PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 117. Bi


__ADS_3

Sampai di pondok hari sudah menjelang sore. Mereka segera melakukan rutinitas biasa. Beruntung Marianne sudah mempersiapkan adonan roti saat Widuri dan Nastiti di pasar. Mereka tinggal memanggangnya nanti.


Saat makan malam, pembicaraan di meja tak jauh dari perencanaan untuk jualan besok pagi. Widuri dan Nastiti merasa sangat antusias. Masih ada sangat banyak buah yang menunggu dipetik di hutan itu besok pagi.


"Jika masih ada buah anggur di sana petik saja. Kita bisa buat jus anggur dan menjualnya juga," usul Marianne.


"Kau benar. Jika dijual dalam bentuk jadi, maka harganya akan lebih tinggi." Nastiti setuju.


"Kalian bisa cari alat pemeras sari buah dan kain tipis untuk menyaringnya di pasar." tambah Marianne lagi.


Dean mengeluarkan penggiling grain dari dalam penyimpanannya dan diletakkan di meja.


"Apa alat ini bisa untuk menghancurkan buah anggur?" tanya Dean.


"Sangat bisa. Apa kau sudah membelinya tadi siang?" tanya Marianne senang.


"Tidak, alat itu dibuat oleh Dean. Kami pakai untuk menggiling gandum." Widuri menjelaskan.


"Wah, ini batu yang bagus. Kau memang sangat ahli dalam membuat peralatan Dean," puji Marianne.


Nastiti mengeluarkan sehelai selendang tipis dari ranselnya.


"Ku kira selendang ini bisa digunakan untuk menyaring sari buah," katanya.


Marianne mengangguk puas. Tak perlu membeli peralatan lagi. Mereka bisa mulai bekerja jika ada cukup buah anggur.


"Bukankah kita akan butuh wadah untuk menampung sari buah?" tanya Michael. Kalian tetap harus membeli beberapa botol dan kendi di pasar." ujar Michael.


"Kita bisa membuatnya sendiri. Tak perlu beli. Nastiti sangat ahli dalam membuat gerabah," jawab Alan.


Nastiti tersenyum dengan bangga.


"Hei, jangan angkat dagumu terlalu tinggi. Dipuji sedikit sudah terbang," ledek Alan.


"Dari pada kau. Kalian berdua pembuat masalah. Kecerobohan kalian tadi malam, terdengar sampai ke kota, dan menimbulkan kegemparan." omel Nastiti kesal.


"Ya, mereka mengira ada gempa yang disebabkan sambaran petir," sambung Widuri.


"Gempa karena sambaran petir? Hahahaa.." Alan tertawa terpingkal-pingkal.


"Apanya yang lucu. Bukannya menyadari kesalahan, malah merasa girang," Nastiti melotot kesal pada Alan.


"Bukankah lucu? Betapa bodohnya mereka." Alan masih memegang perutnya yang sakit karena menahan tawanya agar tidak meledak.


"Ssshhhtt diamlah." Sunil menghentikan kekonyolan Alan lebih jauh lagi.


"Mungkin penduduk tidak mengerti, tapi ketua kota pastilah bukan orang bodoh. Mereka mungkin akan menyelidiki hal itu," tambah Sunil.


Plakk!


"Aahhh, aku ingat sekarang." Marianne tiba-tiba memukul meja dan mengejutkan semua orang.


"Ada apa?" tanya Dean.


"Michael, coba tunjukkan pedang Dean tadi," pinta Marianne.


Michael mengambil pedang dari kamar. "Ini," katanya.


"Dean, aku melihat ukiran ini tadi pagi, dan merasa pernah melihatnya di suatu tempat."

__ADS_1


Marianne menjeda kalimatnya sambil menunjuk ukiran pada bilah pedang dan gagangnya.


Alan, Sunil dan Dean terkejut.


"Benarkah?" tanya mereka serempak.


Marianne mengangguk yakin.


"Apakah lambang ini hanya sekedar gambar atau punya arti khusus?" tanyanya.


