
~Dear diary,
Ini hari ke 35 kami di sini. Harusnya ini adalah tanggal 20 desember 2021. Sudah satu bulan lebih hidup di dunia yang asing ini, tapi rasanya seperti sudah begitu lama. Aku rindu kedua orang tuaku. Aku rindu teman-teman kantorku. Aku ingin kembali hidup nyaman di peradaban modern.
Seminggu ini kami sibuk memeriksa gua yang ternyata memiliki cukup banyak ruang. Sepertinya Dean benar, ada lebih dari satu orang yang tinggal digua itu sebelumnya, tapi kami hanya menemukan satu yang sepertinya sudah meninggal. Belum jelas orang ini berasal dari mana dan abad ke berapa, karena kami tak bisa membaca satu hurufpun dari semua gulungan yang ditinggalkannya. Hal ini masih jadi misteri buat kami.
Alan dan Sunil belajar cara membuat busur dan anak panah pada Dean. Kami mengasah lagi senjata-senjata yang sudah kehilangan kilau ketajamannya. Dan hal yang juga sangat menggembirakan, kami menemukan satu guci penuh garam berwarna kemerahan di ruang makan. Itu berkah yang luar biasa.
Kami juga menemukan beberapa benih biji-bijian, umbi dan sayuran di ruangan lain yang tampak seperti lumbung buatku. Ada banyak sekali stok grain, kentang, ubi, dan sayuran lain yang tak kukenali. Semua itu masih tampak segar seakan di dalam sini waktu terhenti. Apakah kebun buah, sayur, ladang gandum dan domba-domba ini dulu adalah milik mereka?
Meski sudah melihat begitu banyak keanehan sejak terdampar, aku masih saja tak percaya melihat keajaiban ini.
Sejak malam Dean membentakku, aku tak lagi punya keinginan membantah kata-katanya. Benarkah yang dikatakan Dewi dan Nastiti? Apa iya aku mulai jatuh cinta padanya? Pada orang sombong itu? Yang benar saja.~
--
"Widuri, tugasmu mengipasi tungku." teriak Sunil.
"Ya, aku datang," sahut Widuri melipat buku catatannya dan bangkit dari duduk.
Mereka berdua bertugas memisahkan biji besi dari bebatuan yang diambil di gua kelelawar. Nastiti sedang menyiapkan cetakan mata panah.
Sementara Dewi tampak berseri-seri melihat cabe yang ditanam tumbuh dengan subur dan menampakkan calon bunga. Mereka juga menanam ubi, kentang, jagung dan beberapa benih lain yang ditemukan di gua. Widuri juga akhirnya menanan bibit anggur yang didapatnya dalam paket ekspedisi. Bibit itu terlihat sengsara karena ikut tertimpa runtuhan bebatuan di gua.
Kebun sayur itu tampak makin semarak. Di kejauhan domba-domba putih kelabu makan di hamparan rumput hijau dengan tenang. Tiap sore mereka ikut kembali ke gua tanpa dipaksa. Seekor betina tampak mulai kepayahan dengan kehamilannya. Mungkin tak lama lagi akan ada tambahan bayi domba dalam kawanan ini.
Yang mengejutkan adalah beberapa ekor kelinci putih mungil yang bermain dekat mulut gua. Tampaknya saat gempa, 2 ekor kelinci salju itu melompat lebih dulu untuk menyelamatkan diri.
Dean dan Alan sibuk mencetak batu bata dari tanah liat. Sudah lumayan banyak cetakan batu yang dijemur di tengah padang rumput itu. Lebih banyak lagi batu yang sudah kering dan disusun begitu rupa. Dean akan membakarnya sekaligus besok.
"Sepertinya cukup. Alan, aku mau membuat mangkuk gerabah untuk wadah air. Besok bisa dibakar sekalian dengan batu-batu bata," kata Dean.
"Baiklah. Aku akan membantumu," sahut Alan bersemangat.
Banyak ilmu yang di dapatnya dari Dean sejak mereka terdampar. Hal-hal sepele yang dulu tak pernah dianggapnya penting, sekarang membuatnya tertarik. Siapa yang menduga bahwa untuk membangun rumah, dia kini harus mulai dari membuat batu bata dulu?
Siapa yang menduga, untuk membuat anak panah, mereka harus memisahkan biji besi dari celah bebatuan dengan cara membakar batu-batu itu? Dan untuk melebur biji besi, Dean membangun tungku api begitu rupa agar suhu tingginya terjaga. Alan kagum dengan ilmu Dean yang seperti itu.
Dean juga mengajarinya membuat perekat pengganti semen untuk membangun tempat tinggal mereka. Alan awalnya tak percaya bahwa abu sisa kayu bakar di tungku bisa jadi perekat batu bata, sampai Dean membuatkan perapian sekaligus tempat masak dari susunan batu di ruang gua sebagai bukti.
"Cetakan mata panahnya sudah siap," kata Nastiti.
__ADS_1
Cetakan dari tanah liat itu berisi beberapa lubang untuk tempat menampung besi cair.
"Kau mau buat cetakan apa sekarang?" tanya Widuri yang terus menjaga api tungku.
"Dean minta dibuatkan cetakan pisau dan kapak," sahut Nastiti yang kembali sibuk bermain lumpur lempung.
Seminggu kemudian
Tempat tinggal di tengah padang rumput itu tinggal menunggu pemasangan atap saja. Para pria menyiapkan kayu-kayu penyangga atap, sementara para wanita membongkar dan mengeluarkan atap dari pembakarannya.
Mereka memperhatikan para pria memasang dan memaku atap di kayu-kayu penyangga agar tidak meluncur jatuh jika terjadi gempa di tempat itu. Menjelang sore, pemasangan atap selesai. Mereka memandang hasil kerja keras itu dengan takjub. Selain kayu dan batu-batu pondasi, maka bata, atap dan paku adalah buatan mereka sendiri. Rasanya luar biasa.
