PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 172. Tentang Robert 3


__ADS_3

Robert terbangun di sebuah ruangan asing. Berdinding batu hitam. Dia terbaring di sebuah dipan batu yang terasa dingin.


"Dimana lagi ini?" gumam Robert sambil mencoba duduk.


Ruangan ini bersih dan tak banyak perabot. Hanya ada dipan batu dan meja kecil yang juga terbuat dari batu hitam mengkilap.


Robert meraba permukaan batu itu. Halus, licin, dingin dan mengkilap. Batu yang sangat bagus. Ada mangkuk putih kecil berisi air dengan sebuah bunga berwarna pink di dalamnya. Robert tak tau nama tumbuhan itu.


"Apa seseorang merawatku di sini? Berapa lama?"


Robert berusaha mengingat perjalanannya.


"Ahh, burung putih besar itu." Robert mengingat memori terakhirnya sebelum bangun di tempat ini.


"Tapi tak mungkin burung itu yang merawatku bukan?" Robert membantah pemikirannya sendiri.


"Coba ku lihat bagaimana situasi di luar sana."


Robert berjalan ke pintu. Dia tak ingin menunda seperti saat menunggu di ruang kayu tertutup itu.


Kriekk...


Pintu ternyata tak dikunci. Artinya Robert bebas untuk keluar. Pintu dibuka lebar. Robert melangkah keluar.


Di depannya ada ruang kosong yang hanya terisi meja dan bangku batu. Lalu ada sebuah ruangan lagi yang pintunya tertutup rapat. Robert berjalan mencari pintu keluar. Dia menuju ujung lain ruangan persegi itu.


Ada sebuah pintu di bagian samping kamar yang sebelumnya ditempati Robert. Dibukanya pintu itu dengan lega karena bisa bebas. Tapi kemudian Robert harus menelan kekecewaan.Karena pintu yang dibukanya itu ternyata adalah pintu kamar mandi.


Ada toilet dan bak batu ukuran besar yang penuh air di tengah ruangan. Ada alat penggosok punggung. Ada juga pakaian yang tergantung dibalik sekat ruangan yang menghalangi letak toilet.


Robert masuk katena ingin menggunakan toilet.


Tak ada gangguan sama sekali selama dia di toilet. Dan Robert tergoda untuk membersihkan tubuhnya dalam bak air. Robert tau tubuhnya memang sudah sangat dekil.


"Mandi sajalah. Nanti minta maaf pada orang yang merawatku, jika dia tak berkenan." rencananya.


Ditanggalkannya semua baju di lantai dan berjalan masuk ke dalam bak batu itu.


"Ahh, segarnya." Robert duduk di bangku yang ada dalam bak. Lalu menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi yang sulit dilukiskan.


Diraihnya alat penggosok punggung yang ada di meja kecil samping bak. Seperti mendapat durian runtuh, Robert sangat menikmati sesi mandinya itu.


Setelah merasa puas dan bersih seluruh tubuhnya, Robert bangkit dan melangkah keluar dari bak. Dicucinya pakaiannya yang teramat kotor itu dalam air bak bekas mandi. Dikucek beberapa kali sebelum dianggapnya selesai.


"Tak terlalu bersih. Tapi lumayan. Setidaknya bau keringat dan lumpur yang menempel sudah hilang." Robert mengagumi pekerjaannya.


Robert mengambil pakaian bersih yang digantung di sekat kayu. Pakaian itu seperti dibuat khusus untuknya. Ukurannya sangat pas. Hanya saja Robert sedikit kebingungan karena pakaian itu tak nenggunakan kancing sama sekali. Hanya ada tali temali untuk mengamankan baju agar tak tersingkap ditiup angin.

__ADS_1


"Ahh, lumayanlah. Setidaknya tak perlu telan**ng. Sekarang cari pintu keluar dan jemur pakaianku agar bisa dipakai lagi nanti."


Robert membuka pintu kamar mandi. Dia berjalan keluar dan celingak-celinguk mencari pintu keluar. Tapi tak ada pintu lain di tempat itu selain pintu kamar mandi dan 2 pintu kamar.


"Lalu bagaimana cara keluar masuk tempat ini? pikirnya bingung.


Melihat lantai basah dengan tetesan air dari bajunya, Robert kembali ke kamar mandi. Pakaian basah itu digantungnya di sekat kayu yang ada. Robert kembali keluar.


'Siapa penolongku? bagaimana cara dia masuk dan keluar dari sini?' pikir Robert.


Robert masuk ke kamarnya. Tak tau mesti melakukan apa. Dia duduk di dipan kayu. Memandang mangkuk berisi air bunga. Robert kemudian meminumnya tanpa ragu. Ada rasa manis yang samar, dan harum.


Robert merasa tubuhnya terisi energi. Rasanya hangat dan menyenangkan.


Robert ingin mengetuk pintu kamar di seberangnya. Tapi dia ragu. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal. Robert mantap melangkah menuju pintu kamar yang satu lagi.


Tok.. tok.. tok..


Tak ada jawaban. Tak ada juga yang membuka pintu sebagai jawaban. Robert mengetuk sekali lagi. Masih tak ada jawaban.


Akhirnya Robert mencoba membuka pintu itu. Kosong. Hanya ada dipan batu dan meja batu di ruangan itu. Persis seperti ruangan yang Robert tempati.