Dean, Alan dan Sunil saling pandang. Apakah ini seperti yang mereka pikirkan? Mereka mengangguk lalu mengeluarkan lambang bintang yang disimpan di penyimpanan masing-masing.


"Lambang ini punya arti khusus buat kami. Dimana kau pernah melihatnya?" tanya Sunil sambil menunjukkan lambang bintang yang biasa ditempel di dadanya.


"Aku melihatnya di depan bangunan ketua kota. Bangunan batu besar berwarna putih. Diukir di atas pintu gerbangnya. Aku langsung mengenali ini karena bentuk bintangnya berbeda. Ini terlihat seperti bintang yang sedang terbang." Jelas Marianne.


"Kapan kau melihatnya? Bukankah kita tak pernah keluar dari kediaman Duke?" tanya Michael.


"Saat kita digiring dari pelabuhan menuju rumah Duke. Kita melewati gedung itu. Aku melihatnya. Gedung besar berwarna putih dengan ukiran bintang terbang di gerbangnya," Marianne menjawab dengan yakin.


"Terima kasih Marianne. Kami akan menyelidikinya besok, saat ke pasar." mata Sunil berbinar-binar.


"Mungkin itu salah satu dari suku bangsa kami, atau mungkin sisanya. Kami akan mencari tau." Dean sudah memutuskan.


"Tunggu dulu." Michael menyela pembicaraan.


"Seandainya ada orang seperti kalian di kediaman tuan kota, bukankah mereka akan segera mengenali kejadian tadi malam?" tanya Michael hati-hati.


"Hah..!?"


Semuanya terdiam seketika. Dean memikirkan kemungkinan itu kini.


"Jika masih ada salah seorang dari kita, dia pasti akan segera menemukan tempat ini." Alan memandang ke sekeliling hutan. Sunil sudah melesat terbang ke atas untuk memeriksa.


Terdengar teriakan Sunil yang terkejut. Dia bergulingan ke bawah, tapi tidak sampai jatuh, karena segera menguasai keseimbangannya.


"Itu cahaya hijau." Dean menunjuk ke atas.


Semua orang bersikap waspada dan melihat ke atas. Entah orang itu baik atau jahat, mereka harus tetap waspada.


"Akhirnya aku menemukan persembunyian kalian."


Seorang gadis muda melayang turun dari ketinggian. Sikapnya angkuh.


"Kalian memilih tempat terbaik untuk bersembunyi. Sudah berapa lama kalian di sini? Apa kalian yang menyebabkan semua hewan buruan menghilang?"


"Kami tidak melakukannya!" bantah Alan.


"Siapa kau?" tanya Sunil heran.


"A, dia tidak terlihat seperti bangsa kita." kata Sunil lewat transmisi.


Dean mengangguk. Dia juga merasa seperti itu. Dean tak melihat bias cahaya di sekeliling tubuh gadis itu. Bias yang biasanya dimiliki oleh orang sebangsanya, karena leluhur mereka berasal dari pecahan cahaya bintang alam semesta. Itu sebabnya lambang bintang itu sangat penting artinya.


"Aku wakil pemimpin kota ini. Kalian tak bisa mengelak. Aku sudah melihat perbuatan kalian di kota, di kediaman Duke dan gempa serta petir tadi malam. Itu semua pasti ulah kalian!" Tuduhnya sengit.


"Hahah.. orang sepertimu bersedia bekerja untuk orang lain? Sungguh memalukan." Alan mengejek dan menunjukkan wajah merendahkan.


"Jika tuanmu yang memimpin kota itu sangat peduli atas seisi kota, jika kau memang sangat kuat, harusnya kalian hentikan Duke itu dari melakukan penindasan dan membuang nyawa orang lain semurah itu. Dan sekarang kau mencari kami mau minta keadilan? Tanggung jawab? Bercerminlah dulu." Alan berkata sinis.

__ADS_1


"Itu urusannya sendiri untuk membunuh budaknya. Pemimpin kota tak punya hak ikut campur." jawabnya enteng.