"Tinggal daun pintu dan jendela," kata Sunil dengan mata masih terpukau.
"Besok kita lanjutkan lagi. Hari ini kita kembali untuk istirahat," kata Dean.
"Apa paku-paku kita masih cukup?" tanya Dean.
"Tadi kami sudah mencetak lagi sebanyak 5 cetakan. Harus mencairkan biji besi dulu kalau mau lebih banyak," jawab Widuri.
"Yah, besok saja. Bawa saja semua cetakan itu, kita lepaskan di gua. Kita sudah harus kembali." Dean mengangkat peralatan dan 2 cetakan paku. Mereka beriringan kembali ke gua. Kawanan domba juga mengikuti di belakang.
Sementara para wanita bergiliran mandi di pancuran, Dean, Alan dan Sunil melepas paku-paku dari cetakan tanah lempung. Bentuknya memang masih kasar, jadi mereka harus menghaluskannya sedikit malam ini agar mudah dipakai untuk menusuk kayu. Seperti itulah yang selalu mereka lakukan. Semua alat yang dibuat dari cairan besi, bentuknya masih kasar, jadi harus diasah, dihaluskan dan dipertajam agar mudah digunakan.
Mereka makan dengan lahap. Renyahnya roti yang baru dipanggang berpadu dengan rasa gurih kaldu dalam sup, dan dimakan disaat benar-benar lapar. Itu benar-benar terasa nikmat.
"Widuri, kau makin pintar membuat roti," puji Alan.
"Yah, terimakasih pada Dean yang sudah mengajariku membuat pengembang roti. Tanpa itu, aku hanya bisa membuat flatbread." Widuri tertawa.
"Yah, terima kasih Dean. Aku sekarang jadi tau bagaimana membuat keju dan mentega dari susu domba," kata Dewi sambil tersenyum.
"Apa kalian tak ingin berterimakasih padaku yang sudah membuatkan cetakan roti, keju dan kuali untuk masak? Bahkan cobek juga ku buatkan," Nastiti protes dan cemberut.
"Hahahaa.. iya, makasih banget untuk Nastiti yang pinter banget buat peralatan gerabah. Kalau kita kembali nanti, kau bisa buka usaha pembuatan gerabah dan jadi juragan, pasti sukses," celoteh Dewi menggoda.
Yang lainnya ikut tertawa. Makan malam berlangsung dalam kehangatan dan canda tawa. Akhirnya mereka merebahkan tubuh yang sudah kelelahan.
Dean bangkit dan berjalan masuk ke lorong gua.
"Mau kemana Dean?" tanya Sunil.
__ADS_1
"Mau memeriksa ke dalam, apakah ada obat yang mungkin bisa dipakai untuk mengobati luka," kata Dean.
"Kau luka? Dimana?" tanya Sunil khawatir.
"Ini," Dean menunjukkan jarinya yang meneteskan darah.
Darah itu bahkan mengalir ke sisi telapak tangannya. Sunil terkejut.
"Luka karena apa itu? Balut dulu biar berhenti darahnya. Widuri, berikan aku kain pembalut luka," teriak Sunil.
"Siapa yang luka?" Widuri membuka ransel dan menyodorkan gulungan potongan kain pada Sunil.
"Jari Dean luka. Kelihatannya lumayan besar lukanya. Darahnya tak berhenti keluar. Biar ku susul dia." Sunil lari mengejar Dean yang sudah menghilang di lorong gua.
Gua itu sekarang tidak terlalu gelap lagi. Di beberapa tempat, diletakkan kristal cahaya sebagai penerang jalan.
"Dean, kau dimana?" teriak Sunil di persimpangan lorong.
"Di sini," terdengar jawaban Dean tak lama kemudian. Sunil menyusul suara itu.
"Apa kau menemukan obatnya?" Sunil memperhatikan Dean yang memeriksa beberapa botol kecil di ceruk dinding. Dean menggeleng.
"Kalau begitu biar dibalut saja. Agar lukanya tertutup dan darahnya berhenti. Karena apa ini tadi?" tanya Sunil sambil menunjukkan gulungan kain pembalut luka.
"Aku ceroboh saat menghaluskan paku, bagian yang tajamnya mengiris jari. Jadi begini deh. Sebentar ku cuci dulu noda darahnya."
Dean mengulurkan tangannya ke tempat air menetes. Setetes darahnya jatuh di kening orang yang membeku itu. Dean dan Sunil tak memperhatikan jika ada pola yang dibentuk oleh tetesan darah itu.
Dean membersihkan noda darah di tangannya dengan tetesan air. Rasanya perih sekali. Seperih luka di hati yang ditetesi air lemon (cieee, othor lebayy 😄.
Dean meringis menggertakkan giginya, tak menyangka jika rasa perih di jarinya akan menjalar ke sekujur tubuhnya.
Sunil yang menunggu Dean mencuci tangan keheranan melihat cahaya kuning keemasan melingkari Dean dan bak batu. Karena panik, Sunil menarik lengan Dean agar keluar dari lingkaran cahaya itu. Tapi Sunil justru terpental dan menabrak dinding lorong.
"Ughh... ada apa ini? Dean, Dean!" teriak Sunil panik.
Tubuh Dean sudah hampir seluruhnya diselubungi cahaya kuning keemasan. Lalu terdengar teriakan keras Dean.
"Aaaaaaaahhhhhh..."
Sunil terdiam saat melihat Dean hanya tinggal bayangan samar dalam lingkaran cahaya yang menyelubunginya. Sunil tak bisa melihat apa yang dialami Dean di dalam selubung cahaya itu
__ADS_1
***