"Kemana perginya penolongku itu?"


Robert menutup pintu itu kembali. Dia kemudian berjalan menuju ruangan terbuka di samping kamar. Dia duduk dan menunggu sebentar. Tapi penolongnya tak kunjung muncul.


"Mungkin dia sedang pergi mencari makanan." Robert menghibur diri.


Robert kembali terbangun saat mendengar suara mangkuk dan batu saling berdenting.


"Kau.. Apakah kau yang menolongku?" tanya Robert bingung.


"Kau bukan burung besar putih yang kulihat di dekat bangunan itu?" Robert terus saja bicara.


Orang di depannya, entah wanita atau pria. Matanya khas. Tapi garis wajahnya sangat bagus. Robert teringat pria yang melarikan diri dari penjara. Tidak! Orang di depannya ini jauh lebih tampan dan berkharisma.


Orang itu tak menjawab sepatah katapun. Tapi jarinya terulur. Seberkas cahaya putih kekuningan merembes masuk ke kening Robert.


Robert seperti sedang melihat filem. Kejadian yang dialaminya dibawah hujan itu terlihat jelas. Ternyata bukan burung besar putih. Tapi pakaian pria di depannya ini yang melambai-lambai ditiup angin dan dipermainkan hujan. Dan dia bukan terbang dengan sayap. Tapi melompat dari satu dahan ke dahan pohon lain. Lalu Robert dirawat di bangunan ini. Jenis perawatan yang tak biasa dan tidak dimengerti Robert.


Orang itu menarik jarinya dari kening Robert. Semua filem itu berhenti dan lenyap. Robert tak menyangka ada jenis komunikasi semacam ini. Bukankah ini berarti kita tak bisa berbohong? Karena ingatan itu sendiri yang dilihat.


Orang itu nengajak Robert keluar kamar. Dia meletakkan sebuah bungkusan kain di meja. Robert dipersilahkan duduk.


Orang itu membuka bungkusan, lalu tampaknya aneka macam hidangan yang membangkitkan selera. Perut Robert tak tahan lagi.


Mereka makan bersama. Karena kendala bahasa, mereka jadi tak bisa berkomunikasi dengan benar. Di ruangan itu, hanya Robert yang bicara. Penolongnya akan menjawab dengan memindahkan memorinya ke ingatan Robert.

__ADS_1


Lalu sampailah pertanyaan yang sejak siang membuatnya penasaran.


"Dimana pintu keluar masuk tempat ini?" Tanya Robert hati-hati.


Pria itu mengulurkan jarinya untuk tau maksud ucapan Robert. Dia kemudian tersenyum. Dan menunjuk ke arah atas.


Robert ikut melihat ke atas. Dia bisa melihat bias cahaya dari tengah atas tempat itu. Apakah pintunya di atas?


"Bagaimans caranya ke sana? Tak ada tangga di sini." Robert bertanya dengan heran.


Orang itu berdiri. Tangannya diulur sambil tersenyum. Robert berdiri dan memegang tangannya.


Orang itu membawanya naik menuju bias cahaya di bawah atap. Keduanya segera berada di luar bangunan tadi


"Ternyata tempatku dirawat berada di bawah tanah." gumam Robert.


Dan yang lebih mengejutkan adalah bangunan yang dia lihat dibalik cahaya kini ada di depan matanya. Bagian bawahnya dari batu-batu hitam yang sama dengan ruangan bawah. Namun bagian atasnya dibuat dengan kayu-kayu berkualitas tinggi. Diberi ornamen yang sangat indah.


"Bangunan yang indah. Tempat apa ini? Istana atau kuil?" Tanya Robert.


Orang itu mengulurkan jarinya lagi.


Robert terkejut.


"Ini makam? Makam para penguasa lama. Yang kerajaannya sudah hilang.


"Dan kau siapa?" tanya Robert penasaran.


"Orang itu kembali mengulurkan jarinya untuk melihat maksud Robert dan memberi jawaban yang tepat.


"Kau penjaga makam terakhir? Sudah berapa lama kerajaan itu hilang?" Robert makin penasaran.


Orang itu kembali menyentuh kening Robert.


"Apa? 5.000 ribu tahun?" Robert ternganga tak percaya.


"Jadi usiamu juga sudah lebih dari 5.000 tahun? Tua sekali." Robert menggeleng tak percaya.


Kembali informasi masuk ke kepala Robert.


"Oh, jadi keluargamu adalah keluarga penjaga makam. Dan kau menggantikan tugas ayahmu setelah dia wafat. Kau yakin usiamu 3.000 tahun? Tapi wajahmu masih terlihat seperti pemuda usia tiga puluhan." Robert merasa takjub. Orang itu tersenyum.


"Apa rahasia awet mudamu? Ahh.. kita bahkan belum memperkenalkan nama masing-masing. Aku Robert. Manusia yang datang dari tahun 2021." Robert memperkenalkan diri.


Orang itu mengulurkan tangan nenyentuh kening Robert.


"Kang Dae Shin berasal dari masa kekaisaran Gojoseon."

__ADS_1


"Berarti tempat ini masuk wilayah negara Korea.?" Robert tak menyangka melintas hingga ke tempat yang tak pernah dipikirkannya. Dan kali ini dia berada di tahun berapa? Robert benar-benar tak mengetahuinya.


*****


__ADS_2