"Budak? Kau bilang mereka budak? Ini 2 orang teman kami diculik lalu dijual. Mereka orang merdeka dan terhormat tapi diperlakukan semena-mena. Jadi bukan urusanmu juga jika kami membebaskan teman kami lalu membalas perbuatan kejam itu dengan membunuh Duke. Ini adalah urusan pribadi." Balas Sunil


"Kalian membunuhnya? Kapan?" Widuri sangat terkejut mendengarnya. Dia tak tau apa-apa tentang itu.


"2 malam yang lalu. Nanti saja dibahas. Gadis itu terlihat berbahaya. Waspadalah," bisik Michael.


"Kau?! Kau mengetahuinya?" Widuri menatap tak percaya.


"Ssshhhtt.." Michael menyuruh Widuri diam.


"Aku tidak ke sini untuk Duke. Aku datang untuk melihat seperti apa orang yang membuat keributan tadi malam."


Gadis itu melayang rendah lalu menjejakkan kakinya di tanah. Dia berjalan menuju meja. Marianne yang karena keterbatasannya, masih memilih duduk di bangku, berusaha untuk berdiri dan waspada. Sunil melesat secepat kilat dan berdiri di depan Marianne, melindunginya dari segala kemungkinan.


Gadis itu sedikit terkejut dengan gerakan Sunil yang tiba-tiba berada di depan seorang wanita tua di dekat meja. Namun sesuatu di meja lebih menarik perhatiannya.


'Pedang. Itu pedang Dean. Dia ingin merebutnya?' pikir Michael tak senang. Dengan cepat diraihnya pedang di meja, sebelum tangan wanita itu menyentuhnya.


Wanita itu kembali terkejut. Lalu menarik nafas panjang. Dimasukkannya tangannya ke balik pakaiannya dan meletakkan sesuatu di meja.


"Tuan kota mengundang kalian untuk datang," katanya sambil melepaskan tangannya dari benda yang dikeluarkannya tadi.


"Itu?"


Alan tak melanjutkan kata-katanya. Itu adalah lambang bintang di dada, persis seperti punya mereka tapi berbeda warna. Itu lambang khusus prajurit.


"Siapa nama tuanmu?" tanya Dean tenang. Dia tak ingin seluruh anggota tim masuk jebakan jika tak mengetahui detail tentang orang dimaksud.


"Bradley Hollman." jawab gadis itu.


"Kami tak mengenalnya," jawab Alan cepat.


"Dari mana kau dapat kemampuan terbang itu?" Sunil tak ingin bertele-tele apalagi berurusan dengan orang yang tak dikenalnya sama sekali.


"Dari ibuku," jawab gadis itu sendu.


"Ibumu? Siapa nama ibumu? Apa ini miliknya" tanya Sunil penasaran sambil menunjuk lambang yang diletakkan gadis itu.


"Bi.. nama ibuku Bi," jawabnya dengan pandangan menerawang.


"Bi?!" Suara Dean tercekat di tenggorokannya.


"Apa kau mengenal ibunya Dean?" tanya Alan ingin tau.


"Jika itu Bi yang sama, maka aku mengenalnya.


"Dimana ibumu?" tanya Dean tak sabar.


"Tuan kota akan menjelaskannya. dia sudah mengirim undangan. Kalian bisa datang kapan saja."


Gadis itu melayang naik lalu melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Dean shock. Dia tak menyangka akan mendengar tentang Bi lagi. 'Tuan kota akan menjelaskan? Apa yang sudah terjadi pada Bi?' batin Dean. Hatinya merasa perih tiba-tiba. Sinar redup keemasan membayang dimatanya.


Sunil meminta semua orang beristirahat. Dia akan menemani Dean dan berjaga lebih dulu malam ini.


"Dean kenapa?" tanya Widuri pada Alan. Hatinya luka melihat Dean terpaku seperti itu.

__ADS_1


"Dia sedang shock. Mungkin dia mengenal ibu gadis itu. Biarkan dia sendiri dulu. Sunil akan menjaganya." Alan membujuk Widuri untuk masuk kamar.


*****


__ADS_2