"Kau tebang pohon-pohon yang kutandai," ujar Dokter Chandra.
"Oke!" sahut Dean.
Dokter Chandra dan Dean mulai sibuk. Dokter Chandra terbang dan menandai pohon-pohon yang dia ingin dihilangkan. Dean melakukan tugasnya dengan baik. Setengah jam kemudian, pekerjaan itu selesai.
"Pindahkan batang-batang pohon itu ke sana, untuk digunakan nanti," perintah Dokter Chandra.
Dean segera melakukan tugasnya. Tak butuh waktu lama, area yang dipilih itu telah bersih. Sejarang ada area kosong berbentuk persegi. Dikelilingnya masih berdiri pohon-pohon besar. Sementara tunggul-tunggul pohon, masih dibiarkan setinggi paha orang dewasa.
"Buat lubang di sini dan di sebelahnya." Tunjuk Dokter Chandra.
Dean mengikuti petunjuk dan membuat dua lubang makam. Dia tak ingin banyak bicara, karena Dokter Chandra juga sedang hemat bicara saat ini.
__ADS_1
"Itu sudah cukup dalam," cegah Dokter Chandra.
"Oh, baiklah." Dean menghentikan pekerjaannya.
"Bagaimana kalau kubuatkan peti untuk keduanya?" tawar Dean.
Dokter Chandra mengangguk. "Itu akan sangat bagus. Terima kasih, Dean."
"Tak masalah. Biar kukerjakan sebentar."
Dean melesat terbang ke arah tumpukan kayu. Denfan vekatan dia memotong dan membuat bilah-bilah papan. Memotongnya agar dapat saling menyambung satu sama lain.
Satu jam kemudian, dua peti mati sederhana, telah selesai dibuat. "Dok, peti-petinya sudah selesai," lapor Dean.
Dean terkejut melihat area yang tadi baru saja ditebanginya telah berubah. Tempat itu jadi meninggi sedikit dari tanah sekitarnya. Dan yang lebih mencengangkan, tunggul-tunggul kayu yang saat ditinggalnya masih terlihat menonjol di sana sini, kini telah berubah jadi pot-pot bunga beraneka warna dan jenis. Permukaan tanah kini ditelah ditutupi dengan hamparan rumput yang dipenuhi bunga kuning, putih dan biru.
Dean tak pernah bisa terbiasa dengan kemampuan Penguasa Cahaya dalam memperbaiki lingkungan. Selalu saja mengundang decak kagum, karena terasa sangat menakjubkan.
"Bisakah kau membuatkan pagar keliling, mengikuti batas pohon-pohon itu, besok?" tanya Dokter Chandra.
"Aku bisa melakukannya sekarang!" jawab Dean bersemangat.
"Tidak. Ini sudah hampir siang. Kita harus segera melaksanakan pemakaman mereka," cegah Dokter Chandra.
"Baiklah. Kulakukan besok pagi saja." Dean menurut.
"Mari kembali. Tolong bawakan peti lainnya." Dokter Chandra melayang terbang sambil membawa peti mati di tangan kanannya.
Dean mengikuti. Sebuah peti lain, terbang mengikutinya. Keduanya kembali ke tumah panggung.
"Aku ingin mandi setelah ini. Kalian sarapanlah lebih dulu," ujar Dokter Chandra. Dia langsung memasukkan tubuh adiknya ke dalam peti, dan meletakkannya lagi di atas lempeng batu.
Dean ikut melakukan hal yang sama pada jasad ibunya Aslan. Sekarang keduanya telah siap untuk dibawa. Dokter Chandra melangkah ke halaman, menuju rumah mungilnya di seberang jalan.
"Mari makan lebih dulu. Ikuti saja perintah Penguasa," ajak Robert.
"Biar aku bawakan makanan untuk kakek ke rumah." Aslan menawarkan diri.
"Tidak. Kita cuma perlu menuruti perintahnya tanpa bertanya," larang Sunil.
"Ya, semua pasti ada alasannya," tambah Indra.
"Tapi kakek mungkin sedang sedih!" bantah Aslan.
"Tentu saja. Itulah alasannya! Penguasa tak ingin kita melihatnya dalam kondisi seperti itu." Sunil menyimpulkan.
"Tapi aku cucunya! Tak ada larangan menunjukkan kelemahan pada keluarga!" Aslan ngotot dan tak bisa dilarang. Diisinya piring dengan makanan dan minuman, lalu dibawanya ke rumah di seberang.
"Ya sudah ... biarkan saja. Keduanya sedang sensitif sekarang. Kalian makan saja. Aku juga akan mandi lebih dulu," pesan Dean.
"Oke!"
Yang lainnya tak lagi berdebat. Mereka masih menganggap Dean pemimpin kelompok, setelah Dokter Chandra.
__ADS_1
A few moments later.
Dokter Chandra dan Aslan berjalan beriringan. Wajah Dokter Chandra terlihat sedikit lebih cerah sekarang. Begitupun dengan Aslan. Keduanya sudah siap untuk memakamkan orang-orang yang mereka kasihi.
"Mari kita ke pemakaman," ajak Dokter Chandra.
"Baiklah...."
Dokter Chandra membawa peti mati adiknya. Sunil membawa peti lainnya, menyusul di belakang. Lalu Robert membawa Aslan terbang. Disusul Dean dan Indra, membawa Istri masing-masing.
"Menakjubkan!" seru Niken saat tiba di tempat pemakaman.
"Apa dulu sudah seperti ini?" bisik Widuri pada Dean.
"Tidak. Aku baru menebang pohon-pohon di situ pagi ini. Sangat berantakan. Lihat batang-batang pohon yang belum sempat kuurus di sana itu!" tunjuk Dean ke tumpukan log kayu yang kacau.
"Apakah Penguasa yang melakukannya?" tanya Widuri lagi.
"Di sini hanya ada kami berdua. Jadi menurutmu, siapa yang melakukannya?" Dean tersenyum. Widuri mengangguk mengerti.
"Penguasa pasti sangat menyayangi adiknya. Mereka terpisah karena kesalah pahaman. Saat bertemu lagi, dunia sudah berubah. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk menunjukkan kasih sayangnya." Widuri menyimpulkan.
"Jangan terlalu suka menyimpulkan kehidupan orang lain, ya. Kita tak mungkin tau persis apa yang terjadi," nasehat Dean.ppp
"Hemm ... aku mengerti." Widuri mengangguk.
Semua penghuni dunia kecil itu melihat pemakanan dua jasad sekaligus. Dokter Chandra menurunkan peti mati adiknya. Sunil juga mengikuti.
Aslan berada diantara dua makam itu, dan mengawasi jalannya pemakaman. "Selamat jalan, Ibu. Selamat jalan, Nenek," ujarnya lirih.
Dean dan Indra membantu menimbun peti dengan tanah di sebelahnya. Dokter Chandra mengambil sebongkah besar batu gunung di bawah bukit, Dean menbantu membelah batu itu jadi dua bagian.
Dokter Chandra mengukir batu itu dengan tulisan: Adikku Tersayang. Kemudian menempatkannya di bagian kepala makam yang baru ditimbun.
Dean menawarkan bantuan pada Aslan. "Kau ingin kutulisi apa?" tanyanya.
"Tulis saja: Ibuku Tersayang," ujarnya.
Dean melakukan permintaan itu. Kemudian membantu Aslan meletakkan batu itu di kepala makam.
"Sekarang pemakaman selesai. Mari kita diakan mereka berdua!" ujar Dokter Chandra.
Tempat itu kini hening dan sunyi. Kelompok kecil itu sedang tenggelam dalam suasana haru.
"Terima kasih sudah mengantarkan Adikku dan putrinya ke peristirahatan terakhir mereka. Kalian bisa istirahat sekarang.
"Aku ingin di sini dulu," tolak Aslan.
"Baik, kami kembali." Dean mewakili yang lain, berpamitan dan segera pergi.
"Apa kau bersedih?" tanya Dokter Chandra, yang melihat Aslan terus menunduk.
"Apa kakek tidak sedih?" tanya tanpa menjawab.
__ADS_1
Dokter Chandra menepuk pundak Aslan. "Ayo ke tempat lain," ajaknya.
*******